Binhad Nurrohmat

going within…

Kebangkrutan Nasional, Kebangkitan Rasional

Posted by binhad on May-13-2008

Bangsa ini menunggu 100 tahun untuk benar-benar bisa “merasakan” kebangkrutannya.

 

Berita-berita media massa hari-hari ini mengabarkan hasil berbagai analisis dan diskusi kaum intelektual dan para pakar berbagai disiplin ilmu mengenai Seabad Kebangkitan Nasional. Kesimpulannya seragam: bangsa ini makin mundur dan tak berdaya di berbagai bidang kehidupan. Tanpa analisis dan diskusi panjang lebar, kesimpulan itu sudah sangat bisa diterka.

 

Tak perlu kerut kening menemukan bukti-bukti kemunduran bangsa ini. Gedung-gedung sekolah roboh dan ongkos pendidikan mahal sekali. Partai politik makin banyak tapi melahirkan barisan politisi pemburu kemewahan hidup melalui kekuasaan. Banyak pengusaha dan pejabat kaya raya dari hasil korupsi. Hutan-hutan digunduli oknum-oknum yang main mata dengan penguasa. Antar-pemeluk agama yang sama berkelahi. Dan sebagainya dan sebagainya.

 

Lantas, apa yang diperbuat bangsa ini sejak 1908 hingga 2008? Jangan-jangan yang selama ini terjadi bukan bangkitnya “perbuatan”, melainkan “perasaan” bangkit belaka. Sebagai warga bangsa, saya sulit mengaku bangsa ini telah bangkit. Bangkit dari apa? Oh, Hari Kebangkitan Nasional…

 

Ketika SD hingga SMA, peringatan Hari Kebangkitan Nasional bikin saya sering tersiksa dalam barisan peserta upacara di lapangan sepakbola di kampung saya, berjam-jam saya mesti tegak berdiri menahan terik matahari, dan bersabar mendengar pidato pemimpin upacara yang membosankan. Di tengah upacara, pernah kepala saya berkunang-kunang, lalu saya terkulai pingsan. Saya merasa tak berbakat mengikuti upacara, tapi sekolah mewajibkannya. Apa menariknya upacara? Upacara itu tak mengubah apa-apa, selain mengharuskan saya tegak berdiri berjam-jam di lapangan sepakbola yang bikin saya semaput gara-gara kepanasan.

 

Saya ingin punya fantasi heroik mengenai Hari Kebangkitan Nasional. Saya berangan “kebangkitan” menjadi nyata: mengubah keloyoan menjadi keperkasaan, kemunduran menjadi kemajuan, dan ketakberdayaan jadi kedigdayaan. Pokoknya, so far so good-lah. Ternyata, makin sering saya berangan, kian sering pula saya terkecewakan.

 

Kenyataan sehari-hari bangsa ini membuat saya merasa kalah dan nihil. Kebangkitan jadi “mimpi indah nasional” belaka serta upacara di lapangan sepakbola yang bikin saya kepanasan berjam-jam. Saya merasa cemas dan jera untuk berangan lagi. Sebab, yang nyata kini adalah adanya kebangkrutan nasional yang mencolok mata.

 

Kebangkrutan itu terjadi karena bangsa ini terjangkit krisis pemikiran rasional. Krisis ini melahirkan perbuatan-perbuatan ganjil dan merugikan kepentingan banyak orang. Maling ayam atau kolor tetangga digebukin massa sampai mati, tapi pencuri uang rakyat bermilyar-milyar dilindungi seperti orang suci. Jalan raya yang mulus-rata dibikin bergeronjal oleh polisi tidur. Polisi cepek merajalela mengganti peran petugas pengatur lalu-lintas. Negara tak berdaya pulau-pulau dicaplok negara tetangga. Perusahaan pengebor gas membikin lumpur panas meluap yang menenggelamkan banyak desa dianggap bencana alam belaka.

 

Capek deh!

Mari mencanangkan Hari Kebangkitan Rasional hari ini. Tanpa harus diperingati dengan upacara yang memaksa tegak berdiri berjam-jam di lapangan sepakbola dan mendengar pidato sambil menahan panas terik matahari. Yang diperlukan bangsa ini adalah berpikir dan berbuat, bukan upacara yang menyiksa dan bikin semaput saya itu.

 

Berpikir dan berbuat, grak!

 

 

  1. heru s Said,

    Mas Binhad asyik juga! Mas pernah dihukum saat upacara ya? jangan-jangan….. Ok! semoga kebangkitan rasional menjelma aufklarung seperti di Jerman tempo doeloe! silakan kunjungi blog saya! http://www.herueksis.blogspot.com

Add A Comment