Binhad Nurrohmat: “Saya Tak Ingin Terpenjara oleh Apapun”

binhad nurrohmat

Dulu ada yang bilang

Sutardji mata kiri

dan Chairil mata kanan.


Kini aku yang bilang

puisi kalian rata kiri

dan puisiku rata kanan.

Binhad Nurrohmat adalah seorang pemberontak. Dia dengan sadar memorak-porandakan tatanan baku perpuisian Indonesia. Tak hanya Chairil, Sutardji Calzoum Bachri yang dikenal sebagai “pembaharu” puisi Indonesia juga ia lawan. “Bukan Sekadar Kredo” adalah kredo pemberontakan Binhad termuat di buku pertamanya Kuda Ranjang (Melibas, 2004). Contine reading

Orientasi “Demonstran Sexy”

Oleh Sahlul Fuad,

S-2 Antropoligi Universitas Indonesia.

Siapa yang mengenal Binhad sebagai penyair? Apakah dia sangat populer di negeri ini, sehingga keberadaannya sangat berpengaruh bagi mental dan akhlak bangsa ini akibat karya-karyanya?

Konon, menurut hasil survei, ternyata Binhad bukan orang yang sangat terkenal di seluruh pelosok nusantara. Meskipun berkali-kali namanya tercantum di koran-koran terkemuka, tidak banyak orang mengenalnya, apalagi mengenalnya sebagai penyair. Bahkan almarhumah ibunya sendiri pun tak tahu kalau anaknya yang gondrong itu seorang penyair legendaris. Hanya penyair-penyair “serius”-lah yang mengenalnya sebagai penyair. Dengan demikian, persoalannya makin jelas bahwa kepopuleran Binhad Nurrohmat tak lebih hanya sebatas para penyair yang menganggapnya penyair. Dan untuk itu, dua buah buku puisi Binhad yang sebelumnya diperkirakan tidak berarti apa-apa bagi moralitas dan akhlak bangsa Indonesia. Contine reading

Sikap Puisi dalam Dimensi Publik

Dalam buku Demonstran Sexy, Binhad Nurrohmat melawan kecenderungan puisi mutakhir.

Sebagai bagian dari karya seni yang diciptakan manusia, sastra tidak pernah kehilangan persediaan persoalan untuk diungkapkan. Sepanjang manusia tetap ada, sastra akan tetap muncul sebagai bagian dari perjalanan sejarah manusia. Namun sejarah juga mencatat beragam perubahan yang dilakukan manusia. Lantas apakah posisi sastra—dalam hal ini pelakunya—juga ikut berubah atau menetap. Contine reading

Diskusi Buku “Demonstran Sexy”

JAKARTA, KOMPAS.COM–Dinamika politik hari ini mungkin menjadi sebuah sinonim untuk hiruk-pikuk. Tumbuh lebatnya poster dan spanduk yang tak tanggung-tanggung melanggar tata kota, serta menyulap kota menjadi belantara slogan dan jargon hanyalah satu hal. Belum lagi soal substansi politik yang tak pernah terlintas dalam upaya-upaya menyentuh massa itu, atau soal bagaimana kampanye politik kita telah menjadi pekerjaan begitu banal yang hanya menonjolkan luaran atau permukaannya. Contine reading

Homo blogetensis

Langit itu kosong

Aku bungkam keheningan

dalam jazz dan nikotin.

(Soebagio Sastrowardoyo, sajak “Abad 20”)

 

Inilah fatwa saya hari ini: Sudah menjadi takdir blog ada di bumi dan merenggut banyak waktu dan tenaga ummat manusia abad ini, tapi mereka merasa bahagia. Bahkan ketika kesepian menyergap sekujur perasaan mereka, blog kerap menjadi juru selamat yang menghibur. Mulailah memperhitungkan blog sebagai penurun angka bunuh diri di zaman penuh kecamuk rasa hampa ini. Contine reading

Bawuk di Korea

Cuaca musim ini memaksa saya mengurung diri di kamar atau di perpustakaan yang tak sampai seratus jangkah dari gedung penginapan saya. Suhu udara di Korea terus melorot mendekati 0 derajat Celsius. Daun-daun semarak kuning menyala atau jingga tua bertengger di ranting-ranting, sebagian rontok mewarnai tanah dan beton kaki-lima. Julangan pohon-pohon di musim ini bukan lagi barisan tumbuhan, melainkan hamparan seni rupa alam. Saya tak lagi berjalan-jalan sore seperti pada musim panas kemarin karena kini cuaca selalu memaksa langkah saya menjadi setengah berlari, berlari dari siksaan dingin yang menderu dan mencakar sekujur saya. Musim ini tampak indah dan sekaligus menyebalkan. Contine reading

The Legend of Warung Alex

Saya mampir ke Warung Alex pertama kali pada tahun 2000 Masehi. Lokasi warung ini di dalam kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Nama “resmi” warung ini adalah Pondok Rasa Cipta Selera (seperti yang tertulis di papan nama di depan warung ini). Nama resmi warung ini sepertinya terlupakan atau setidaknya tak populer. Salah seorang pengelola warung ini seorang lelaki asli Tegal yang biasa disapa Alex (saya tak tahu namanya yang sebenarnya dan dia meninggal dunia di warung ini pada awal tahun 2008). Lelaki itu adalah keponakan pemilik warung ini. Kemungkinan besar asal-usul sebutan “Warung Alex” dari nama sapaan lelaki itu. Warung ini kadang pula disebut Kampus Lidah Buaya, tapi sebutan ini kian jarang terdengar. Contine reading

Bertemu Marno II

Setelah meninggalkan masjid di Itaewon itu, Marno & Jane berjalan sambil bergandeng tangan. Sesekali pasangan itu berhenti mengamati barang-barang dagangan yang dijaja di tepi trotoar dan membeli minuman kaleng. Mereka juga singgah dan duduk-duduk di bangku taman. Hawa Korea kian dingin. Pohon-pohon gingko yang banyak tumbuh di sisi jalan raya mulai rontok daun. Dari berita cuaca yang saya peroleh, musim dingin tak lama lagi datang. Contine reading

Hantu Pemakan Tempe Goreng

Saya tak mengibul atau berniat menakuti siapa pun. Ini hanya kisah nyata yang pernah saya alami pada tahun 1997. Kisah nyata ini bangkit dari kolong ingatan saat saya menguntit Marno di Korea (bagian awal tentang Marno ada di laporan saya sebelumnya, “Bertemu Marno I”). Kisah nyata ini terjadi di satu rumah sewa di Condong Catur, Yogyakarta. Saat itu umur saya 21 tahun. Bagaimanakah kisahnya? Contine reading

Bertemu Marno I

Marno bukan teman saya. Saya pernah bertemu pria itu di Lampung, Yogyakarta, Medan, Surabaya, dan Jakarta. Banyak teman sebaya saya maupun yang lebih tua menyebut nama itu seperti nama orang penting atau tokoh besar. Konon Marno pernah tinggal di sebuah apartemen di Manhattan, Amerika selama sekian tahun dan selama itu dia berpacaran dengan Jane. Saat itu negeri Marno masih dipimpin Soekarno alias Bung Karno. Saya tak tahu nama lengkap Marno, barangkali Soemarno atau Marno saja. Saya juga tak tahu nama lengkap Jane, barangkali Jane cuma nama sapaan. Banyak nama orang di Amerika mengandung unsur Jane, misalnya Jane Fonda atau Janet Jackson.  Marno orang Jawa, setidaknya dari namanya. Jane warga Manhattan yang bercerai dengan suaminya sejak sebelum dikencani Marno. Pasangan ini punya banyak perbedaan, tapi mereka bahagia. Contine reading