Binhad Nurrohmat

going within…

Kenangan Menonton Film Pemberontakan PKI

Posted by binhad on Sep-22-2008

“Darah itu merah, Jenderal!”

(fragmen dialog film G 30 S/PKI)

*

Semua pelajar sekolah di Indonesia sebaya saya saat itu tiap tanggal 30 September wajib menonton film-film pemberontakan PKI (Partai Komunis Indonesia) yaitu G 30 S/PKI  dan Operasi Trisula. Kewajiban ini menggembirakan kami. Kami berpakaian seragam sekolah berbondong ke bioskop dikawal para guru. Amat meriah suasananya. Kala itu bioskop masih barang baru di kampung saya di pedalaman Lampung. Sekadar info, tiang PLN baru merambah kampung saya pada 1999, selepas gerakan Reformasi. Sebelumnya, tenaga listrik di rumah-rumah di kampung saya dipasok oleh sebuah mesin diesel tua yang menyala dari pukul 6 sore sampai pukul 12 malam.

 

Film G 30 S/PKI dibintangi seniman kawakan Umar Kayam (Presiden Soekarno), Arifin C. Noer (sutradara dan penulis skenario), dan Syu’bah Asa (Ketua Central Committee PKI D.N. Aidit). Latar film ini di Jakarta tahun 1965 dan 1966 dan diproduksi pada 1984. Saya ingat, dalam film ini kerap muncul adegan gembong-gembong PKI rapat di sebuah ruangan temaram dan mereka tampak genting, berpikir keras, dan ada seorang gembong PKI berkaca mata tebal yang selalu merokok terus-menerus. Mereka menyebut sesama orang PKI dengan panggilan “kawan”, misalnya kawan Nyoto. Salah satu gembong PKI yang menonjol di film ini adalah Letkol Untung dari pasukan Cakrabirawa yang diperankan oleh aktor Bram Adrianto.

 

PKI menjadi cacat sosial di masa Orde Baru. Konon banyak keturunan “orang eks” (baca: eks anggota PKI)  tak bisa menjadi pegawai negeri. Di masa kanak-kanak saya, para orangtua kerap menceritakan orang-orang PKI dengan penuh kebencian dan menyebut mereka sebagai gerombolan sadis, ateis, atau kafir. Cerita menakutkan ini melekat kuat di benak kanak-kanak di masa itu.

 

Ada kisah menggelikan yang terjadi jauh selepas masa kanak-kanak saya. Pada tahun 2005 saya dan Syu’bah Asa menginap di sebuah vila di Tawangmangu dan dia menjadi imam sholat saya. Pada raka’at pertama saya terkikik dalam hati, sebab saya sadar sholat saya diimami pemeran DN Aidit, gembong PKI itu.  

 

Sedangkan film Operasi Trisula merupakan kelanjutan operasi penumpasan anggota PKI di Jakarta. Latar  film ini di Blitar Selatan tahun 1968, terutama di dalam ruba-ruba (goa bawah tanah) dekat pesisir selatan Jawa. Film ini melibatkan aktris hot Lina Budiarti dan menyisipkan adegan romantis antar-aktivis komunis.

 

Dalam film yang diproduksi pada 1986 itu, tentara punya cara unik mengidentifikasi gembong komunis yang kerap menyamar sebagai petani. Saya ingat adegan tentara menangkap lelaki yang sedang mencangkul di ladang dan tentara  itu memeriksa kulit tapak tangan lelaki itu: jika kasar berarti petani asli, bila halus berarti petani palsu alias gembong komunis.      

 

Pembaca yang budiman, periksalah kulit tapak tangan Anda: halus atau kasar?

  1. Budhi Setyawan Said,

    banyak kelucuan di film2 itu, berbanding lurus dengan kelucuan Orde Baru yang takut ketahuan jati diri sebenarnya……he3… (Pengecut…)

  2. BINHAD Said,

    Lucu-lucu dalam perahu, Kang.

  3. Gus Muh Said,

    Adegan paling mengarukan dalam artikel ini adalah: [ketika] saya dan Syu’bah Asa menginap di sebuah vila di Tawangmangu dan dia menjadi imam sholat saya. Pada raka’at pertama saya terkikik dalam hati, sebab saya sadar sholat saya diimami pemeran DN Aidit, gembong PKI itu. Emang aneh sekali. Sama anehnya ketika Taufiq Ismail tak memberi secuil pun informasi bahwa orang PKI juga merenovasi 13 masjid, tangsi2 militer, gorong-gorong di banyuwangi sana. Mirip padat karya di masa Orde Baru.

  4. binhad Said,

    Gus Mus,
    Mendengar informasimu saya serasa berurai airmata melebihi tangisan Taufiq Ismail ketika membaca sajak-sajaknya setelah menghardik sajak-sajak penyair lainnya. Budiman sekali penyair kita ini ya.

  5. binhad Said,

    Ralat, bukan Gus Mus, tapi Gus Muh hehe

  6. mufti Said,

    Kalau saya nggak mencangkul tapi punya tangan kasar gimana? tentara? :D

  7. BINHAD Said,

    Tangan Bung Mufti terlalu sering pegang tasbis kali ya hehe

Add A Comment