Maut Situmorang

Malam lebaran, kata penyair Sitor Situmorang, “bulan di atas kuburan”. Barangkali Sitor tak menyangka puisi pendek ini melahirkan tafsir panjang dan bermacam-macam serta klop dengan keadaan sekarang yang pada menjelang lebaran banyak pemudik tertimpa musibah di jalan raya dan tiba di kampung halamannya sebagai jenazah.

Konon Sitor mendapatkan ilham puisi ini di Jakarta pada malam lebaran 1950an atau 1960an (maaf, saya tak bisa memastikan tahunnya karena saat ini saya masih di Korea Selatan dan tak membawa buku puisi penyair itu). Ketika itu Sitor dalam perjalanan pulang dari rumah Pramoedya Ananta Toer dan kabarnya dia melewati kuburan. Saya tak tahu malam itu ada bulan atau tidak di atas kuburan itu. Atau, abaikanlah segala asal-usul puisi ini. Yang pasti, saat itu Jakarta belum seramai sekarang, apalagi pada malam lebaran.

Pada malam lebaran situasi Jakarta senyap dan rawan. Banyak rumah kosong ditinggal mudik penghuninya yang akan merayakan lebaran di kampung halaman. Sebaliknya, jalan-jalan raya menuju ke luar Jakarta ramai kendaraan para pemudik dan sering terjadi kecelakaan yang menumpahkan darah dan merenggut nyawa orang. Kebahagiaan menjelang lebaran sering diselingi tangis orang-orang yang ditinggal mati kerabat yang ditunggu-tunggu mereka. Kematian memang datang kapan saja, tapi bila terjadi saat menjelang lebaran terasa ironis waktunya.

Lebaran tahun ini saya terpaksa tak mudik ke kampung halaman saya di pedalaman Lampung karena saya harus berada di Korea sampai akhir tahun ini. Korea baru saja memasuki musim gugur dan suhu udaranya membuat tubuh saya kelabakan. Bayangkan, dari 30an derajat celcius di musim panas lalu tiba-tiba anjlok ke 13 derajat celcius di musim gugur dan terus melorot mendekati angka 0. Bagi orang Korea perubahan cuaca kali ini tak biasa, apalagi bagi orang negeri tropis seperti saya. Terus terang saya gentar membayangkan cuaca pada musim salju nanti.

Mudik memang asyik, meski sering perlu tak sedikit pengorbanan dan risiko yang mengenaskan. Menjelang lebaran, kuburan selalu bertambah mayat baru. Menyedihkan. Tapi manusia hidup memang menunggu maut. Mendebarkan, bukan? Tapi kalem saja, anggaplah datangnya kematian seperti menunggu antrian masuk ke bioskop kesayangan. Justru dengan menyadari akan datangnya maut membuat hidup jadi lebih bisa berharga. Lagi pula untuk apa hidup selamanya. Atau, anggaplah kematian seperti mudik ke kampung halaman.

Apa boleh buat, jarak hidup dan maut memang dekat, “seperti selaput tipis yang gampang diseberangi”, kata penyair Soebagio Sastrowardoyo. Dan maut hanya datang sekali saja dan “Setelah kematian yang pertama tak akan ada lagi yang lainnya” kata penyair Dylan Thomas.

Saya belum mati dan ingin bahagia meski lebaran kali ini saya tak bisa mudik dan tersiksa cuaca Korea yang menusuk-nusuk dan terasa membekukan tubuh saya. Agak sedih sebenarnya, tapi tak apalah. Sedih juga bagian romantika kehidupan.

Malam lebaran ini saya tak melihat bulan di atas kuburan di Korea, dan saya bukan Sitor Situmorang. Pembaca, maafkan kesalahan saya dan selamat merayakan Lebaran Idul Fitri. Sampai jumpa.

6 thoughts on “Maut Situmorang

  1. wii hebat dh sampeyan mas, bisa memberi tafsiran secara obyektif tentang etiologi puisi. Aku lebih kaghum lagi kalau sampai bisa menggali elok tubuh dan lekuk liku tubuh wanita dan ragam aksi seks wanita di sekelilingmu, di korea. Boleh itu yang sampeyan rasakan sendiri atau dari cerita atau dari kantong langit. Pesanku: apa yang sampeyan rasakan sendiri pastilah lebih menjiwai, kau percaya ?

  2. Percaya, deh. Ngomong-ngomong, pesan sampeyan ini bikin repot orang yang ingin menulis perkara maut. Apakah penulis mesti mati dulu agar bisa menulis soal kematian secara penuh penghayatan?

  3. Balon (bakal calon bupati dan legislatif daerah) ora gelem mudik numpak bis lan sepur.
    Kudu numpak kapal mabur…

  4. dalam ilmu perbintangan, bulan memang mati dalam malam lebaran dan sedang berada di atas kuburan karena besoknya awal bulan.
    karenanya banyak orang berilmu ribut mendaki bukit untuk melihat apakah sudah ada penampakan bulan.:)

    salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>