Persentuhan Bahasa di Bukit Korea

Serupa bahasa, hidup ini senantiasa menyimpan dan menyingkap banyak hal tak terduga. Di sebuah tempat bernama yanganchi di bukit Beakun di pedalaman Korea, tiba-tiba saya tercengang pada nama saya sendiri: Nurrohmat bin Ahmad Suhadi. Teman-teman baru Korea saya lidahnya kuwalahan mengucapkannya seperti saya terbata melafalkan dengan tepat nama-nama mereka. Nama sangat berarti bagi tak sedikit manusia karena mereka menghormati makna kata dan bahasa. Nama saya bisa diendus maknanya di kamus. Nama saya tak berasal dari bahasa nasional saya, bahasa Indonesia, melainkan bahasa dari negeri bergurun pasir yang belum pernah saya kunjungi dan orangtua saya bertandang ke sana setelah saya dewasa untuk urusan ibadah kolosal yang biayanya sangat mahal. Di kemudian hari, tanpa sepengetahuan orangtua saya, saya memodifikasi nama saya untuk keperluan publikasi yang entah kenapa saya pikir perlu ketika itu: Binhad Nurrohmat. Saya tiba-tiba ingat kebiasaan bahasa pemerintahan di negeri saya membikin akronim seperti pilkades (Pemilihan Kepala Desa), puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat), atau poskamling (Pos Keamanan Lingkungan). Barangkali saya terpengaruh praktik kebahasaaan semacam itu. Entahlah.    

 

Saya bertemu seekor ular hitam-kuning-merah sebentangan satu tangan manusia dewasa di pagar batu kebun lombok merah di depan penginapan saya di Toji Culture Foundation Center di lereng bukit di kota Wonju yang bisa ditempuh dua jam perjalanan dengan kendaraan roda empat dari Seoul. Saya tak tahu dengan nama apa menyebut binatang itu. Ular semacam itu baru pertama kali saya melihatnya selama hidup saya. Saya penasaran, tapi ular sebesar jempol kaki saya itu merayap cepat ke rimbunan tanaman lombok merah sebelum saya sempat menangkapnya. Saya kehilangan jejak ular itu. Saya menceritakan detail binatang itu kepada seorang teman Korea saya. Rupanya, nama ular itu jadi judul sebuah puisi terkenal karya seorang penyair Korea terkemuka, Seo Jeong Ju namanya. Nama ular itu hwa sa dalam bahasa China dan kot baem dalam bahasa Korea yang artinya ular bunga. Teman Korea saya itu seorang perempuan penyair pendiam paruh-baya yang ketika itu kebetulan sedang duduk membaca buku di atas batu tak jauh dari kebun lombok merah itu. Saya menawarinya rokok produksi negerinya, Hallasan mereknya, dan dia agak canggung menerima. Saya tahu, jenis rokok itu terlalu berat untuknya, tapi menjadi terasa ringan baginya demi menjaga kesantunannya. Kami berbincang seperti dua manusia yang saling belajar bicara. Ini terjadi sehari setelah saya pergi ke yanganchi di bukit Baekun di pedalaman Korea itu. Seandainya tak ada bahasa, peristiwa itu tak pernah ada dalam hidup saya. Juga peristiwa di bukit itu.

 

Sore mulai pergi ketika itu. Suasana kian mengaburkan mata saya dan juga penglihatan teman-teman saya yang berasal dari Palestina, Tunisia, Rusia, Colombia, dan Korea yang pergi bersama-sama ke bukit itu. Saya berseloroh dalam perjalanan itu, “Teman-teman, saya tak khawatir berjalan dalam remang seperti ini karena kaki penyair punya mata sendiri.” Mereka tertawa dan juga mencibir. Saya merasa asyik bisa membuat mereka merasa senang atau merasa terganggu. Setapak di bukit itu pertama kalinya kami tapaki, tentu tidak bagi teman-teman Korea saya itu. Di langit mulai muncul bintang. “Oh, najam,” kata teman saya dari Palestina. “Oh, bintang,” sambung saya di sisinya. Lalu kami sepakat menyebut benda langit itu “Star”. Dan, sore benar-benar pergi. Semak-belukar di kanan-kiri jalan setapak di bukit itu seperti gerumbul remang. “Dalmaji,” kata salah seorang teman Korea saya sambil menunjuk bunga semak-belukar kuning terang di bawah cahaya senter kecilnya. Saya tak tahu nama tumbuhan itu dalam bahasa saya, juga teman-teman saya yang lain yang bukan orang Korea. Bukit itu menyimpan dan melahirkan banyak kata tak terduga dan kadang musykil diterjemahkan secara persis ke bahasa lain.

 

Di sebuah tikungan setapak kami berhenti dan dari situ kami bisa memandang cahaya kota Wonju di kejauhan dan juga penginapan kami di Toji Culture Foundation Center. Bintang-bintang berkerumun di langit tinggi. Perkara sederhana ini bisa terasa indah setelah dua kilometer berjalan kaki melewati setapak berbatu yang berkelok dan kian meninggi. Malam telah datang ketika itu. Di semak-semak muncul pendar-pendar cahaya bergerak. Satu demi satu cahaya itu datang dan pergi seperti satelit mini atau pesawat UFO mungil dari planet lain yang tersesat di bukit itu. “Svetliatchok,” seru teman saya dari Rusia sambil mengguncang pundak saya. “Kunang-kunang,” balas saya. “Farasyahdhouk,” terdengar suara teman saya dari Tunisia di belakang saya. Kami tertawa karena peristiwa itu. Teman-teman Korea saya mungkin tak paham benar kenapa kami tertawa, tapi senang melihat kami tertawa. Mereka segera menyadari yang terjadi dan salah seorang dari mereka berujar: “ My friends, binatang bercahaya itu banditbul dalam bahasa kami.” Teman saya dari Colombia menimpal, “Very beautiful. Itu Luciernaga.”

 

Kami sibuk dan senang bertukar bahasa di bukit itu. Salah seorang teman saya berbisik ke telinga saya, “Sudah berapa puisi muncul di benakmu?” dan saya menjawab, “Sebanyak bintang-bintang di langit itu”. Tapi, waktu tak bisa berhenti dan kami harus segera kembali ke Toji. Dalam perjalanan menuruni bukit itu, kami semua diam, sediam bukit itu. Mungkin mereka berbicara dengan dirinya sendiri atau memikirkan perkara lain seperti bayangan kemesraan berpelukan dalam suasana seperti itu di bukit itu. Saya teringat teman saya yang baru lepas remaja, Fe saya memanggilnya, yang mungkin sedang sibuk menyelesaikan sisa tugas kantornya atau berdansa bersama teman-temannya di bar di Itaewon, Seoul. Kami berjalan seperti barisan bayangan remang. Saya memilih berada di tengah barisan itu. Saya sulit melihat dengan jelas siapa di depan dan di belakang saya. Semua hanya diam. Saya tak tahan dan gelisah keberdiaman semacam itu akan terjadi selama 2 kilometer berjalan kaki menuruni bukit itu. Saya bergegas menyusun bahasa Inggris dalam kepala saya dan saya katakan pada mereka, “Teman-teman, saya ingin bercerita. Kunang-kunang atau svetliatchok atau luciernaga atau farasyahdhouk atau banditbul di negeri saya dipercaya berasal dari kuku orang mati,” ujar saya dengan suara yang saya dramatiskan. Suasana makin gelap dan tiba-tiba terasa dingin tubuh saya. “Binhad, kami bukan bocah yang bisa ditakuti tahayul itu,” sepertinya itu suara teman saya dari Rusia, yang jelas bukan suara hantu. Ah, tapi betapa enak jadi bocah selamanya.

 

Tak sampai satu menit setelah cerita dari negeri saya itu berlalu, kami menuruni bukit itu tak lagi sebagai barisan, melainkan bergerombol seperti kawanan bintang atau najam atau star di langit tinggi itu. Kukira mereka merasakan sesuatu setelah mendengar cerita dari negeri saya itu, tapi tak mereka katakan demi menjaga sejenis harga diri manusia dewasa yang rasional. Kami terus bergerak dalam kegelapan, saling merapat, saling bercakap, dan saling bersentuhan tanpa sengaja seperti bahasa-bahasa berbeda bertemu dan akrab di bukit itu.

 

Sungguh, peristiwa-peristiwa itu di luar dugaan saya seperti tak terduganya kata dan bahasa manusia menamai semak-belukar, binatang, dan saya. Bisakah semak-belukar dan binatang menamai dirinya sendiri? Betapa lancang manusia menamai flora dan fauna itu. Ah, kenapa pula saya merasa perlu memodifikasi nama saya menjadi seperti yang dikenal banyak orang seperti sekarang ini? Barangkali saya bisa memodifikasi nama saya karena saya bukan alang-alang atau seekor kunang-kunang. Tolong, beri tahu saya alasan sesungguhnya sebelum tulisan ini saya sudahi. Tolong, sebelum saya berubah pikiran mengubah nama saya menjadi kuda, lombok, badak, kentang, kucing, wortel, biri-biri, kelinci, kubis, sapi, atau menjadi Wawan, Mina Yu, Benny, Dilruk, Ambar, Monica, Aurora, Bambi, Mister Kim, atau menjadi seperti nama anda yang membaca tulisan ini. Ah, sekali lagi, tolonglah saya, tak lama lagi tulisan ini akan selesai. Tolong…   

 

2 thoughts on “Persentuhan Bahasa di Bukit Korea

  1. Saya ingin menyumbang satu alasan: tapi, dengan puisi..

    NAMA-ALIEN

    Andai suatu saat kelak
    engkau datang menitip jejak
    di lempeng tanah tempat aku berpijak
    aku tahu, tujuanmu menyatakan diri
    sebagai maujud yang kunamai
    yang diciptakan dan tak menciptakan diri
    punya dunia-yang-dibuatkan
    tapi engkau akan menjadi tidak berdaya
    karena aku yang memberimu nama

    Alien, oh, nama
    gerangan rahasia apakah di balik nama
    dan penamaan atas benda-benda tercipta?

    Sesungguhnya,
    kekuatanku adalah memberi nama
    karena penamaan adalah penemuan
    aku tak menciptakan dari ketiadaan
    hanya memberi nama sebagai ingatan

    Insan, oh, lupa
    lalu jadilah objek penamaan
    karena engkau tak menamaiku
    padahal, akulah subjek yang pelupa
    memberi nama banyak benda
    itulah kekuatanku
    setelah itu, segera melupakannya
    dan itulah kemuliaanku

    Alien, ayo, namai aku
    insan, subjek maha-alpa
    sejuta ilmu
    semilyar lupa

    14/08/2007

  2. Kiai Faizi,
    Teduh dan dalam sekali kata-katamu. Dari mana kau menimbanya. Katakan padaku. Katakan. Aku haus sekali siang ini. Ramadhan hari kedua di Korea, di musim panas pula. Gerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>