Kemaluanmu Sangat Besar
Teman saya, seorang gadis dari Leiden, sedang belajar Bahasa Indonesia. Dia pernah bertanya pada saya tentang kata sifat berimbuhan ke-an yang menjadi kata benda, misalnya “gairah” menjadi “kegairahan”.
Saya pernah mengundang teman saya itu minum di sebuah kedai dan kami mengobrol dalam Bahasa Indonesia hingga larut malam. Menjelang pulang, saya memanggil pelayan kedai itu untuk membayar minuman. Saya merogoh saku pantalon saya dan saya tak mendapati dompet saya. Saya bingung dan wirang. Teman saya itu bilang tanpa sungkan, “Ah, tak masalah. Itu cuma kecelakaan. Santai saja. Saya tahu kemaluanmu sangat besar…”.
Kedai itu kecil dan tenang, sehingga suara teman saya itu juga terdengar oleh orang-orang di sekitar. Pelayan kedai yang berdiri dekat meja kami dan para tamu kedai itu tersipu.
Dalam perjalanan pulang, saya menerangkan pada teman saya itu bahwa kata “kemaluan” merupakan bentuk kata benda dari kata sifat “malu” yang juga bisa berarti “kontol” atau “tempik”. Teman saya itu terkejut dan minta maaf. Menurut kaidah, teman saya itu benar, tapi agar “aman” saya menyarankan mengubah kalimat “kemaluanmu sangat besar” menjadi “rasa malumu sangat besar”.
Teman saya itu juga pernah bertanya pada saya tentang kata kerja berawal pe untuk menunjuk jenis pekerjaan misalnya “petinju” (kata dasarnya “tinju”) yang berarti orang yang pekerjaannya bertinju dan “petembak” (kata dasarnya “tembak”) yang berarti pekerjaannya atlet menembak. Huruf awal dalam kata “tinju” dan “tembak” tak luluh. Tapi huruf awal dalam dua kata dasar itu luluh bila berawalan pe untuk menunjuk orang yang melakukan atau pelaku (“tinju” menjadi “peninju” dan “tembak” menjadi “penembak”).
Saya pernah mengajak teman saya itu untuk menyambangi sahabat saya, Fulan namanya, yang pekerjaannya menulis dan namanya kondang di negeri ini. “Saya senang bisa bertemu petulis kondang seperti Anda,” kata teman saya dari Leiden itu. Fulan tersenyum kecil, mungkin dia janggal mendengar kata “petulis”. Menurut kaidah, kata “petulis” itu benar, sebab huruf awal kata “tulis” tak luluh ketika berawalan pe untuk menunjukkan orang yang pekerjaannya menulis, sebagaimana kata “petinju” untuk menyatakan orang yang pekerjaannya bertinju. Tapi masyarakat Indonesia lazim menggunakan kata “penulis” dan bukan “petulis” untuk menyebut orang yang pekerjaannya menulis.
Menurut kaidah, kata dasar berhuruf awal k,p,t,s luluh ketika berawalan me, misalnya “menguras” (kata dasarnya “kuras”), “memerkosa” (kata dasarnya “perkosa”), “menampar” (kata dasarnya “tampar”), dan “menyodomi” (kata dasarnya “sodomi”); maupun tatkala berawalan pe yang menunjuk orang yang melakukan atau pelaku, contohnya “penguras”, “pemerkosa”, “penampar”, dan “penyodomi”. Tapi kata dasar berhuruf awal k,p,t,s tak luluh ketika berawalan pe untuk menunjuk jenis pekerjaan, misalnya “petani” (kata dasarnya “tani”).
Namun masyarakat Indonesia lazim menggunakan kata “pengarang” (kata dasarnya “karang”) dan bukan “pekarang” untuk menyebut orang yang pekerjaannya mengarang maupun kata “penyair” (kata dasarnya “syair”) dan bukan “pesyair” untuk menyebut orang yang pekerjaannya bikin syair.
Antara “kelaziman” dan kaidah berbahasa bisa bikin pusing teman saya dari Leiden itu dan mungkin juga Anda yang peduli Bahasa Indonesia. Teman saya itu pernah bertanya pada saya, “Apakah yang harus ditaati? Kelaziman atau kaidah?” Saya menjawab: “Bagiku, memakai keduanya kamu tetap cantik.”
tentu temanmu minta maaf, soalnya dia tahu itu tidak benar, kan? hehehe ….
Menurut saya, teman Binhad ini paham, kok. Dia jujur berkata apa adanya.

Halo, Mat?
ah….., tidak besar besar amat gitu…., sebab mah ecrot sudah pensiun ?
hahahahahaha…
kalimat kurious yang menarik dari temen Leiden itu.
Kemaluan.
Petulis.
Pekarang.
Kaidah atau kelaziman???
atau lazim menjadi kaidah di negeri ini?
“Bagiku, memakai keduanya kamu tetap cantik,”. kata ganti tunggal yang jujur di tengah jamaknya kelaziman melanggar kaidah di negeri yang kaya dengan konvensi kaidah terlembaga.
menakjubkan..
kakakak…
hahaha saya yakin temenmu ini memang benerbener baru belajar bahasa, dan gurunya (binhad) menggiring ke pelajaran pertama ke – an. Bisa jadi memang oleh sang guru diarahkan kesitu. Dan soal dompet itu bisa skenario (hahahahaha). Padahal kan gak besar-besar amat ya…bener kata bung munawar, binhad oh binhad
Add A Comment