Estetikalkulator

Oleh Endri Y, esais, tinggal di Kalianda, Lampung

“Saya hanya berusaha dekat dengan permasalahan yang ada di depan mata, saya ingin spontanitas yang jujur.” Demikian deskripsi Binhad Nurohmat terhadap upaya yang dapat disebut terobosan baru di ranah perpuisian Indonesia (Kompas, Kamis, 9 Juli 2009). Contine reading

Refreshing Bahasa

Ayah-ibu saya berasal dari Jawa Timur dan kemudian menetap di pedalaman Lampung sejak 1970an. Kami berbahasa Jawa sebatas di lingkungan keluarga dan sesuku. Kami berbahasa Indonesia saat bergaul dengan suku lain. Tetangga saya orang suku Minang, Sunda, Bali, Lampung, Palembang, dan Bugis juga berbahasa Indonesia dalam pergaulan umum. Contine reading

Kemaluanmu Sangat Besar

Teman saya, seorang gadis dari Leiden, sedang belajar Bahasa Indonesia. Dia pernah bertanya pada saya tentang kata sifat berimbuhan ke-an yang menjadi kata benda, misalnya “gairah” menjadi “kegairahan”.

Saya pernah mengundang teman saya itu minum di sebuah kedai dan kami mengobrol dalam Bahasa Indonesia hingga larut malam. Menjelang pulang, saya memanggil pelayan kedai itu untuk membayar minuman. Saya merogoh saku pantalon saya dan saya tak mendapati dompet saya. Saya bingung dan wirang. Teman saya itu bilang tanpa sungkan, “Ah, tak masalah. Itu cuma kecelakaan. Santai saja. Saya tahu kemaluanmu sangat besar…”. Contine reading

Binhad dan Neoliberalisme

Oleh Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto

Isi puisi Binhad Nurrohmat di bawah ini adalah tonggak perlawanan terhadap Neoliberalisme:

ANDAI SAYA BUKAN RAKYAT INDONESIA

Andai saya bukan rakyat Indonesia
saya akan menutup sumur dan menguruk telaga
karena rakyat Indonesia minumnya Aqua dan Coca-Cola.

Andai saya bukan rakyat Indonesia
saya akan membuka kedai KFC di mana-mana
karena rakyat Indonesia senang makanan gaya Amerika.

Contine reading

Polemik Kitab Puisiku “Demonstran Sexy”

KESADARAN PUITIS & POLITIK

Oleh Damhuri Muhammad,
Cerpenis, bermukim di pinggiran Jakarta

Bagaimana semestinya sastrawan menyikapi keriuhan retorika politik yang belakangan ini tampak semakin mentereng? Perlukah seorang penyair menyelami realitas politik yang ingar-bingar dan penuh intrik itu -setidaknya melibatkan sebentuk kesadaran politik dalam gairah kepenyairannya atau sebaliknya-sebagaimana petuah Julian Benda (1928)- karena sudah “ditakdirkan” untuk mencari kepuasan di ranah kesenian, dan oleh karena itu, para penyair seyogianya menjauh dari zona kesadaran politik. Agar lelaku kepenyairan tetap terjaga, tidak terkontaminasi efek kuasa politik yang sejak dari perkembangan yang paling purba telah dianggap ancaman laten. Contine reading

“Demonstran Sexy” Bicara Politik

Bagaimana Demonstran Sexy “melenggang” di dalam kepala penulis dan pembacanya? Sebuah diskusi buku mengupas karya Binhad Nurrohmat digelar oleh Bale Sastra Kecapi, Jakarta.

Yeni Rosa Damayanti dan Rieke Diah Pitaloka
mengarak poster serta mikrofon ke jalan raya.

Inul Daratista & Ayu Utami berteriak keras sekali,
“Ayo, tolak RUU Antipornografi & Pornoaksi!”

Ini adalah isi puisi “Demonstran Sexy” yang diambil dari buku yang berjudul sama, karya Binhad Nurrohmat. Sebuah kumpulan puisi terbitan Penerbit Koekoesan, Depok, dengan tahun cetak 2008 ini memuat 103 halaman ungkapan pikiran Binhad.

Diskusi Buku Demonstran Sexy di Kafe Darmint--27 Maret 2009--photo by Ayu

Bale Sastra Kecapi menggelar diskusi pada minggu terakhir Maret 2009 lalu, di Kafe Darmint, Jakarta. Acara ini melibatkan pembicara-pembicara populer di ranah budaya sekaligus politik Indonesia. Mereka adalah, Romo Mudji Sutrisno, Yudi Latif, dan penulis buku Demonstran Sexy, Binhad Nurrohmat. Contine reading