Polemik Kitab Puisiku “Demonstran Sexy”
Oleh Damhuri Muhammad,
Cerpenis, bermukim di pinggiran Jakarta
Bagaimana semestinya sastrawan menyikapi keriuhan retorika politik yang belakangan ini tampak semakin mentereng? Perlukah seorang penyair menyelami realitas politik yang ingar-bingar dan penuh intrik itu -setidaknya melibatkan sebentuk kesadaran politik dalam gairah kepenyairannya atau sebaliknya-sebagaimana petuah Julian Benda (1928)- karena sudah “ditakdirkan” untuk mencari kepuasan di ranah kesenian, dan oleh karena itu, para penyair seyogianya menjauh dari zona kesadaran politik. Agar lelaku kepenyairan tetap terjaga, tidak terkontaminasi efek kuasa politik yang sejak dari perkembangan yang paling purba telah dianggap ancaman laten.
Tapi, apalah guna sebait sajak yang hanya mampu menggambarkan setetes embun yang jatuh di atas sehelai daun, atau hujan bulan November yang mengingatkan ia pada serpihan-serpihan yang hilang. Mengawang-awang, tak membumi, sesekali bahkan utopia. Ada atau tak adanya bait-bait cengeng itu tidak akan berpengaruh pada fenomena kebimbangan massal lantaran imbauan-jika tidak bisa disebut “tekanan”-untuk menegaskan sebuah pilihan, di saat kita sedang mengalami krisis kepercayaan yang semakin banal. Jangankan pada orang yang belum dipilih, yang nyata-nyata sudah terpilih pun sukar dipercaya. Itu sebabnya ongkos kampanye melonjak tinggi. Sejatinya, bila ada trust, tentu ongkos politik tidak akan mahal sebagaimana kini.
Janji-janji pun diikrarkan, segala modus dan siasat dikerahkan, termasuk dengan membeli kepercayaan itu dengan harga tinggi. Segala macam retorika berhamburan. Sebagaimana penyair, para politisi pun membacakan “puisi” di hadapan khalayak, guna menyentuh perasaan, meraih simpati hingga akhirnya terpanggil untuk menjatuhkan pilihan.
Lalu, di mana para penyair semestinya tegak berdiri? Berpangku tangan sembari menonton dari puncak menara kepenyairannya? Atau turun gunung, lalu merancang semacam budaya tanding guna mengimbangi retorika politik yang kerap menyesatkan itu?
Inilah ketegangan yang disuarakan oleh sajak-sajak dalam antologi Demonstran Sexy (2008), karya Binhad Nurrohmat. Alih-alih takut terkontaminasi oleh efek kuasa politik, sajak-sajak Binhad justru sedapat-dapatnya menyekutukan kesadaran puitis dengan kesadaran politik. Meski dengan persekutuan dua sumbu kesadaran itu sajak-sajaknya menjadi sangat sederhana, cair, dan menyehari, misalnya:
Dari pemilu ke pemilu
Undang-Undangnya selalu baru
kayak orang ganti baju
Dari pemilu ke pemilu
banyak kontestannya yang baru
Ada yang asli dan palsu.
Tidak ada yang asing, apalagi rumit, dalam sajak “Pemilu Modis” itu, hingga gampang dicerna siapa saja, termasuk kelompok anti-puisi sekali pun. Tapi, ekspektasi puitis tentu tidak sekadar mampu melakukan simplifikasi puisi-dari gelap menjadi terang, dari kabur menjadi terang, dari keruh menjadi jernih-lebih jauh, tentu tidak harus terjerumus pada hal-hal remeh dan tak berkedalaman, sebagaimana lelaku retorik para politisi yang hendak disanggahnya. Ada benarnya tinjauan pakar sosiologi politik, Yudi Latif, yang menulis epilog untuk antologi itu, bahwa relasi penyair dengan realitas politik sesungguhnya bukan tanpa persoalan. Bila kurang waspada, efek kuasa politik bisa lebih dominan daripada otoritas kepenyairan itu sendiri.
“Tak ada penulis yang kebal dari `jaring laba-laba` politik,” begitu kata Luisa Valenzuela, sastrawan Argentina, “Dunia bernapas politik, makan politik, berak politik.”
Tengoklah sajak “Sumpah Penyair” karya Binhad:
Penyair Indonesia,
berani hidup tanpa uang pensiun.
Penyair Indonesia,
tidak menjual harga diri puisinya.
Penyair Indonesia,
menjaga kerukunan rumah tangga.
Penyair Indonesia,
tidak suka berdusta kepada rakyat.
Penyair Indonesia,
pantang mencuri harta masyarakat.
Penyair Indonesia,
setia menjunjung martabat bangsa.
Penyair Indonesia,
mendukung pemimpin yang bijak.
Penyair Indonesia,
menebarkan cinta ke seluruh dunia.
Alih-alih dapat dipersepsi sebagai puisi, malah terdengar begitu memukau sebagai slogan. Bukankah ini bahasa politik yang telah menyaru ke dalam tubuh puisi? Dalam batas-batas tertentu, sajak ini lebih terasa sebagai kesadaran politik ketimbang kesadaran puitis itu sendiri. Inilah salah satu bukti perihal efek kuasa politik terhadap lelaku ujaran para penyair. Itu pula sebabnya, Mudji Sutrisno, dalam sebuah diskusi baru-baru ini, mengungkapkan bahwa sajak-sajak Binhad dalam buku itu berada di posisi yang tarik-ulur antara “puisi sejati” dan “puisi yang terlibat”. Bila ditimbang sebagai “puisi sejati” ia mendekonstruksi semua “syarat-rukun” yang mengabsahkan sebuah pencapaian estetika puisi. Tapi bila diposisikan sebagai “puisi yang terlibat” ia tidak menegaskan sebuah usungan ideologi sebagaimana “puisi-pusi terlibat” lazimnya.
Sebegitu gamblangnya muatan sajak-sajak itu, penyair Radhar Panca Dahana sampai-sampai dengan sumringah menantang; “Kalau hanya segitu, saya bisa menulis 30 puisi dalam sehari.” Lain lagi dengan Yudi Latif, sajak-sajak pendek seperti Tuhan, beri aku kekuasaan/Kekuasaan, beri aku uang (Munajat Pejabat), sepadan dengan gejala instan dari gaya hidup generasi SMS, yang sangat berpeluang untuk jatuh menjadi slogan dan pamflet. Di sini, lagi-lagi lelaku ujaran puitis tak berdaya menandingi kuatnya arus kuasa politik. “Sajak-sajak Binhad itu hendak memperlihatkan gairah estetisasi puisi atau justru terjebak pada estetisasi politik?” begitu Mudji Sutrisno mempertanyakan.
Namun, di sebalik semua tudingan perihal kegamblangan-bila tidak bisa disebut kedangkalan-itu, bagaimanapun juga, antologi Demonstran Sexy itu telah berjasa membumikan puisi, menjadi rumusan teks yang bisa dicerna siapa saja, puisi menjadi mampu memperkenalkan dirinya sendiri, tidak seperti puisi-puisi yang konon berselera tinggi, yang bahkan setelah diulas oleh sejumlah kritikus, tetap saja gelap, bahkan di mata para penyuka puisi sekali pun. Tengoklah pula sajak “Menjelang Pemilu”:
Ayo dukung saya!
Ayo coblos saya!
Bersama kita bisa
gratiskan sekolah yang sudah roboh gedungnya.
Bersama kita bisa
menangkapi semua koruptor lantas melepasnya.
Bersama kita bisa
mewujudkan negara kita paling miskin sedunia.
Please, saudara-saudara!
Siapa berani pilih saya?
Jitu. Tanpa basa-basi. Langsung ke pokok soal. Tajam.
Maka, hanya ada dua pilihan; puisi sejati, tapi rumit, mbulet, dan hanya berguna bagi kritikus dan segelintir penyuka puisi belaka, atau sajak-sajak gamblang dan sederhana ala Binhad-meski dianggap slogan atau pamflet-tapi sangat berguna bagi rakyat jelata? Tuan pilih yang mana?***
(Sumber: Pikiran Rakyat, Bandung, Minggu, 5 April 2009)
***
DAM, DAM, DAM
Oleh Yopi Setia Umbara,
penyair, bergiat di ASAS UPI Bandung.
AWALNYA saya tidak terlalu tertarik dengan esai Damhuri Muhammad (selanjutnya disebut Dam) yang berjudul “Kesadaran Puitis & Politik” yang diterbitkan di suplemen Khazanah di Pikiran Rakyat (Minggu, 5 April 2009). Karena, untuk sebuah esai judul macam itu biasa banget, kurang provokatif. Atau, mungkin Dam sengaja memilih judul itu, supaya tulisannya terkesan up to date. Maklum, pada waktu itu menjelang pemilu.
Setelah saya baca perlahan-lahan, ternyata isinya cukup berani juga, kalau tidak ingin disebut sembrono. Barangkali, seberani para calon legislatif yang berebut simpati rakyat untuk kursi yang terbatas. Dam begitu enteng, seolah tanpa tekanan, dan tanpa pertimbangan mengesampingkan beragam estetika puisi lain. Sementara, ia begitu khusyu mempromosikan estetika puisi karya Binhad Nurrohmat dalam antologi Demonstran Sexy (2008) sebagai karya yang membumi.
Dam memang gelisah juga kritis dengan perkara politik, seperti pertanyaan di awal esainya berikut ini, “Bagaimanakah semestinya sastrawan menyikapi keriuhan retorika politik yang belakangan ini tampak mentereng?” Sebuah kalimat tanya yang mengesankan kebijaksanaan dan keberpihakan Dam pada rakyat. Seakan-akan dalam pandangannya, sastrawan tidak mampu menyelamatkan negeri yang terombang-ambing situasi politik ini.
Namun, kemudian Dam terpancing untuk memaksakan opininya yang tidak sepakat dengan estetika puisi yang menurutnya, “…apalah gunanya sebait sajak yang hanya mampu menggambarkan setetes embun yang jatuh di helai daun, atau hujan bulan November yang mengingatkan ia pada serpihan-serpihan yang hilang. Mengawang-awang, tak membumi, sesekali bahkan utopia…” Pernyataan semacam itu semestinya tidak perlu diungkapkan oleh seorang Dam yang rajin menulis esai, juga seorang cerpenis itu. Bukankah Dam seorang sastrawan juga?
Mengenai empat sajak Binhad yang dipromosikan Dam sebagai karya yang membumi, bukanlah persoalan rumit. Sebab pilihan estetika merupakan komitmen dan konsekuensi setiap orang untuk memilih jalan puisi yang hendak ditempuhnya. Akan tetapi, ketika Dam mempromosikan sebuah estetika, lantas menggugat estetika yang lain tanpa ampun, apalah bedanya ia dengan politisi yang digugatnya.
Barangkali Dam lupa, bahwa sajak bukanlah kendaraan untuk menyampaikan suatu gagasan tertentu secara gamblang. Atau, Dam yang kecewa dengan fenomena politik yang bebal ini lantas mengambinghitamkan sajak-sajak yang menurutnya tidak membumi itu. Lalu, Dam menghukum para penyair, pencipta karya-karya yang sukar, dengan dalih kepentingan rakyat yang sukar memahaminya.
Sementara, Dam sendiri cukup ragu-ragu, ketika menentukan sajak Binhad berjudul “Sumpah Penyair”. Menurutnya, “alih-alih dapat dipersepsi sebagai puisi, malah terdengar begitu memukau sebagai slogan…. Lantas ia menyebutkan bahwa Binhad mendekonstruksi “syarat rukun” pencapaian estetika puisi. Ah, naif sekali Bung Dam ini. Seolah-olah konsep semacam sajak Binhad belum pernah ada sebelumnya. Tapi, saya percaya, sebagai perajin esai Dam tentu membaca karya Widji Thukul atau Rendra.
Pernyataan-pernyataan yang disodorkan Dam, tentu saja penting untuk diperhatikan, apalagi diluruskan. Sebab cara Dam memandang sajak dan mendudukkannya, seolah-olah menganggap karya-karya yang lain sebagai bersalah. Bahwa sajak-sajak yang heroik lebih baik, ketimbang sajak-sajak yang ditulis di bilik yang gelisah dengan penghayatan riwayat hidupnya.
Sedemikian tertekankah Dam? Terseret untuk menyampaikan opini yang sarkastik, di tengah-tengah situasi sosial-politik yang tidak membahagiakan ini. Sehingga dengan entengnya, ia menafikan segala kemungkinan bahasa-yang sarat simbol dan makna-sebagai medium utama karya sastra. Jika dunia sastra diharapkan mampu memberikan kesadaran politik kepada rakyat, jangan dengan menyederhanakan persoalan, dong.
Mental pragmatis seperti inilah justru yang dapat menyakiti dunia sastra sendiri. Selalu menganggap bahwa rakyat kecil adalah pembaca awam dunia sastra. Tapi mempersempit kesempatannya memasuki dunia sastra dari berbagai jalan. Setiap karya sastra dengan estetika seperti apa pun, merupakan jalan masuk bagi setiap orang untuk membaca karya sastra, kemudian berupaya memahaminya. Memahami dalam hal ini, bukan menafsirkan, tetapi bagaimana karya sastra yang dibaca memberikan kesan tertentu bagi pembacanya (setiap pembaca pasti paham tentang hal ini).
Memang, di akhir tulisannya, Dam menyerahkan pilihan kepada pembaca untuk memilih karya macam apa pun untuk dibaca. Akan tetapi, Dam tetap menegasikan jenis estetika puisi. Dam keukeuh menyatakan, mana estetika yang “berguna” dan “tidak berguna” bagi rakyat.
Maka, jika Dam ingin berbicara perkara “guna” atau “fungsi”, mau tidak mau ia harus bicara konsep paling sederhana dari puisi atau untuk apa puisi diciptakan. Meski, dalam konteks ini Dam berbicara perkara tentang kesadaran puitis dan politik. Dari zaman baheula sekali pun, pusi merupakan ekspresi seseorang dengan media bahasa, yang berguna sebagai penyucian diri.
Oleh karena itu, setiap estetika puisi yang dikreasi setiap penyair dengan kerja kerasnya, tentu saja akan berguna jika kita membacanya dengan mata dan hati yang terbuka. Sebab, segala peristiwa dan fenomena sosial politik yang tampak dan terasa dampaknya, secara reflektif akan memengaruhi setiap orang untuk tumbuh dengan kesadarannya masing-masing. Begitu juga kesadaran pada sesuatu yang puitis, atau bahkan perkara politik sekali pun. Dengan demikian, puisi tidak akan dilantunkan dalam kesia-siaan, meminjam kata-kata Pablo Neruda, penyair Chili paling dihormati di Amerika Latin, pada pidatonya saat menerima Nobel tahun 1971.
(Sumber: Pikiran Rakyat, Minggu, 19 April 2009)
***
BERGERAK BERSAMA PUISI
Khudori Husnan
pengkaji sejarah seni dan filsafat.
“Menjadi penyair hebat harus juga menjadi audiens yang mumpuni” – Walt Whitman
RISALAH Damhuri Muhammad “Kesadaran Puitis & Politik” (Pikiran Rakyat, 5/4) menyiratkan keterpesonaan pada Demonstran Sexy (2008) Binhad Nurrohmat. Sebaliknya Yopi Setia Umbara lewat “Dam, Dam, Dam”(Pikiran Rakyat, 19/04/09), meski judul tersebut terkesan melecehkan Damhuri, sepaham dengan Damhuri terkait kesejajaran kedudukan puisi dan politik yang diangkat keduanya.
Pablo Neruda dikutip Yopi sebelum menyudahi tulisannya. Neruda, salah satu puisinya berjudul “Coretan-coretan untuk Lenin,” termasuk penyair besar yang syair-syairnya baik “formal” maupun “materi” terpusat pada relasi timbal-balik antara puisi dan politik yang ini berbeda tajam dengan ekspresi seni yang “terkesan” harus steril dari kepentingan politik. Tema ini dalam sejarah seni abad ke-19 lampau disebut “Seni untuk Seni.”
“Seni untuk Seni,” jika Yopi Setia Umbara konsisten, itulah pokok kesimpulan yang mungkin dari tulisannya mengingat baginya “Dari zaman baheula sekali pun, puisi merupakan ekspresi seseorang dengan media bahasa, yang berguna sebagai penyucian diri.”
Genealogi “Seni untuk Seni” dapat ditelusuri jejaknya pada ekspresi seni yang bervisi seniman dan karya seni hanya dapat diapresiasi segelintir orang; relasi kehidupan seni dan kehidupan keseharian (ordinary life) manusia bersifat antithetical, tak dapat dikombinasikan dan direkonsiliasikan.
Dengan kata lain, pengasingan seniman dari konteks sosial adalah warisan seniman-seniman romantik, terkait pemahaman atas misi Ilahi, anugerah khusus (baca talenta) terkait superioritasnya atas manusia kebanyakan. Dalam kosa-kata pemikir Immanuel Kant, yang karya-karyanya banyak dijadikan pembenaran filosofis seni romantik yang berbuah formalisme itu, apresiasi seni adalah ohne alles interesse (bebas kepentingan sepenuhnya) alias kontemplatif.
Pandangan ini mendapat gempuran paling telak dari para seniman yang menimba gagasan dasar dari filsafat Marx. Meski Karl Marx tidak pernah menulis traktat khusus tentang seni tetapi pandangannya tentang basis dan superstruktur membuka jalur ke arah kesenian revolusioner.
Dalam tafsir yang lazim atas pemikiran filsafat Marx, seni, budaya, hukum, dan agama mengeram dalam superstruktur. Seni (formalis) dituding menebarkan jejaring kesadaran palsu dan berwatak ideologis sehingga harus didobrak. “Art should not be a mirror,” pekik kelompok konstruktivis (Soviet), “but a hammer!”
Dalam rangka konfrontasinya dengan Damhuri, apakah Yopi setia dengan argumentasi yang dibangunnya? Tidak. Karena diam-diam ia sepakat dengan Damhuri terkait pokok paling mendasar tulisannya pertama, “kesadaran politik kepada rakyat” dan kedua, masalah transformasi fungsional seni. Perbedaan terletak hanya pada, ungkapan Yopi, “jangan dengan menyederhanakan persoalan, dong.”
TERKAIT kumpulan puisi Binhad Nurrohmat, Demonstran Sexy, Damhuri menulis: “Bila ditimbang sebagai `puisi sejati’,” puisi-puisi dalam Demonstran Sexy “mendekonstruksi semua `syarat rukun` kadar estetika puisi. Tapi bila diposisikan sebagai `puisi yang terlibat` ia tidak menegaskan sebuah usungan ideologi sebagaimana `puisi-pusi terlibat` lazimnya.”
Tulisan di atas mengesankan adanya dua hal. Pertama, puisi-puisi Demonstran Sexy bukan puisi sejati kedua bukan “puisi-puisi terlibat”. Kalau Demonstran Sexy dinikmati secara lebih akrab idiom-idiom dalam “puisi sejati” dan idiom-idiom “puisi terlibat” keduanya tampak “bertukar tangkap” begitu intim meski tak dapat dipungkiri Demonstran Sexy memiliki kelihaian mengelak dari aneka definisi.
Simak, misalnya (Republik Puisi) Dari puisi oleh puisi dan untuk puisi; (Karakter Indonesia) Menjadi demokrat sejati /bila punya bakat kompromi; (Teologi Reformasi) Suara rakyat suara tuhan/mari ganyang sang tiran!; (Doa Reformis Sejati)Tuhan, berkahilah Indonesia serta beri selamat dan lindungi kami dari pejabat berwatak jahat; (Perbedaan Penyair) Kau angkatan `66/gue angkatan 69.
Imajinasi tentang doa, gairah, kesejatian, rakyat, demokrasi, reformasi, dan Indonesia melekat kuat dalam benak pengarangnya. Pada tingkat tertentu pengaburan batasan idiom-idiom inilah yang menjadi sekaligus kelemahan dan kekuatan puisi-puisi dalam Demonstran Sexy.
Dalam sejarah seni idealisasi yang terlalu pada “puisi sejati” berdampak pada formalisme. Sebaliknya penekanan berlebihan pada “puisi-puisi terlibat” akhirnya terperosok pada rezim komunisme. Demonstran Sexy rupanya tak mau berjejak secara ekstrim di salah satu kutub sebaliknya ia asyik bermain di antara dua kutub tersebut. Binhad sedang berupaya membuka diri untuk menjadi audiens yang baik atas dinamika kehidupan sosial mereka yang kerap dikucilkan.
Bagaimana menempatkan Demonstran Sexy?
Menurut Bradley dan Esche (2007), menjelang abad ke-21 seni bertransformasi menjadi apa yang disebut sebagai “gerakan tentang gerakan-gerakan” (movement of movements) dari mulai avant-gard modernis berikut gagasan dan komitmen politis yang diusungnya hingga gerakan-gerakan yang secara definitif mengugat modernisme artistik.
“Gerakan tentang gerakan-gerakan” adalah ungkapan seni berbasis kesadaran akan politisasi seni yang merupakan respons terhadap realisasi seni yang sudah selalu terpolitisasi-manakala karya seni melulu dikangkangi kepentingan kelompok dominan.
Kekhasan “gerakan tentang gerakan-gerakan” terletak pada arti penting seni dalam konteks perjuangan politis sebagai suatu pelibatan kebenaran personal, dan kebebasan artistik yang disandarkan pada kebebasan individual. Di samping itu, seni diposisikan sebagai bagian integral kehidupan sehari-hari (Lebenspraxis) keseluruhan anggota masyarakat.
Sayangnya, fenomena “gerakan tentang gerakan-gerakan” yang hendak menjadi “budaya-tandingan” lambat laun terhisap pada budaya yang mau dilawannya terutama dalam konteks kapitalisme global yang makin canggih seperti sekarang.
Demonstran Sexy mendialektikakan dua gagasan seni di atas; pandangan yang memosisikan seni sebagai representasi perkembangan estetika dan gerakan-gerakan seni pendukung avant-gard dalam upaya memutuskan diri dari kungkungan tradisi demi kreativitas seni (puisi), tanpa maksud menuntaskan.***
(Sumber: Pikiran Rakyat, Minggu, 03 Mei 2009)
***
IKHITIAR MENYELAMATKAN PUISIi
Damhuri Muhammad,
cerpenis, alumnus program studi Kesusasteraan Arab
dan pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
SENI paling unggul adalah seni yang mampu membangkitkan hasrat-berkehendak setelah sekian lama tersumbat. Begitu ketegasan penyair masyhur kelahiran Pundjab, India, Muhammad Iqbal, sebagaimana dikutip S.A. Vahid dalam Iqbal, His Art & Thought (1916). Oleh karena itu, the dogma of art for the sake of art is a clever invention of decadence to cheat us out of life and power (dogma seni untuk seni adalah sebuah rekayasa cerdas dari kebobrokan yang mengecoh agar kita semakin terasing dari realitas kehidupan dan kekuatan) lanjut Iqbal lagi. Bagi penulis epos Javid Nama (1932) itu, seni harus menghayati manusia dan segala kehidupannya. Di samping memberi rasa nikmat, seni harus dapat memandu pikiran manusia. Demikian Iqbal menegakkan kepenyairannya, sebagaimana tercermin dalam Asrar-i Khudi (1915), Rumuz-i Bekhudi (1918), dan Payam-i-Mashriq (1923).
Tak disangsikan bahwa puisi adalah ekspresi estetik paling hulu. Induk segala bentuk ekspresi sastrawi, dan belum ada yang melampauinya. Itu sebabnya, penyair Arab tersohor, Adonis (Ali Ahmad Said), tak segan-segan menyejajarkan antara “jalan kepenyairan” dengan “jalan kenabian”. Baginya, penyair-dengan azwaq al-adaby (cita-rasa sastra) yang mereka genggam-sanggup menggapai anak-tangga paling puncak guna menangkap pesan-pesan profetik sebagaimana kemampuan nabi dalam menyambut risalah Tuhan yang bermuasal dari lauh-mahfuz.
Bila filsuf Arab, Al-Farabi (870-950) menegaskan bahwa derajat kenabian dapat diraih oleh manusia-manusia khawwas (khusus) berkat pencapaian mereka pada jenjang aql-fa`al (akal aktif), maka dalam batas-batas tertentu golongan penyair juga berlabuh di maqam itu. Thomas Patrick Hughes dalam Dictionary of Islam (1895) mencatat tujuh nama penyair Arab klasik yang lahir dari tradisi muhazzabat dan muallaqat ini, antara lain: Zuhair, Trafah, Imrul Qays, Amru ibn Kulsum, al-Haris, Antarah, dan Labid.
Di antara tujuh penyair itu, yang paling berpengaruh adalah Imrul Qays (wafat 550 M), sebagaimana diakui al-Ashma`i dalam al-Fuhul asy-Syuara` (1971). Imrul Qays memperlihatkan gairah pencarian terhadap kesadaran puitik yang sama sekali baru, setidaknya bila ditakar dengan langgam estetika puisi “jahiliyah”. Diterabasnya batas-batas, dilanggarnya tabu, dibangkitkannya hasrat-berkehendak yang selama berkurun-kurun tertimbun dalam ortodoksi dan kekolotan tetua-tetua kabilah Quraisy, dengan menciptakan metafora baru yang tanpa disadarinya ternyata melampaui konvensi-konvensi bahasa yang masih merujuk pada masa lalu. Aku naiki kuda dalam peperangan/bagaikan belalang/lembut gemulai/jambulnya tergerai menutupi wajahnya, begitu bunyi salah satu sajaknya.
Bagi Adonis, gairah kepenyairan para perintis genre sajak rasya` (ratapan), ghazzal (erotik), dan madh (pujian) itu memperlihatkan rancangan realitas yang terus berubah (mutahawwil) sebagai antitesis dari ortodoksi, dan fanatisme tokoh-tokoh Quraisy yang stagnan, dogmatis, atau dalam bahasa Adonis, as-tsabit (yang tetap).
Contoh sederhana ini kiranya dapat memaklumatkan betapa beratnya beban yang dipikul puisi. Ia mengemban desakan gerak transformasi sosial dan kultural dalam masyarakat yang melahirkannya. Sama halnya dengan tanggung jawab para nabi yang dengan teks-teks suci memikul risalah guna menyempurnakan watak dan moralitas umat. Maka, tidak ada alasan untuk bermain-main, apalagi mendistorsi martabat kepenyairan menjadi puisi-puisi yang hanya mahir berbicara tentang hujan, salju, embun, atau bunga mawar.
**
GAGASAN ganjil inilah yang menjadi pangkal-bala silang pendapat antara saya (Kesadaran Puitis & Politik, “PR”, 5/4) dan Yopi Setia Umbara (Dam, Dam, Dam, “PR”, 19/4). Beberapa hari selepas esai saya diturunkan, dengan nada sinis, seorang sejawat penyair bertanya, “Benarkah tuan mencintai puisi?” Tegas saya menjawab, “Sepenuh hati.” Akan tetapi, tampaknya itu belum dapat melenyapkan kecurigaannya pada saya, yang menurutnya tidak bulat-bulat menyukai puisi. “Tapi mengapa tuan bilang; apalah guna sebait sajak yang hanya mampu menggambarkan setetes embun yang jatuh di atas sehelai daun?” tanyanya lagi. Saya jadi maklum, ternyata kalimat itu telah membuat panas kuping seorang penyair. Ia tidak sedang bertanya, tapi menagih pertanggungjawaban atas kesembronoan saya, lantaran telah meremehkan pencapaian estetika dari puisi-puisi gemulai yang dibelanya itu. “Sebab, bagi saya, itu bukan puisi!” Begitu saya mengakhiri pembicaraan.
Antologi sajak Demonstran Sexy (2008) karya Binhad Nurrohmat yang menjadi cikal-soal perbantahan ini, bagi saya, dapat menjadi umpan yang jitu guna memancing penggalian yang lebih berkedalaman perihal nilai-guna puisi di tengah kebisingan suasana politis yang kian hari kian menyengsarakan. Bila Khudori Husnan (PR, 3/5) menimbangnya dengan hipotesis “bergerak bersama puisi”, saya hendak menegaskan; puisi-tidak hanya puisi Binhad, tentunya-adalah gerak (aksi) itu sendiri, sebab ia subjek yang aktif, bukan sekadar medium. Di tangan Binhad, puisi selekasnya mesti turun dari menara gading kepenyairan yang sejak lama dipuja-puji itu. Puisi harus merakyat, hidup berdampingan dengan rakyat, muasal puisi itu sendiri. Ini berarti puisi harus segera “diselamatkan” dari keterasingan lantaran keterikatannya pada kultus dan ritus, sebagaimana syair-syair Homerus di masa lalu.
Walter Benjamin (1892-1940) pernah membincang perihal pudarnya basis-basis kultus dan ritual seiring dengan gelombang sekularisasi pascarenaisance, yang di satu sisi memang mengakibatkan seni kehilangan otentisitas dan otonomi, tapi pada sisi lain, seni mampu mendedahkan emansipasi sosial tanpa harus bergantung pada ritus dan kultus itu. Menurut Benjamin, sesuatu yang menarik dalam paradigma baru sejarah seni itu adalah bahwa ruang kosong yang di masa lalu diisi oleh ritus dan kultus, dalam seni modern dipenuhsesaki oleh praktik sosial lain, yakni: politik. (F. Budi Hardiman, 2007).
Sejak itu, seni mengalami perubahan dari coraknya yang esoterik menjadi eksoterik. Seni mulai disuguhkan secara langsung pada “rakyat jelata”-meminjam ungkapan khas Binhad-dan tentu saja sarat dengan muatan politis, sebagaimana terlihat pada drama-drama karya Bertold Brecht (1898-1956). Segala bentuk tabir yang selama berkurun-kurun telah mengaburkan makna puisi, harus selekasnya disingkap, dibuka selebar-lebarnya, agar ia dapat dimasuki oleh sebanyak-banyaknya “umat puisi”. Demonstran Sexy yang ditegakkan atas dasar kepekaan politis demi tendensi praksis-emansipatoris-oleh karena itu ia bermuatan politis-meski bukan tanpa persoalan, agaknya dapat menjadi langkah awal dalam ikhtiar “menyelamatkan” riwayat perpuisian kita yang akhir-akhir ini semakin tertimbun di lubuk keterasingan…
(Sumber: Pikiran Rakyat, Minggu 17 Mei 2009)


Waaah, blog yang keren sekali. Tulisannya bagus semua…
@Wahyu: Terima kasih apreasiasinya.
ada hasrat untuk menyusun skripsi puisi mas Bihad,,Smga dapat memperluas cakrawala pusi dan perpuisian indonesia………
Add A Comment