Laporan dari Dapur Penyair
Posted by binhad on Sep-2-2008
Bangun siang adalah cita-cita saya hari ini, tapi tubuh saya menolak. Saya tak bisa ngotot melawannya. Tadi saya sahur lebih dini dan tidur nyenyak sekali setelah subuh. Pagi sekali saya bangun dan langsung membaca Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer terbitan 1995 oleh sebuah penerbit di Selangor, Malaysia. Roman itu saya pinjam dari perpustakaan kampus dekat penginapan saya kemarin siang. Saya kangen Indonesia dan saya malas mandi pagi. Tak lupa hari ini saya tak perlu seduhan kopi dan asap tembakau di pagi hari. Saya baring-baring saja di ranjang sambil membaca roman hingga siang menjelang. Mewah sekali hidup saya hari ini. Apakah hari ini Indonesia bahagia?
Celaka. Kulkas saya sudah miskin. Saya tak kaget. Tak ada buah, sayuran, dan roti. Hanya ada sisa lombok merah, bawang putih, dan suwiran ikan kering yang saya beli 3 hari lalu. Sudah pukul 2 siang. Persediaan telur ayam habis pula. Ini artinya saya harus berjuang membuang rasa malas saya dan merelakan diri menutup halaman roman. Saya harus keluar kamar saya dan pergi ke lift lantai 8 lalu turun menuju lantai 1 atau 2 kemudian jalan kaki 5 menit ke mini market langganan saya. Kenapa saya merasa tergesa? Apakah saya akan mengejar langkah kaki orang Korea yang perbandingannya 1:3, saya melangkah 1 kali dan mereka melangkah 3 kali?
Di mini market saya bertemu pria Latin dan anjing kecilnya di dekat ruang kasir. Pria itu memakai laken hitam dan hewan itu putih-ikal bulunya. Saya tak menyentuh binatang itu. Pria itu membayar sekaleng coca-cola dingin di kasir. Pasti segar sekali. Kenapa anjingnya tak dibelikan coca-cola juga? Dasar, manusia. Saya memuji anjingnya. Pria itu tersenyum dan berkata dalam bahasa Korea yang tak begitu jelas suaranya. Saya tak suka pemandangan yang tak adil. Kenapa dia membawa anjingnya ke mini market hanya untuk melihatnya membeli dan meminum coca-cola? Oh, barangkali anjing itu sedang puasa. Pantaslah dipercaya kalau ada cerita anjing masuk sorga dan banyak manusia masuk neraka.
Saya berkeliling dalam mini market itu. Pemilik mini market sudah akrab dengan saya. Dia hanya bisa bahasa Korea tapi mini marketnya selalu mengerti kebutuhan saya. Saya tak bawa catatan belanja. Entah kenapa saya merasa tergesa-gesa dan tak mencatat sesuatu. Ceroboh. Saya mengambil dua bungkus mi instan, berat masing-masing 120 gram, harga per bungkus 600 Won, kadaluarsa 24/1/2009. Daun sawi, berat 54 gram, harga 1.000 Won. Jamur irisan, berat 52 gram, harga 1.500 Won. Jeruk, berat 53 gram, 6 butir, harga 4.000 Won. Cambah kedelai, 400 gram, harga 1.800 Won. Kantong plastik kresek untuk membawa barang-barang belanjaan itu, 1 buah, harga 30 Won. Harga-harga itu dalam Rupiah kira-kira 10 kali lipat dari harga-harga itu.
Saya pun tergesa pulang. Saya menyesal. Telur dan roti lupa terbeli. Saya malas balik lagi ke mini market. Di jalan saya tak bertemu pria Latin yang tak puasa itu maupun anjing kecilnya yang putih-ikal bulunya dan kelak masuk sorga itu. Saya merancang rencana masakan berbuka dalam kepala saya sambil jalan kaki menuju penginapan saya. Tapi tak berhasil. Lihat nanti saja.
Nanti, mungkin saya memasukkan satu gelas beras yang sudah saya cuci ke magic jar. Alat ini harganya 35.000 Won. Dalam 30 menit nasi siap saji dan disantap. Saya masak 1 gelas beras tiap hari, masak pagi hari untuk makan siang dan makan malam. Kemudian saya memasang wajan tembaga di atas kompor listrik dan saya menuangkan minyak sayur secukupnya. Sebelumnya saya sudah merajang lombok merah, daun sawi, bawang putih, suwiran ikan kering, dan jamur serta menyiapkan cambah kedelai. Wah, kacau tak ada telur. Tapi saya tak gentar. Maju terus. Hidup masak!
Lalu, barangkali saya menyalakan kompor tanpa ragu. Mantap sekali. Apinya ukuran sedang. Setelah minyak di wajan tembaga mendidih, saya memasukkan rajangan lombok merah, sawi, bawang putih, suwiran ikan kering, dan jamur serta cambah kedelai. Saya mengaduk-aduknya sekian menit sembari menaburinya bumbu masak Royco yang dibeli di Ansan seharga 2000 Won. Ansan adalah kompleks TKI di Korea. Satu jam naik kereta dari penginapan saya. Lalu saya memasukkan nasi dan mengaduk-aduknya hingga berbaur dengan semua bahan sambil menaburinya bumbu nasi goreng buatan Korea. Beres.
Nanti, saya tinggal menyiapkan minuman panas dan air putih di atas meja. Dan bila ingin saya juga bisa memasak mi instan. Tapi saya belum punya ide itu. Gampang. Nanti saja dipikirkan. Mungkin mi instan cocok untuk sahur. Dan, mi instan enaknya campur telur. Nanti setelah berbuka puasa saya bisa pergi ke mini market lagi untuk beli telur dan sekalian roti yang tadi lupa terbeli. Eh, rupanya saya masih punya beberapa butir kurma dalam kulkas pemberian teman Rusia saya kemarin. Lumayan. Saya buka laci saya, masih ada setengah bungkus rokok kesukaan saya sisa semalam, harganya 2.000 Won sebungkus.
Maaf, saya tak ingin merenung hari ini. Apalagi menulis puisi. Saya hanya ingin makan enak, lalu minum kopi dan merokok. Waktu berbuka masih lama. Saya juga belum memasak apa pun. Nanti saja. Bisa diatur. Toh saya sudah belanja meski ada beberapa yang terlupa. Sekarang saya ingin membaca roman lagi sambil menunggu waktu memasak yang pas, kira-kira 1 jam sebelum maghrib. Saya lupa saya belum mandi sejak pagi. Persetan. Untuk membaca roman tak harus mandi.
Posted in: SASTRA
haduh…
dapur penyair nih, makanya cantik penataan katanya
selamat berbuka pak, tapi saya sarankan mandi dulu sebelum masak, hihihi
*kaburr*
Uncle Goop,
Estetika tak hanya monopoli puisi. Dapur juga punya estetika.
Saya sering malas mandi pagi karena merasa terlalu suci ha-ha.
sampai saat ini tulisan-tulisanmu semakin menunjukkan kalau dirimu itu manusia tulen..
ini sing apik menurutku.. sebab banyak tulisan dari orang-orang yang membuat mereka terlihat jauh di awang-awang.
awas lek kon mandeg nulis.. tak santet pisan !
selamat ifthar !
Add A Comment