Khotbah Bom Atom & Menara Kembar New York
Tubuh saya bangun pagi sekali hari ini dan ingin berkhotbah di depan cermin. Tubuh saya berharap bisa menegakkan tatabahasa dan kaidah nalar yang baik dan benar. Wahai, bayangan tubuh saya di cermin, maaf telah memaksamu menelan khotbah sepagi ini. Tak perlu khawatir dan pura-pura tuli. Syaraf tubuh saya tak tercemar anggur atau bir, dan mulut saya sanggup berkata: “Manusia lebih senang mengakui kebenaran dirinya ketimbang kesalahannya.”
Bayangan tubuh saya yang mulia,
Telinga saya tak mendengar ledakan bom pagi ini. Tangan saya takut menghidupkan radio dan televisi yang membuat ledakan bom bisa terjadi. Semoga bom sama sekali punah di seluruh penjuru bumi sejak hari ini. Penghuni planet ini berharap perang dan kematian tak ada lagi setelah Hiroshima dan Nagasaki dilantak bom atom Amerika pada Perang Dunia II dan setelah sekujur Menara Kembar di kota New York lebur ditubruk dua pesawat tempur. Lalu? Bla-bla-bla. Amerika makin merajai tata dunia baru dan Osama menjelma orang terkenal sedunia. Siapa yang sanggup tertawa? Memilukan sekali. Kemiskinan, teknologi, agama, dan kerakusan makin merangsang manusia membuat onar dunia.
Ummat manusia berharap granat berubah menjadi buah apel hari ini. Tapi harapan kerap menghibur dan juga menghancurkan perasaan manusia. Ah, di awal musim panas yang lalu ada slogan di punggung kaos oblong seorang penumpang kereta bawah-tanah di Korea, kira-kira demikian bunyinya: “Send Me Knowledge. Don’t Send Me Bomb”. Manis dan indah, bukan? Siapa tak cemas membacanya? Harapan adalah risiko. Makin besar harapan bisa kian pedih akibatnya.
Tiga hari lagi, tujuh tahun silam, titik mula sejarah baru kekejian di bumi tercipta dan ditonton milyaran mata manusia. Kemudian, dengan perasaan yang agung, manusia di suatu negeri merancang rapat dan menyiapkan siaran pers sebelum mengirimkan balatentara dan pesawat tempur untuk menyerang manusia di negeri lain. Seluruh mata dunia menyaksikannya serupa menanti tendangan hukuman pinalti yang mendebarkan. Manusia tak perlu filsafat dan dogma untuk bisa menyaksikan keganasan perang dan tragisnya nasib Saddam Hussein menggelantung di tiang gantung.
Tubuh saya gemetar berjumpa manusia sejak membaca sejarah dan roman kekejaman di perpustakaan yang sejuk dan damai tak jauh dari penginapan saya di Korea. Rupanya menyengsarakan manusia sungguh tak sukar caranya. Sejarah penderitaan manusia bisa dibikin dengan melempar sebotol mesiu ke tengah pasar. Apakah takdir manusia selalu saling membunuh sebab bumi sama sekali bukan sorga? Bumi lebih mulia dihuni dinosaurus ketimbang manusia. Tubuh saya kerap lenyap harga dirinya menghuni planet ini dan percaya Steven Spielberg adalah nabi satiris terbesar abad ini.
Bayangan tubuh saya yang mulia,
Adakah yang pernah berpikir seluruh manusia sebaiknya bunuh diri bersama-sama sebelum kiamat tiba atau sebelum hunusan pisau sempat menyayat urat jantung mereka sepulang dari pesta? Kearifan ini lumayan mengerikan dan membuat bumi bisa bersih dari segala kotoran nafsu dan kekerasan manusia. Tapi ini terlalu simpel rasanya. Bagaimana jika sejuta orang menjadi teroris yang rajin meledakkan pesawat penumpang, membantai orang yang sedang sembahyang, dan membakar seisi gedung taman kanak-kanak? Anjing pun tak pernah memikirkannya.
Tubuh saya gemetar terkenang kekejaman manusia serta murka pada Teori Kekerasan yang bergema di ruang seminar dari mulut orang-orang ramah dan lembut hatinya. Mahatma Gandhi dan Amir Hamzah tak akan bisa dibangkitkan dari kuburan dengan lembaran kertas seminar. Imam Samudera lebih memuliakan jihad yang berlumuran darah ketimbang menghadiri undangan seminar di sebuah gedung yang steril dan nyaman. Tubuh saya gemetar terbayang manusia keranjingan menghancurkan sesamanya di luar gedung seminar. Betapa luhur mengundang Hitler, Stalin, Nero, dan Westerling sebagai pembicara dalam seminar Teori Kekerasan dan seluruh manusia yang ramah dan lembut hatinya menyimak bersama tisu dan sapu tangan untuk menyeka airmata yang merana.
Bayangan tubuh saya yang mulia,
Tubuh saya ingin mandi pagi ini. Bumi ini begitu kotor, amis, dan keji. Telinga saya tak mendengar semua manusia menangis ketika anak-anak Afrika mati kelaparan. Air hangat, segeralah membasuh kengerian di tubuh saya. Semoga tak ada bom nuklir di kamar mandi. Sungguh enak rasanya menulis puisi setelah mandi dan makan pagi. Semoga tak ada teroris sembunyi di dapur dan di kolong meja tulis. Hari ini tak ada jadwal undangan seminar dan tak ada kiriman e-mail dari Baghdad atau Afganistan. Hari ini bagus sekali untuk belajar berduka tanpa kata-kata yang boros sedu-sedan. Ketahuilah, tubuh saya ingin hidup seperti yang diinginkannya sejak film Hollywood gemar mengajari manusia menjadi pahlawan tampan yang pintar memusnahkan kebahagiaan sambil mengunyah sekantong brondong dan mereguk sekaleng coca-cola. Tubuh saya tak ingin menjadi bahaya bagi manusia. Tubuh saya benci senapan. Dunia makin paham kenapa John Lennon dan Janis Joplin bertekad menjadi penyanyi sampai mati, bukan menjadi tentara, dan tak suka seminar.
Bayangan tubuh saya yang mulia,
Dunia ini merupakan sandiwara yang nyata. Kapankah Abu Nawas dan Charlie Chaplin hidup kembali dan berbagi jenaka ke seluruh penjuru bumi? Kamar mandi sudah lama menunggu tubuh saya. Ingin rasanya mengguyur tubuh sambil menyanyikan kata-kata Francis Alys:“sometimes doing something poetic can become political and sometimes doing something political can become poetic”. Selamanya, tubuh saya mengutuk perang. Make love, no war. Sampai jumpa.
tubuhmu kan medan perang, cak
Betul, Pak Cik. Tubuh juga semesta.
Add A Comment