Merakyatkan Puisi Memuisikan Rakyat

Oleh Endri Kalianda

 

Puisi Estetikalkulator; Madzab Baru Puisi Indonesia


“Saya hanya berusaha dekat dengan permasalahan yang ada di depan mata, saya ingin spontanitas yang jujur.” Demikian deskripsi Binhad Nurohmat terhadap upaya yang dapat disebut terobosan baru di ranah perpuisian Indonesia.

Meski Samuel Johnson (1709 –1784 ) seorang penyair, eseis, novelis, dan kritikus Inggris ini bilang, puisi adalah seni menggabungkan keindahan alam. Dan banyak sekali yang beranggapan puisi dan penyairnya termasuk manusia elit dalam strata sosial, tidak bagi Binhad. Semua tercermin dalam puisi- puisi mbelingnya, sebuah avant garde dan pendobrak tatanan mapan. Ditelisik dari judul bukunya saja, sudah cukup melumerkan senyum; Kuda Ranjang, Bau Betina, Sastra Perkelaminan, dan Demonstran Sexy. Memancing sudut tabu untuk kemudian diukir dalam bentuk yang lembut, memunculkan pengakuan akan kebenaran kalimat yang dianggap kasar dan tabu itu, menjadi benar- benar kebenaran binal. Liar dan akrab tetapi jarang diungkap dalam teks- teks kesusastraan. Penemuan kebenaran kasar yang rumit.

Kini, penyair beragama “Islam Gembira” yang produktif menulis ini membahasakan audiens, dan terkadang dirinya (dalam aku lirik), dan atau subjek (orang ketiga), aku obyek, dengan sebutan rakyat.

Sastra Cyber

Lihatlah tulisan terbarunya di postingan FB atau blog, yang saya yakin betul ketika tiba saatnya nanti pasti juga dibukukan, Binhad menulis; Rakyat sekalian, tuhan itu ateis! atau Rakyat sekalian, kenapa ada ledakan bom di Jakarta? Tolong jawab saya. Ini serius!

Ketus dan lucu, nakal tetapi benar jika direnungkan. Pada kesempatan lain lagi dia menulis puisi yang diberinya judul “Rakyat Menggugat Penyair”; Kamu bikin puisi kabut pagi ketika rakyat tertindas/Puisimu indah/tapi kabut pagi tak bisa membela rakyat//Kamu bikin puisi batu sungai ketika rakyat kelaparan/Puisimu indah/tapi batu sungai bukan makanan rakyat.

Cukup banyak dan berserakan puisi spontan Binhad yang kesemuanya menafsir transendensi dan realitas kedirian dengan kocak sekaligus congkak. Membangkang keruwetan dan kerumitan puisi. Jika direnungkan memang semuanya benar, meski terkesan kurangajar, nakal, kenes, lihatlah ini; Rakyat sekalian, tuhan mampir di bar dangdut? atau yang ini Tuhan tak pernah sembahyang. Percayalah! 

Mungkin kalimat- kalimat puitis ini kurang membumi dan berbunyi jika usaha untuk mengejawantah realitas kerakyatan puisi tidak ditempuhnya secara intens, kontinyu, dan berkemajuan.

Tulisan ini hanya upaya mencari pembaruan metoda ungkap berpuisi, yang embrionya sejak era tahun 70an sudah mulai disuarakan Remy Sylado, Saneto Juliman, Dkk. dalam maenstream bertema “puisi mbeling”. Dapat dibilang Binhad adalah penyair kekinian yang memiliki nalar aktual, tampil beda, dan berani membawa genre puisi baru.

Hal ini diperkuat dengan gabungan antara kemampuan mencipta dan membahasakan audiens dan aku lirik atau orang ketiga dalam majas kata (rakyat) dan tepat ketika digunakan dan diposisikan dalam kalimat untuk maksud (apa- siapa- bagaimana). Inilah capaian kontemplasi Binhad yang layak diapresiasi sebagai penerus gagasan, dapat dibilang penyempurna tentang puisi mbeling.

Puisi Estetikalkulator

Kemudian eksperimen Binhad yang cukup fenomenal yaitu puisi estetikalkulator.
Puisi yang ketika menulisnya mungkin harus sambil memegang kalkulator, atau kalau pembaca pandai berhitung, sedikit berpikir keras untuk larut dalam perhitungan angka- angka dalam puisinya. Lebih mudah ketika kita membacanya sambil memegang kalkulator juga, sekaligus mengecek kemampuan berhitung dan kecermatan Binhad.

Lihat saja ini, puisi yang diberi judul “Rakyat Tidur”; Rakyat tidur rata-rata 6 jam sehari. Maka, dlm 1 minggu rakyat tidur 42 jam, dlm 1 bulan rakyat tidur 168 jam, dlm 1 tahun rakyat tidur 2.016 jam (sekitar 3 bulan), dlm 10 tahun rakyat tidur 20.160 jam (2,3 tahun). Rakyat berusia 60 tahun sekurangnya pernah tidur 120.960 jam (13,8 tahun), waktu selama ini lebih panjang ketimbang 2 periode masa jabatan presiden. 

Atau puisi tentang percintaan, yang juga dimaknai bercinta yang sebenarnya atau ML “Rakyat Make Love”;Jika rakyat make love (ML) 3 kali seminggu, maka rakyat ML 12 kali sebulan dan 144 kali setahun. Jika rata2 rakyat menikah sejak usia 25 thn, maka rakyat usia 50 thn rata2 pernah ML 3.600 kali. Jika jumlah pasutri 100 jt, maka terjadi 300 jt ML seminggu. Statistik ini tidak termasuk jumlah rakyat ML pra-nikah, poligami/poliandri, free-sex, dan yg selingkuh. Lanjutkan! Lebih sexy lebih baik!

Semua persoalan disoroti, semua kejadia aktual dipuisikan dengan metode estetikalkulator dari ngomong, shalat, minum, berak, bom, dan sebagainya, yang benar- benar merakyat dan dialami sehari- hari oleh rakyat. Dan tentu, kita harus sambil memegang kalkulator jika ingin menikmatinya, kemudian setelah selesai membaca, saya berani memastikan, menyembul senyum puas.

Inilah gaya khas penyair Binhad, yang sebenarnya mampu mematahkan defenisi klasik tentang puisi, sekaligus membuka ruang baru untuk puisi estetikalkulator.

Mungkin kemudian hari, puisi bukan hanya milik tukang ojek, sopir, buruh dan semacamnya sebagaimana dalam film “Poetry on the Road” atau sekedar mata pelajaran siswa bahasa dan sastra Indonesia. Melainkan juga dapat digunakan untuk soal cerita mata pelajaran matematika. Misalnya dengan pertanyaan, berapakalikah presiden SBY tidur jika dia berusia 93 tahun 4 bulan 11 hari? Lalu dibawah pertanyaan itu ditulis keterangan, gunakan rumus puisi “Rakyat Tidur” karya Binhad Nurohmat.

Film Pembuktian

Salah satu pemikir yang pendefenisiannya tentang puisi masih saja selalu dikutip sampai sekarang adalah Ralph Waldo Emerson(1803-1882) esais, penyair, sekaligus filsuf Amerika yang dalam Tarigan, (1986:4) menjelaskan bahwa puisi merupakan upaya abadi untuk mengekspresikan jiwa dan menggerakkanya, mencari kehidupan dan alasan yang menyebabkannya ada. Kiranya relevan dengan arti puisi yaitu, “membuat” dan atau “pembuatan”. Sebab, lewat puisi pada dasarnya seseorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri, yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana- suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah (Aminuddin, 1987:134).

Penyair atau pengrajin kata, tentu akan tertinggal kereta zaman ketika puisi hanya sebagai alat tekstual penyampai pesan. Bahkan secara empirik “dunia tersendiri” para penyair itu dipatahkan oleh terobosan Binhad dalam kerja- kerja mempuisikan rakyat dan merakyatkan puisi. Terbukti dengan sudah dibuatnya produk kesenian yang tetap estetis, tanpa mencerabut puisi dari makna dasarnya.

Meski bukan yang pertama kali film yang berkisah tentang puisi dan deklamasinya, “Poetry on the Road” besutan Binhad, Oky Arfie, dan mahasiswa program doktor Sastra Indonesia dari Universitas Tasmania, Australia, Andy Fuller jelas berbeda dengan film “Lari dari Blora” dan “Yang Muda Yang Bercinta”nya Almarhum Rendra.

Jika WS. Rendra dalam film itu membacakan sajak- sajaknya sendiri (puisi tampil sebagai selingan), memiliki plot, dan alur cerita layaknya film kebanyakan. Binhad dalam filmnya yang berdurasi sekitar 50 menit itu justru membuktikan bahwa puisinya benar- benar dari rakyat oleh rakyat. Murni film puisi. Tanpa artis yang dikasting dan dibekali kemampuan akting.

Tukang ojek sepeda ontel yang membacanya dibonceng sang penyair adalah audiovisual apik untuk membuktikan bahwa rakyat jelata pun mengerti dan mampu membaca puisi.

Melampaui Akar Kepenyairan

Proses kajian akan aliran dalam apresiasi seni dikenal dengan istilah ohne alles interesse (bebas kepentingan sepenuhnya) alias kontemplatif. Dimana capaian kepenyairan Binhad Nurrohmat yang silang pendapatnya termasuk paling ramai di harian Pikiran Rakyat, 5/04/2009, 19/04/2009, 3/05/2009, dan 17/05/2009 oleh Damhuri Muhammad, Yopi Setia Umbara, dan Khudori Husnan terkait kumpulan puisi Demonstran Sexy (2008), polemik ini, yang kemudian mendasari penulis menarik akar kesejarahan penyair Binhad.

Sejarah sastra Indonesia selalu menemu kesimpulan, sebagaimana hasil penelitian Kratz (1987) yang menunjukan bahwa pada 1983, sastrawan Indonesia yang menghidupkan denyut nadi sastra Indonesia banyak berasal dari kedua kiblat, yakni Jawa (52,8%) dan Sumatera (30,3%). Ditinjau dari sisi inilah, pribadi Binhad cukup menarik, pertama dia memiliki darah dan akar pendidikan pesantren di Jawa sekaligus mukim dan menemukan “pencerahan” (kontemplasi kepenyairannya) di Lampung (Sumatera).

Kedua, jika puisi- puisi Binhad didedah dalam nalar practical criticism A. Richards (1893-1979) khususnya dalam kitab Demonstran Sexy, mampu melepas teks dari setiap konteks bahkan “terbebas dari jerat pendefenisian puisi yang sudah mapan.”

Ketiga, lihatlah kekenesan Binhad yang sekarang mulai sibuk mengkaji urai ejaan lama, sebagai bentuk pembangkangan atas realitas hamburan kata, banyak yang kemudian menyebutnya sebagai puisi. Dengan kepemilikan tradisi unik kontemplatif ini, status- status Binhad di akun FB misalnya, menemukan karakter dan eksistensinya sendiri. Saya dan mungkin banyak yang sepakat, status dalam FB yang selalu diperbarui bagi orang semacam Binhad, Isbedy Setiawan, (dan ribuan orang lainya) adalah puisi. Lihatlah nyentriknya puisi- puisi Binhad dalam statusnya, membuat kita sering tersenyum getir sambil nyletuk ;”dancuk.. dancuk.. dasar edan!”

Mungkin inilah titik mula pertama kali saya menemukan ruh kesejatian dari kesempurnaan puisi mbeling di era 70an itu (sebab saya belum lahir, hanya membacanya dari majalah aktuil di perpustakaan kakek), hingga menjadikan puisi sebagai bacaan pokok untuk hiburan sekaligus tamasya batin. Membaca puisi- puisi Binhad bisa mengernyitkan dahi karena berpikir, tersenyum getir sebab tersindir, tertawa sendiri karena konyol, dan saya sangat terpuaskan.

Puisi- puisi Binhad termasuk status- statusnya itu, seperti nikotin dan kafein, bikin kecanduan. Semoga keliarannya tidak menggiring pada eksperimen- eksperimen lain, seperti ejaan lama semacam “oe untuk “u”, “J” untuk “y” yang cenderung kuno dan mentah ketimbang pembaruan bentuk puisi estetikalkulator-nya. Saya sebagai pembaca dan penggila buku, dengan tulisan ini memesan kumpulan puisi estetikalkulatornya meski entah sudah dipikirkan akan diterbitkan atau belum, buku itu rencananya mau saya gunakan buat rumus soal cerita matematika anak tetangga, atau justru buku itu bisa menambah khasanah puisi Indonesia yang benar- benar avant garde.

(Sumber: http://endrikalianda.blogspot.com/2010/03/puisi-estetikalkulator-madzab-baru.html)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website