Binhad Nurrohmat

going within…

Dalam suatu kesempatan, saya pernah menulis esai yang berkaitan dengan Binhad dan karyanya di kolom Budaya Radar Banten edisi Juni 2007. Tidak banyak yang saya tulis, namun saya menganggap sedikit tulisan tersebut adalah buah dari kegelisahan-kegelisahan setelah membaca kumpulan puisi Binhad yang terangkum dalam Bau Betina dan Kuda Ranjang. Berikut ini akan saya ulas kembali tulisan tersebut, kemudian akan coba saya bandingkan dengan puisi Sutardji Calzoum Bahri tentang pemahaman Tuhan dalam sajak-sajak mereka.

Puisi Mengenai Tuhan

Ketika dirasa tidak ada lagi tempat untuk berkeluh-kesah, Tuhanlah pelarian setiap umat untuk mengadu dan berbagi resah. Tuhan menjadi tumpuan pengaduan. Ketika susah, bahagia, gelisah, putus asa, sakit, pikiran buntu atas segala permasalahan hidup, maka cacian, rintihan dan permohonan terhadap Tuhan pun meluncur deras memenuhi puisi yang dibuatnya. Tidakkah setiap penyair di muka bumi ini telah menulis tentang Tuhan?

Seorang Binhad — yang biasa ekspresif menggambarkan tubuh, syahwat, dan birahi dalam puisinya pun — menulis tentang Tuhan. Kata Tuhan beberapa kali ia masukkan pula dalam puisinya di Bau Betina. Seperti dalam tulisan saya yang lalu, bahwa dalam kumpulan puisi Binhad identik dengan tema kemesraan, maskulinitas, bahkan keintiman. Setting yang diangkatnya pun tidak jauh-jauh dari rumah bordil, kamar tidur, dan kamar mandi yang dikaitkan dengan syahwat dan birahi. Terlebih perempuan sepertinya adalah objek menarik yang kerap wira-wiri dalam puisinya.

 Mungkin hal ini membuat saya penasaran, lalu ingin menggali puisi Binhad yang berisi tentang Tuhan. Puisinya yang berjudul “Pohon Penyair dan Danau Hamidah” bercerita tentang perbandingan Tuhan dengan manusia. /Tuhan tak punya birahi/ dia tak perempuan atau laki/ tak seperti kau!// kemudian Binhad pun menegaskan “kau” (adalah manusia), perempuan atau laki yang punya birahi. Dan Binhad mencoba mengasosiasikan Tuhan kembali pada bait berikutnya; /Tapi tuhan hidup melajang/ kau mengerti kenapa?/ Tuhan sabar dan setia menjaga nafsunya//. Bagi saya, terkadang asosiasi Binhad mengenai Tuhan cenderung berlebihan. Seperti pada puisinya tersebut, Tuhan dikait-kaitkan dengan birahi dan nafsu. Bukankah bagi sebagian orang itu adalah hal yang sensitif dan mungkin sebuah kelancangan?

Sementara hal yang tidak jauh berbeda terdapat pada puisi Binhad yang berjudul “Tak Sedalam Tubuhmu”, berikut ini:

[1]Tuhan melulu

tak cukup bagi hidupmu

 

hisaplah aku

dengan ikan cupang mulutmu

hingga perih cuma rasa

di seberang girangmu.

 

Curam jurang

tak sedalam tubuhmu

 

sergaplah aku

dengan cakar gairahmu

hingga gaung jerit tumpas

terperangkap palungmu.

 

Kuncup hasrat

menawan lebat hutan

mekarlah dirimu

melejang batas waktu

hingga di luar ruang

di seberang tuhan?  

 

Pada puisi tersebut, kata Tuhan dipahami sebagai bentuk protes ketidakpuasan. /Tuhan melulu/ tak cukup bagi hidupmu// seperti ada sesuatu yang tidak dikehendaki Binhad dalam hidupnya. Sesuatu itu menjadi ruang imajiner yang kemudian ada bentuk pelampiasan lain dalam hidupnya. Entah apa itu, pelarian atau bukan, yang jelas pada baris-baris selanjutnya meluncur kata tuhan yang dipertanyakan / di seberang tuhan?//.

Lain halnya dengan puisi Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri yang terkenal dengan kredo puisi dan unsur-unsur mantra. Konon, di tahun 1970-an, karya Sutardji menjadi kental akan ajaran tasawuf. Tanpa disadari ia kembali ke akar tradisi, yakni pada tradisi saduran puisi Arab dan Persia yang telah merasuki budaya Melayu.

Kata-kata mantra dalam puisi Sutardji seringkali berupa nonsense. Nonsense dipergunakan untuk menimbulkan daya magis dalam puisinya. Akan tetapi, kata-kata mantra yang berdaya magis itu juga dapat digunakan untuk memanggil Tuhan seperti dalam sajaknnya yang berjudul “Amuk”. Ia bisa lugas mempertanyakan hakikat Tuhan, seperti saat Sutardji mengalegorikan kondisi masyarakat ke dalam bentuk kucing yang kelaparan, atau menjadikan kucing sebagai simbolisasi pencarian Tuhan, sebagai berikut:

hei Kau dengar manteraku

Kau dengar kucing memanggil-Mu

izukalizu

M a p a k a s a b a itasatali

tutulita

papliko arukazabaku kodega zuzukalibu

tutukaliba dekodega zamzam logotokoco

zukuzangga zegezegeze zukuzangga zege

zegeze zukuzangga zegezegeze zukuzang

ga zegezegeze zukuzangga zegezegeze zu

kuzangga zegezegeze aahh….!

nama-nama kalian bebas

carilah tuhan semaumu

 

Dalam puisi Sutardji tersebut, kucing adalah kiasan semangat manusia dahulu hingga sekarang dalam mencari Tuhan, meski tidak pernah tercapai tetapi ia terus mencari. Begitulah, untuk memanggil “Tuhan” digunakan kata-kata mantra yang berupa nonsense guna memengaruhi alam ghaib hingga Kau (baca: Tuhan) datang pada si aku. 

Sementara sajak Sutardji “Sepisaupi” dapat diartikan sebagai bentuk perenungan kepada Tuhan. “Sepisaupi” merupakan gabungan dari kata sepi, pisau, dan pikul yang digabung menjadi sepisaupi. Dalam arti, sepi itu seperti pisau yang mengiris dan dosa itu begitu beratnya bagai barang sepikul. Rasa dosa itu menimbulkan rasa duka dan sepi yang menusuk dan mengiris bagai pisau. Rasa dosa itu timbul dalam diri (si aku) karena tusukan pisau-Nya (baca: panggilan atas peringatan Tuhan kepada manusia seperti pisau yang menusuk).

Demikianlah Tuhan dalam karya Sutardji. Tuhan yang ditulisnya sudah tentu  berbeda dengan Tuhan yang ditulis Binhad. Apa yang Sutardji pahami tentang Tuhan sudah tentu berbeda dengan apa yang Binhad pikirkan tentang Tuhan. Apa yang dikenal, dirasakan, dipertanyakan Binhad mengenai Tuhan pastilah tidak sama dengan Sutardji. Karena setiap individu memiliki pandangan yang berbeda mengenai Tuhannya, meskipun Tuhan yang dimaksud adalah sama.  

Binhad biasa menulis Tuhan lalu mengasosiasikannya dengan realitas yang ia yakini benar. Sedangkan Sutardji seringkali membubuhkan bait-bait mantera dalam puisi mengenai Tuhan sekalipun.  

Tetapi walau bagaimanapun, puisi adalah karya seni. Siapapun boleh berkarya. Adapun soal bagus atau tidak, buruk ataupun baik, pembacalah yang akan menilainya. Tentu semua orang pun setuju bahwa sebuah karya yang gemilang adalah karya yang dapat memberikan sesuatu (baca: kebaikan) pada pembacanya. Maka dialah yang kelak dapat dianggap sebagai salah satu tonggak terpenting dalam perjalanan sejarah sastra Indonesia.  

Juni 2008 

Ita R. Alawiyah, Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia  Universitas Tirtayasa, Banten.

 Sumber: itaraazkiya.multiply.com

  1. Wisnu Murti Said,

    salam kenal,senang berkunjung ke blog kamu….saya tunggu kunjungan baliknya……kapan kita bisa tukar link?

  2. binhad Said,

    Terima kasih ya sudah mampir dan senang bisa bertukar link.

  3. itaraazkiya Said,

    huhuhu, itu tulisanku yang dimuat di radar banten mas.

    salam kenal…

Add A Comment