Tidur di Korea, Mimpi Saya Berbahasa Indonesia

Aha, bahasa Indonesia amat setia menghuni tubuh saya dan saya tak bisa mengusirnya sebagaimana bahasa Indonesia tak bisa menghalau tubuh saya. Tubuh saya adalah tubuh berbahasa Indonesia di manapun saya berada. Bahasa Indonesia jadi artikulasi kultural tubuh saya.

Sekarang tubuh saya berada di Seoul, Republik Korea. Tapi bahasa tubuh dan bahasa pikiran saya masih berbahasa Indonesia, saya kira demikian juga teman saya dari Yogyakarta, Doktor Faruk namanya, yang sejak setahun silam tinggal dan mengajar bahasa Indonesia di universitas di Korea. Di dalam tubuh saya maupun tubuh Doktor Faruk bersemayam bahasa Indonesia.

Prof. Koh Young Hun berbahasa Indonesia bila berbicara dengan saya, tapi dari caranya berbahasa Indonesia yang bagus sekalipun tak bisa mengecoh saya bahwa dia orang Korea. Tak terelak, kata dan tata-bahasa hanya sebagian unsur dari kompleksitas unsur pembentuk bahasa. Bahasa merupakan hasil pergulatan panjang masyarakat dan kebudayaannya, sehingga bahasa niscaya memancarkan kepelikan identitas atau spirit kebudayaan tertentu. “Sidik jari” kebudayaan masyarakat ditampakkan oleh bahasanya.     

Migrasi tubuh saya ke Korea memang meninggalkan kamus bahasa Indonesia di rak buku saya di Indonesia, tapi di dalam tubuh saya masih bercokol bahasa Indonesia. Di Korea, saya sering mengucapkan annyong haseyo atau kamsa hamida yang sesungguhnya masih sebagai terjemahan dari bahasa Indonesia untuk mengucapkan “selamat pagi” atau terima kasih”. Saya tak “merasa” mengucapkan dua ungkapan berbahasa Korea itu, saya sebatas menerjemahkannya.  

Saya tak bisa merasa benar-benar marah atau merayu kecuali dengan berbahasa Indonesia. Bahasa Indonesia merupakan kerumunan bunyi dan kode yang telanjur merasuki tubuh saya, bahkan kerap “mengalahkan” daya rasuk dan artikulasi bahasa daerah (bahasa-ibu) saya sendiri. Begitu merasuknya, sehingga meski saya tidur di Korea, bahasa di alam mimpi saya masih berbahasa Indonesia. Saya terharu, bahasa Indonesia selalu terjaga di dalam tubuh saya.

Tinggal di Korea tak mengubah kesibukan utama tubuh saya, yaitu puisi berbahasa Indonesia. Diam-diam, bahasa Indonesia mempertahankan tubuh saya dari kemungkinan-kemungkinan perubahan. Lantaran bahasa Indonesia, kehidupan Korea tak mengubah tubuh saya jadi sibuk bekerja di pabrik celana dalam atau di bar tari telanjang.

Di Korea, tubuh saya tetap berkutat dengan dunia bahasa Indonesia, sebagaimana kesibukan tubuh saya di Indonesia. Bahasa dan aksara Korea masih jadi makhluk asing yang menghuni lembaran buku paspor dan alien card Korea saya. Saya bisa membaca aksara Korea, Hangul namanya, seperti memecahkan barisan sandi rahasia.

***

Di Korea saya sempat mengobrol berjam-jam di rumah makan Korea bersama sastrawan dan aktivis politik Republik Korea terkemuka, Hwang Sok Yong namanya. Pengarang yang pernah dinominasikan meraih Hadiah Nobel ini menulis novel berbahasa Korea dan laku jutaan eksemplar di negerinya. Hwang kadang berbicara dalam bahasa Inggris di sela-sela bahasa Korea. Dia dikawal penerjemah yang tangkas menerjemahkan bahasa Korea ke bahasa Inggris. Hwang pengarang yang girang dan friendly yang membuat saya kerap terbahak dan merasa akrab seperti sahabat lama.

Hwang bercerita dia menerima informasi bahwa bahasa Indonesia tak mengenal perubahan bentuk waktu. Yang dia maksudkan adalah dalam bahasa Indonesia penanda waktu tak melekat di dalam kata kerja seperti tenses dalam bahasa Inggris (did atau doing) atau tashrif dalam bahasa Arab  (fa’ala atau yaf’ulu) untuk mengatakan “saya sudah melakukan” (past tense atau fi’il madli) atau “saya sedang melakukan” (continuous tense atau fi’il mudlorik).

Menurut Hwang, waktu lampau, kini, dan masa depan sama saja dalam bahasa Indonesia. Saya tergelitik serta tersenyum mendengar ceritanya. Saya menjelaskan perkara itu di tengah obrolan itu, bahwa bentuk waktu dalam bahasa Indonesia ditunjukkan oleh kata keterangan waktu, misalnya  “dulu”, “sekarang”, dan “akan”.

Di kereta subway, dalam perjalanan pulang dari pertemuan itu, saya berpikir: apakah tubuh saya mengenal perubahan bentuk waktu, seperti bahasa Inggris atau bahasa Arab?

Pertumbuhan tubuh saya kini sudah berhenti, sehingga meski saya melahap makanan sebergizi apapun tak membuat tulang-belulang di tubuh saya bertambah panjang. Pagi, siang, sore, dan malam hari, tubuh saya sama saja tingginya, juga 10 tahun nanti. Pagi, siang, sore, dan malam hari, tak membuat tubuh saya berubah seperti berubahnya jarum jam. Tubuh saya bukan arloji. Tapi saya kira bahasa Indonesia dalam tubuh saya terus tumbuh, meski tubuh saya nanti lenyap tertelan tanah.

Tubuh saya dan bahasa Indonesia yang bersemayam di dalamnya tersekap dalam gerbong kereta yang melaju menyusuri lorong subway bersama orang-orang Korea yang menyimpan bahasa mereka di dalam tubuhnya. Tubuh kami saling  berjejal dan berimpit, seperti bahasa-bahasa berdesakan di planet bumi. Dalam gerbong kereta Korea itu saya berpikir dan berimajinasi dalam bahasa Indonesia. Orang-orang Korea dalam kereta sibuk menulis SMS dan menerima telepon dalam bahasa Korea. Dunia hiruk oleh kerumunan bahasa.

Hai, adakah bahasa Indonesia, bahasa Inggris, atau penerjemah dalam kereta Korea?

Penerjemahan sebuah bahasa ke bahasa lain bisa jadi upaya yang mengandung risiko “pengkhianatan atau penyimpangan” secara kebudayaan dan lebih khusus secara kebahasaan. Apakah “Assalamu’alaikum” bisa diganti secara persis dengan “Selamat pagi”, misalnya? Secara kebahasaan, perkara yang pernah disorong oleh Gus Dur ini bisa problematis, tapi “analog kultural”-nya bisa dimengerti.

Muslim Indonesia bersembahyang dan berdoa dalam bahasa Arab, sebuah bahasa yang barangkali sering dibaca dan dihapal luar kepala tanpa dimengerti artinya. Apakah Allah SWT, tuhan kaum Muslim itu, hanya mengerti bahasa Arab? Sesungguhnya, semua bahasa adalah ciptaan manusia, tuhan tak bikin secuil pun kosa-kata ataupun tata-bahasa. Tuhan pun tak mengeluarkan firman agar manusia memakai bahasa tertentu dalam sembahyang.

Manusia berbeda dengan tuhan, dan saya sedang membicarakan manusia dan bahasanya.   

Tanpa penerjemahan, bahasa bisa menjadi biang “pemutus” antar-manusia yang berbeda bahasa. Untunglah, bahasa Inggris jadi bahasa banyak dipakai di dunia sehingga bisa menjadi “penghubung” antar-manusia yang berbeda bahasa. Saya belajar bahasa Korea di Korea dan dengan pengajar orang Korea, tapi bahasa pengantarnya dalam bahasa Inggris.

Saya bisa “putus” hubungan dengan kehidupan dan manusia Korea jika saya tak mengerti bahasa Korea, setidaknya mengalami hambatan karenanya. Di stasiun subway Korea yang sibuk dan rumit jalurnya, saya pernah jadi alien yang tak bisa bertanya, bahkan kepada orang Korea yang duduk di samping saya. Bahasa Inggris bukan bahasa publik bagi masyarakat Korea, apalagi bahasa Indonesia. Penyelamat saya adalah bahasa bahasa tubuh atau “bahasa Tarzan”.         

Betapa sunyi dunia tanpa bahasa, betapa saya kesepian tanpa bahasa. Tanpa bahasa, dunia yang kita huni bersama ini sulit diungkapkan maknanya. Tapi betapa pikuknya dunia kini oleh bahasa-bahasa. Ah, adakah telinga yang sanggup mendengar dan mengerti semua bahasa?

Manusia menciptakan bahasa-bahasa dan sekaligus banyak berhutang padanya. Tanpa bahasa, bisakah manusia di dunia ini saling menyapa dan menyatakan cinta?  

10 thoughts on “Tidur di Korea, Mimpi Saya Berbahasa Indonesia

  1. Sangat senang sekali mendengar cerita anda,..Bearti walaupun anda tinggal di korea (brp lama) tp anda masih tetap cinta bahasa Indonesia.
    Saya mempunyai Customer di Korea,. kami gunakan bhs Inggris untuk Koresponden..
    Sebelumnya saya sempat punya pikiran untuk belajar bahasa Korea,..tp pikir2 lg alangkah baiknya kalau sy bs mengajak org korea tsb untuk belajar bhs Indonesia..
    Dulu waktu masih SD kls 1-2, sy tdk bs/dpt berbahasa Indonesia (karena km pakai bahasa ayah/ibu, bhs china)nilai bhs Indnoesia sempat merah..
    tapi dikelas 3 SD sy sudah lihai berbahasa Indonesia…sangat senang sekali…dan sekarangpun Ortu sudah lumayan berbahasa Indonesia.
    Kami sekeluarga sangat bangga bisa berbahasa Indonesia dan th 1996 kami pun sudh menjadi WNI..

  2. Anyeong haseyo, Thong Jung Sun.

    Terima kasih sudah mengunjungi web site saya yang sederhana ini. Saya bahagia menerima cerita anda. Saya berada di Korea dari musim panas sampai musim gugur (Juni-November) tahun ini. Saat ini saya berada di Toji Culture Foundation di Wonju, 2 jam perjalanan dengan kendaraan roda empat dari Seoul. Saya ke Korea atas undangan Korea Literature Translation Institute. Negeri anda sangat mengesankan dan saya sedikit-sedikit mulai belajar bahasanya. Saya juga terkesan pada anda yang lancar berbahasa Indonesia, semoga nanti saya bisa berbahasa Korea selancar anda berbahasa Indonesia. Semoga nanti kita bisa bertemu di Indonesia, jika anda tak berkeberatan tentunya. Salam saya untuk keluarga anda.

    gomabsubnida.

  3. salam kenal,
    setelah mengunjungi web site anda, saya ingin menanyakaan sesuatu kepada anda,
    saya tertarrik untuk jadi tki ke korea tapi bahasa korea saya pas passan, sedangkan saya sebenarnya menguasai bahasa inggris

    yang jadi pertanyaan apakah di korea selatan orang orangnya menguasai bahasa inggirs? berapa persen>?

  4. ooo iya, lupa…
    tolong kirim jawabannya ke email saya ya….

  5. Saya melawat ke Semenanjung Korea sebagai penyair atas undangan pemerintah Korea.
    Saya tak tahu persyaratan jadi TKI di Korea. Saya juga tak tahu prosentase pengguna bahasa Inggris di Korea. Yang jelas, bahasa Inggris bukan bahasa nomor satu dalam masyarakat Korea.

  6. annyong haseyo for u all..
    assalamualikum untuk yg muslim..
    aq lg tertarik bgd belajar bahasa korea..
    sekarang sich mash tertarik mencari ungkapan2 dalam bhs korea,,
    untuk kalian yg menguasai, bagi infonya dunkz..
    terima kasih sebelumnya yah..

    (for binhad: kamu pasti bisa menguasai bhs korea apalagi km domisili disana, keadaan akan memaksa kamu untuk lancar berbahasa korea,, semangat!! tp, jgn sampai bhs indonesia yg “bersemayam ditubuhmu” jd pudar yah, krn kita anak bangsa indonesia..emmm…satu lagi, pendapat aq atas apa yg aku yakini: bukan manusia yang menciptakan bahasa, kata demi kata, manusia hanyalah jembatan atas ilmu yang Allah SWT berikan pada manusia sampai manusia menemukan ilmu bahasa, dan Allah SWT pasti mengerti seluruh bahasa karna Ia yg menciptakan, bahkan tanpa manusia berbahasa pun Allah SWT Maha Mengetahui apa yang akan kamu bicarakan, rasakan dan apa yg akan terjadi pada manusia, karna ia yg menciptakan manusia dan hanya Allah lah yg mengetahui detail manusia, baik sebelum manusia lahir, sekarang ataupun yg akan datang..(maaf,, kalau tulisanku terlalu berlebih, aq hanya ingin menyampaikan apa yg aq yakini dan hanya ingin membericarakan “manusia dengan bahasanya” ).
    Salam kenal n tengkyu..

  7. aku pengen bgt kekorea. apalagi menurutku korea punya budaya yg sederhana tp ada sisi modernnya juga.
    aku pengen tau, pergaulan remaja dikorea itu sama kyk diindo apa engga sih?

  8. saya seorang penerjemah 2 bahasa asing yaitu bahasa korea dan mandarin.saya berpengalaman menjembatani baik pembisnis korea ataupun pembisnis china.silahkan hubungi saya lewat email bagi yang pingin sharing tentang dunia penerjemah/jubir.
    email korea_interpreter@ymail.com

  9. Yth.
    Klien kami butuh beberapa interpreter simultan English Korean untuk seminar dsb di Bali. Mohon dibantu direkomendasikan beberapa orang.
    Salam,
    Kadek Dwi. bisbali.com
    0852 37823698, 0361-7986973

  10. Hai paman Binh. Senang rasanya menemukanmu di sini, hehe..
    Saya juga sedang mempelajari bahasa. Bahasa Indonesia juga (Jangan dikira mempelajari bahasa Indonesia itu gampang, karena saya sempat putus asa mempelajari ini di kelas, hehe…)

    Kalau bahasa Korea biasanya saya tarik si pacar saya, yah untuk sekedar iseng sambil belajar bersama. Sama halnya dengan bahasa inggris. Ah, itu bukan suatu penghianatan, toh, paman?

    Ah, ya, kapan lounching buku lagi di Untirta, Serang, paman?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>