Binhad Nurrohmat

going within…

Hantu Pemakan Tempe Goreng

Posted by binhad on Oct-22-2008

Saya tak mengibul atau berniat menakuti siapa pun. Ini hanya kisah nyata yang pernah saya alami pada tahun 1997. Kisah nyata ini bangkit dari kolong ingatan saat saya menguntit Marno di Korea (bagian awal tentang Marno ada di laporan saya sebelumnya, “Bertemu Marno I”). Kisah nyata ini terjadi di satu rumah sewa di Condong Catur, Yogyakarta. Saat itu umur saya 21 tahun. Bagaimanakah kisahnya?

Teman kuliah saya (berinisial EH, kelahiran Wonosari, dan berambut keriting) mengajak saya mampir ke rumah sewanya yang baru di Condong Catur, Yogyakarta. Rumah itu punya 3 ruang kamar tidur dan 1 ruang dapur yang bersisian dengan kamar mandi dan sumur. Teman saya menyewa rumah itu bersama dua karibnya yang saat itu mudik ke Semarang dan Bandung. Rumah sewa itu dekat sungai dan rimbunan pohon bambu. Di seberang jalan depan rumah sewa itu ada satu rumah lain yang bagian depannya jadi warung barang-barang kebutuhan sehari-hari.  

Saat itu matahari mulai melorot ke barat dan angin menggerak-gerakkan rimbunan daun bambu. Kami duduk-duduk di kursi kayu di ruang dapur mengobrolkan cewek kakak tingkat di kampus kami yang manis dan tampak kesepian. Teman saya membujuk saya mengencani cewek itu. “Dia orang Kristen dan saya santri Pondok Pesantren Krapyak. Tak enaklah tiap minggu saya antar-jemput dia ke gereja,” ujar saya. Teman saya terbahak. “Aku ingin pacar manis, sexy, dan solehah. Syukur-syukur tahu puisi,” sambung saya. Teman saya segera menyahut, “Kakak tingkat itu manis, sexy, dan gemar sastra. Kurang apa. Tinggal kau minta dia syahadat. Beres, kan.”

Saya kadang ngobrol sambil berdiri dan jalan ke sana-sini kayak deklamasi. Saya heran, tiap saya mendekati bibir sumur yang terbuat dari cor-coran semen dan batako itu bulu kuduk saya berdiri dan kemudian rebah lagi setelah menjauh dari bibir sumur itu. Sumur itu tanpa tiang dan tali kerek, mulut liangnya tertutup payung hitam yang kainnya terkembang penuh. Di sisi sumur itu terpasang mesin pompa air merek Sanyo dan satu pohon bunga kamboja kecil dalam pot tanah. Saya melangkah berulang maju-mundur ke arah bibir sumur itu dan bulu kuduk saya berkali-kali tegak dan rebah. “Sumur ini berhantu,” kata saya. Teman saya penasaran. Dia melakukan yang sama dengan yang saya perbuat dan dia merasakan seperti yang saya alami. Tapi kami tak takut, bahkan terhibur. Sambil ngobrol kami bercanda dengan melangkah maju-mundur ke arah bibir sumur itu berulang-ulang sampai kami bosan dan lapar. Teman saya membuka tudung meja makan dan menutupnya kembali. Ada sedikit nasi dan sepotong tempe goreng. Kemudian kami keluar mencari makan di warung padang terdekat.

Kami kembali ke rumah sewa itu ketika hari sudah gelap. Kami langsung ke ruang dapur lagi dan melanjutkan obrolan. Ajaib. Tudung meja makan itu terkuak dan sepotong tempe goreng itu lenyap. Kucing dan tikus mustahil menyibaknya. Kalau maling buat apa cuma ambil sepotong tempe goreng. Saya menuduh hantu sumur mencuri sepotong tempe goreng itu. “Mana mungkin demit makan tempe goreng?” bantah teman saya. Saya cepat mengangkat payung hitam dari liang sumur itu. “Hei, hantu kok makan tempe goreng. Terlalu!” saya berolok sambil melongok ke dalam liang sumur itu. Lalu kami ngobrol lagi sambil mendengar lagu Rhoma Irama dari siaran radio swasta lokal. “Jagalah radiomu. Nanti bisa diembat hantu sumur,” oceh saya sambil joget-joget kecil.

Kami ngobrol di dapur malam itu sambil merokok Djarum 76, mengunyah kacang goreng, dan minum seduhan kopi Kapal Api. Kami tak lagi berbincang soal kakak tingkat itu. Kali ini kami diskusi soal puisi Mathori A Elwa dan cerpen Joni Ariadinata, harga sembako, demontrasi aktivis PRD, lonte-lonte Pasar Kembang, dan pemikiran Tan Malaka. Juga tentang mistik dan hakikat makhluk halus. Kami bicara ngawur-ngawuran saja sampai rokok dan kopi tandas. Masih tersisa sebungkus kacang goreng.

Setelah larut dan capek duduk, kami pindah tempat ngobrol di dalam kamar teman saya itu sambil baring-baring. “Enak tenan kalau kakak tingkat itu gabung ngobrol sama kita malam ini,” khayal saya. “Kata Kyai saya, bila berduaan dengan bukan muhrim maka hadir pihak ketiga, yaitu setan. Jadi kalau kakak tingkat itu ada di sini malam ini, kamulah setannya ha-ha-ha,” tambah saya.  Teman saya menyahut, “asu!”.

Tiba-tiba terdengar suara denting piring dari dapur. Kami kira itu ulah tikus atau kucing. Suara denting itu tak berhenti. Kami segera memeriksa dapur. Dentingan berhenti dan tak tampak kucing atau tikus. Kami masuk kamar lagi. Denting itu terdengar lagi. “Ah, itu ulah hantu sumur. Hei, hantu! Terus saja  pukul-pukul piring sampai pecah!” kata saya dan suara denting itu makin panjang dan keras. Kami diam sekian saat dan makin percaya pemukul piring itu adalah hantu sumur. Kami lama menunggu suara denting itu berhenti. “Hantu itu tersinggung kau tuduh mencuri tempe goreng,” tuding teman saya.

Saya punya ide sholat sunnat untuk mengusir hantu itu. Saya dan teman saya segera ke kamar mandi bersama untuk berwudlu. Suasana sunyi dan dingin. Saya jadi imam sholat sunnat mengusir hantu. Bulu kuduk saya meremang saat mengangkat tangan untuk takbiratul ihram di rakaat pertama. Setelah sholat sunnat kami tak mengobrol lagi, kami hanya baring-baring sambil mendengar lagu-lagu dangdut dari radio dan menghabiskan sisa kacang goreng. Kami pun segera tertidur dan tak bermimpi apa-apa.

Besok paginya saya menuju ke warung depan rumah sewa itu untuk membeli sebungkus rokok Djarum 76, dua bungkus Indo Mie goreng dan dua bungkus kopi Kapal Api. Saya tanya ke pemilik warung itu apakah rumah sewa itu berhantu. “Malam hari sesekali ada bayangan perempuan berambut panjang dekat jendela. Pakaiannya serba putih. Saran saya, adik mengundang warga sekitar untuk tahlilan bersama di rumah sewa itu.”

Saya melaporkan cerita pemilik warung itu ke teman saya, juga sarannya. “Lebih baik kamu pindah. Ongkos tahlilan bisa buat bayar sewa kamar satu bulan. Apalagi kalau mengusir hantu sumur itu harus tahlilan beberapa kali. Kamu bisa bangkrut. Lagi pula kamu alergi tahlilan. Kamu orang Muhammadiyah, kan?”  

 

  1. mufti Said,

    Hehehe… bagian terakhir “Kamu orang Muhammadiyah, kan?”. Kombinasi yang pas: orang Muhammadiyah, santri krapyak(NU dong..), sama2 ngobrolin kakak tingkat sambil ngudud & minum kopi.

    Condongcaturnya dusun apa? saya dulu juga tinggal di sana. tahun 1997 saya masih 7 tahun.

  2. BINHAD Said,

    Buat Mufti,
    Aku sudah tak ingat nama dusun itu, seingatku tak terlalu jauh dari ring road utara.
    Kali lebih oke ya kalau jadi Nahdaltul Muhammadiyah hehe…

  3. [D2R3D2] Said,

    jadi mending pindah daripada bangkrut buat tahlilan hahaha, cerita yang menegangkan !!

  4. binhad Said,

    Terima kasih sudah berani menengok hantu pemakan tempe from Yogyakarta he-he…

  5. anto_rembes Said,

    wah kalo saya itu masih semester 1 saya kul di daerah sekitar jalan janti brati sampeyan sejaman ma saya hehehe

  6. sugeng Said,

    wah… pas dialog sing terakhir koq nyekit banget…
    he..he..he..
    cah nurussalam….

Add A Comment