The Legend of Warung Alex
Posted by binhad on Oct-30-2008
Saya mampir ke Warung Alex pertama kali pada tahun 2000 Masehi. Lokasi warung ini di dalam kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Nama “resmi” warung ini adalah Pondok Rasa Cipta Selera (seperti yang tertulis di papan nama di depan warung ini). Nama resmi warung ini sepertinya terlupakan atau setidaknya tak populer. Salah seorang pengelola warung ini seorang lelaki asli Tegal yang biasa disapa Alex (saya tak tahu namanya yang sebenarnya dan dia meninggal dunia di warung ini pada awal tahun 2008). Lelaki itu adalah keponakan pemilik warung ini. Kemungkinan besar asal-usul sebutan “Warung Alex” dari nama sapaan lelaki itu. Warung ini kadang pula disebut Kampus Lidah Buaya, tapi sebutan ini kian jarang terdengar.
Sulit tak mengatakan Warung Alex tak populer di sebagian kalangan sastrawan Jakarta, bahkan bagi sejumlah sastrawan yang tinggal jauh di luar Jakarta. Sekian tahun silam, Sutardji Calzoum Bachri menyebut “Warung Alex” dalam satu esainya di lembaran Bentara Harian Kompas. Tulisan ini menjadi sejenis “promo literer” bagi warung ini. Warung ini menjadi tempat favorit sejumlah sastrawan Jakarta untuk nongkrong atau bertemu sesama sastrawan Jakarta maupun dari luar Jakarta. Sejumlah sastrawan kenalan saya pertama kali bertemu saya di warung ini, misalnya Djenar Maesa Ayu, Eka Kurniawan, dan Damhuri Muhammad. Ketika itu Eka Kurniawan dan Damhuri Muhammad baru saja hijrah dari Yogyakarta ke Jakarta.
Entah kenapa banyak pemampir Warung Alex adalah para seniman, khususnya sastrawan. Warung ini tampaknya menjadi sebuah legenda tersendiri bagi sastrawan dan seniman bidang lain di Tanah Air. Saya pernah bertemu sastrawan dan seniman dari luar Jakarta di warung ini, misalnya Tisna Sanjaya dari Bandung, Isbedy Stiawan ZS dari Lampung, Azhari dari Aceh, Wayan Sunarta dari Bandung, Saut Situmorang dari Yogyakarta, Acep Zamzam Noor dari Tasikmalaya, maupun Butet Kertaredjasa dan Agus Noor dari Yogyakarta.
Sebenarnya Warung Alex bukan warung yang istimewa. Kondisi warung ini mirip deretan warung-warung lain di sekitarnya di kompleks TIM itu. Dulu warung ini punya empat buah payung-tenda yang menaungi meja-meja kayu bundar dan kursi-kursi plastik. Demikian juga warung-warung lainnya itu. Ada sejumlah teman saya menyebutnya “warung tenda” atau “payung”. Sekarang, warung ini dan deretan warung-warung lainnya itu bernaung di bawah satu tenda panjang dari terpal. Sajian makanan dan minuman di warung ini pun tergolong mainstream misalnya kopi, jahe, aneka minuman botol, teh, susu, tempe goreng, tongseng, sate, sop, gule, maupun nasi goreng. Tak ada minuman beralkohol di sini.
Yang tergolong unik, Warung Alex punya pemampir “tetap” antara lain Sutardji Calzoum Bachri, Leon Agusta, Sides Sudyarto DS, Aidil Usman, Meritz Hendra, Martin Aleida, Busyro, Hamsad Rangkuti, Kamsudi Merdeka, Kisno, Indra, Remy Novaris, Adi Wicakcono, Zen Hae, Nuruddin Asyhadie, Imam Muhtarom, Hudan Hidayat, Mariana Amiruddin, saya sendiri, dan masih banyak yang lain. Juga ada sejumlah eks pemampir tetap yang sekarang sangat jarang menginjakkan kaki ke warung ini misalnya Tommy F Awuy, Danarto, Edy A Effendi, dan Djenar Maesa Ayu. Atau yang sesekali saja mampir ke warung ini seperti Nirwan Ahmad Arsuka, Endo Senggono (pegawai PDS HB Jassin), Eka Kurniawan (beserta istrinya Ratih Kumala), Akbar Faizal (dulu aktif di Partai Demokrat dan sekarang pindah ke Partai Hanura), John De Rantau, Roy (pemain sintron), maupun El Manik.
Sejumlah pemampir Warung Alex nyaris tak kenal batas waktu. Mereka duduk-duduk di warung ini dari siang sampai menjelang dini hari dengan sebungkus rokok, secangkir kopi, segelas es teh, sebotol minuman ringan, atau semangkok tongseng. Atau, hanya sekadar duduk di salah satu kursi yang kebetulan kosong. Biasanya di warung ini para pemampir tetap mengobrol berlama-lama, bertukar kabar, berdiskusi, juga beromong kosong, dan kadang tengkar mulut. Tak jarang pula, sehabis mengikuti diskusi di PDS HB Jassin atau DKJ, pemampir tetap “melanjutkan” diskusi di warung ini, tanpa moderator dan pembicara, semacam diskusi bebas yang kadang lebih menarik dari diskusi sebelumnya atau justru lebih buruk lagi.
Agaknya Warung Alex bukan sekadar warung. Warung ini serupa komunitas tak resmi bagi sejumlah sastrawan yang menjadi pemampir tetapnya. Jika ada pemampir tetap yang akan pulang lebih dulu biasanya menyempatkan diri berpamitan pada pemampir tetap lain yang masih bertahan duduk-duduk di warung ini, kadang pula mengucap janji bertemu lagi besok atau lusa di warung ini yang sering pula dibalas ejekan bila dianggap “pulang sore”. Atau, supaya “aman”, mereka yang pulang sore itu sering pura-pura pergi sebentar ke tempat di sekitar kompleks TIM, misalnya toko buku Yos Rizal atau Masjid Amir Hamzah, lalu diam-diam ngacir…
Posted in: SASTRA
Miskar, apa warung itu pake daftar hadir? Kok kamu bisa ngabsen pengunjungnya? Apa malah kamu yang bekerja di situ jadi tukang ngabsen?
Hebatnya warung ini sampai bisa bikin aku hapal sejumlah pemampirnya. Sayangnya, warung ini belum pernah buka lowongan untuk pujangga ha-ha
sayangnya, waktu aku hijrah ke jakarta, aku bertemu pertama kali dg sampeyan di depok tidak di warung alex. sampeyan mentraktirku –bersama damhuri muhammad– makan pecel lele, dan hendak membayar penjaga warung dengan sebait puisi. apa di warung alex, para seniman bayar makanan dan minuman dengan sebait puisi, esai atau cerita pendek???? he 3x
Honor cerpenmu cukup kok untuk mampir ke sana, Bung. Kembaliannya bisa buat ngebir, mabuk-mabukan,
di depan TIM he2…
salam bang, apa kabar korea? buku puisiku pertama, bulu mata susu, baru diluncurkan selasa pekan silam. bile balek ke tanah air?
Korea makin beku dan aku akan terbang ke ranah air akhir tahun ini sebelum salju menguruk sekujur Korea. Selamat untuk terbitnya “Bulu Mata Susu” yang tampaknya disambut publik sastra dengan hangat, sehangat susu hehe…
sayang, alex yang namanya diabadikan jadi “warung alex” itu, kini sudah meninggal. sekarang rasanya aneh datang ke warung itu, tapi enggak ada alex. alex … jangan kapok kalo lain kali kita berjumpa lagi di surga dengan teh botol kesukaanku!
Konon dii sorga ada sungai susu dan madu, tapi aku belum pernah dengar di sorga ada teh botol, apalagi bar dangdut hehe
Add A Comment