Binhad Nurrohmat

going within…

Repotkah Jadi Orang Islam?

Posted by binhad on Sep-1-2008

Hari ini puasa Ramadhan mulai. Ini pengalaman pertama saya berpuasa di luar Indonesia. Korea, tujuh jam penerbangan dari Jakarta, masih musim panas dan musim gugur segera tiba. Warna daun mulai berubah dan udara gerah makin reda. Malam amat pendek dan siang lebih panjang. Waktu di Korea lebih cepat dua jam dari Jakarta. Maghrib pukul 08:00 malam dan subuh pukul 04:00 pagi, waktu ini saya yakini berdasarkan penampakan matahari dari lantai 8 gedung penginapan di Seoul di mana saya tinggal sejak musim panas hingga musim gugur nanti. Saya benci arloji dan jam dinding, benda-benda ini membikin saya terteror waktu. Saya suka menandai waktu dari alam, terasa murni dan tak mekanis.

 

Di Korea, saya tak mendengar gema azan seperti di daerah tempat tinggal saya di Jakarta Selatan dan tak ada talu bedug seperti di kampung kelahiran saya di pedalaman Lampung. Setahu saya, masjid di Itaewon paling dekat dari penginapan saya di Imun-dong, 30 menit naik kereta. Orang Korea ramai-ramai pergi ke gereja setelah berbondong meninggalkan pagoda. Arca jadi masa lampau mereka. Gereja menjulang di mana-mana seperti masjid-masjid di Jakarta. Masjid di Itaewon itu dibangun tentara Turki yang bertugas di masa Perang Korea lebih separuh abad silam.

 

Percayalah, jadi orang Islam di Korea lebih berat ketimbang di Jakarta, apalagi yang saleh. Menu daging babi serupa menu daging ayam di warung-warung di Jakarta. Selain Islam tak menghalalkan, kebetulan pencernaan saya tak bisa menerima daging hewan ini. Saya kira, daging binatang ini menolak dicerna usus dan lambung saya. Kata teman saya, perut saya terlalu Islami. Tapi, menurut saya, daging babi bertenggang rasa dengan pencernaan saya.

 

Di Korea saya sering makan daging ayam sembelihan orang setempat yang entah apa agamanya, entah beragama atau tidak beragama. Saya tak tahu. Saya pun tak tahu perbedaaan daging ayam yang disembelih dengan membaca basmalah atau tidak. Untuk yang ini perut saya tak bisa membedakannya. Repotkah jadi orang Islam?    

 

Hari ini puasa mulai. Apakah di gedung penginapanan saya yang berpuasa hanya saya? Sesekali merasa jadi minoritas ada baiknya. Untuk variasi hidup. Saya berencana berbuka puasa di penginapan saya sendirian dengan menu masakan saya sendiri. Saya tak bisa menduga rasa masakan saya. Sebenarnya saya benci memasak. Tapi kali ini saya ingin. Racikan bumbu dan komposisi bahan masakan mengikuti intuisi, seperti menulis puisi. Asyik sekali.

 

Semula saya ingin mengundang seorang kenalan yang selantai dengan saya, tapi saya batalkan kemudian. Bukan khawatir membuatnya muntah setelah menelan menu masakan saya. Ketika saya belanja bahan menu masakan berbuka puasa di mini market dekat gedung penginapan, saya berjumpa kenalan saya itu. Dia membeli sebotol bir Korea ukuran besar. Sejak mula saya kira dia orang Islam, setidaknya namanya berbahasa Arab. Kami keluar dari mini market bersama-sama sembari ngobrol. Entah apa ujung-pangkalnya, dia mengaku jadi ateis sejak lama. Saya tak menduga gadis manis tak percaya tuhan, apalagi namanya berbahasa Arab. Sekeluar dari lift lantai 8, kami berpisah. Tak tahu kapan kami bertemu lagi. Hidup segedung tapi kami seperti menghuni planet yang berbeda.

 

Saya akan berbuka puasa sendirian. Saya khawatir mengundang orang lain, siapa tahu yang saya undang serupa gadis  itu atau mendadak jadi ateis satu jam menjelang berbuka puasa. Saya khawatir mengundang siapa pun. Saya akan berbuka puasa tanpa teman. Tak ada talu bedug dan gema azan. Tiada orang tahu saya berbuka puasa. Saya tak bisa memamerkan puasa saya pada siapa pun. Situasi tak memungkinkan. Nanti saya duduk menghadap meja makan menjelang maghrib dan saat itu julangan tiang salip di pucuk menara gereja di seberang jendela penginapan saya merah menyala, seperti biasanya setiap selepas senja.

 

Buka puasa pertama saya nanti tampaknya keren. Diam-diam ada yang bergetar dalam diri saya. Nanti, dari jendela besar bujur sangkar di penginapan saya tampak mega-mega kemerahan di arah barat. Itu tanda maghrib tiba. Ketika itu lampu-lampu kota Seoul berpijar. Saya mengucapkan selamat berbuka puasa untuk saya. Semoga nanti saya menikmati menu masakan saya. Saya tak perlu menunggu gema azan atau talu bedug. Alam memberi tahu kapan saya melahap menu masakan saya. Tuhan tak menciptakan arloji dan jam dinding.

  1. Mulyadi J. Amalik Said,

    Kisah Jakarta di Awal Puasa

    Aroma Jakarta agak pengap. Langit mendung dan hujan tak merata rupanya. Tak jelas mau usai musim kemarau atau akan segera musim hujan.

    Dua hari lagi menjelang puasa. Beberapa stasiun televisi merilis berita duka dari sebuah apartemen yang menjulang dalam kesenyapan. Seorang bocah 3 tahun jatuh dari lantai 25 apartemen itu. Tubuhnya tersangkut di pelataran lantai 5. Aku merangkul balitaku yang sudah masuk 15 bulan sambil prihatin mengikuti siaran televisi, membayangkan seolah rumahku berada di paling ujung pohon nyiur, atau bagai sangkar burung dara yang kering. Siapa yang peduli kami sebab orang sibuk dengan biliknya sendiri-sendiri.

    Cepat aku sadar. Rumahku di perkampungan penduduk yang masih rajin bertegur-sapa. Tentu saja tak bertingkat. Lingkungannya cukup bersih. Walau jalan selebar pincangan kaki orang dewasa, ada pot-pot bunga yang menghias di tepi kiri atau kananya. Bau got yang saban waktu membuat mual, tertimpa bau kembang-kembang yang harum.

    Jakarta tak sama dengan kampungku di ilir Sungai Musi. Cerita Jakarta cuma penggalan-penggalan novel tak bersambung. Sepenuhnya ia berisi kecemasan dan kesepian mirip Binhad di hutan belantara Korea.

    Selamat puasa Ramadhan, semoga imanmu lebih teruji di negeri ginseng itu!
    Wassalam. [Mulyadi J. Amalik]

  2. goop Said,

    wuah, menarik sekali di sana pak…
    saya mengikuti cerita dengan saksama semenjak persentuhan bahasa.
    semoga lancar puasa di sana, selancar sepur-sepur korea :D

  3. ratihkumala Said,

    Bin, setahuku, kalo ayam yang dipotong tidak dengan menyebut nama Allah itu halal-halal aja. Asal waktu motong enggak menyebut nama lain selain Allah, misalnya: namamu! (hehehe). Selamat berpuasa di negeri orang, semoga menemukan kedamaian yang tak bisa kau temukan di negeri sendiri.

  4. binhad Said,

    Mul, Uncle Goop, dan Ratih yang baik,
    Puji tuhan, puasa pertamaku sangat gemilang dan terhindarkan dari godaan gadis2 Korea yang tungkainya paling indah di planet ini. Hari ini aku sibuk di perpustakaan dan menyiapkan tulisan baru untuk blogku yang tercinta dan juga untuk keperluan publikasi yang lain. Aku juga akan belanja hari ini. Kulkasku sudah kosong. Tuhan, beri aku uang…

  5. eka Said,

    lha, bin, bukankah di jakarta kamu juga makan babi dan enggak puasa?

  6. binhad Said,

    Eka yang berkacamata,

    Gosip itu dirujuk dari mana sih.
    Saya perlu konfirmasi dong ah.
    Really, gosip itu tak sahih.

  7. mufti Said,

    Setauku nggak perlu kuatir makan ayam sembelihan orang yang entah apa agamanya, asal penyembelih tidak menyebut nama sesembahan lain selain Allah.
    Kebetulan ini puasa pertama saya di rantau, hampir stress..

Add A Comment