Homo blogetensis
Langit itu kosong
Aku bungkam keheningan
dalam jazz dan nikotin.
(Soebagio Sastrowardoyo, sajak “Abad 20”)
Inilah fatwa saya hari ini: Sudah menjadi takdir blog ada di bumi dan merenggut banyak waktu dan tenaga ummat manusia abad ini, tapi mereka merasa bahagia. Bahkan ketika kesepian menyergap sekujur perasaan mereka, blog kerap menjadi juru selamat yang menghibur. Mulailah memperhitungkan blog sebagai penurun angka bunuh diri di zaman penuh kecamuk rasa hampa ini.
Kini saya makin sulit menemukan teman dan kenalan saya yang tak punya blog, baik penulis, seniman, pedagang, pegawai negeri sipil, maupun kyai. Jika anda bertanya: Apa makna blog bagi ummat manusia? Tak perlu repot tanya kanan-kiri untuk mengetahuinya. Bubarkanlah blog anda dan mogoklah menilik blog sama sekali, maka anda akan menemukan jawabannya.
Dulu, dulu sekali, lantaran saya tak punya blog membuat teman-teman saya yang merasa blogger sejati tega mengolok saya kuper, gaptek, dan sejenisnya. Namun saya enjoy saja. Saya berluhur sangka dan menganggap olok-olok itu gaya teman-teman saya menyayangi saya. Betapa tak sedikit pula teman saya yang setengah merayu saya membikinkan saya blog, tapi iman saya terlampau teguh sebagai manusia non-blog. Hidup saya tak kurang bahagia meski tanpa blog, kilah saya saat itu.
Saat nongkrong di Warung Alex bersama teman-teman saya yang malang-melintang sebagai blogger, saya memilih menjadi pendengar saja ketika mereka mengobrolkan tetek-bengeknya blog. Kata-kata seperti dashboard, akismet, wordpress, dan sejenisnya keluar-masuk telinga saya seperti bisikan puisi gelap. Agar tampak punya atensi, sesekali saya unjuk komentar atau mengajukan pertanyaan bodoh: Mungkinkah Eka Kurniawan beralamat surat-elektronik ekakurniawan@binhad.com?
Sebenarnya saya seorang pemuja copy darat dan sering sinis pada teknologi. Tapi sial, saya tak bisa membubarkan komputer dan internet di planet ini. Saya menggunakan komputer dan internet sebatas untuk mengarang dan mengirim surat-elektronik. Ini terpaksa saya lakukan sejak koran-koran merasa repot menerima kiriman tulisan via pos dan teman-teman saya senang menertawai kiriman pos surat korespondensi saya seperti menertawai manusia zaman batu.
Begitulah, akhirnya saya harus rela menyerah di haribaan internet. Saya pertama kali membuat alamat surat-elektronik pada akhir tahun 2001 (ketika itu Eka Kurniawan masih anak kos di Yogyakarta dan sibuk mengurus situs www.bumimanusia.or.id). Sejak tahun itulah mesin ketik manual menjadi tampak kuno di mata saya dan saya merasa jijik menjilati kertas perangko.
Kenapa sekarang saya punya blog? Karena terbujuk Eka Kurniawan. Pengarang budiman itu juga mengurus pembelian alamat blog saya dan mendesain tampilannya yang bersofa empuk itu. Karena saya masih mualaf blog, saya mendaulat Eka Kurniawan menjadi mursyid blog saya. Saya sering mampir ke apartemen mursyid blog saya itu untuk berguru pengetahuan blog. Apartemen yang terletak tak jauh dari kuburan Chairil Anwar itu merupakan ruang pertapaan mursyid blog saya itu, jadi sebaiknya saya jarang ke sana.
Menurut pengamatan saya, mursyid blog saya itu seorang penghayat teknologi internet dan seorang pengarang yang amat tekun. Andai saya seorang presiden, saya pasti mengangkat dia sebagai menteri kebudayaan atau menteri urusan blog, tentu bila dia berkenan.
Dan sudah menjadi takdir saya meluncurkan blog saya pada April 2008. Mursyid blog saya itu mengawal saya pada minggu pertama saya mengemudikan blog saya. Saya cepat disapih oleh mursyid blog saya itu dan dia bahagia melihat saya tersapih. Saking bahagia, di sebuah koran nasional terkemuka mursyid blog saya itu menulis sebuah esai yang membincang antara lain ihwal blog saya beserta para blogger “segenerasi” saya, ya para homo blogetensis itu.
Sejak esai mursyid blog saya itu tersiar saya merasa “dibaiat” masuk barisan jamaah blogger dan saya merasa sukar sekali keluar. Mursyid blog saya itu sama sekali tak pernah memberi tahu saya betapa sukar keluar dari jamaah blogger setelah telanjur masuk, seperti jamaah sebuah tarekat yang sudah kadung dibaiat mursyidnya. Barangkali mursyid blog saya itu yakin blog tak akan membuat manusia menderita.
Kenapa Eka Kurniawan bisa membujuk saya jadi blogger? Sebaiknya tak perlu ada yang penasaran, apalagi berupaya mengusutnya. Percayalah, blog tak berbahaya bagi kesehatan badan, apalagi iman saya.
ya, begitulah…
begitulah, ya…
Begitulah Bang…
Akankah sastrawan masih menggelar karyanya dalam lusuh kertas atau berganti digital?
Salam Kenal dan Salam Kagum
TB
Yang terpenting bagi sastrawan adalah menulis seoptimal mungkin, dengan medium apa pun.
Salam kenal juga untuk anda dan terima kasih anda sudi mampir ke sini.
Jadi semakin jelaskah beda antara pilihan atau bukan?
Jangan-jangan entar kalo udah pulang, udah nggak home sick lagi, luntur deh “iman” blognya …
Atau malah jadi teolog blog haha
Jalan blog memang jalan paling tepat buat meraih kebahagiaan, Binhad. Tulisan-tulisanku yang tidak dilaku muat koran bisa dipajang di sini. Menulis tidak lagi berkaitan dengan pemuatan di koran. Aku jadi terbebas dari penderitaan semu. Hehehe tapi blogku jelek, maklum blog gratisan. Aku punya dua, salah satunya: ariskurniawan.blog.com, blog ini diluncurkan beberapa bulan lalu di kafe kecil pondok pinang bersama teman-teman, padahal blog ini sudaha bisa diakses setahun sebelumnya.
hai mas…
akhirnya sampean ngeblog juga..
jadi lebih mudah liat tulisan sampean..
timbang nunggu di koran yang tak tentu ada tulisan sampean, dan harus beli lagi…
because the code is poetry………,
aku gak ngerti maksude orang-orang wordpress yang nyantolkan kalimat tersebut
saya sempat mbaca artikel di Kompas yang mbahas masalah tersebut, tapi lupa siapa yang nulis, dari Kompas pula saya menemukan Blog Kang Binhad
Aku tidak akan menjadikan hati tak tentram apa pun bahasa orang ” ngeblok” ya. Sebab aku pun tak mengalpakan habitat. Dua jenis media kan bagus menurutku. Apa lagi di “Taman” ini sepertinya aku plong berekspresi. Aku tidak bisa menilai baik buruknya sebuah karya tapi soal ini kuserahkan pada waktu yang terus berjalan. Gimana Binhad ? he he he
Salam kenal dari Sidoarjo,bang
sumpah, mas binhad lucu bangettt… he he he
hhmmmmm……..( bukan eeemmpphhh)
Saya, bisa dibilang pendatang baru di dunia per-blog-an. Tapi, bisa pula disebut bukan lagi begitu. Pasalnya, saya membuat blog saya pada April 2007. Namun, saya belum merasakan manfaat atau mudlaratnya. Karena itu tak heran jika jumlah posting-an saya terlalu sedikit untuk dihitung, Namun, belakangan, saya baru merasakan sekaligus sadar bahwa blog tak mengganggun kesahatan, tidak menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin. Soal berpengaruh atau tidak pada iman, saya belum bisa memastikannya.
Salam…
bawuk indonesia juga keren !
iya begitulah Bung, takdirnya. sastrawan/ penyair/ peracik kata without go-blog akan jadi Goblog
Bang, saya cuma mau kasih kabar.
Khusus untuk penilmat lagu DANGDUT LAMPUNG, sekarang sudah bisa download sepuasnya di:
http://onlampung.com
Dijamin puas…he..e..he…he… ada 600 Lagu lho..
Salam buat semuanya dari Lampung.
wah tulisan anda ekspresif banget berbobot tapi tetap ringan dibaca.
imajinasionline@gmail.com
Add A Comment