<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Binhad Nurrohmat</title>
	<atom:link href="http://binhadnurrohmat.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://binhadnurrohmat.com</link>
	<description>going within...</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 Nov 2011 09:37:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Pembaca Menggonggong Penulis Berlalu</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/pembaca-menggonggong-penulis-berlalu-199.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/pembaca-menggonggong-penulis-berlalu-199.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 09:32:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[SASTRA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[OLEH MALKAN JUNADI Penyair Saya pernah percaya puisi merupakan sejenis politik bahasa, pernah meyakini bahwa dengan seperangkat teori, sejumlah peranti linguistik, saya bisa menyiasati bahasa, dapat melakukan kerja arsitektural mewujudkan sebuah bangunan menawan bernama puisi. Namun waktu menyuapi dengan paksa kenyataan yang lain; misalnya betapa ternyata puisi tak selalu bisa saya tulis setiap hari, sering [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>OLEH MALKAN JUNADI</p>
<p><strong>Penyair</strong></p>
<p>Saya pernah percaya puisi merupakan sejenis politik bahasa, pernah meyakini bahwa dengan seperangkat teori, sejumlah peranti linguistik, saya bisa menyiasati bahasa, dapat melakukan kerja arsitektural mewujudkan sebuah bangunan menawan bernama puisi. Namun waktu menyuapi dengan paksa kenyataan yang lain; misalnya betapa ternyata puisi tak selalu bisa saya tulis setiap hari, sering tak dapat saya selesaikan pada tenggat yang saya inginkan. Meski saya pada waktu yang bersangkutan merasa tak kurang teori, tak kehilangan sedikit pun peranti yang saya pikir saya butuhkan.<span id="more-199"></span></p>
<p>Dalam perjalanan juga kemudian saya dengan sengaja ataupun tidak menemukan beberapa orang yang memiliki kegemaran membuat asersi-asersi subyektif dan sentimentil, men-<em>judge </em>karya-karya orang lain dengan pseudo-kritik, berlagak seolah ia paus sastra dengan puluhan karya monumental, yang berwenang memberi tahbis dan legitimasi predikatif pada seseorang, misalnya sebagai seorang penyair. “Tak ada kebaruan, gelap, nir-koherensi, sekedar curhat, prosa belaka, tak ada sedikitpun kemungkinan untuk dapat disebut sebagai puisi.” Asersi-asersi semacam ini mau tak mau kemudian membangunkan kembali pertanyaan klise “Apa itu puisi?” dari tidur siangnya. Pertanyaan yang mungkin kita sangka telah mendapat jawaban yang mapan dan pasti, dan oleh karenanya membuat kita kehilangan rasa penasaran untuk menguliknya lagi.</p>
<p>&#8212;&#8212;-ooOoo&#8212;&#8212;-</p>
<p>Puisi, saya percaya, merupakan salah satu ranting kesusasteraan (lisan maupun tulis) yang paling tua. “Epos Gilgamesh” yang dicipta sekitar 3.000 tahun SM cukuplah menjadi bukti. Sebuah puisi “Ia yang Melihat Kedalaman&#8221; (ša nagbu am?ru) dari epik tersebut bagian awalnya berbunyi: “<em>Ia telah melihat segala sesuatu, sudah mengalami segala rasa, dari kegembiraan yang meluap-luap hingga harapan yang remuk-redam, Ia diberkahi penglihatan untuk menyelami misteri besar, tempat-tempat rahasia, hari-hari purba sebelum Air Bah. Ia telah berkelana ke ujung dunia dan pulang dengan selamat. Kelelahan tetapi tetap utuh. Ia telah mengukir kisahnya di lempeng-lempeng batu</em>.”. Apakah kita bisa menyebut terjemahan ini sebagai puisi? Jawabannya bisa beragam. Yang jelas sejak itu puisi berkembang, menyebar, dan mengalami hibridisasi estetis seiring persebaran dan percampuran manusia di seluruh penjuru dunia.</p>
<p>Kita yang hidup di akhir abad 19 dan awal abad 20 kiranya cukup beruntung sekaligus mungkin terkutuk mendapati kenyataan betapa puisi di masa ini mengalami mutasi genetis sedemikian rupa sehingga ia muncul di hadapan kita sebagai salah satu ras kesusasteraan yang paling heterogen dan ruwet karakteristik-nya. Kita pernah percaya puisi adalah wilayah yang dibatasi oleh kehadiran-kehadiran rima, irama, larik, dan bait. Namun kehadiran <strong>Guillaume Apollinaire </strong>(Perancis), misalnya, dengan puisi-puisi visual/konkret-nya, juga <strong>Afrizal Malna</strong> (Indonesia) dengan puisi-puisi prosa posmo dan surealis-nya menggetarkan dan meremukkan kepercayaan ini. Kita pernah mendapati keagungan dan kesakralan puisi yang diperkenalkan <strong>Khalil Gibran</strong> (Lebanon-Amerika) dan <strong>Rabindranath Tagore</strong> (Bengali). Tetapi <strong>Charles Baudelaire </strong>(Perancis) dan<strong> Binhad Nurrohmat</strong> (Indonesia), misalnya, membuat kepercayaan ini goyah dan limbung akibat banjir kata tabu dan tema profan dalam puisi-puisi mereka. Kita mengenal <strong>Chairil Anwar</strong> dengan puisi-puisi padat dan lantangnya, <strong>WS Rendra</strong> dengan balada-balada dan pamfletnya, <strong>Sutardji Calzoum Bachri </strong>dengan mantra-mantranya, <strong>Joko Pinurbo</strong> dengan parodi tubuhnya.</p>
<p>Jadi, apa itu puisi? Sekali lagi saya dibuat <em>blangkemen </em>(kesulitan bicara) oleh pertanyaan pendek ini. Begitu banyak jawaban di luar, namun juga sering tak memuaskan hati. Pada akhirnya saya cuma bisa membayangkan beberapa penulis puisi; kenapa mereka menulis dalam<em> bentuk ini</em> dan bukannya <em>bentuk itu</em>, kenapa menulis dengan <em>gaya ini</em>, bukannya <em>gaya itu</em>. Saya bertanya (lebih sering pada diri sendiri) bukan untuk mencari kebenaran sejati, namun sekedar untuk menggaruk rasa gatal yang mengusik sekian masa, sekedar melerai rasa penasaran yang menganggu sekian waktu.</p>
<p>Pertama, saya melihat (mungkin dalam suasana kepahaman yang remang-remang) puisi sebagai entitas yang getol menyuguhkan berbagai pesta ambiguitas dan paradoks; seakan saya dimasukkan ke dalam semacam rumah yang sengaja tak diselesaikan pembangunannya, atau didamparkan di semacam jalan multi-simpang tanpa rekomendasi arah mana yang mesti ditempuh, atau didudukkan di bawah semacam pohon yang akarnya menghunjam ke batok langit sedang cabang-cabang dan dedaunnya menelusuri dan melebati rabu bumi. Sungguh keadaan yang membuat saya merasa sangat istimewa dan idiot sekaligus.</p>
<p>Kedua, saya memandang penyair sebagai salah satu spesies yang paling serius dalam mengoptimalkan pendayagunaan otak kanannya. Ia memandang dan menilai segala sesuatu tidak hanya dengan logika matematis, namun juga (bahkan lebih sering) dengan rasio estetis. Impresi-impresi inderawi dalam diri penyair bertransformasi sedemikian rupa menjadi pengalaman puitik. Di sini penguasaan teknis-teoritis kepenulisan mengambil peran menentukan berhasil tidaknya pengalaman tersebut diderivasi/diturunkan menjadi apa yang kita sebut sebagai puisi. Sayang, tak ada yang bisa menjamin bahwa setiap kesan inderawi akan bisa dikonversi menjadi bentuk verbal dan literer bernama puisi. Ada banyak variabel dan determinan yang mempengaruhi terciptanya kondisi ideal kreatifitas kepuisian. Karena itu masuk akal jika tak setiap hari puisi bisa ditulis. Pengalaman puitik pun, bagai hantu, kerap muncul dan hilang tanpa disangka dan diharap. Ia mungkin tak benar-benar hilang, hanya bagai <em>folder </em>yang ter-<em>hidden </em>secara otomatis oleh sejenis virus. Tak heran jika penyair mengalami “macet ide” secara tiba-tiba. Kadang baru bisa melanjutkan lagi tulisannya setelah sekian hari, bulan, bahkan mungkin tahun.</p>
<p>Ketiga, saya menilai kedudukan dan sikap pembaca dalam merespons sebuah teks sangat menentukan predikat apa yang akan disandang teks tersebut; apakah puisi, igauan di siang bolong, atau sekedar curahan hati. Pembaca pun biasanya memiliki tendensi tertentu; ada yang hanya ingin mengapresiasi, ada yang ingin menyalurkan hobi-menghujat-dan-mencela, dan ada pula yang ingin memberi kritik yang <em>fair</em>. Saya percaya untuk melakukan ketiganya secara sukses orang butuh bakat, nyali, dan keahlian. Khusus untuk memberi kritik yang bertanggung jawab tentu seseorang butuh pengetahuan yang cukup akan sejarah sastra, linguistik, psikologi, filsafat, teologi, dan tentunya agama dan politik.</p>
<p>Seseorang tak bisa memberikan penilaian (baca: kritik) hanya berdasarkan selera dan kecenderungan pribadi. Seorang juga tak bisa memakai metode dan standar estetis yang sama persis saat berhadapan dengan dua atau lebih karya dari jenis yang berbeda. Di dunia lukis misalnya kita tak bisa menilai<strong> Pablo Picasso</strong> dari sudut pandang <strong>Salvador Dali</strong> atau <strong>Vincent Van Gogh</strong>, karena ketiganya berada di relnya masing-masing. Pembaca tak bisa mengapresiasi <strong>Afrizal Malna</strong> dengan cara yang sama saat mengapresiasi <strong>Sapardi Djoko Damon</strong>o. Pembaca yang <em>semantic oriented</em> kemungkinan akan gagal saat menghadapi teks-teks surealis yang berisi <em>juxtaposition </em>dan <em>non sequitur</em>, lalu tergesa menilainya sebagai permainan metafora yang absurd, bahkan lebih lanjut menuduh penulisnya menghindar dari tanggung jawab moral atas nasib dan kondisi kontemporer masyarakatnya. Pembaca semacam ini biasanya juga akan menolak keras pernyataan bahwa penyair adalah jubir dirinya sendiri, bukan jubir masyarakat.</p>
<p>&#8212;&#8212;-ooOoo&#8212;&#8212;-</p>
<p>Hubungan penulis dan pembaca bukanlah hubungan hierarkis di mana yang satu lebih tinggi dan unggul dibanding yang lain, namun hubungan timbal-balik yang sejajar dan saling menguntungkan (mutualisme). Toh pada dasarnya tak ada yang berhak menentukan definisi final dan valid dari puisi. Setiap yang ditulis dengan maksud sebagai puisi berhak disebut sebagai puisi, meski tidak puitis kecuali bagi seorang pembaca saja. Inilah kemerdekaan bagi penulis. Lantas di mana letak kemerdekaan pembaca? Setelah sebuah karya di-<em>publish</em>, maka di situlah dimulai <em>the death of the author</em> di mana pembaca mendapatkan kuasa yang nyaris mutlak untuk melakukan penilaian sesuai dengan radius pemahaman yang dimilikinya. Bagaimana dengan etika kritik? Etika kritik dirasa perlu hanya ketika sebuah karya dipandang sebagai bagian inheren dan integral dari kemanusiaan. Jika tidak maka yang terjadi adalah “<em>pembaca menggonggong penulis berlalu</em>”.</p>
<p>Puisi bisa sangat sederhana, bisa pula sangat pelik. Puisi kadang pula tak berbeda dari daftar menu di sebuah restoran atau jadwal keberangkatan kereta di sebuah stasiun. Yang membedakan pada akhirnya adalah siapa pembacanya. Puisi akan mendapatkan kepenuhan eksistensialisnya saat berada di depan pembaca yang membuka diri sedemikian rupa terhadap teks, yang bersedia melakukan korespondensi memori secara total. Pembaca yang me-lewat-i dan meng-atas-i referensi leksikal setiap kata, yang merespon setiap ujaran tidak cuma dengan rasio empiris, namun juga rasio estetis. Hal ini tentu tak menafikan adanya standar nilai dalam seni, namun bahwa standar adalah perkara yang relatif dan tak begitu saja bisa semena-mena, haruslah juga jadi fakta yang diterima. Kritik struktural memang keren, namun sering tak manusiawi dan tentunya a-historis. Pembaca yang menutup diri dari mengenal siapa penulis sebuah karya (laki-laki atau perempuan, dewasa atau masih kanak-kanak, mahasiswa atau murid SD, tinggal di kota atau di pegunungan, dsb dst) pada hakekatnya sedang menyulap dirinya sendiri menjadi badut sastra. Karena bukankah sangat lucu menagih murid kelas 3 SMP menulis semengesankan WS Rendra?</p>
<p>Salam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/pembaca-menggonggong-penulis-berlalu-199.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pernyataan Penyair 2011*</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/pernyataan-penyair-2011-186.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/pernyataan-penyair-2011-186.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Apr 2011 09:58:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[SASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[Hadiah Nobel]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Sastra Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[PDS HB Jassin]]></category>
		<category><![CDATA[penyair]]></category>
		<category><![CDATA[Penyair Unggul]]></category>
		<category><![CDATA[Pernyataan Penyair 2011]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, di majelis ini, saya menyatakan bahwa tanda keluhuran puisi Indonesia adalah daya artistiknya yang menggerakkan kesadaran masyarakatnya. Tanda utama keunggulan puisi Indonesia bukanlah meraih 1000 Hadiah Nobel. Tanda paling gemilang puisi Indonesia ketika menjadi hati nurani paling terkemuka bagi bangsanya. Hal-hal inilah yang dimiliki puisi di mana dan kapan saja yang dinilai cemerlang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini, di majelis ini, saya menyatakan bahwa tanda keluhuran puisi Indonesia adalah daya artistiknya yang menggerakkan kesadaran masyarakatnya. Tanda utama keunggulan puisi Indonesia bukanlah meraih 1000 Hadiah Nobel. Tanda paling gemilang puisi Indonesia ketika menjadi hati nurani paling terkemuka bagi bangsanya. Hal-hal inilah yang dimiliki puisi di mana dan kapan saja yang dinilai cemerlang bagi perpuisian dan dipandang berguna oleh masyarakatnya. Untuk meraih semua itu, penyair mesti tekun bergulat dalam kreativitas dan berani merebut fungsinya bagi masyarakatnya. </p>
<p>Penyair unggul bukan lantaran kehebatan ekspresinya belaka. Kehebatan ekspresi merupakan kewajiban setiap penyair. Penyair unggul menangkap masalah masyarakatnya dan mengucapkannya melalui kehebatan ekspresinya. Penyair unggul bukan makhluk mitos. Penyair unggul adalah realitas yang bisa disaksikan dan diukur melalui daya artistik puisinya yang menggerakkan kesadaran masyarakatnya. Bila puisi tak bisa melakukannya, puisi  harus rela menjadi puisi biasa-biasa saja.      </p>
<p>Apakah peran penyair Indonesia bagi masyarakatnya? Setiap penyair Indonesia harus menjawabnya, jika tak mampu menjawabnya, apakah peran kepenyairan masih layak dipandang berharga tanggung jawabnya? Jawaban atas pertanyaan itu merupakan sikap penyair yang menjawabnya dan terjelma dalam puisinya. Ketakmampuan menjawab pertanyaan itu adalah tanda krisis sikap kepenyairan yang menimbulkan krisis kualitas perpuisian. </p>
<p>Puisi bukan hadiah yang diulurkan oleh para dewa ke tangan para penyair. Tangan penyairlah yang  menulisnya untuk menyuratkan kehebatan ekspresi dan menyuarakan hati nuraninya. </p>
<p>Jakarta, 28 April 2011<br />
Binhad Nurrohmat</p>
<p>*Dibacakan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin<br />
pada acara Hari Sastra Nasional, 28 April 2011. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/pernyataan-penyair-2011-186.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidur di Korea, Mimpi Saya Berbahasa Indonesia</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/tidur-di-korea-mimpi-saya-berbahasa-indonesia-67.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/tidur-di-korea-mimpi-saya-berbahasa-indonesia-67.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Apr 2011 06:35:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[SASTRA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Aha, bahasa Indonesia amat setia menghuni tubuh saya dan saya tak bisa mengusirnya sebagaimana bahasa Indonesia tak bisa menghalau tubuh saya. Tubuh saya adalah tubuh berbahasa Indonesia di manapun saya berada. Bahasa Indonesia jadi artikulasi kultural tubuh saya. Sekarang tubuh saya berada di Seoul, Republik Korea. Tapi bahasa tubuh dan bahasa pikiran saya masih berbahasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h4 style="text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US"><span style="font-family: " lang="EN-US">Aha</span><span style="font-family: " lang="EN-US">, bahasa Indonesia amat setia menghuni tubuh saya dan saya tak bisa mengusirnya </span></span><span style="font-family: " lang="EN-US"><span style="font-family: " lang="EN-US">sebagaimana bahasa Indonesia tak bisa menghalau tubuh saya. Tubuh saya adalah tubuh berbahasa Indonesia di manapun saya berada. Bahasa Indonesia jadi artikulasi kultural tubuh saya.<span id="more-67"></span></span></span></h4>
<h4 class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US">Sekarang tubuh saya berada di Seoul, Republik Korea. Tapi bahasa tubuh dan bahasa pikiran saya masih berbahasa Indonesia, saya kira demikian juga teman saya dari Yogyakarta, Doktor Faruk namanya, yang sejak setahun silam tinggal dan mengajar bahasa Indonesia di universitas di Korea. Di dalam tubuh saya maupun tubuh Doktor Faruk bersemayam bahasa Indonesia.</span></h4>
<h4 class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US">Prof. Koh Young Hun berbahasa Indonesia bila berbicara dengan saya, tapi dari caranya berbahasa Indonesia yang bagus sekalipun tak bisa mengecoh saya bahwa dia orang Korea. Tak terelak, kata dan tata-bahasa hanya sebagian unsur dari kompleksitas unsur pembentuk bahasa. Bahasa merupakan hasil pergulatan panjang masyarakat dan kebudayaannya, sehingga bahasa niscaya memancarkan kepelikan identitas atau spirit kebudayaan tertentu. “Sidik jari” kebudayaan masyarakat ditampakkan oleh bahasanya. <span style="mso-spacerun: yes;"> </span><span style="mso-spacerun: yes;"> </span><span style="mso-spacerun: yes;">  </span></span></h4>
<h4 class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US">Migrasi tubuh saya ke Korea memang meninggalkan kamus bahasa Indonesia di rak buku saya di Indonesia, tapi di dalam tubuh saya masih bercokol bahasa Indonesia. Di Korea, saya sering mengucapkan annyong haseyo atau kamsa hamida yang sesungguhnya masih sebagai terjemahan dari bahasa Indonesia untuk mengucapkan “selamat pagi” atau terima kasih”. Saya tak “merasa” mengucapkan dua ungkapan berbahasa Korea itu, saya sebatas menerjemahkannya. <span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></h4>
<h4 class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US">Saya tak bisa merasa benar-benar marah atau merayu kecuali dengan berbahasa Indonesia. Bahasa Indonesia merupakan kerumunan bunyi dan kode yang telanjur merasuki tubuh saya, bahkan kerap “mengalahkan” daya rasuk dan artikulasi bahasa daerah (bahasa-ibu) saya sendiri. Begitu merasuknya, sehingga meski saya tidur di Korea, bahasa di alam mimpi saya masih berbahasa Indonesia. Saya terharu, bahasa Indonesia selalu terjaga di dalam tubuh saya. </span></h4>
<h4 class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US">Tinggal di Korea tak mengubah kesibukan utama tubuh saya, yaitu puisi berbahasa Indonesia. Diam-diam, bahasa Indonesia mempertahankan tubuh saya dari kemungkinan-kemungkinan perubahan. Lantaran bahasa Indonesia, kehidupan Korea tak mengubah tubuh saya jadi sibuk bekerja di pabrik celana dalam atau di bar tari telanjang. </span></h4>
<h4 class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US">Di Korea, tubuh saya tetap berkutat dengan dunia bahasa Indonesia, sebagaimana kesibukan tubuh saya di Indonesia. Bahasa dan aksara Korea masih jadi makhluk asing yang menghuni lembaran buku paspor dan alien card Korea saya. Saya bisa membaca aksara Korea, Hangul namanya, seperti memecahkan barisan sandi rahasia. </span></h4>
<h3 class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: center;"><span style="font-family: " lang="EN-US"><span style="font-size: small;">*** </span></span></h3>
<h4 class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US">Di Korea saya sempat mengobrol berjam-jam di rumah makan Korea bersama sastrawan dan aktivis politik Republik Korea terkemuka, Hwang Sok Yong namanya. Pengarang yang pernah dinominasikan meraih Hadiah Nobel ini menulis novel berbahasa Korea dan laku jutaan eksemplar di negerinya. Hwang kadang berbicara dalam bahasa Inggris di sela-sela bahasa Korea. Dia dikawal penerjemah yang tangkas menerjemahkan bahasa Korea ke bahasa Inggris. Hwang pengarang yang girang dan friendly yang membuat saya kerap terbahak dan merasa akrab seperti sahabat lama.</span></h4>
<h4 class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US">Hwang bercerita dia menerima informasi bahwa bahasa Indonesia tak mengenal perubahan bentuk waktu. Yang dia maksudkan adalah dalam bahasa Indonesia penanda waktu tak melekat di dalam kata kerja seperti tenses dalam bahasa Inggris (did atau doing) atau tashrif dalam bahasa Arab<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>(fa’ala atau yaf’ulu) untuk mengatakan “saya sudah melakukan” (past tense atau fi’il madli) atau “saya sedang melakukan” (continuous tense atau fi’il mudlorik). </span></h4>
<h4 class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US">Menurut Hwang, waktu lampau, kini, dan masa depan sama saja dalam bahasa Indonesia. Saya tergelitik serta tersenyum mendengar ceritanya. Saya menjelaskan perkara itu di tengah obrolan itu, bahwa bentuk waktu dalam bahasa Indonesia ditunjukkan oleh kata keterangan waktu, misalnya<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>“dulu”, “sekarang”, dan “akan”. </span></h4>
<h4 class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US">Di kereta subway, dalam perjalanan pulang dari pertemuan itu, saya berpikir: apakah tubuh saya mengenal perubahan bentuk waktu, seperti bahasa Inggris atau bahasa Arab? </span></h4>
<h4 class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US">Pertumbuhan tubuh saya kini sudah berhenti, sehingga meski saya melahap makanan sebergizi apapun tak membuat tulang-belulang di tubuh saya bertambah panjang. Pagi, siang, sore, dan malam hari, tubuh saya sama saja tingginya, juga 10 tahun nanti. Pagi, siang, sore, dan malam hari, tak membuat tubuh saya berubah seperti berubahnya jarum jam. Tubuh saya bukan arloji. Tapi saya kira bahasa Indonesia dalam tubuh saya terus tumbuh, meski tubuh saya nanti lenyap tertelan tanah.</span></h4>
<h4 class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US">Tubuh saya dan bahasa Indonesia yang bersemayam di dalamnya tersekap dalam gerbong kereta yang melaju menyusuri lorong subway bersama orang-orang Korea yang menyimpan bahasa mereka di dalam tubuhnya. Tubuh kami saling<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>berjejal dan berimpit, seperti bahasa-bahasa berdesakan di planet bumi. Dalam gerbong kereta Korea itu saya berpikir dan berimajinasi dalam bahasa Indonesia. Orang-orang Korea dalam kereta sibuk menulis SMS dan menerima telepon dalam bahasa Korea. Dunia hiruk oleh kerumunan bahasa. </span></h4>
<h4 class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US">Hai, adakah bahasa Indonesia, bahasa Inggris, atau penerjemah dalam kereta Korea? </span></h4>
<h4 class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US">Penerjemahan sebuah bahasa ke bahasa lain bisa jadi upaya yang mengandung risiko “pengkhianatan atau penyimpangan” secara kebudayaan dan lebih khusus secara kebahasaan. Apakah “Assalamu’alaikum” bisa diganti secara persis dengan “Selamat pagi”, misalnya? Secara kebahasaan, perkara yang pernah disorong oleh Gus Dur ini bisa problematis, tapi “analog kultural”-nya bisa dimengerti. </span></h4>
<h4 class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US">Muslim Indonesia bersembahyang dan berdoa dalam bahasa Arab, sebuah bahasa yang barangkali sering dibaca dan dihapal luar kepala tanpa dimengerti artinya. Apakah Allah SWT, tuhan kaum Muslim itu, hanya mengerti bahasa Arab? Sesungguhnya, semua bahasa adalah ciptaan manusia, tuhan tak bikin secuil pun kosa-kata ataupun tata-bahasa. Tuhan pun tak mengeluarkan firman agar manusia memakai bahasa tertentu dalam sembahyang. </span></h4>
<h4 class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US">Manusia berbeda dengan tuhan, dan saya sedang membicarakan manusia dan bahasanya.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span><span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></h4>
<h4 class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US">Tanpa penerjemahan, bahasa bisa menjadi biang “pemutus” antar-manusia yang berbeda bahasa. Untunglah, bahasa Inggris jadi bahasa banyak dipakai di dunia sehingga bisa menjadi “penghubung” antar-manusia yang berbeda bahasa. Saya belajar bahasa Korea di Korea dan dengan pengajar orang Korea, tapi bahasa pengantarnya dalam bahasa Inggris. </span></h4>
<h4 class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US">Saya bisa “putus” hubungan dengan kehidupan dan manusia Korea jika saya tak mengerti bahasa Korea, setidaknya mengalami hambatan karenanya. Di stasiun subway Korea yang sibuk dan rumit jalurnya, saya pernah jadi alien yang tak bisa bertanya, bahkan kepada orang Korea yang duduk di samping saya. Bahasa Inggris bukan bahasa publik bagi masyarakat Korea, apalagi bahasa Indonesia. Penyelamat saya adalah bahasa bahasa tubuh atau “bahasa Tarzan”. <span style="mso-spacerun: yes;"> </span><span style="mso-spacerun: yes;">     </span><span style="mso-spacerun: yes;">  </span></span></h4>
<h4 class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US">Betapa sunyi dunia tanpa bahasa, betapa saya kesepian tanpa bahasa. Tanpa bahasa, dunia yang kita huni bersama ini sulit diungkapkan maknanya. Tapi betapa pikuknya dunia kini oleh bahasa-bahasa. Ah, adakah telinga yang sanggup mendengar dan mengerti semua bahasa?</span></h4>
<h4 class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US">Manusia menciptakan bahasa-bahasa dan sekaligus banyak berhutang padanya. Tanpa bahasa, bisakah manusia di dunia ini saling menyapa dan menyatakan cinta? <span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></h4>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/tidur-di-korea-mimpi-saya-berbahasa-indonesia-67.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persentuhan Bahasa di Bukit Korea</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/persentuhan-bahasa-di-bukit-korea-69.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/persentuhan-bahasa-di-bukit-korea-69.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Jan 2011 04:53:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[SASTRA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Serupa bahasa, hidup ini senantiasa menyimpan dan menyingkap banyak hal tak terduga. Di sebuah tempat bernama yanganchi di bukit Beakun di pedalaman Korea, tiba-tiba saya tercengang pada nama saya sendiri: Nurrohmat bin Ahmad Suhadi. Teman-teman baru Korea saya lidahnya kuwalahan mengucapkannya seperti saya terbata melafalkan dengan tepat nama-nama mereka. Nama sangat berarti bagi tak sedikit manusia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h4 class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US"><span style="mso-spacerun: yes;"></p>
<h4 style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="EN-US">Serupa bahasa, hidup ini senantiasa menyimpan dan menyingkap banyak hal tak terduga. Di sebuah tempat bernama <em>yanganchi</em> di bukit Beakun di pedalaman Korea, tiba-tiba saya tercengang pada nama saya sendiri: Nurrohmat bin Ahmad Suhadi.<span id="more-69"></span> Teman-teman baru Korea saya lidahnya kuwalahan mengucapkannya seperti saya terbata melafalkan dengan tepat nama-nama mereka. Nama sangat berarti bagi tak sedikit manusia karena mereka menghormati makna kata dan bahasa. Nama saya bisa diendus maknanya di kamus. Nama saya tak berasal dari bahasa nasional saya, bahasa Indonesia, melainkan bahasa dari negeri bergurun pasir yang belum pernah saya kunjungi dan orangtua saya bertandang ke sana setelah saya dewasa untuk urusan ibadah kolosal yang biayanya sangat mahal. Di kemudian hari, tanpa sepengetahuan orangtua saya, saya memodifikasi nama saya untuk keperluan publikasi yang entah kenapa saya pikir perlu ketika itu: Binhad Nurrohmat. Saya tiba-tiba ingat kebiasaan bahasa pemerintahan di negeri saya membikin akronim seperti pilkades (Pemilihan Kepala Desa), puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat), atau poskamling (Pos Keamanan Lingkungan). Barangkali saya terpengaruh praktik kebahasaaan semacam itu. Entahlah.<script type="text/javascript"></script> <span>    </span></span></h4>
<h4 style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="EN-US"> </span></h4>
<h4 style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="EN-US">Saya bertemu seekor ular hitam-kuning-merah sebentangan satu tangan manusia dewasa di pagar batu kebun lombok merah di depan penginapan saya di Toji Culture Foundation </span><span lang="EN-US">Center </span><span lang="EN-US">di lereng bukit di kota Wonju yang bisa ditempuh dua jam perjalanan dengan kendaraan roda empat dari Seoul. Saya tak tahu dengan nama apa menyebut binatang itu. Ular semacam itu baru pertama kali saya melihatnya selama hidup saya. Saya penasaran, tapi ular sebesar jempol kaki saya itu merayap cepat ke rimbunan tanaman lombok merah sebelum saya sempat menangkapnya. Saya kehilangan jejak ular itu. Saya menceritakan detail binatang itu kepada seorang teman Korea saya. Rupanya, nama ular itu jadi judul sebuah puisi terkenal karya seorang penyair Korea terkemuka, Seo Jeong Ju namanya. Nama ular itu <em>hwa sa</em> dalam bahasa China dan <em>kot baem</em> dalam bahasa Korea yang artinya ular bunga. Teman Korea saya itu seorang perempuan penyair pendiam paruh-baya yang ketika itu kebetulan sedang duduk membaca buku di atas batu tak jauh dari kebun lombok merah itu. Saya menawarinya rokok produksi negerinya, <em>Hallasan</em> mereknya, dan dia agak canggung menerima. Saya tahu, jenis rokok itu terlalu berat untuknya, tapi menjadi terasa ringan baginya demi menjaga kesantunannya. Kami berbincang seperti dua manusia yang saling belajar bicara. Ini terjadi sehari setelah saya pergi ke <em>yanganchi</em> di bukit Baekun di pedalaman Korea itu. Seandainya tak ada bahasa, peristiwa itu tak pernah ada dalam hidup saya. Juga peristiwa di bukit itu.</span></h4>
<h4 style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><script type="text/javascript"></script><span lang="EN-US"> </span></h4>
<h4 style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="EN-US">Sore mulai pergi ketika itu. Suasana kian mengaburkan mata saya dan juga penglihatan teman-teman saya yang berasal dari Palestina, Tunisia, Rusia, Colombia, dan Korea yang pergi bersama-sama ke bukit itu. Saya berseloroh dalam perjalanan itu, &#8220;Teman-teman, saya tak khawatir berjalan dalam remang seperti ini karena kaki penyair punya mata sendiri.&#8221; Mereka tertawa dan juga mencibir. Saya merasa asyik bisa membuat mereka merasa senang atau merasa terganggu. Setapak di bukit itu pertama kalinya kami tapaki, tentu tidak bagi teman-teman Korea saya itu. Di langit mulai muncul bintang. &#8220;Oh, najam,&#8221; kata teman saya dari Palestina. &#8220;Oh, bintang,&#8221; sambung saya di sisinya. Lalu kami sepakat menyebut benda langit itu &#8220;Star&#8221;. Dan, sore benar-benar pergi. Semak-belukar di kanan-kiri jalan setapak di bukit itu seperti gerumbul remang. &#8220;Dalmaji,&#8221; kata salah seorang teman Korea saya sambil menunjuk bunga semak-belukar kuning terang di bawah cahaya senter kecilnya. Saya tak tahu nama tumbuhan itu dalam bahasa saya, juga teman-teman saya yang lain yang bukan orang Korea. Bukit itu menyimpan dan melahirkan banyak kata tak terduga dan kadang musykil diterjemahkan secara persis ke bahasa lain. </span></h4>
<h4 style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="EN-US"> </span></h4>
<h4 style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="EN-US">Di sebuah tikungan setapak kami berhenti dan dari situ kami bisa memandang cahaya kota Wonju di kejauhan dan juga penginapan kami di Toji Culture Foundation</span><span lang="EN-US"> Center</span><span lang="EN-US">. Bintang-bintang berkerumun di langit tinggi. Perkara sederhana ini bisa terasa indah setelah dua kilometer berjalan kaki melewati setapak berbatu yang berkelok dan kian meninggi. Malam telah datang ketika itu. Di semak-semak muncul pendar-pendar cahaya bergerak. Satu demi satu cahaya itu datang dan pergi seperti satelit mini atau pesawat UFO mungil dari planet lain yang tersesat di bukit itu. &#8220;Svetliatchok,&#8221; seru teman saya dari Rusia sambil mengguncang pundak saya. &#8220;Kunang-kunang,&#8221; balas saya. &#8220;Farasyahdhouk,&#8221; terdengar suara teman saya dari Tunisia di belakang saya. Kami tertawa karena peristiwa itu. Teman-teman Korea saya mungkin tak paham benar kenapa kami tertawa, tapi senang melihat kami tertawa. Mereka segera menyadari yang terjadi dan salah seorang dari mereka berujar: &#8220;<script type="text/javascript"></script> <em>My friends</em>, binatang bercahaya itu <em>banditbul</em> dalam bahasa kami.&#8221; Teman saya dari Colombia menimpal, &#8220;<em>Very beautiful</em>. Itu <em>Luciernaga</em>.&#8221; </span></h4>
<h4 style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="EN-US"> </span></h4>
<h4 style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="EN-US">Kami sibuk dan senang bertukar bahasa di bukit itu. Salah seorang teman saya berbisik ke telinga saya, &#8220;Sudah berapa puisi muncul di benakmu?&#8221; dan saya menjawab, &#8220;Sebanyak bintang-bintang di langit itu&#8221;. Tapi, waktu tak bisa berhenti dan kami harus segera kembali ke Toji. Dalam perjalanan menuruni bukit itu, kami semua diam, sediam bukit itu. Mungkin mereka berbicara dengan dirinya sendiri atau memikirkan perkara lain seperti bayangan kemesraan berpelukan dalam suasana seperti itu di bukit itu. Saya teringat teman saya yang baru lepas remaja, Fe saya memanggilnya, yang mungkin sedang sibuk menyelesaikan sisa tugas kantornya atau berdansa bersama teman-temannya di bar di Itaewon, Seoul. Kami berjalan seperti barisan bayangan remang. Saya memilih berada di tengah barisan itu. Saya sulit melihat dengan jelas siapa di depan dan di belakang saya. Semua hanya diam. Saya tak tahan dan gelisah keberdiaman semacam itu akan terjadi selama 2 kilometer berjalan kaki menuruni bukit itu. Saya bergegas menyusun bahasa Inggris dalam kepala saya dan saya katakan pada mereka, &#8220;Teman-teman, saya ingin bercerita. <em>Kunang-kunang</em> atau <em>svetliatchok</em> atau <em>luciernaga</em> atau <em>farasyahdhouk</em> atau <em>banditbul</em> di negeri saya dipercaya berasal dari kuku orang mati,&#8221; ujar saya dengan suara yang saya dramatiskan. Suasana makin gelap dan tiba-tiba terasa dingin tubuh saya. &#8220;Binhad, kami bukan bocah yang bisa ditakuti tahayul itu,&#8221; sepertinya itu suara teman saya dari Rusia, yang jelas bukan suara hantu. Ah, tapi betapa enak jadi bocah selamanya.<script type="text/javascript"></script> </span></h4>
<h4 style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="EN-US"> </span></h4>
<h4 style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="EN-US">Tak sampai satu menit setelah cerita dari negeri saya itu berlalu, kami menuruni bukit itu tak lagi sebagai barisan, melainkan bergerombol seperti kawanan <em>bintang</em> atau <em>najam</em> atau <em>star</em> di langit tinggi itu. Kukira mereka merasakan sesuatu setelah mendengar cerita dari negeri saya itu, tapi tak mereka katakan demi menjaga sejenis harga diri manusia dewasa yang rasional. Kami terus bergerak dalam kegelapan, saling merapat, saling bercakap, dan saling bersentuhan tanpa sengaja seperti bahasa-bahasa berbeda bertemu dan akrab di bukit itu. </span></h4>
<h4 style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="EN-US"> </span></h4>
<h4 style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span lang="EN-US">Sungguh, peristiwa-peristiwa itu di luar dugaan saya seperti tak terduganya kata dan bahasa manusia menamai semak-belukar, binatang, dan saya. Bisakah semak-belukar dan binatang menamai dirinya sendiri? Betapa lancang manusia menamai flora dan fauna itu. Ah, kenapa pula saya merasa perlu memodifikasi nama saya menjadi seperti yang dikenal banyak orang seperti sekarang ini? Barangkali saya bisa memodifikasi nama saya karena saya bukan alang-alang atau seekor kunang-kunang. Tolong, beri tahu saya alasan sesungguhnya sebelum tulisan ini saya sudahi. Tolong, sebelum saya berubah pikiran mengubah nama saya menjadi kuda, lombok, badak, kentang, kucing, wortel, biri-biri, kelinci, kubis, sapi, atau menjadi Wawan, Mina Yu, Benny, Dilruk, Ambar, Monica, Aurora, Bambi, Mister Kim, atau menjadi seperti nama anda yang membaca tulisan ini. Ah, sekali lagi, tolonglah saya, tak lama lagi tulisan ini akan selesai. Tolong…<script type="text/javascript"></script> <span>  </span></span></h4>
<h4 style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"></h4>
<p> </p>
<p></span></span></h4>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/persentuhan-bahasa-di-bukit-korea-69.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Binhad Nurrohmat dan Kembalinya Unsur Sastra Jahiliyah</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/binhad-nurrohmat-dan-kembalinya-unsur-sastra-jahiliya-166.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/binhad-nurrohmat-dan-kembalinya-unsur-sastra-jahiliya-166.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Nov 2010 08:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[BAU BETINA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Aguk Irawan MN* Di setiap erotisme selalu ada penyimpangan! - Adonis Hampir dua tahun yang lalu Marshall Clark (2005), peneliti sastra Indonesia di School of Asian Languages and Studies, University of Tasmania, dalam Konferensi Jurnal Antropologi di Universitas Indonesia menyebut puisi-puisi Binhad dalam Kuda Ranjang sebagai &#8216;puisi metropolitan&#8217;. Alasan Marshall ini tidak saja didasarkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Aguk Irawan MN*</strong></p>
<blockquote><p>Di setiap erotisme selalu ada penyimpangan!<br />
- <em>Adonis</em></p></blockquote>
<p>Hampir dua tahun yang lalu Marshall Clark (2005), peneliti sastra Indonesia di School of Asian Languages and Studies, University of Tasmania, dalam Konferensi Jurnal Antropologi di Universitas Indonesia menyebut puisi-puisi Binhad dalam <em>Kuda Ranjang</em> sebagai &#8216;puisi metropolitan&#8217;. Alasan Marshall ini tidak saja didasarkan pada puisi Binhad yang memukul pembaca dengan visi seksualnya yang sangat menentang, sangat lugas, dan juga sangat banal. Tetapi juga didasarkan pada kehidupan sang penyair, yang keluar masuk kafé-kafé elit kota Jakarta dan sangat akrab dengan alat-alat kehidupan metropolitan seperti HP, SMS, surat-e, dan entah apa lagi.</p>
<p>Dan kita sebagai pembaca, memang menemukan alasan Marshall itu dalam antologi puisi Binhad, <em>Kuda Ranjang</em> (2004) dan ia baru saja melepas antologi puisi terbarunya, <em>Bau Betina</em> (2007). Setali tiga uang dengan yang pertama, lewat <em>Bau Betina</em> ia masih latah bergunjing perihal &#8216;dunia basah&#8217;, &#8216;dunia tengah&#8217;. Dalam dua buku ini kita bisa menikmati imaji baik-buruknya adegan seks lengkap dengan gaya puitis erotis yang sangat mencengangkan.Tema utama puisi Binhad adalah politik seksual antara laki-laki dan perempuan dan yang sangat menonjol adalah unsur seks atau lebih tepat lagi berbau seks. Tapi kenapa Marshall hanya melulu mengaitkan seks dengan kehidupan metropolitan? Padahal bukankah seks adalah gejalah alamiah dalam hidup ini? Dan ia adalah tema yang purba dan selalu mengiringi sejarah hidup anak manusia. Karena sifat dasar kealamiahan inilah, seks bisa juga dipandang bukan semata-mata hubungan badaniah, yang kotor, berlumur berahi, melainkan &#8216;aktivitas batin&#8217; yang penuh kearifan dan simbol-simbol filosofis-spritual. Namun, bilamana &#8216;kearifan&#8217; itu sudah diobral dan diumbar di dalam karya, tempat-tempat pelacuran, panti-panti pijat terselubung, kafe, atau diskotik, maka seketika itu bukankah seks berubah menjadi tak lumrah, tak alamiah, tak lazim dan tercela. Karena itu, maka seks harus dipingit, disembunyikan dalam ruang-ruang yang paling pribadi.<br />
<span id="more-166"></span><br />
***</p>
<p>Sejak Islam turun di bumi (jazirah) Arab, dan al-Qur&#8217;an diturunkan sebagai “penyaing” sastra Jahili. Sikap para penyair jahili terbagi menjadi dua kelompok: pertama, mereka mempertahankan nilai-nilai yang dominan, nilai lama yang diakui oleh islam, dan nilai baru yang dibawa (terkandung) Islam. Kedua, mereka memberontak dan menyimpang dari nilai-nilai tersebut. Di dalam literatur kesusastraan Arab dijelaskan, sebagaimana yang direkam oleh Syauqi Dlaif dalam pengantar bukunya “Tarikh al-Adab al-Arabi” (Kairo: Dar al-Maarif, 1968), atau pengantar tulisan Toha Husain “Fi Syi&#8217;ir al-Jahili” (Kairo, Haiatul Masry, 1967) Nabi dan para Khalifanya terus mendorong para penyair Jahili itu terus menulis puisi (hal ini dilakukan setelah mengetahui Penyair Labid bin Rabiah melakukan aksi mogok nulis), asal mereka masih berpegang pada pendirian yang pertama, tetapi Nabi dan Khalifahnya tidak segan-segan untuk &#8216;menegur&#8217; bahkan menghukum para penyair yang berada dalam kecenderungan kedua. Dan di barisan yang kedua ini, muncullah tokoh penyair besar, yang bernama Imri&#8217; al-Qois.</p>
<p>Tidak diragukan lagi kepiawaian Al-Qois sebagai penyair Jahiliyah, al-Ashama&#8217;i mengatakan, bahwa ia adalah pionir bagi para penyair (Lihat, Al-Ashma&#8217;i, Kitab al-Fuhul asy-Syuara, hal 9 dan 18, 19: Beirut, Dar al-Kitab al-Jadid 1971), bahkan Umar bin Khatab mengatakan, bahwa ia adalah penyair garda depan, ia pencipta mata air puisi untuk para penyair (Lihat, Ibnu Qutaibah, asy-Syi&#8217;ir wa asy-Syu&#8217;ara hal, 68-69: Beirut, Dar ats-Tsaqafah 1969). Meskipun kebesaran namanya tak diragukan dalam kepenyairan, di akhir kehidupan al-Qois sungguh sangat mengenaskan, ia menjadi gelandangan yang terlunta, dan meninggal sebagai orang yang terusir. Ibnu Qutaibah mengatakan sebab terusirnya al-Qois dari rumahnya dikarenakan ia melakukan pencabulan dalam puisi, atau dalam bahasa Mariana Amiruddin, karena ia menulis sastra wangi, lembab, dan melulu hanya seputar selangkangan. Qutaibah meriwayatkan bahwa al-Qois diusir oleh orang tuanya pertama kali sejak menulis puisi ayyuhat ath-thalali al-bali (wahai puing-puing usang). Pengusiran ini menunjukkan di zaman jahiliyah pun moral atau etika merupakan hal yang penting dari sebuah karya sastra (dalam hal ini puisi), sebab berbicara sastra tak bisa lepas dari makna atau nilai-nilai, sebagaimana namanya dalam bahasa arab, &#8216;adab yang selain berarti sastra, juga etika, atau su-sastra yang berarti pesan-pesan (etika) melalui abjad. Demikianlah Imri&#8217;al-Qois menyimpang dari nilai-nilai dominan (moralitas Jahiliyah) juga menyebrang nilai (etika) yang dibawa oleh Islam. Penyimpangan ini dijelaskan al-Marzabani dalam dua poin:</p>
<p>Pertama, karena al-Qois menggunakan bahasa tubuh dengan sangat vulgar dan gamblang, sehingga terkesan jorok dan menjijikkan. Al-Marzabani kemudian menyinggung dua bait puisi al-Qois: Aku menyukai orang hamil dan menyusui/bukan anak gadis yang perawan dan ranum/Tiada kupedulikan perut dan anak yang merengek di teteknya/Tatkala Tubuhnya terperangkap di tubuhku.</p>
<p>Dua bait di atas, Ibnu Qutaibah mengatakan tentang Imri al-Qois, bahwa ia dicela banyak masyarakat, karena terang-terang mengatakan zina, dan perlahan-lahan merusak kehormatan perempuan. Sebagaimana puisi tersebut ditulis dalam qashidah-nya qifa nabqi yang ditujukan kepada Fathima (al-Marzabani, al-Muwasyyah, hal 41: Kairo, Dar al-Mahdlah 1965)</p>
<p>Kedua, karena al-Qois menggunakan bahasa yang tidak umum dalam perpuisian. Misalnya menggunakan bahasa “kuda”, sebagai metafor, yang biasa mempunyai makna simbolis, orang pemberani yang tidak pantang mundur dalam berperang: karena sifatnya kuda adalah bergerak cepat, tanpa menunggu digertak dan terbebas dari rasa lelah. Dan al-Qois dalam menggambarkan kuda menyimpang dari gambaran tipologis itu. Ia justru memakai bahasa “kuda” untuk hal yang negatif, yaitu kejantanan pria untuk menaklukan perempuan dalam hal seksual. Seperti puisinya: Aku naiki kuda dalam peperangan/ bagaikan belalang/Lembut gemulai/Jambulnya tergerai menutupi wajahnya.</p>
<p>Bait puisi itu mendapat kritikan, sebab dinilai tidak adanya kesusuain langsung antara “kata” sebagai penanda dengan makna sebagai petanda, atau antara bahasa yang nampak dengan bahasa yang simbolik. Karena ia mengaitkan kata “kuda” dengan “belalang”, dan kuda dengan “lembut”. Bukankah ini merupakan cacat? Karena “Kuda” yang keras itu bertentangan dengan makna “lembut”. Dan dalam perpuisian arab, sudah menjadi keniscayaan bahwa setiap bait tak boleh ada yang saling bertentangan, tiap kata saling menguatkan, dan menjadi anak kalimat hingga menjadi kesatuan makna yang tak  terpisahkan (ia disebut qafiyah). Dan al-Marzabani menunjukkan kecacatan itu. (al-Marzabani, al-Muwasyyah, hal 36: Kairo, Dar al-Mahdlah 1965)</p>
<p>Ketiga, karena Imri&#8217; al-Qois dalam menggunakan kata-kata menyimpang dari makna dasarnya. Ia tidak menyelaraskan antara makna dengan makna tipologisnya, demikian pula ia tidak tidak menyelaraskan antara kata dengan makna yang aslinya. Kerana bukankah sebuah karya puisi merupakan ungkapan tentang struktur pemikiran dengan menggunakan kata-kata yang saling mengikat dan memadai dalam kalimat-kalimat yang masing-masih berdiri sendiri untuk menuju makna yang sesungguhnya. Seperti pada puisinya: wahai malam  yang panjang, tidaklah engkau mau pergi/Tuk berganti pagi, tapi pagi tidaklah lebih nikmat dari pada kamu, wahai malam!.</p>
<p>Nampak dalam bait puisi di atas, hanya dibolak-balikkan dan sekedar diperbandingkankan. Ia membuat makna dari jawaban yang ia putar sendiri. Dan ia memutar makna untuk menjawab keresahannya. Perbandingan antara kata “malam” dan “pagi”, mana yang lebih nikmat? Literar puisi itu sendiri yang menjawabnya.</p>
<p>Ketiga kritik diatas itu memang seakan-akan sebagai fakta ilmiah, yang tak terbantahkan dan sudah biasa terjadi dalam dunia perpuisian. tapi justru dari kritik itulah nama al-Qois semakin besar. Sebagaimana al -Ashama&#8217;i mengatakan, bahwa kebesaran al-Qois jutsru karena pemberontakan dalam kerangka kepenulisan puisi&#8211;dan melakukan penyimpangan dari kebiasaan. Namung sayang kebesaran ini dirusak oleh maknanya yang berbau seks dan selangkangan (al-Ashama&#8217;i, Kitab al-Fuhul asy-Syuara, hal 10, ungkapan senada juga dikatakan oleh al-Jumahi dalam kitabnya Thabaqat Fuhul asy-Syu&#8217;ara, hal 16-17: Beirut Dar al-Nahdlah al-Arabiyah 1968). Dan al-Qois tidak sendiri di sana, di barisannya ada penyair Abu Mihjan ats-Tsaqafi, Abu ath-Thamhan al-Qaini, Dhabi bin al-Harist al-Barjami, Suhaim Abdul Bani al-Hashas, an-Najasy al-Haritsi, dan Syabil bin-Waraqa. Dan jika dibandingkan semua sajak-sajak penyair ulung Jahili itu dengan puisi Binhad Nurrohmat akan menemui satu titik temu, yaitu dengan gegap gempita mereka mengekplorasi seks.</p>
<p>***</p>
<p>Sekarang justru persoalannya lain, ketika puisi ditangan penyair Binhad Nurrohmat. Ia dalam semua puisinya justru menampakkan makna seks sebanyak-banyaknya, seliar-liarnya, sebebas-bebasnya, dengan (dan) tanpa diikuti oleh pembaharuan kerangka kepenulisan puisi (sebagaimana yang menjadi penyebab kebesaran al-Qois dalam kesusastraan Arab-Timur Tengah). Tetapi kemiripin al-Qois dan Binhad nampak sama dalam segi pemaknaan, lihat saja pada buku kumpulan puisi Binhad yang pertama. Kuda Ranjang. Bukankah yang dimaksud Binhad kata &#8216;kuda&#8217; adalah lambang kejantanan, sebagaimana al-Qois menggunakannya di atas. Atau lebih jelasnya -meminjam terminologi Marianna Amiruddin (Media Indonesia, 8/8/04), kuda melambangkan &#8216;otensitas maskulin&#8217;. Lalu, dipertautkan dengan kata &#8216;ranjang&#8217;. Bukankah ranjang adalah sebuah medan penaklukan perempuan? Dengan kata lain, bilamana seorang pejantan sudah berhasil merayu perempuan di atas ranjang, maka pejantan dianggap menang, dan perempuan akan tumbang sebagai pecundang. Kepenyairan Binhad yang menjalankan laku &#8216;tarekat tubuh&#8217; seperti Pejantan disimbolisasikan dengan Kuda (dalam Kuda Ranjang) dan masih sama dalam antologi keduanya, yaitu Singa (dalam Bau Betina) seperti yang termaktub dalam sajak Hidung Belang, Sex After Lunch, Pengakuan Sepasang Girang, Ulang Tahun Tubuhmu, Malam Janda, Homo Eroticus. Kedua antologi ini mempunyai makna yang sama, yaitu menaklukkan perempuan.</p>
<p>Kuda Ranjang adalah puisi pertama yang muncul sejak Pengakuan Pariyem Linus Suryadi yang begitu berhasrat mengungkapkan pertualangan syahwat baik para pejantan urban maupun kanca ranjangnya. Harus diakui juga bahwa erotisisme yang ada di dalam syair Berak, Ngintip, dan Foreplay Binhad, berbedaa dengan Linus yang menggambarkan aroma seks dengan “rasa” berbunga-bunga. Binhad begitu nyinyir dan liar mengumbar aroma nafsu, bahkan seperti “kalap”, “bringas”, dan terkesan “sadis”, betapa banyak ia mengantongi kata Zakar, Penis, Bokong, Payudara, Syahwat, Telanjang, Cupang dan Sperma dalam sajak-sajaknya, simak saja misal di dalam Berak, Ngintip, dan Foreplay, dan lain sebagainya. Misal kita penggal sajaknya yang berjudul “Lajang”: hujan binal berduyun ke palung jantung/mengguyur mujur bertubi urung/menggigilkan ingatan/cerita payudara pertama dalam rematan. Apa sebenarnya yang hendak dikatakan Binhad dalam bait ini? Tak lain adalah ingatan akan kebinalan terhadap perempuan. Gejala ini hampir nampak pada semua jenis puisinya, meski terlihat seperti ada yang mencoba ditenggelamkan kepada kritik sosial, seperti “Ajal Begundal”: Setelah empatpuluh hari kematian/seluruh kota bernafas lega/tak ingat lagi coretan dinding penuh ancaman/atau erang perkosaan di belakang bioskop murahan. Bahkan gejala ini nampal sangat blak-blakkan dalam salah satu judul puisinya, “Kisah Seekor Yanuba Merah”:&#8221;Ibuku angin betina/berleha di sela paha kawanan domba/yang tiba waktu gatal birahi/merayapi kelaminnya.Bapakku topan jantan/mencekam kasur pengantin remaja. Atau lihatlah pada judul pusinya “Cuci Mata”: Sepasang tungkai di warung tak terhingga langsatnya/melenggang anggun bersama rok sebatas dengkul/dan menggelandang berpasang mata tak berdaya/menahan sumuk deru gurun yang kesepian.</p>
<p>Puisi Binhad Nurrohmat adalah pernyataan tubuh laki-laki yang norak, namun percaya diri. Selain ia bersembunyi dibalik makna “kuda”, “Singa” ia juga bersandar di balik makna “domba” Memang tubuh laki-laki tak menjadi “haram” bila dibicarakan dalam konteks kejantanan. Tapi yang terasa membosankan adalah Binhad semakin mengumbar metafora penis dan bokong yang bergelayut dalam bentuk yang buruk. Zakarmu sekuyu gelambir leher jompo/bungkuk dan malu-malu/mengintip puing tahi/terjepit bongkah coklat bokongmu. Kalau al-Qois hanya melihat dunia dengan tubuhnya, sudah mendapatkan “kecaman” dari masyarakatnya yang jahili, sementara Binhad mempertontonkan tubuh dengan telanjang bulat, apakah memang tak pantas kita merenungkannnya?.</p>
<p>Agak mengejutkan memang, seorang alumnus pesantren Krapyak (Yogyakarta) seperti Binhad memilih jalan dan mengulang kembali unsur &#8216;jahiliyah&#8217; dengan menulis sajak-sajak bergelimang syahwat. Apakah ia lantaran sudah terjerembab dalam asyik-masyuk dunia malam kota Jakarta yang memang kerap menyesatkan? Dan ini berpengaruh pada proses kepenyairannya, sehingga benar hepotesa Marshall? Padahal lazimnya sebagai mantan santri, Binhad &#8216;seharusnya&#8217; menulis puisi sufistik sebagaimana Ahmadun Y Herfanda menulis Sembahyang Rumputan (1996) atau mengikuti jejak kepenyairan Mustofa Bisri, Jamal D. Rahman, Acep Zam-Zam Noor, Ahmad Nurullah, Emha Ainun Nadjib dan lain sebagainya, bukan menulis sajak-sajak yang tidak mencerminkan budaya santri! Dan Apakah memang benar kegeilisahan Marshall, bahwa menulis tentang hal-hal yang benar-benar indah&#8211;seperti alis cantik, pipi merah, bibir kayak delima, bunga yang enak wanginya, dan seterusnya&#8211;kurang cocok pada zaman yang serba metropolit di negeri ini? Dan kini waktunya, kita dipaksa menulis dan membaca “kejahiliyah-an” kembali, seperti tentang hal-hal yang erotis, banal dan menjijikkan, termasuk berak, brewok, jembut, kelangkangan, zakar sekuyu gelambir leher jompo dan seterusnya?</p>
<p style="text-align: right;">Yogyakarta, 27 Agustus 2007</p>
<p>*<em>Penulis adalah Penyair, dan Pengamat Sastra-Budaya Arab.<br />
Sumber: Jurnal Kalimah, LESBUMI NU, Edisi I/November/2007 </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/binhad-nurrohmat-dan-kembalinya-unsur-sastra-jahiliya-166.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maut Situmorang</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/maut-situmorang-93.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/maut-situmorang-93.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Sep 2010 20:12:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[SASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[bioskop mudik]]></category>
		<category><![CDATA[Dylan Thomas]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Lampung]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer]]></category>
		<category><![CDATA[Sitor Situmorang]]></category>
		<category><![CDATA[Subagio sastraowardoyo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Malam lebaran, kata penyair Sitor Situmorang, “bulan di atas kuburan”. Barangkali Sitor tak menyangka puisi pendek ini melahirkan tafsir panjang dan bermacam-macam serta klop dengan keadaan sekarang yang pada menjelang lebaran banyak pemudik tertimpa musibah di jalan raya dan tiba di kampung halamannya sebagai jenazah. Konon Sitor mendapatkan ilham puisi ini di Jakarta pada malam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span><span style="font-size: small;">Malam lebaran, kata penyair Sitor Situmorang, “bulan di atas kuburan”. Barangkali Sitor tak menyangka puisi pendek ini melahirkan tafsir panjang dan bermacam-macam serta klop dengan keadaan sekarang yang pada menjelang lebaran banyak pemudik tertimpa musibah di jalan raya dan tiba di kampung halamannya sebagai jenazah. <span id="more-93"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span><span style="font-size: small;">Konon Sitor mendapatkan ilham puisi ini di Jakarta pada malam lebaran 1950an atau 1960an (maaf, saya tak bisa memastikan tahunnya karena saat ini saya masih di Korea Selatan dan tak membawa buku puisi penyair itu). Ketika itu Sitor dalam perjalanan pulang dari rumah Pramoedya Ananta Toer dan kabarnya dia melewati kuburan.<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>Saya tak tahu malam itu ada bulan atau tidak di atas kuburan itu. Atau, abaikanlah segala asal-usul puisi ini. Yang pasti, saat itu Jakarta belum seramai sekarang, apalagi pada malam lebaran.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span><span style="font-size: small;">Pada malam lebaran situasi Jakarta senyap dan rawan. Banyak rumah kosong ditinggal mudik penghuninya yang akan merayakan lebaran di kampung halaman. Sebaliknya, jalan-jalan raya menuju ke luar Jakarta ramai kendaraan para pemudik dan sering terjadi kecelakaan yang menumpahkan darah dan merenggut nyawa orang. Kebahagiaan menjelang lebaran sering diselingi tangis orang-orang yang ditinggal mati kerabat yang ditunggu-tunggu mereka. Kematian memang datang kapan saja, tapi bila terjadi saat menjelang lebaran terasa ironis waktunya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span><span style="font-size: small;">Lebaran tahun ini saya terpaksa tak mudik ke kampung halaman saya di pedalaman Lampung karena saya harus berada di Korea sampai akhir tahun ini. Korea baru saja memasuki musim gugur dan suhu udaranya membuat tubuh saya kelabakan. Bayangkan, dari 30an derajat celcius di musim panas lalu tiba-tiba anjlok ke 13 derajat celcius di musim gugur dan terus melorot mendekati angka 0. Bagi orang Korea perubahan cuaca kali ini tak biasa, apalagi bagi orang negeri tropis seperti saya. Terus terang saya gentar membayangkan cuaca pada musim salju nanti.<span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span><span style="font-size: small;">Mudik memang asyik, meski sering perlu tak sedikit pengorbanan dan risiko yang mengenaskan. Menjelang lebaran, kuburan selalu bertambah mayat baru. Menyedihkan. Tapi manusia hidup memang menunggu maut. Mendebarkan, bukan? Tapi kalem saja, anggaplah datangnya kematian seperti menunggu antrian masuk ke bioskop kesayangan. Justru dengan menyadari akan datangnya maut membuat hidup jadi lebih bisa berharga. Lagi pula untuk apa hidup selamanya. Atau, anggaplah kematian seperti mudik ke kampung halaman. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span><span style="font-size: small;">Apa boleh buat, jarak hidup dan maut memang dekat, “seperti selaput tipis yang gampang diseberangi”, kata penyair Soebagio Sastrowardoyo. Dan maut hanya datang sekali saja dan “Setelah kematian yang pertama tak akan ada lagi yang lainnya” kata penyair Dylan Thomas. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span><span style="font-size: small;">Saya belum mati dan ingin bahagia meski lebaran kali ini saya tak bisa mudik <span style="mso-spacerun: yes;"> </span>dan tersiksa cuaca Korea yang menusuk-nusuk dan terasa membekukan tubuh saya. Agak sedih sebenarnya, tapi tak apalah. Sedih juga bagian romantika kehidupan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span><span style="font-size: small;">Malam lebaran ini saya tak melihat bulan di atas kuburan di Korea, dan saya bukan Sitor Situmorang. Pembaca, maafkan kesalahan saya dan selamat merayakan Lebaran Idul Fitri. Sampai jumpa. <span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/maut-situmorang-93.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Mana Telinga dan Mata Sastra?</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/di-mana-telinga-dan-mata-sastra-51.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/di-mana-telinga-dan-mata-sastra-51.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jun 2010 04:49:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[SASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[sastra agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Fulan yang baik, aku ingin mengabarkan padamu sekelumit saja mengenai negeriku dan sastra mutakhirnya. Bagiku, menyimak skandal politik, berita kriminal, krisis kebutuhan pokok, tawuran antar-warga, maupun bentrokan fisik antar-penganut agama yang sama sungguh tak lebih rendah nilainya ketimbang kegiatan soliterku mencerna sastra. Bagiku, sastra tak cukup dengan unjuk kemahiran mengamalkan serta ketinggian menjunjung disiplinnya sendiri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Fulan yang baik,</p>
<p style="text-align: justify;">aku ingin mengabarkan padamu sekelumit saja mengenai negeriku dan sastra mutakhirnya. Bagiku, menyimak skandal politik, berita kriminal, krisis kebutuhan pokok, tawuran antar-warga, maupun bentrokan fisik antar-penganut agama yang sama <span style="mso-spacerun: yes;"> </span>sungguh tak lebih rendah nilainya ketimbang kegiatan soliterku mencerna sastra.<span id="more-51"></span> Bagiku, sastra tak cukup dengan unjuk kemahiran mengamalkan serta ketinggian menjunjung disiplinnya sendiri belaka, sastra mesti waspada dan peka kenyataan riil di sekelilingnya. Lagi-lagi bagiku, sastra mesti punya telinga dan mata untuk mendengar dan menyimak, untuk melihat dan menyaksikan hal-hal yang terjadi di luar dirinya. Menurutku, ini wajar belaka dan sama sekali bukan kemulukan. Bila sastra sebatas peka bunyi (<em>sound</em>) bahasa tanpa sadar suara (<em>voice</em>) bahasa, maka sesungguhnya sastra telah mengubur dirinya sendiri dalam liang kesia-siaan. <span style="mso-spacerun: yes;"> </span></p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Fulan yang baik,</p>
<p style="text-align: justify;">bukan maksudku hendak menjadikan sastra sebagai sejenis kendaraan pengangkut atau Messiah penyelamat negeriku yang bangkrut. Sastra tak bisa memperbaiki jalan raya yang rusak, sastra tak kuasa menyumpal lubang semburan lumpur panas, dan bukan tugas sastra membereskan hutang negara. Ah, tapi kelirukah sastra bila punya renungan yang mendalam dan literer tentang polah penguasa yang salah mengurus negeriku? Bagiku, tantangan sastra mestinya luar-dalam: kemahiran membentuk dirinya sendiri serta kepekaan dan kedalaman memandang hal-ihwal di luar dirinya sehingga sastra bisa mencerahkan dirinya sendiri dan jadi penerang bagi pembacanya. <em>Please</em>, tak perlu kau buru-buru mengadiliku: “Hai, Binhad! Apa sastramu sudah mengamalkan pandangan sastramu itu?”</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Fulan yang baik,</p>
<p style="text-align: justify;">aku kerap mual dan merasa hampa pada sastra di negeriku saat ini dan juga tak jarang pada sastraku sendiri. Sastra di negeriku belum beres dengan dirinya sendiri. Rasa percaya diri sastra di negeriku belum kukuh dan kerap menyisir klimis rambut bahasanya belaka dan lupa kepala tempat rambut berakar dan tumbuh. Sastra di negeriku rajin bersolek di muka cerminnya sendiri dalam sebuah kamar terkunci rapat, sehingga suara kenyataan di luar kamar tak terdengar. Sastra di negeriku lebih perlu <em>catwalk</em> mewah dan wangi untuk pamer tampang ketimbang merasakan aroma busuk permukiman orang miskin yang merebak di sekujur negeriku. Inilah sebab yang membuat sastra di negeriku dijauhi masyarakat karena sastra tak menyentuh masalah mereka. Namun, ada suatu kontras: tak sedikit sastra di negeriku yang kelewatan ingin mendekati dan menyelesaikan masalah negeriku dengan melupakan dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Fulan yang baik,</p>
<p style="text-align: justify;">maafkan pikiran-pikiranku ini. Silakan bila kau menuduhku pikiranku klise atau heroik. Yang jelas, aku merasakan ada yang tak beres dalam kondisi sastra di negeriku, seperti tak beresnya kondisi negeriku. Serunyam inikah?</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Fulan yang baik,</p>
<p style="text-align: justify;">tahukah kau di mana telinga dan mata sastra negeriku?</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="mso-spacerun: yes;"> </span></p>
<p style="text-align: justify;">Fulan yang baik,</p>
<p style="text-align: justify;">sampai bertemu lagi…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/di-mana-telinga-dan-mata-sastra-51.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Binhad: Tubuh Sebagai Kebudayaan</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/binhad-tubuh-sebagai-kebudayaan-152.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/binhad-tubuh-sebagai-kebudayaan-152.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 09:08:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[SASTRA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/binhad-tubuh-sebagai-kebudayaan-152.php</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ita R Alawiyah &#8211; Mahasiswa Bahasa dan Sastra Universitas Tirtayasa, Banten Kau dan aku bertaruh menghitung bulu tumbuh di sekujur tubuhku dan tubuhmu yang gaduh sampai jari tangan hangus dipanggang berton didihan hormon yang gemuruh menderitkan kesumat kilang syahwat.[1] Demikianlah salah satu penggalan puisi Binhad Nurrohmat dalam bukunya Bau Betina (2007). Sang penyair yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Ita R Alawiyah</strong><em> &#8211; </em>Mahasiswa Bahasa dan Sastra Universitas Tirtayasa, Banten</p>
<p><em> </em></p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;"><em>Kau dan aku bertaruh menghitung bulu</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>tumbuh di sekujur tubuhku dan tubuhmu yang gaduh</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>sampai jari tangan hangus dipanggang berton didihan hormon</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>yang gemuruh menderitkan kesumat kilang syahwat.<a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></em></p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;"><em><a href="#_ftn1"><strong><span id="more-152"></span></strong></a></em></p>
<p style="text-align: right;">
<p>Demikianlah salah satu penggalan puisi Binhad Nurrohmat dalam bukunya <em>Bau Betina </em>(2007). Sang penyair yang pernah diundang langsung ke Kampus Universitas Tirtayasa, Banten  pada 2007 untuk membedah buku terbarunya itu menyangkal bila ada yang mengatakan bahwa puisi-puisinya adalah puisi cabul. Dalam kumpulan-kumpulan puisinya memang tidak jauh-jauh dari tema kemesraan, maskulinitas, bahkan keintiman yang dianggap sebagai sesuatu yang wajar maupun erotis. Mungkin bagi sebagian orang lumrah dan mungkin juga bagi sebagian orang bahwa itu merupakan pornografi karena sama saja menelanjangi tubuh sendiri, hanya tampilannya saja dikemas dalam bentuk puisi.</p>
<p>Buku perdananya berjudul <em>Kuda Ranjang</em> (2004), kemudian dilanjutkan dengan buku esai <em>Sastra Perkelaminan</em> (2007), hingga pada <em>Bau Betina</em>, perlu kita tilik lebih lanjut. Mengapa hampir disemua bukunya terselip unsur seksualitas yang lebih menyorot pada sisi perempuan? Terlebih pada <em>Bau Betina</em>, keintiman itu penyair gambarkan penuh akspresi dengan <em>setting</em> rumah bordil, kamar tidur, kamar mandi, yang dikaitkan dengan syahwat atau birahi. Mungkinkah perempuan merupakan objek yang menarik untuk digali? Ataukah sosok yang gampang untuk bisa dieksploitasi?</p>
<p>Menurut agama, segala yang ada dalam tubuh perempuan merupakan keindahan. Merupakan seni yang tak dapar diukur, karena setiap pria memiliki penilaian yang berbeda-beda atas makna indah pada sisi setiap perempuan. Namun, jangan salahkan siapa, jika dewasa ini tubuh perempuan lebih dimaknai sebagai seni. Sampai-sampai adegan foto bugil pun mengatasnamakan seni.</p>
<p>Lihat saja majalah-majalah dewasa atau surat kabar semisal lampu merah dan sebagainya yang menjadikan foto-foto perempuan dengan pakaian <em>sexy </em>sebagai objek mereka. Tentu tak heran lagi, kenapa majalah<em> Playboy</em> yang nota bene majalah porno di &#8220;luar negeri&#8221; bersikukuh mengatakan bahwa <em>Playboy</em> tidaklah porno jika melihat realitas majalah atau surat kabar lain yang terjual bebas di pasaran tanpa pernah disinggung-singgung melanggar RUU APP.</p>
<p>Begitu pun dengan Binhad. Ia mencoba mengangkat sebuah realitas sosial yang memang tidak bisa dikatakan tabu lagi. Bagaimana tubuh diartikan sebagai objek, karena ia menganggap bahwa tubuh merupakan bagian dari kebudayaan. Ke mana pun ia pergi, selalu tubuh itu mengikuti, baik ketika tidur, di kamar mandi, atau pergi ke tempat mana pun, tubuhlah sesuatu yang amat dekat dengan dirinya itu. Karenanya, dalam setiap puisi-puisinya, Binhad tak malu-malu mengungkap segala adegan demi adegan yang berkaitan dengan tubuh, meski pada akhirnya sebagian orang terutama dari kalangan muslim bahkan ada salah seorang mahasiswa yang mengatakan langsung di hadapannya bahwa ini tidak lain adalah puisi cabul, karena dengan terang-terangan hampir di setiap puisi-puisinya berisi kata-kata yang kurang senonoh, seperti selangkangan, kelamin, puting, jembut, pantat yang dianggap terlalu mengekspliotasi tubuh, terlebih yang diceritakan adalah syahwat dan birahi. Tidakkah ada topik lain yang lebih menarik tanpa harus mengeksploitasi seksualitas?</p>
<p>Apalagi jika dihubungkan dengan biografi penyair. Binhad merupakan seorang lulusan pesantren. Tidak etis rasanya, jika ini dikait-kaitkan dengan teori di pesantrenan seperti yang dikemukakan oleh Marshall Clark dalam catatan pembacanya di halaman belakang buku itu. Tentu semua orang bisa berteori, namun adakah yang salah dengan teori, terlebih itu mengenai keagamaan. Binhad tetap berekspresi, entah semua inspirasi itu ia dapatkan dengan berteori atau tidak.</p>
<p>Tetapi ada yang menarik dari beberapa puisinya, ini mengenai Tuhan yang beberapa kali ia masukkan pula dalam puisinya di <em>Bau Betina,</em> seperti pada puisinya yang berjudul “Pohon Penyair &amp; Danau Hamidah”, berikut penggalannya:</p>
<p style="text-align: right;"><em>&#8220;Tuhan tak punya birahi.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Dia tak perempuan atau laki.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Tak seperti kau!&#8221;</em></p>
<p style="text-align: right;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: right;"><em> </em></p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;"><em>“Tapi kau punya birahi</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>sebab kau perempuan.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Aku pun demikian</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>karena aku laki.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: right;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: right;"><em> </em></p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;"><em>&#8220;Tapi tuhan hidup melajang.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Kau mengerti kenapa?</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Tuhan sabar dan setia menjaga nafsunya.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Tak seperti kau</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>sembarangan bercinta seperti ayam.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Andai semua laki dikebi</em><em>ri</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>tak perlu ada perempuan yang ternodai&#8221; [2]</em></p>
<p style="text-align: right;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: right;">
<p>Sekilas, sepertinya puisi di atas terlalu berlebihan dalam mengasosiasikan Tuhan. Namun apabila kita jeli, kemudian mencoba bertanya apa sebenarnya maksud yang ingin disampaikan sang penyair? Jika merujuk pada kalimat, <em>Tak seperti kau &#8211; sembarangan bercinta seperti ayam. Andai semua laki dikebiri – tak perlu ada perempuan yang ternodai.</em> Berisi pesan yang dalam, bahwa realitas yang terjadi sekarang ini adalah berasal dari faktor manusia itu sendiri, tak peduli perempuan atau laki, yang pasti tidak menutup kemungkinan bahwa apa yang tertulis dalam puisi-puisi Binhad tadi merupakan rujukan dari realitas yang ada saat-saat ini.</p>
<p>Pantas saja ia memberi judul <em>Bau Betina</em>, betapa manusia diasosiasikan dengan ayam yang tak lain adalah binatang. Apakah antara manusia dan binatang kini sudah tidak ada pembeda? Perempuan atau wanita yang tak lain seorang manusia digantikan dengan sebutan betina. Bukankah istilah betina lebih dekat kepada hewan atau binatang? Binhad memberi simbol itu, yakni sebuah kebebasan yang kebablasan, di mana tubuh dijadikan sebagai objek yang kini disimbolkan sebagai kebudayaan, yang sejatinya bertolak belakang dengan kebudayaan yang kita miliki.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>NB:</p>
<p>Ita R.Alawiyah adalah kependekan dari Ita Rosihatul Alawiyah, atau memiliki nama pena Itara Azkiya.</p>
<p>[1] Penggalan puisi Binhad Nurrohmat yang berjudul &#8220;Bau Betina&#8221;, dalam <em>Bau Betina</em> ( Jakarta : I:BOEKOE, 2007), hlm. 62.</p>
<p>[2] Ibid, p. 139.</p>
<p>(Sumber: http://itaraazkiya.multiply.com/journal, 27 November 2008)</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/binhad-tubuh-sebagai-kebudayaan-152.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Estetikalkulator</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/puisi-estetikalkulator-130.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/puisi-estetikalkulator-130.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 08:08:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[SASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[A Richards]]></category>
		<category><![CDATA[andy fuller]]></category>
		<category><![CDATA[avant garde]]></category>
		<category><![CDATA[bau betina]]></category>
		<category><![CDATA[binhad]]></category>
		<category><![CDATA[damhuri muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[demontsran sexy puisi mbeling]]></category>
		<category><![CDATA[endri Y]]></category>
		<category><![CDATA[Estekalkulator]]></category>
		<category><![CDATA[islam gembira]]></category>
		<category><![CDATA[Khudori Husnan]]></category>
		<category><![CDATA[kratz]]></category>
		<category><![CDATA[kuda ranjang]]></category>
		<category><![CDATA[oky arfie]]></category>
		<category><![CDATA[poetry on the road]]></category>
		<category><![CDATA[ralph waldo emerson]]></category>
		<category><![CDATA[remy silado]]></category>
		<category><![CDATA[Rendra]]></category>
		<category><![CDATA[samuel johnson]]></category>
		<category><![CDATA[sanento yuliman]]></category>
		<category><![CDATA[sastra perkelaminan]]></category>
		<category><![CDATA[tarigan]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Tasmania]]></category>
		<category><![CDATA[Yopi Setia Umbara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Endri Y, esais, tinggal di Kalianda, Lampung “Saya hanya berusaha dekat dengan permasalahan yang ada di depan mata, saya ingin spontanitas yang jujur.” Demikian deskripsi Binhad Nurohmat terhadap upaya yang dapat disebut terobosan baru di ranah perpuisian Indonesia (Kompas, Kamis, 9 Juli 2009). Meski Samuel Johnson (1709 –1784 ) seorang penyair, eseis, novelis, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Endri Y,</strong><em> esais, tinggal di Kalianda, Lampung</em></p>
<p><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30578953&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=345163088198&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=345163088198&amp;id=1209237385"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs415.snc3/25065_1240426369990_1209237385_30578953_2727574_a.jpg" alt="" /></a></p>
<p>“Saya hanya berusaha dekat dengan permasalahan yang ada di depan mata, saya ingin spontanitas yang jujur.” Demikian deskripsi Binhad Nurohmat terhadap upaya yang dapat disebut terobosan baru di ranah perpuisian Indonesia (<em>Kompas</em>, Kamis, 9 Juli 2009).<span id="more-130"></span></p>
<p>Meski Samuel Johnson (1709 –1784 ) seorang penyair, eseis, novelis, dan kritikus Inggris ini bilang, puisi adalah seni menggabungkan keindahan alam. Dan banyak sekali yang beranggapan puisi dan penyairnya termasuk manusia elit dalam strata sosial, tidak bagi Binhad. Semua tercermin dalam puisi- puisi mbelingnya, sebuah avant garde dan pendobrak tatanan mapan. Ditelisik dari judul bukunya saja, sudah cukup melumerkan senyum; Kuda Ranjang, Bau Betina, Sastra Perkelaminan, dan Demonstran Sexy. Memancing sudut tabu untuk kemudian diukir dalam bentuk yang lembut, memunculkan pengakuan akan kebenaran kalimat yang dianggap kasar dan tabu itu, menjadi benar- benar kebenaran binal. Liar dan akrab tetapi jarang diungkap dalam teks- teks kesusastraan. Penemuan kebenaran kasar yang rumit.</p>
<p>Kini, penyair beragama “Islam Gembira” yang produktif menulis ini membahasakan audiens, dan terkadang dirinya (dalam aku lirik), dan atau subjek (orang ketiga), aku obyek, dengan sebutan rakyat.</p>
<p><strong>Sastra Cyber</strong></p>
<p>Lihatlah tulisan terbarunya di postingan FB, yang saya yakin betul ketika tiba saatnya nanti pasti juga dibukukan, Binhad menulis:</p>
<p><em>Rakyat sekalian, tuhan itu ateis! </em></p>
<p><em>Rakyat sekalian, kenapa ada ledakan bom di Jakarta? Tolong jawab saya. Ini serius!</em></p>
<p>Ketus dan lucu, nakal tetapi benar jika direnungkan. Pada kesempatan lain lagi dia menulis puisi yang diberinya judul &#8220;Rakyat Menggugat Penyair&#8221;:</p>
<p style="text-align: right;"><em>Kamu bikin puisi kabut pagi ketika rakyat tertindas</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Puisimu indah</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>tapi kabut pagi tak bisa membela rakyat.</em></p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;"><em>Kamu bikin puisi batu sungai ketika rakyat kelaparan</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Puisimu indah</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>tapi batu sungai bukan makanan rakyat.</em></p>
<p>Cukup banyak dan berserakan puisi spontan Binhad yang kesemuanya menafsir transendensi dan realitas kedirian dengan kocak sekaligus congkak. Membangkang keruwetan dan kerumitan puisi. Jika direnungkan memang semuanya benar, meski terkesan kurangajar, nakal, kenes, lihatlah ini:</p>
<p style="text-align: left;"><em>Rakyat sekalian, tuhan mampir di bar dangdut? </em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Tuhan tak pernah sembahyang. Percayalah!</em></p>
<p style="text-align: left;">Mungkin kalimat- kalimat puitis ini kurang membumi dan berbunyi jika usaha untuk mengejawantah realitas kerakyatan puisi tidak ditempuhnya secara intens, kontinyu, dan berkemajuan.</p>
<p>Tulisan ini hanya upaya mencari pembaruan metoda ungkap berpuisi, yang embrionya sejak era tahun 70an sudah mulai disuarakan Remy Sylado, Saneto Juliman, Dkk. dalam maenstream bertema &#8220;puisi mbeling&#8221;. Dapat dibilang Binhad adalah penyair kekinian yang memiliki nalar aktual, tampil beda, dan berani membawa genre puisi baru.</p>
<p>Hal ini diperkuat dengan gabungan antara kemampuan mencipta dan membahasakan audiens dan aku lirik atau orang ketiga dalam majas kata (rakyat) dan tepat ketika digunakan dan diposisikan dalam kalimat untuk maksud (apa- siapa- bagaimana). Inilah capaian kontemplasi Binhad yang layak diapresiasi sebagai penerus gagasan, dapat dibilang penyempurna tentang puisi mbeling.</p>
<p><strong>Puisi Estetikalkulator</strong></p>
<p>Kemudian eksperimen Binhad  yang cukup fenomenal yaitu puisi estetikalkulator.</p>
<p>Puisi yang ketika menulisnya mungkin harus sambil memegang kalkulator, atau kalau pembaca pandai berhitung, sedikit berpikir keras untuk larut dalam perhitungan angka- angka dalam puisinya. Lebih mudah ketika kita membacanya sambil memegang kalkulator juga, sekaligus mengecek kemampuan berhitung dan kecermatan Binhad.</p>
<p>Lihat saja ini, puisi yang diberi judul &#8220;Rakyat Tidur&#8221;:</p>
<p style="text-align: left;"><em>Rakyat tidur rata-rata 6 jam sehari. Maka, dlm 1 minggu rakyat tidur 42 jam, dlm 1 bulan rakyat tidur 168 jam, dlm 1 tahun rakyat tidur 2.016 jam (sekitar 3 bulan), dlm 10 tahun rakyat tidur 20.160 jam (2,3 tahun). Rakyat berusia 60 tahun sekurangnya pernah tidur 120.960 jam (13,8 tahun), waktu selama ini lebih panjang ketimbang 2 periode masa jabatan presiden.</em></p>
<p>Atau puisi tentang percintaan, yang juga dimaknai bercinta yang sebenarnya atau ML &#8220;Rakyat Make Love&#8221;:</p>
<p style="text-align: left;"><em>Jika rakyat make love (ML) 3 kali seminggu, maka rakyat ML 12 kali sebulan dan 144 kali setahun. Jika rata2 rakyat menikah sejak usia 25 thn, maka rakyat usia 50 thn rata2 pernah ML 3.600 kali. Jika jumlah pasutri 100 jt, maka terjadi 300 jt ML seminggu. Statistik ini tidak termasuk jumlah rakyat ML pra-nikah, poligami/poliandri, free-sex, dan yg selingkuh. Lanjutkan! Lebih sexy lebih baik!</em></p>
<p>Semua persoalan disoroti, semua kejadia aktual dipuisikan dengan metode estetikalkulator dari ngomong, shalat, minum, berak, bom, dan sebagainya, yang benar- benar merakyat dan dialami sehari- hari oleh rakyat. Dan tentu, kita harus sambil memegang kalkulator jika ingin menikmatinya, kemudian setelah selesai membaca, saya berani memastikan, menyembul senyum puas.</p>
<p>Inilah gaya khas penyair Binhad, yang sebenarnya mampu mematahkan defenisi klasik tentang puisi, sekaligus membuka ruang baru untuk puisi estetikalkulator.</p>
<p>Mungkin kemudian hari, puisi bukan hanya milik tukang ojek, sopir, buruh dan semacamnya sebagaimana dalam film “Poetry on the Road” atau sekedar mata pelajaran siswa bahasa dan sastra Indonesia. Melainkan juga dapat digunakan untuk soal cerita mata pelajaran matematika. Misalnya dengan pertanyaan, berapakalikah presiden SBY tidur jika dia berusia 93 tahun 4 bulan 11 hari? Lalu dibawah pertanyaan itu ditulis keterangan, gunakan rumus puisi &#8220;Rakyat Tidur&#8221; karya Binhad Nurohmat.</p>
<p><strong>Film Pembuktian</strong></p>
<p>Salah satu pemikir yang pendefenisiannya tentang puisi masih saja selalu dikutip sampai sekarang adalah Ralph Waldo Emerson(1803-1882) esais, penyair, sekaligus filsuf Amerika yang dalam Tarigan, (1986:4) menjelaskan bahwa puisi merupakan upaya abadi untuk mengekspresikan jiwa dan menggerakkanya, mencari kehidupan dan alasan yang menyebabkannya ada. Kiranya relevan dengan arti puisi yaitu, “membuat” dan atau “pembuatan”. Sebab, lewat puisi pada dasarnya seseorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri, yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana- suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah (Aminuddin, 1987:134).</p>
<p>Penyair atau pengrajin kata, tentu akan tertinggal kereta zaman ketika puisi hanya sebagai alat tekstual penyampai pesan. Bahkan secara empirik “dunia tersendiri” para penyair itu dipatahkan oleh terobosan Binhad dalam kerja- kerja mempuisikan rakyat dan merakyatkan puisi. Terbukti dengan sudah dibuatnya produk kesenian yang tetap estetis, tanpa mencerabut puisi dari makna dasarnya.</p>
<p>Meski bukan yang pertama kali film yang berkisah tentang puisi dan deklamasinya, “Poetry on the Road” besutan Binhad, Oky Arfie, dan mahasiswa program doktor Sastra Indonesia dari Universitas Tasmania, Australia, Andy Fuller jelas berbeda dengan film “Lari dari Blora” dan “Yang Muda Yang Bercinta”nya Almarhum Rendra.</p>
<p>Jika WS. Rendra dalam film itu membacakan sajak- sajaknya sendiri (puisi tampil sebagai selingan), memiliki plot, dan alur cerita layaknya film kebanyakan. Binhad dalam filmnya yang berdurasi sekitar 50 menit itu justru membuktikan bahwa puisinya benar- benar dari rakyat oleh rakyat. Murni film puisi. Tanpa artis yang dikasting dan dibekali kemampuan akting. Tukang ojek sepeda ontel yang membacanya dibonceng sang penyair adalah audiovisual apik untuk membuktikan bahwa rakyat jelata pun mengerti dan mampu membaca puisi.</p>
<p><strong>Melampaui Akar Kepenyairan</strong></p>
<p>Proses kajian akan aliran dalam apresiasi seni dikenal dengan istilah ohne alles interesse (bebas kepentingan sepenuhnya) alias kontemplatif. Dimana capaian kepenyairan Binhad Nurrohmat yang silang pendapatnya termasuk paling ramai di harian <em>Pikiran Rakyat</em>, 5/04/2009, 19/04/2009, 3/05/2009, dan 17/05/2009 oleh Damhuri Muhammad, Yopi Setia Umbara, dan Khudori Husnan terkait kumpulan puisi Demonstran Sexy (2008), polemik ini, yang kemudian mendasari penulis menarik akar kesejarahan penyair Binhad.</p>
<p>Sejarah sastra Indonesia selalu menemu kesimpulan, sebagaimana hasil penelitian Kratz (1987) yang menunjukan bahwa pada 1983, sastrawan Indonesia yang menghidupkan denyut nadi sastra Indonesia banyak berasal dari kedua kiblat, yakni Jawa (52,8%) dan Sumatera (30,3%). Ditinjau dari sisi inilah, pribadi Binhad cukup menarik, pertama dia memiliki darah dan akar pendidikan pesantren di Jawa sekaligus mukim dan menemukan “pencerahan” (kontemplasi kepenyairannya) di Lampung (Sumatera). Kedua, jika puisi- puisi Binhad didedah dalam nalar practical criticism A. Richards (1893-1979) khususnya dalam kitab Demonstran Sexy, mampu melepas teks dari setiap konteks bahkan “terbebas dari jerat pendefenisian puisi yang sudah mapan.”</p>
<p>Ketiga, lihatlah kekenesan Binhad yang sekarang mulai sibuk mengkaji urai ejaan lama, sebagai bentuk pembangkangan atas realitas hamburan kata, banyak yang kemudian menyebutnya sebagai puisi. Dengan kepemilikan tradisi unik kontemplatif ini, status- status Binhad di akun FB misalnya, menemukan karakter dan eksistensinya sendiri. Saya dan mungkin banyak yang sepakat, status dalam FB yang selalu diperbarui bagi orang semacam Binhad, Isbedy Setiawan, (dan ribuan orang lainya) adalah puisi. Lihatlah nyentriknya puisi- puisi Binhad dalam statusnya, membuat kita sering tersenyum getir sambil nyletuk ;”dancuk.. dancuk.. dasar edan!”</p>
<p>Mungkin inilah titik mula pertama kali saya menemukan ruh kesejatian dari kesempurnaan puisi mbeling di era 70an itu (sebab saya belum lahir, hanya membacanya dari majalah aktuil di perpustakaan kakek), hingga menjadikan puisi sebagai bacaan pokok untuk hiburan sekaligus tamasya batin. Membaca puisi- puisi Binhad bisa mengernyitkan dahi karena berpikir, tersenyum getir sebab tersindir, tertawa sendiri karena konyol, dan saya sangat terpuaskan.</p>
<p>Puisi- puisi Binhad termasuk status- statusnya itu, seperti nikotin dan kafein, bikin kecanduan. Semoga keliarannya tidak menggiring pada eksperimen- eksperimen lain, seperti ejaan lama semacam “oe&#8221; untuk “u”, “J” untuk “y” yang cenderung kuno dan mentah ketimbang pembaruan bentuk puisi estetikalkulator-nya. Saya sebagai pembaca dan penggila buku, dengan tulisan ini memesan kumpulan puisi estetikalkulatornya meski entah sudah dipikirkan akan diterbitkan atau belum, buku itu rencananya mau saya gunakan buat rumus soal cerita matematika anak tetangga, atau justru buku itu bisa menambah khasanah puisi Indonesia yang benar- benar <em>avant garde</em>.</p>
<div>
<div>(<strong>Sumber</strong>: dari Catatan Facebook Endri Kalianda [alamat: kang_endri@yahoo.com] berjudul &#8220;Merakyatkan Puisi Memuisikan Rakyat: Puisi Estetikalkulator; Mazhab Baru Puisi Indonesia&#8221; yang disiarkan pada 9 Maret 2010).</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/puisi-estetikalkulator-130.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Refreshing Bahasa</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/refreshing-bahasa-107.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/refreshing-bahasa-107.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 03:04:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[SASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Korea]]></category>
		<category><![CDATA[Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[Flora]]></category>
		<category><![CDATA[KRL]]></category>
		<category><![CDATA[Lampung]]></category>
		<category><![CDATA[mimesis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Ayah-ibu saya berasal dari Jawa Timur dan kemudian menetap di pedalaman Lampung sejak 1970an. Kami berbahasa Jawa sebatas di lingkungan keluarga dan sesuku. Kami berbahasa Indonesia saat bergaul dengan suku lain. Tetangga saya orang suku Minang, Sunda, Bali, Lampung, Palembang, dan Bugis juga berbahasa Indonesia dalam pergaulan umum. Barangkali karena saya berbahasa Jawa hanya di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span></p>
<style>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
</style>
<p><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: ">Ayah-ibu saya berasal dari Jawa Timur dan kemudian menetap di pedalaman Lampung sejak 1970an. Kami berbahasa Jawa sebatas di lingkungan keluarga dan sesuku. Kami berbahasa Indonesia saat bergaul dengan suku lain. Tetangga saya orang suku Minang, Sunda, Bali, Lampung, Palembang, dan Bugis juga berbahasa Indonesia dalam pergaulan umum. </span><span id="more-107"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: ">Barangkali karena saya berbahasa Jawa hanya di lingkungan keluarga atau sesuku (lingkungan yang terbatas ruang dan keperluan komunikasinya) <span> </span>membuat memori kosakata Bahasa Jawa saya makin berkurang. Saya kerap lupa kosakata khusus untuk menyebut objek-objek tertentu karena jarang atau sama sekali tak menggunakannya lagi, misalnya nama-nama anak hewan atau bagian-bagian pohon.<span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: ">Saya pernah mengunjungi kerabat ayah-ibu saya di Jember dan Banyuwangi. Dalam kunjungan itu kami berbahasa Jawa sepenuhnya dan menyegarkan kembali kosakata khusus dalam Bahasa Jawa yang telah pudar dari memori saya. Banyak kosakata khusus dalam Bahasa Jawa untuk menyebut objek ini atau objek itu secara rinci. Kosakata khusus itu menunjuk objek tertentu yang mengefektifkan penyebutan atau pengenalan objek secara tepat. <span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: ">Bahasa Jawa punya kosakata khusus untuk objek flora dan fauna yang beda usia, misalnya <em>bluluk </em>(buah kelapa sebelum cengkir), <em>cengkir </em>(buah kelapa muda dan belum berdaging)<em>, degan </em>(buah kelapa muda), <em>janur </em>(daun kelapa yang masih muda), dan<em> blarak </em>(daun pohon kelapa yang sudah tua) maupun <em>babal </em>(buah nangka yang masih kecil atau putik nangka),<em> gori </em>(buah nangka muda), dan <em>nongko </em>(buah nangka yang matang). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: ">Bahasa Jawa juga punya kosakata khusus untuk anak hewan yang baru lahir atau baru menetas, misalnya <em>celondho </em>(jangkrik), <em>gudhel </em>(kerbau), <em>bledhuk </em>(gajah), <em>meri </em>(itik), <em>uthuk </em>(ayam), <em>cindhil </em>(tikus), <em>precil </em>(katak), <em>minthi </em>(entok), <em>belo </em>(kuda), <em>pedet </em>(sapi), dan <em>piyik </em>(burung). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: ">Sebagian kosakata khusus dalam Bahasa Jawa itu sudah diserap oleh Bahasa Indonesia misalnya <em>cengkir, degan</em>, <em>janur</em>,<em> babal, gori, belo, pedet,</em> <em>piyik</em>. <span> </span>Penyerapan itu mengefektifkan penyebutan atau pengenalan terhadap objek tertentu secara tepat. Tapi, kosakata-kosakata khusus yang sudah jadi entri dalam kamus Bahasa Indonesia itu masih terasa asing, belum lazim, dan mungkin banyak yang menyangka belum dibakukan sebagai kosakata Bahasa Indonesia. Di warung-warung di Jakarta banyak terpampang tulisan “Menyediakan Kelapa Muda” atau dalam daftar menu rumah makan tertulis “Sayur Nangka”. Padahal bisa lebih efektif dan tepat dengan “Menyediakan Degan” atau “Sayur Gori”. <em><span> </span></em><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: ">Saya kira bahasa-bahasa daerah lain juga punya potensi yang bisa memperkaya kosakata khusus untuk Bahasa Indonesia. Bahasa-bahasa daerah yang berserak di wilayah Indonesia merupakan lautan kosakata yang siap diserap oleh Bahasa Indonesia agar Bahasa Indonesia makin mampu memenuhi keperluan komunikasi masyarakat penggunanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: ">Penyerapan kosakata-kosakata khusus itu bisa memberdayakan bahasa daerah dan sekaligus memperkaya Bahasa Indonesia sehingga pengguna Bahasa Indonesia bisa bilang <em>mengunduh </em>sebagai padanan <em>men-</em>download, <em>catatan buntut </em>sebagai padanan <em>endnote,</em> dan <em>bandot </em>untuk menyebut kambing jantan dewasa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: ">Saya percaya kemampuan berbahasa adalah mimesis (peniruan). Saya bisa berbahasa Jawa karena saya hidup dalam lingkungan berbahasa Jawa. Saya pernah ngendon sekian bulan di semenanjung Korea dan hidup dalam lingkungan berbahasa Korea. Di negeri ginseng itu saya kerap berbahasa Korea. Tapi setelah saya terbang meninggalkan negeri itu dan saya mendarat di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, saya merasa kemampuan saya berbahasa Korea seperti tertinggal di Bandara Incheon Korea.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: ">Belum lama ini kebetulan saya bertemu gadis-gadis Korea di KRL jurusan Bogor-Jakarta. Saya mendengar mereka bercakap dalam bahasa Korea. Anehnya kemampuan saya berbahasa Korea mendadak bangkit kembali. Saya iseng menyapa, “Annyeong haseyo” (artinya “halo” atau “assalamu’alaikum”). Gadis-gadis itu membalas, “Annyeong haseyo. Kamsa hamnida” (artinya “Halo juga. Terima kasih, ya”). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: ">Saya memang percaya kemampuan berbahasa adalah mimesis. Dan sejak<span> </span>“kasus linguistik” di KRL jurusan Bogor-Jakarta itu saya juga percaya kemampuan berbahasa Korea bangkit dan segar kembali ketika bertemu gadis-gadis Korea… </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/refreshing-bahasa-107.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

