<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Binhad Nurrohmat</title>
	<atom:link href="http://binhadnurrohmat.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://binhadnurrohmat.com</link>
	<description>going within...</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Apr 2010 09:54:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Binhad: Tubuh Sebagai Kebudayaan</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/binhad-tubuh-sebagai-kebudayaan-152.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/binhad-tubuh-sebagai-kebudayaan-152.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 09:08:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[SASTRA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/binhad-tubuh-sebagai-kebudayaan-152.php</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ita R Alawiyah &#8211; Mahasiswa Bahasa dan Sastra Universitas Tirtayasa, Banten Kau dan aku bertaruh menghitung bulu tumbuh di sekujur tubuhku dan tubuhmu yang gaduh sampai jari tangan hangus dipanggang berton didihan hormon yang gemuruh menderitkan kesumat kilang syahwat.[1] Demikianlah salah satu penggalan puisi Binhad Nurrohmat dalam bukunya Bau Betina (2007). Sang penyair yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Ita R Alawiyah</strong><em> &#8211; </em>Mahasiswa Bahasa dan Sastra Universitas Tirtayasa, Banten</p>
<p><em> </em></p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;"><em>Kau dan aku bertaruh menghitung bulu</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>tumbuh di sekujur tubuhku dan tubuhmu yang gaduh</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>sampai jari tangan hangus dipanggang berton didihan hormon</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>yang gemuruh menderitkan kesumat kilang syahwat.<a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></em></p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;"><em><a href="#_ftn1"><strong><span id="more-152"></span></strong></a></em></p>
<p style="text-align: right;">
<p>Demikianlah salah satu penggalan puisi Binhad Nurrohmat dalam bukunya <em>Bau Betina </em>(2007). Sang penyair yang pernah diundang langsung ke Kampus Universitas Tirtayasa, Banten  pada 2007 untuk membedah buku terbarunya itu menyangkal bila ada yang mengatakan bahwa puisi-puisinya adalah puisi cabul. Dalam kumpulan-kumpulan puisinya memang tidak jauh-jauh dari tema kemesraan, maskulinitas, bahkan keintiman yang dianggap sebagai sesuatu yang wajar maupun erotis. Mungkin bagi sebagian orang lumrah dan mungkin juga bagi sebagian orang bahwa itu merupakan pornografi karena sama saja menelanjangi tubuh sendiri, hanya tampilannya saja dikemas dalam bentuk puisi.</p>
<p>Buku perdananya berjudul <em>Kuda Ranjang</em> (2004), kemudian dilanjutkan dengan buku esai <em>Sastra Perkelaminan</em> (2007), hingga pada <em>Bau Betina</em>, perlu kita tilik lebih lanjut. Mengapa hampir disemua bukunya terselip unsur seksualitas yang lebih menyorot pada sisi perempuan? Terlebih pada <em>Bau Betina</em>, keintiman itu penyair gambarkan penuh akspresi dengan <em>setting</em> rumah bordil, kamar tidur, kamar mandi, yang dikaitkan dengan syahwat atau birahi. Mungkinkah perempuan merupakan objek yang menarik untuk digali? Ataukah sosok yang gampang untuk bisa dieksploitasi?</p>
<p>Menurut agama, segala yang ada dalam tubuh perempuan merupakan keindahan. Merupakan seni yang tak dapar diukur, karena setiap pria memiliki penilaian yang berbeda-beda atas makna indah pada sisi setiap perempuan. Namun, jangan salahkan siapa, jika dewasa ini tubuh perempuan lebih dimaknai sebagai seni. Sampai-sampai adegan foto bugil pun mengatasnamakan seni.</p>
<p>Lihat saja majalah-majalah dewasa atau surat kabar semisal lampu merah dan sebagainya yang menjadikan foto-foto perempuan dengan pakaian <em>sexy </em>sebagai objek mereka. Tentu tak heran lagi, kenapa majalah<em> Playboy</em> yang nota bene majalah porno di &#8220;luar negeri&#8221; bersikukuh mengatakan bahwa <em>Playboy</em> tidaklah porno jika melihat realitas majalah atau surat kabar lain yang terjual bebas di pasaran tanpa pernah disinggung-singgung melanggar RUU APP.</p>
<p>Begitu pun dengan Binhad. Ia mencoba mengangkat sebuah realitas sosial yang memang tidak bisa dikatakan tabu lagi. Bagaimana tubuh diartikan sebagai objek, karena ia menganggap bahwa tubuh merupakan bagian dari kebudayaan. Ke mana pun ia pergi, selalu tubuh itu mengikuti, baik ketika tidur, di kamar mandi, atau pergi ke tempat mana pun, tubuhlah sesuatu yang amat dekat dengan dirinya itu. Karenanya, dalam setiap puisi-puisinya, Binhad tak malu-malu mengungkap segala adegan demi adegan yang berkaitan dengan tubuh, meski pada akhirnya sebagian orang terutama dari kalangan muslim bahkan ada salah seorang mahasiswa yang mengatakan langsung di hadapannya bahwa ini tidak lain adalah puisi cabul, karena dengan terang-terangan hampir di setiap puisi-puisinya berisi kata-kata yang kurang senonoh, seperti selangkangan, kelamin, puting, jembut, pantat yang dianggap terlalu mengekspliotasi tubuh, terlebih yang diceritakan adalah syahwat dan birahi. Tidakkah ada topik lain yang lebih menarik tanpa harus mengeksploitasi seksualitas?</p>
<p>Apalagi jika dihubungkan dengan biografi penyair. Binhad merupakan seorang lulusan pesantren. Tidak etis rasanya, jika ini dikait-kaitkan dengan teori di pesantrenan seperti yang dikemukakan oleh Marshall Clark dalam catatan pembacanya di halaman belakang buku itu. Tentu semua orang bisa berteori, namun adakah yang salah dengan teori, terlebih itu mengenai keagamaan. Binhad tetap berekspresi, entah semua inspirasi itu ia dapatkan dengan berteori atau tidak.</p>
<p>Tetapi ada yang menarik dari beberapa puisinya, ini mengenai Tuhan yang beberapa kali ia masukkan pula dalam puisinya di <em>Bau Betina,</em> seperti pada puisinya yang berjudul “Pohon Penyair &amp; Danau Hamidah”, berikut penggalannya:</p>
<p style="text-align: right;"><em>&#8220;Tuhan tak punya birahi.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Dia tak perempuan atau laki.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Tak seperti kau!&#8221;</em></p>
<p style="text-align: right;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: right;"><em> </em></p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;"><em>“Tapi kau punya birahi</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>sebab kau perempuan.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Aku pun demikian</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>karena aku laki.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: right;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: right;"><em> </em></p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;"><em>&#8220;Tapi tuhan hidup melajang.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Kau mengerti kenapa?</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Tuhan sabar dan setia menjaga nafsunya.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Tak seperti kau</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>sembarangan bercinta seperti ayam.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Andai semua laki dikebi</em><em>ri</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>tak perlu ada perempuan yang ternodai&#8221; [2]</em></p>
<p style="text-align: right;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: right;">
<p>Sekilas, sepertinya puisi di atas terlalu berlebihan dalam mengasosiasikan Tuhan. Namun apabila kita jeli, kemudian mencoba bertanya apa sebenarnya maksud yang ingin disampaikan sang penyair? Jika merujuk pada kalimat, <em>Tak seperti kau &#8211; sembarangan bercinta seperti ayam. Andai semua laki dikebiri – tak perlu ada perempuan yang ternodai.</em> Berisi pesan yang dalam, bahwa realitas yang terjadi sekarang ini adalah berasal dari faktor manusia itu sendiri, tak peduli perempuan atau laki, yang pasti tidak menutup kemungkinan bahwa apa yang tertulis dalam puisi-puisi Binhad tadi merupakan rujukan dari realitas yang ada saat-saat ini.</p>
<p>Pantas saja ia memberi judul <em>Bau Betina</em>, betapa manusia diasosiasikan dengan ayam yang tak lain adalah binatang. Apakah antara manusia dan binatang kini sudah tidak ada pembeda? Perempuan atau wanita yang tak lain seorang manusia digantikan dengan sebutan betina. Bukankah istilah betina lebih dekat kepada hewan atau binatang? Binhad memberi simbol itu, yakni sebuah kebebasan yang kebablasan, di mana tubuh dijadikan sebagai objek yang kini disimbolkan sebagai kebudayaan, yang sejatinya bertolak belakang dengan kebudayaan yang kita miliki.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>NB:</p>
<p>Ita R.Alawiyah adalah kependekan dari Ita Rosihatul Alawiyah, atau memiliki nama pena Itara Azkiya.</p>
<p>[1] Penggalan puisi Binhad Nurrohmat yang berjudul &#8220;Bau Betina&#8221;, dalam <em>Bau Betina</em> ( Jakarta : I:BOEKOE, 2007), hlm. 62.</p>
<p>[2] Ibid, p. 139.</p>
<p>(Sumber: http://itaraazkiya.multiply.com/journal, 27 November 2008)</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/binhad-tubuh-sebagai-kebudayaan-152.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Estetikalkulator</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/puisi-estetikalkulator-130.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/puisi-estetikalkulator-130.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 08:08:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[SASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[A Richards]]></category>
		<category><![CDATA[andy fuller]]></category>
		<category><![CDATA[avant garde]]></category>
		<category><![CDATA[bau betina]]></category>
		<category><![CDATA[binhad]]></category>
		<category><![CDATA[damhuri muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[demontsran sexy puisi mbeling]]></category>
		<category><![CDATA[endri Y]]></category>
		<category><![CDATA[Estekalkulator]]></category>
		<category><![CDATA[islam gembira]]></category>
		<category><![CDATA[Khudori Husnan]]></category>
		<category><![CDATA[kratz]]></category>
		<category><![CDATA[kuda ranjang]]></category>
		<category><![CDATA[oky arfie]]></category>
		<category><![CDATA[poetry on the road]]></category>
		<category><![CDATA[ralph waldo emerson]]></category>
		<category><![CDATA[remy silado]]></category>
		<category><![CDATA[Rendra]]></category>
		<category><![CDATA[samuel johnson]]></category>
		<category><![CDATA[sanento yuliman]]></category>
		<category><![CDATA[sastra perkelaminan]]></category>
		<category><![CDATA[tarigan]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Tasmania]]></category>
		<category><![CDATA[Yopi Setia Umbara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Endri Y, esais, tinggal di Kalianda, Lampung “Saya hanya berusaha dekat dengan permasalahan yang ada di depan mata, saya ingin spontanitas yang jujur.” Demikian deskripsi Binhad Nurohmat terhadap upaya yang dapat disebut terobosan baru di ranah perpuisian Indonesia (Kompas, Kamis, 9 Juli 2009). Meski Samuel Johnson (1709 –1784 ) seorang penyair, eseis, novelis, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Endri Y,</strong><em> esais, tinggal di Kalianda, Lampung</em></p>
<p><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30578953&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=345163088198&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=345163088198&amp;id=1209237385"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs415.snc3/25065_1240426369990_1209237385_30578953_2727574_a.jpg" alt="" /></a></p>
<p>“Saya hanya berusaha dekat dengan permasalahan yang ada di depan mata, saya ingin spontanitas yang jujur.” Demikian deskripsi Binhad Nurohmat terhadap upaya yang dapat disebut terobosan baru di ranah perpuisian Indonesia (<em>Kompas</em>, Kamis, 9 Juli 2009).<span id="more-130"></span></p>
<p>Meski Samuel Johnson (1709 –1784 ) seorang penyair, eseis, novelis, dan kritikus Inggris ini bilang, puisi adalah seni menggabungkan keindahan alam. Dan banyak sekali yang beranggapan puisi dan penyairnya termasuk manusia elit dalam strata sosial, tidak bagi Binhad. Semua tercermin dalam puisi- puisi mbelingnya, sebuah avant garde dan pendobrak tatanan mapan. Ditelisik dari judul bukunya saja, sudah cukup melumerkan senyum; Kuda Ranjang, Bau Betina, Sastra Perkelaminan, dan Demonstran Sexy. Memancing sudut tabu untuk kemudian diukir dalam bentuk yang lembut, memunculkan pengakuan akan kebenaran kalimat yang dianggap kasar dan tabu itu, menjadi benar- benar kebenaran binal. Liar dan akrab tetapi jarang diungkap dalam teks- teks kesusastraan. Penemuan kebenaran kasar yang rumit.</p>
<p>Kini, penyair beragama “Islam Gembira” yang produktif menulis ini membahasakan audiens, dan terkadang dirinya (dalam aku lirik), dan atau subjek (orang ketiga), aku obyek, dengan sebutan rakyat.</p>
<p><strong>Sastra Cyber</strong></p>
<p>Lihatlah tulisan terbarunya di postingan FB, yang saya yakin betul ketika tiba saatnya nanti pasti juga dibukukan, Binhad menulis:</p>
<p><em>Rakyat sekalian, tuhan itu ateis! </em></p>
<p><em>Rakyat sekalian, kenapa ada ledakan bom di Jakarta? Tolong jawab saya. Ini serius!</em></p>
<p>Ketus dan lucu, nakal tetapi benar jika direnungkan. Pada kesempatan lain lagi dia menulis puisi yang diberinya judul &#8220;Rakyat Menggugat Penyair&#8221;:</p>
<p style="text-align: right;"><em>Kamu bikin puisi kabut pagi ketika rakyat tertindas</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Puisimu indah</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>tapi kabut pagi tak bisa membela rakyat.</em></p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;"><em>Kamu bikin puisi batu sungai ketika rakyat kelaparan</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Puisimu indah</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>tapi batu sungai bukan makanan rakyat.</em></p>
<p>Cukup banyak dan berserakan puisi spontan Binhad yang kesemuanya menafsir transendensi dan realitas kedirian dengan kocak sekaligus congkak. Membangkang keruwetan dan kerumitan puisi. Jika direnungkan memang semuanya benar, meski terkesan kurangajar, nakal, kenes, lihatlah ini:</p>
<p style="text-align: left;"><em>Rakyat sekalian, tuhan mampir di bar dangdut? </em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Tuhan tak pernah sembahyang. Percayalah!</em></p>
<p style="text-align: left;">Mungkin kalimat- kalimat puitis ini kurang membumi dan berbunyi jika usaha untuk mengejawantah realitas kerakyatan puisi tidak ditempuhnya secara intens, kontinyu, dan berkemajuan.</p>
<p>Tulisan ini hanya upaya mencari pembaruan metoda ungkap berpuisi, yang embrionya sejak era tahun 70an sudah mulai disuarakan Remy Sylado, Saneto Juliman, Dkk. dalam maenstream bertema &#8220;puisi mbeling&#8221;. Dapat dibilang Binhad adalah penyair kekinian yang memiliki nalar aktual, tampil beda, dan berani membawa genre puisi baru.</p>
<p>Hal ini diperkuat dengan gabungan antara kemampuan mencipta dan membahasakan audiens dan aku lirik atau orang ketiga dalam majas kata (rakyat) dan tepat ketika digunakan dan diposisikan dalam kalimat untuk maksud (apa- siapa- bagaimana). Inilah capaian kontemplasi Binhad yang layak diapresiasi sebagai penerus gagasan, dapat dibilang penyempurna tentang puisi mbeling.</p>
<p><strong>Puisi Estetikalkulator</strong></p>
<p>Kemudian eksperimen Binhad  yang cukup fenomenal yaitu puisi estetikalkulator.</p>
<p>Puisi yang ketika menulisnya mungkin harus sambil memegang kalkulator, atau kalau pembaca pandai berhitung, sedikit berpikir keras untuk larut dalam perhitungan angka- angka dalam puisinya. Lebih mudah ketika kita membacanya sambil memegang kalkulator juga, sekaligus mengecek kemampuan berhitung dan kecermatan Binhad.</p>
<p>Lihat saja ini, puisi yang diberi judul &#8220;Rakyat Tidur&#8221;:</p>
<p style="text-align: left;"><em>Rakyat tidur rata-rata 6 jam sehari. Maka, dlm 1 minggu rakyat tidur 42 jam, dlm 1 bulan rakyat tidur 168 jam, dlm 1 tahun rakyat tidur 2.016 jam (sekitar 3 bulan), dlm 10 tahun rakyat tidur 20.160 jam (2,3 tahun). Rakyat berusia 60 tahun sekurangnya pernah tidur 120.960 jam (13,8 tahun), waktu selama ini lebih panjang ketimbang 2 periode masa jabatan presiden.</em></p>
<p>Atau puisi tentang percintaan, yang juga dimaknai bercinta yang sebenarnya atau ML &#8220;Rakyat Make Love&#8221;:</p>
<p style="text-align: left;"><em>Jika rakyat make love (ML) 3 kali seminggu, maka rakyat ML 12 kali sebulan dan 144 kali setahun. Jika rata2 rakyat menikah sejak usia 25 thn, maka rakyat usia 50 thn rata2 pernah ML 3.600 kali. Jika jumlah pasutri 100 jt, maka terjadi 300 jt ML seminggu. Statistik ini tidak termasuk jumlah rakyat ML pra-nikah, poligami/poliandri, free-sex, dan yg selingkuh. Lanjutkan! Lebih sexy lebih baik!</em></p>
<p>Semua persoalan disoroti, semua kejadia aktual dipuisikan dengan metode estetikalkulator dari ngomong, shalat, minum, berak, bom, dan sebagainya, yang benar- benar merakyat dan dialami sehari- hari oleh rakyat. Dan tentu, kita harus sambil memegang kalkulator jika ingin menikmatinya, kemudian setelah selesai membaca, saya berani memastikan, menyembul senyum puas.</p>
<p>Inilah gaya khas penyair Binhad, yang sebenarnya mampu mematahkan defenisi klasik tentang puisi, sekaligus membuka ruang baru untuk puisi estetikalkulator.</p>
<p>Mungkin kemudian hari, puisi bukan hanya milik tukang ojek, sopir, buruh dan semacamnya sebagaimana dalam film “Poetry on the Road” atau sekedar mata pelajaran siswa bahasa dan sastra Indonesia. Melainkan juga dapat digunakan untuk soal cerita mata pelajaran matematika. Misalnya dengan pertanyaan, berapakalikah presiden SBY tidur jika dia berusia 93 tahun 4 bulan 11 hari? Lalu dibawah pertanyaan itu ditulis keterangan, gunakan rumus puisi &#8220;Rakyat Tidur&#8221; karya Binhad Nurohmat.</p>
<p><strong>Film Pembuktian</strong></p>
<p>Salah satu pemikir yang pendefenisiannya tentang puisi masih saja selalu dikutip sampai sekarang adalah Ralph Waldo Emerson(1803-1882) esais, penyair, sekaligus filsuf Amerika yang dalam Tarigan, (1986:4) menjelaskan bahwa puisi merupakan upaya abadi untuk mengekspresikan jiwa dan menggerakkanya, mencari kehidupan dan alasan yang menyebabkannya ada. Kiranya relevan dengan arti puisi yaitu, “membuat” dan atau “pembuatan”. Sebab, lewat puisi pada dasarnya seseorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri, yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana- suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah (Aminuddin, 1987:134).</p>
<p>Penyair atau pengrajin kata, tentu akan tertinggal kereta zaman ketika puisi hanya sebagai alat tekstual penyampai pesan. Bahkan secara empirik “dunia tersendiri” para penyair itu dipatahkan oleh terobosan Binhad dalam kerja- kerja mempuisikan rakyat dan merakyatkan puisi. Terbukti dengan sudah dibuatnya produk kesenian yang tetap estetis, tanpa mencerabut puisi dari makna dasarnya.</p>
<p>Meski bukan yang pertama kali film yang berkisah tentang puisi dan deklamasinya, “Poetry on the Road” besutan Binhad, Oky Arfie, dan mahasiswa program doktor Sastra Indonesia dari Universitas Tasmania, Australia, Andy Fuller jelas berbeda dengan film “Lari dari Blora” dan “Yang Muda Yang Bercinta”nya Almarhum Rendra.</p>
<p>Jika WS. Rendra dalam film itu membacakan sajak- sajaknya sendiri (puisi tampil sebagai selingan), memiliki plot, dan alur cerita layaknya film kebanyakan. Binhad dalam filmnya yang berdurasi sekitar 50 menit itu justru membuktikan bahwa puisinya benar- benar dari rakyat oleh rakyat. Murni film puisi. Tanpa artis yang dikasting dan dibekali kemampuan akting. Tukang ojek sepeda ontel yang membacanya dibonceng sang penyair adalah audiovisual apik untuk membuktikan bahwa rakyat jelata pun mengerti dan mampu membaca puisi.</p>
<p><strong>Melampaui Akar Kepenyairan</strong></p>
<p>Proses kajian akan aliran dalam apresiasi seni dikenal dengan istilah ohne alles interesse (bebas kepentingan sepenuhnya) alias kontemplatif. Dimana capaian kepenyairan Binhad Nurrohmat yang silang pendapatnya termasuk paling ramai di harian <em>Pikiran Rakyat</em>, 5/04/2009, 19/04/2009, 3/05/2009, dan 17/05/2009 oleh Damhuri Muhammad, Yopi Setia Umbara, dan Khudori Husnan terkait kumpulan puisi Demonstran Sexy (2008), polemik ini, yang kemudian mendasari penulis menarik akar kesejarahan penyair Binhad.</p>
<p>Sejarah sastra Indonesia selalu menemu kesimpulan, sebagaimana hasil penelitian Kratz (1987) yang menunjukan bahwa pada 1983, sastrawan Indonesia yang menghidupkan denyut nadi sastra Indonesia banyak berasal dari kedua kiblat, yakni Jawa (52,8%) dan Sumatera (30,3%). Ditinjau dari sisi inilah, pribadi Binhad cukup menarik, pertama dia memiliki darah dan akar pendidikan pesantren di Jawa sekaligus mukim dan menemukan “pencerahan” (kontemplasi kepenyairannya) di Lampung (Sumatera). Kedua, jika puisi- puisi Binhad didedah dalam nalar practical criticism A. Richards (1893-1979) khususnya dalam kitab Demonstran Sexy, mampu melepas teks dari setiap konteks bahkan “terbebas dari jerat pendefenisian puisi yang sudah mapan.”</p>
<p>Ketiga, lihatlah kekenesan Binhad yang sekarang mulai sibuk mengkaji urai ejaan lama, sebagai bentuk pembangkangan atas realitas hamburan kata, banyak yang kemudian menyebutnya sebagai puisi. Dengan kepemilikan tradisi unik kontemplatif ini, status- status Binhad di akun FB misalnya, menemukan karakter dan eksistensinya sendiri. Saya dan mungkin banyak yang sepakat, status dalam FB yang selalu diperbarui bagi orang semacam Binhad, Isbedy Setiawan, (dan ribuan orang lainya) adalah puisi. Lihatlah nyentriknya puisi- puisi Binhad dalam statusnya, membuat kita sering tersenyum getir sambil nyletuk ;”dancuk.. dancuk.. dasar edan!”</p>
<p>Mungkin inilah titik mula pertama kali saya menemukan ruh kesejatian dari kesempurnaan puisi mbeling di era 70an itu (sebab saya belum lahir, hanya membacanya dari majalah aktuil di perpustakaan kakek), hingga menjadikan puisi sebagai bacaan pokok untuk hiburan sekaligus tamasya batin. Membaca puisi- puisi Binhad bisa mengernyitkan dahi karena berpikir, tersenyum getir sebab tersindir, tertawa sendiri karena konyol, dan saya sangat terpuaskan.</p>
<p>Puisi- puisi Binhad termasuk status- statusnya itu, seperti nikotin dan kafein, bikin kecanduan. Semoga keliarannya tidak menggiring pada eksperimen- eksperimen lain, seperti ejaan lama semacam “oe&#8221; untuk “u”, “J” untuk “y” yang cenderung kuno dan mentah ketimbang pembaruan bentuk puisi estetikalkulator-nya. Saya sebagai pembaca dan penggila buku, dengan tulisan ini memesan kumpulan puisi estetikalkulatornya meski entah sudah dipikirkan akan diterbitkan atau belum, buku itu rencananya mau saya gunakan buat rumus soal cerita matematika anak tetangga, atau justru buku itu bisa menambah khasanah puisi Indonesia yang benar- benar <em>avant garde</em>.</p>
<div>
<div>(<strong>Sumber</strong>: dari Catatan Facebook Endri Kalianda [alamat: kang_endri@yahoo.com] berjudul &#8220;Merakyatkan Puisi Memuisikan Rakyat: Puisi Estetikalkulator; Mazhab Baru Puisi Indonesia&#8221; yang disiarkan pada 9 Maret 2010).</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/puisi-estetikalkulator-130.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Binhad dan Neoliberalisme</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/binhad-dan-neoliberalisme-oleh-anton-djakarta-121.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/binhad-dan-neoliberalisme-oleh-anton-djakarta-121.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 06:59:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[SASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[Amien Rais]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[IMF]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati]]></category>
		<category><![CDATA[Neoliberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[PRD]]></category>
		<category><![CDATA[suharto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto Isi puisi Binhad Nurrohmat di bawah ini adalah tonggak perlawanan terhadap Neoliberalisme: ANDAI SAYA BUKAN RAKYAT INDONESIA Andai saya bukan rakyat Indonesia saya akan menutup sumur dan menguruk telaga karena rakyat Indonesia minumnya Aqua dan Coca-Cola. Andai saya bukan rakyat Indonesia saya akan membuka kedai KFC di mana-mana karena rakyat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto</strong></p>
<p>Isi puisi Binhad Nurrohmat di bawah ini adalah tonggak perlawanan terhadap Neoliberalisme:</p>
<p style="text-align: right;">ANDAI SAYA BUKAN RAKYAT INDONESIA</p>
<p style="text-align: right;"><em>Andai saya bukan rakyat Indonesia<br />
saya akan menutup sumur dan menguruk telaga<br />
karena rakyat Indonesia minumnya Aqua dan Coca-Cola.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Andai saya bukan rakyat Indonesia<br />
saya akan membuka kedai KFC di mana-mana<br />
karena rakyat Indonesia senang makanan gaya Amerika.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em><span id="more-121"></span><br />
</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Andai saya bukan rakyat Indonesia<br />
saya akan menggusur pasar dan warung tradisional<br />
karena rakyat Indonesia suka belanja di swalayan dan mal.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Andai saya bukan rakyat Indonesia<br />
saya akan memasok barang-barang dari luar negeri<br />
karena rakyat Indonesia kurang mencintai produk pribumi.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Andai saya bukan rakyat Indonesia<br />
saya akan menghalau perusahaan sumbu kompor<br />
karena rakyat Indonesia merasa lebih keren pakai gas elpiji.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Andai saya bukan rakyat Indonesia<br />
saya akan meruntuhkan gedung-gedung koperasi<br />
karena rakyat Indonesia merasa bergengsi hutang ke bank.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Andai saya bukan rakyat Indonesia<br />
saya akan memborong tambang mineral dan gas bumi<br />
karena rakyat Indonesia malas menggalinya sendiri.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Andai saya bukan rakyat Indonesia<br />
saya akan bikin pabrik dan merekrut buruh Indonesia<br />
karena rakyat Indonesia terkenal sangat murah upahnya.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Andai saya bukan rakyat Indonesia<br />
saya tak akan menggunakan bahasa Indonesia<br />
karena rakyat Indonesia lebih bangga berbahasa Eropa.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Andai saya bukan rakyat Indonesia<br />
saya tak akan menulis puisi tentang penindasan negara<br />
karena rakyat Indonesia gemar puisi derai daun cemara.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Andai saya bukan rakyat Indonesia<br />
saya akan ambil ikan dan pulau di perbatasan Indonesia<br />
karena rakyat Indonesia cuek pada wilayah kedaulatannya.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Andai saya bukan rakyat Indonesia<br />
saya akan mengganti nilai-nilai UUD ’45 dan Pancasila<br />
karena rakyat Indonesia kayaknya tak lagi mengacuhkannya.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Andai saya bukan rakyat Indonesia<br />
saya akan bersekongkol dengan para penguasa<br />
karena rakyat Indonesia tak akan berani melawannya.</em></p>
<p>Neoliberalisme adalah paham yang hidup sejak 1978 (ditandai dengan kejatuhan Bisnis Konglomerasi Pertamina tahun 1976) dan masuknya modal asing secara besar-besaran setelah kelompok Mahasiswa dibantai habis tahun 1974. Liberalisme pasar dimulai ketika Indonesia secara terbuka menerima modal Jepang dan didikte berdasarkan modal pinjaman yang diberikan pihak Jepang. Lalu pada tahun 1988 Liberalisasi Keuangan dibuka oleh Sumarlin lewat beberapa rangkaian Pakto-nya. Kejatuhan Suharto sendiri juga merupakan bagian dari rencana besar Liberalisasi ekonomi di Indonesia. Suharto yang pernah menjadi patron penting dalam ekonomi kapitalis-diktator yang didukung Amerika, lambat laun dianggap sebagai penghalang karena masih melindungi kroni-kroninya dengan menciptakan monopoli, memberikan subsidi dan menghalangi modal asing 100% masuk ke Indonesia. Apa yang dilakukan Suharto untuk melindungi kekuasaannya dipandang sebagai halangan oleh kaum Neoliberal. Lalu mereka menempatkan orang-orang yang sudah terdoktrin otaknya bahwa tanpa IMF Indonesia tidak akan ada apa-apanya.</p>
<p>Gelombang politik 1998 diakhiri dengan sabda Menlu Madeleine Albright yang berkata : &#8220;Sejarah menghendaki Suharto mundur&#8221; sejak itulah kelompok reformis dan penentang Suharto malam main cakar-cakaran sendiri. Kelompok pemberani penentang Orde Baru (Megawati, Gus Dur, Amien Rais dan Kelompok muda PRD, KAMMI dll) tidak lagi menjadi corong penting dalam proses reformasi, mereka terfragmentasi ke dalam sekat-sekat politik dan terjebak pada isu sempit. Sementara kelompok mapan yang didukung Golkar dan infrastrukturnya serta kelompok orang kaya baru malah muncul dengan cepat serta menguasai keadaan. Kelompok ini menguasai sektor : energi, keuangan dan industri. Kelompok ini pula yang dengan cepat sudah memasukkan generasi muda untuk siap dalam menggenggam dunia politik masa depan.</p>
<p>Aksi saling cakar kelompok reformis justru menguntungkan pihak yang dipandang netral dalam pertarungan cakar-cakaran tersebut. Susilo Bambang Yudhoyono, seorang Jenderal yang reputasi tempurnya hampir tidak ada, yang tidak menonjol di jaman Orde Baru dan sama sekali tidak memiliki peran besar dalam kasus-kasus penting selama masa akhir Orde Baru dibanding Jenderal-Jenderal lainnya macam Prabowo, Wiranto, Agum Gumelar, Sutiyoso, Hendroprijono atau Subagyo HS malah mencuat namanya berkat jasa Gus Dur dan Megawati yang memberi peran lebih luas pada SBY. Namun dibalik itu, SBY melihat peluang besar dia bisa ke puncak no.1, dia sadar aksi saling cakar pemimpin reformis justru merusak citra mereka. Amien Rais, Gus Dur, Megawati sudah rusak citranya. Untuk itu dia melakukan politik pencitraan di tahun 2004, dan politik ini sungguh berhasil. Awalnya Jusuf Kalla berhasil menekan SBY dengan bargain dukungan Golkar, dan JK memasukkan sekelompok pengusaha Kadin untuk memegang peran penting dalam dunia ekonomi. Namun aksi ini gagal setelah Jusuf Anwar gagal melakukan permasalahan-permasalahan di departemen keuangan lalu SBY mengusir semua orang JK di pos ekonomi dan menggantikan dengan sekelompok orang yang fanatik terhadap Ekonomi Pasar. Pengertian SBY dalam menstabilkan ekonomi adalah menyerahkan pada pasar seluruhnya, soal pelaku ekonomi lokal belum siap bertarung di pasar, itu adalah permasalahan hukum pasar dan pemerintah tidak akan mengganggu gerak modal yang bertarung di pasar.</p>
<p>Arus besar Liberalisme ini yang kemudian menjadi pilihan politik SBY. Hal ini kemudian sudah dibaca kelompok-kelompok mahasiswa 1974 dan 1978 yang sudah paham bahwa &#8220;Pembuat Bangkrut Indonesia&#8221; sesungguhnya bukan korupsi, bukan monopoli, dan bukan diktator karena hal itu adalah derivat, bangkrutnya Indonesia lebih di dorong pada : BETAPA BERKUASANYA MODAL ASING DI INDONESIA. hal inilah yang kemudian menjadikan turunan-turunan atas tindakan negatif para penguasa.</p>
<p>Liberalisasi juga mengubah orientasi mentalitas bangsa Indonesia. Di jaman Sukarno dan Sedikit di jaman Suharto rasa patriotisme masih begitu tinggi. Namun Liberalisme di Indonesia mencuci otaknya seakan kaum urban adalah bagian penting dunia Internasional, bagian dari kesejarahan konsumtif Amerika. Maka cara berbicara kita adalah Inggris, kita lebih bangga menggunakan bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia, cara makan kita, cara barat. Cara hidup kita ala barat. Kita didoktrin untuk melakukan hidup dengan membeli barang-barang asing, kita tidak pernah diajarkan untuk bisa swadesi dan swasembada, kita tidak pernah diajarkan untuk menjadi diri kita sendiri, menggunakan barang kita sendiri, dan bangga menjadi bangsa Indonesia.</p>
<p>Proklamasi 1945 yang dibacakan di rumah Sukarno sangat sederhana, pelantikan Sukarno pada tanggal 18 Agustus 1945 diselesaikan oleh Sukarno dengan makan sate di pinggir jalan. Kemudian 60 tahun sudah kita berakhir hanya sebagai bangsa peniru. Kita kagum pada Obama bahkan mengindentifikasikan diri kita pada Obama, kita lupa bahwa antara Obama dan Indonesia ada beda sejarah, ada beda persoalan dan ada beda pemahaman. Lihatlah SBY yang dideklarasikan meniru Obama, kacung-kacung penelitinya yang berada dibawah bendera The Fox memuja Amerika dengan begitu hebat. Dia tidak sadar bahwa Indonesia adalah Indonesia, dia tidak sadar bahwa Indonesia memiliki kesejarahannya sendiri, memiliki persoalan-persoalannya sendiri dan persoalan terbesar di Indonesia adalah bagaimana mengakumulasi kekayaan kita sendiri. Neoliberalisme dan sikap Pak Turut SBY kepada Amerika Serikat serta Pasar Bebas adalah sikap politik yang berbahaya untuk masa depan. Sudah saatnya kita berpikir untuk menjadi diri kita sendiri, bertindak dengan cara kita sendiri, membangun karakter kita sendiri dan berbuat dengan cara kita sendiri. Seperti ucapan Hatta ketika melihat awal modal asing masuk di jaman Orde Baru &#8220;betapa lemahnya kita sekarang melindungi perdagangan dalam negeri kita, yang seharusnya berada dalam tangan bangsa Indonesia sendiri &#8230;&#8221;.</p>
<p>Hatta pula yang berkata di depan pengadilan Den Haag : &#8220;Hanya satu tanah yang dapat disebut tanah airku. Ia berkembang dengan amal , dan amal itu adalah amalku.” Ketika amal kita diperbudak asing, amal kita didikte atas kuasa modal asing, maka yang ada Indonesia tidak ditentukan oleh tangan orang Indonesia sendiri, melainkan tangan atas kuasa modal asing&#8221;</p>
<p>Percayalah satu-satunya yang bisa mengubah Indonesia adalah sikap kita, orientasi pikiran kita dan kesadaran sejarah kita, bahwa Indonesia adalah Indonesia yang memiliki persoalan-persoalannya sendiri, budayanya sendiri, kedaulatannya sendiri dan berhak atas kekayaannya sendiri. Dari sinilah mari kita berikhtiar untuk tidak lagi tergantung pada kuasa modal asing.</p>
<p>(Sumber: <a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;22f04a63e19abe82fb01f0e70e5fbc36&quot;, event)" rel="nofollow" href="http://anton-djakarta.blogspot.com/2009/09/binhad-dan-neoliberalisme.html" target="_blank">http://anton-djakarta.blogspot.com/2009/09/binhad-dan-neoliberalisme.html</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/binhad-dan-neoliberalisme-oleh-anton-djakarta-121.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Poetry On The Road&#8221;, Saat Puisi Milik Siapa Saja</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/poetry-on-the-road-saat-puisi-milik-siapa-saja-bagikan-120.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/poetry-on-the-road-saat-puisi-milik-siapa-saja-bagikan-120.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 08:52:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[SASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[abdy fuller]]></category>
		<category><![CDATA[binhad]]></category>
		<category><![CDATA[demonstran sexy]]></category>
		<category><![CDATA[okie arfie]]></category>
		<category><![CDATA[poetry on the road]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Siapa pun presidennya tetap miskin rakyatnya. Negara lain giat memproduksi Indonesia gigih mengonsumsi. Rakyatnya senyum saja meski hidup menderita Lantang suara Ucok membaca puisi berjudul ”Karakter Indonesia” karya Binhad Nurrohmat. Aksi Ucok terekam dalam film dokumenter bertajuk Poetry On The Road yang diputar di Warung Apresiasi Sastra, Jakarta, Selasa malam (7/7). Ucok yang hadir dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="note_header" style="text-align: right;"><em>Siapa pun presidennya</em></div>
<div class="note_header" style="text-align: right;"><em>tetap miskin rakyatnya.</em></div>
<p style="text-align: right;"><em>Negara lain giat memproduksi<br />
Indonesia gigih mengonsumsi.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Rakyatnya senyum saja<br />
meski hidup menderita</em></p>
<p>Lantang suara Ucok membaca puisi berjudul ”Karakter Indonesia” karya Binhad Nurrohmat. Aksi Ucok terekam dalam film dokumenter bertajuk Poetry On The Road yang diputar di Warung Apresiasi Sastra, Jakarta, Selasa malam (7/7).<span id="more-120"></span></p>
<p>Ucok yang hadir dalam acara pemutaran film itu tertawa-tawa sendiri melihat aksi dirinya membaca puisi. Sepanjang hidupnya, pria berusia 37 tahun tersebut belum pernah berdeklamasi. Satu-satunya penulis puisi yang diketahui pria lulusan SMA itu ialah si legendaris Chairil Anwar, tetapi itu pun dia lupa judul karyanya.</p>
<p>Sepanjang perjalanan dari Stasiun Bogor sampai dengan daerah Sunda Kelapa, Jakarta Utara, penyair Binhad, Oky Arfie, dan mahasiswa program doktor Sastra Indonesia dari Universitas Tasmania, Australia, Andy Fuller, ”menodong” tukang ojek, pengamen, pedagang kerupuk, anak sekolah, sopir angkot, penumpang, sopir bus, sampai masinis kereta untuk membaca puisi-puisi Binhad yang terkumpul dalam buku Demonstran Sexy.</p>
<p>Polah para pembaca puisi dadakan itu terkadang mengundang senyum, seperti aksi tukang ojek sepeda yang duduk di boncengan sambil membaca puisi, sementara penyair ngos-ngosan mengayuh pedal. Suasana sekitar dan ekspresi si pembaca puisi kemudian direkam langsung.</p>
<p>Ucok sedang berada di pangkalan ojek Bendungan Hilir, Jakarta, ketika tiba-tiba Andy memintanya membaca puisi. Tidak pakai latihan. Spontan saja. ”Ternyata enak juga. Isi puisinya saya gampang ngerti. Kenyataannya memang begitu, kok,” ujar Ucok.</p>
<p>Binhad mengatakan, pembuatan film dokumenter itu dengan keinginan agar puisi dapat dinikmati siapa saja. ”Puisi bisa hadir sebagai peristiwa kehidupan sehari-hari dan tidak selalu mesti elitis,” ujarnya.</p>
<p>Dia mengatakan, selama ini ada anggapan puisi elitis dan eksklusif. Itu karena biasanya penghadiran puisi secara eksklusif oleh seniman dan dipentaskan di gedung-gedung khusus kesenian.</p>
<p>Sepanjang pembuatan dokumenter, Binhad, Andy, dan Oky tidak menemui kesulitan meminta masyarakat yang ditemui di jalan tersebut untuk spontan membaca puisi di depan umum. Masyarakat Indonesia kental dengan tradisi lisan sehingga ketika diminta membaca karya-karyanya tidak terlalu sulit.</p>
<p>Andy Fuller menambahkan, pembuatan dokumenter itu didasari apakah puisi bisa hidup di tengah masyarakat umum. Mereka yang terlibat dapat pembacaan puisi itu bisa dikatakan orang-orang yang terpinggirkan dari acara-acara sastra. ”Masyarakat ternyata bisa tertarik dengan puisi. Mereka semangat ketika diminta spontan membaca dan orang-orang sekitarnya juga mengapresiasi dengan mendengarkan. Bahkan, ada yang kemudian memberikan kritik,” ujar Andy. (INE)</p>
<p>(Sumber: <span>Kompas, Kamis, 9 Juli 2009)</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/poetry-on-the-road-saat-puisi-milik-siapa-saja-bagikan-120.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Polemik Kitab Puisiku &#8220;Demonstran Sexy&#8221;</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/polemik-kitab-puisiku-demonstran-sexy-117.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/polemik-kitab-puisiku-demonstran-sexy-117.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 May 2009 05:11:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[SASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[binhad nurrohmat]]></category>
		<category><![CDATA[damhuri muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[demonstran sexy]]></category>
		<category><![CDATA[Homerus]]></category>
		<category><![CDATA[Imrul Qays]]></category>
		<category><![CDATA[julian benda]]></category>
		<category><![CDATA[Khudori Husnan]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[Neruda]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Rendra]]></category>
		<category><![CDATA[Walter Benjamin]]></category>
		<category><![CDATA[Wiji Thukul]]></category>
		<category><![CDATA[Yopi Setia Umbara]]></category>
		<category><![CDATA[yudi latif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[KESADARAN PUITIS &#38; POLITIK Oleh Damhuri Muhammad, Cerpenis, bermukim di pinggiran Jakarta Bagaimana semestinya sastrawan menyikapi keriuhan retorika politik yang belakangan ini tampak semakin mentereng? Perlukah seorang penyair menyelami realitas politik yang ingar-bingar dan penuh intrik itu -setidaknya melibatkan sebentuk kesadaran politik dalam gairah kepenyairannya atau sebaliknya-sebagaimana petuah Julian Benda (1928)- karena sudah &#8220;ditakdirkan&#8221; untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix">
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=953894&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=82019353665&amp;aid=-1&amp;oid=82019353665&amp;id=1043542687"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/photos-ak-snc1/v3905/10/61/1043542687/n1043542687_953894_2455094.jpg" alt="" /></a></div>
<div>KESADARAN PUITIS &amp; POLITIK</div>
<div>
<p><strong>Oleh Damhuri Muhammad,</strong><br />
<em>Cerpenis, bermukim di pinggiran Jakarta</em></p>
<p>Bagaimana semestinya sastrawan menyikapi keriuhan retorika politik yang belakangan ini tampak semakin mentereng? Perlukah seorang penyair menyelami realitas politik yang ingar-bingar dan penuh intrik itu -setidaknya melibatkan sebentuk kesadaran politik dalam gairah kepenyairannya atau sebaliknya-sebagaimana petuah Julian Benda (1928)- karena sudah &#8220;ditakdirkan&#8221; untuk mencari kepuasan di ranah kesenian, dan oleh karena itu, para penyair seyogianya menjauh dari zona kesadaran politik. Agar lelaku kepenyairan tetap terjaga, tidak terkontaminasi efek kuasa politik yang sejak dari perkembangan yang paling purba telah dianggap ancaman laten.<span id="more-117"></span></p>
<p>Tapi, apalah guna sebait sajak yang hanya mampu menggambarkan setetes embun yang jatuh di atas sehelai daun, atau hujan bulan November yang mengingatkan ia pada serpihan-serpihan yang hilang. Mengawang-awang, tak membumi, sesekali bahkan utopia. Ada atau tak adanya bait-bait cengeng itu tidak akan berpengaruh pada fenomena kebimbangan massal lantaran imbauan-jika tidak bisa disebut &#8220;tekanan&#8221;-untuk menegaskan sebuah pilihan, di saat kita sedang mengalami krisis kepercayaan yang semakin banal. Jangankan pada orang yang belum dipilih, yang nyata-nyata sudah terpilih pun sukar dipercaya. Itu sebabnya ongkos kampanye melonjak tinggi. Sejatinya, bila ada trust, tentu ongkos politik tidak akan mahal sebagaimana kini.</p>
<p>Janji-janji pun diikrarkan, segala modus dan siasat dikerahkan, termasuk dengan membeli kepercayaan itu dengan harga tinggi. Segala macam retorika berhamburan. Sebagaimana penyair, para politisi pun membacakan &#8220;puisi&#8221; di hadapan khalayak, guna menyentuh perasaan, meraih simpati hingga akhirnya terpanggil untuk menjatuhkan pilihan.</p>
<p>Lalu, di mana para penyair semestinya tegak berdiri? Berpangku tangan sembari menonton dari puncak menara kepenyairannya? Atau turun gunung, lalu merancang semacam budaya tanding guna mengimbangi retorika politik yang kerap menyesatkan itu?</p>
<p>Inilah ketegangan yang disuarakan oleh sajak-sajak dalam antologi Demonstran Sexy (2008), karya Binhad Nurrohmat. Alih-alih takut terkontaminasi oleh efek kuasa politik, sajak-sajak Binhad justru sedapat-dapatnya menyekutukan kesadaran puitis dengan kesadaran politik. Meski dengan persekutuan dua sumbu kesadaran itu sajak-sajaknya menjadi sangat sederhana, cair, dan menyehari, misalnya:</p>
<p style="text-align: right;"><em>Dari pemilu ke pemilu<br />
Undang-Undangnya selalu baru<br />
kayak orang ganti baju</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Dari pemilu ke pemilu<br />
banyak kontestannya yang baru<br />
Ada yang asli dan palsu.</em></p>
<p>Tidak ada yang asing, apalagi rumit, dalam sajak &#8220;Pemilu Modis&#8221; itu, hingga gampang dicerna siapa saja, termasuk kelompok anti-puisi sekali pun. Tapi, ekspektasi puitis tentu tidak sekadar mampu melakukan simplifikasi puisi-dari gelap menjadi terang, dari kabur menjadi terang, dari keruh menjadi jernih-lebih jauh, tentu tidak harus terjerumus pada hal-hal remeh dan tak berkedalaman, sebagaimana lelaku retorik para politisi yang hendak disanggahnya. Ada benarnya tinjauan pakar sosiologi politik, Yudi Latif, yang menulis epilog untuk antologi itu, bahwa relasi penyair dengan realitas politik sesungguhnya bukan tanpa persoalan. Bila kurang waspada, efek kuasa politik bisa lebih dominan daripada otoritas kepenyairan itu sendiri.</p>
<p>&#8220;Tak ada penulis yang kebal dari `jaring laba-laba` politik,&#8221; begitu kata Luisa Valenzuela, sastrawan Argentina, &#8220;Dunia bernapas politik, makan politik, berak politik.&#8221;</p>
<p>Tengoklah sajak &#8220;Sumpah Penyair&#8221; karya Binhad:</p>
<p style="text-align: right;"><em>Penyair Indonesia,<br />
berani hidup tanpa uang pensiun.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Penyair Indonesia,<br />
tidak menjual harga diri puisinya.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Penyair Indonesia,<br />
menjaga kerukunan rumah tangga.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Penyair Indonesia,<br />
tidak suka berdusta kepada rakyat.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Penyair Indonesia,<br />
pantang mencuri harta masyarakat.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Penyair Indonesia,<br />
setia menjunjung martabat bangsa.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Penyair Indonesia,<br />
mendukung pemimpin yang bijak.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Penyair Indonesia,<br />
menebarkan cinta ke seluruh dunia.</em></p>
<p>Alih-alih dapat dipersepsi sebagai puisi, malah terdengar begitu memukau sebagai slogan. Bukankah ini bahasa politik yang telah menyaru ke dalam tubuh puisi? Dalam batas-batas tertentu, sajak ini lebih terasa sebagai kesadaran politik ketimbang kesadaran puitis itu sendiri. Inilah salah satu bukti perihal efek kuasa politik terhadap lelaku ujaran para penyair. Itu pula sebabnya, Mudji Sutrisno, dalam sebuah diskusi baru-baru ini, mengungkapkan bahwa sajak-sajak Binhad dalam buku itu berada di posisi yang tarik-ulur antara &#8220;puisi sejati&#8221; dan &#8220;puisi yang terlibat&#8221;. Bila ditimbang sebagai &#8220;puisi sejati&#8221; ia mendekonstruksi semua &#8220;syarat-rukun&#8221; yang mengabsahkan sebuah pencapaian estetika puisi. Tapi bila diposisikan sebagai &#8220;puisi yang terlibat&#8221; ia tidak menegaskan sebuah usungan ideologi sebagaimana &#8220;puisi-pusi terlibat&#8221; lazimnya.</p>
<p>Sebegitu gamblangnya muatan sajak-sajak itu, penyair Radhar Panca Dahana sampai-sampai dengan sumringah menantang; &#8220;Kalau hanya segitu, saya bisa menulis 30 puisi dalam sehari.&#8221; Lain lagi dengan Yudi Latif, sajak-sajak pendek seperti Tuhan, beri aku kekuasaan/Kekuasaan, beri aku uang (Munajat Pejabat), sepadan dengan gejala instan dari gaya hidup generasi SMS, yang sangat berpeluang untuk jatuh menjadi slogan dan pamflet. Di sini, lagi-lagi lelaku ujaran puitis tak berdaya menandingi kuatnya arus kuasa politik. &#8220;Sajak-sajak Binhad itu hendak memperlihatkan gairah estetisasi puisi atau justru terjebak pada estetisasi politik?&#8221; begitu Mudji Sutrisno mempertanyakan.</p>
<p>Namun, di sebalik semua tudingan perihal kegamblangan-bila tidak bisa disebut kedangkalan-itu, bagaimanapun juga, antologi Demonstran Sexy itu telah berjasa membumikan puisi, menjadi rumusan teks yang bisa dicerna siapa saja, puisi menjadi mampu memperkenalkan dirinya sendiri, tidak seperti puisi-puisi yang konon berselera tinggi, yang bahkan setelah diulas oleh sejumlah kritikus, tetap saja gelap, bahkan di mata para penyuka puisi sekali pun. Tengoklah pula sajak &#8220;Menjelang Pemilu&#8221;:</p>
<p style="text-align: right;"><em>Ayo dukung saya!<br />
Ayo coblos saya!</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Bersama kita bisa<br />
gratiskan sekolah yang sudah roboh gedungnya.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Bersama kita bisa<br />
menangkapi semua koruptor lantas melepasnya.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Bersama kita bisa<br />
mewujudkan negara kita paling miskin sedunia.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Please, saudara-saudara!<br />
Siapa berani pilih saya?</em></p>
<p>Jitu. Tanpa basa-basi. Langsung ke pokok soal. Tajam.</p>
<p>Maka, hanya ada dua pilihan; puisi sejati, tapi rumit, mbulet, dan hanya berguna bagi kritikus dan segelintir penyuka puisi belaka, atau sajak-sajak gamblang dan sederhana ala Binhad-meski dianggap slogan atau pamflet-tapi sangat berguna bagi rakyat jelata? Tuan pilih yang mana?***</p>
<p>(Sumber: <em>Pikiran Rakyat</em>, Bandung, Minggu, 5 April 2009)</p>
<p>***</p>
<p>DAM, DAM, DAM</p>
<p><strong>Oleh Yopi Setia Umbara,</strong><br />
<em>penyair, bergiat di ASAS UPI Bandung.</em></p>
<p>AWALNYA saya tidak terlalu tertarik dengan esai Damhuri Muhammad (selanjutnya disebut Dam) yang berjudul &#8220;Kesadaran Puitis &amp; Politik&#8221; yang diterbitkan di suplemen Khazanah di Pikiran Rakyat (Minggu, 5 April 2009). Karena, untuk sebuah esai judul macam itu biasa banget, kurang provokatif. Atau, mungkin Dam sengaja memilih judul itu, supaya tulisannya terkesan up to date. Maklum, pada waktu itu menjelang pemilu.</p>
<p>Setelah saya baca perlahan-lahan, ternyata isinya cukup berani juga, kalau tidak ingin disebut sembrono. Barangkali, seberani para calon legislatif yang berebut simpati rakyat untuk kursi yang terbatas. Dam begitu enteng, seolah tanpa tekanan, dan tanpa pertimbangan mengesampingkan beragam estetika puisi lain. Sementara, ia begitu khusyu mempromosikan estetika puisi karya Binhad Nurrohmat dalam antologi Demonstran Sexy (2008) sebagai karya yang membumi.</p>
<p>Dam memang gelisah juga kritis dengan perkara politik, seperti pertanyaan di awal esainya berikut ini, &#8220;Bagaimanakah semestinya sastrawan menyikapi keriuhan retorika politik yang belakangan ini tampak mentereng?&#8221; Sebuah kalimat tanya yang mengesankan kebijaksanaan dan keberpihakan Dam pada rakyat. Seakan-akan dalam pandangannya, sastrawan tidak mampu menyelamatkan negeri yang terombang-ambing situasi politik ini.</p>
<p>Namun, kemudian Dam terpancing untuk memaksakan opininya yang tidak sepakat dengan estetika puisi yang menurutnya, &#8220;…apalah gunanya sebait sajak yang hanya mampu menggambarkan setetes embun yang jatuh di helai daun, atau hujan bulan November yang mengingatkan ia pada serpihan-serpihan yang hilang. Mengawang-awang, tak membumi, sesekali bahkan utopia…&#8221; Pernyataan semacam itu semestinya tidak perlu diungkapkan oleh seorang Dam yang rajin menulis esai, juga seorang cerpenis itu. Bukankah Dam seorang sastrawan juga?</p>
<p>Mengenai empat sajak Binhad yang dipromosikan Dam sebagai karya yang membumi, bukanlah persoalan rumit. Sebab pilihan estetika merupakan komitmen dan konsekuensi setiap orang untuk memilih jalan puisi yang hendak ditempuhnya. Akan tetapi, ketika Dam mempromosikan sebuah estetika, lantas menggugat estetika yang lain tanpa ampun, apalah bedanya ia dengan politisi yang digugatnya.</p>
<p>Barangkali Dam lupa, bahwa sajak bukanlah kendaraan untuk menyampaikan suatu gagasan tertentu secara gamblang. Atau, Dam yang kecewa dengan fenomena politik yang bebal ini lantas mengambinghitamkan sajak-sajak yang menurutnya tidak membumi itu. Lalu, Dam menghukum para penyair, pencipta karya-karya yang sukar, dengan dalih kepentingan rakyat yang sukar memahaminya.</p>
<p>Sementara, Dam sendiri cukup ragu-ragu, ketika menentukan sajak Binhad berjudul &#8220;Sumpah Penyair&#8221;. Menurutnya, &#8220;alih-alih dapat dipersepsi sebagai puisi, malah terdengar begitu memukau sebagai slogan…. Lantas ia menyebutkan bahwa Binhad mendekonstruksi &#8220;syarat rukun&#8221; pencapaian estetika puisi. Ah, naif sekali Bung Dam ini. Seolah-olah konsep semacam sajak Binhad belum pernah ada sebelumnya. Tapi, saya percaya, sebagai perajin esai Dam tentu membaca karya Widji Thukul atau Rendra.</p>
<p>Pernyataan-pernyataan yang disodorkan Dam, tentu saja penting untuk diperhatikan, apalagi diluruskan. Sebab cara Dam memandang sajak dan mendudukkannya, seolah-olah menganggap karya-karya yang lain sebagai bersalah. Bahwa sajak-sajak yang heroik lebih baik, ketimbang sajak-sajak yang ditulis di bilik yang gelisah dengan penghayatan riwayat hidupnya.</p>
<p>Sedemikian tertekankah Dam? Terseret untuk menyampaikan opini yang sarkastik, di tengah-tengah situasi sosial-politik yang tidak membahagiakan ini. Sehingga dengan entengnya, ia menafikan segala kemungkinan bahasa-yang sarat simbol dan makna-sebagai medium utama karya sastra. Jika dunia sastra diharapkan mampu memberikan kesadaran politik kepada rakyat, jangan dengan menyederhanakan persoalan, dong.</p>
<p>Mental pragmatis seperti inilah justru yang dapat menyakiti dunia sastra sendiri. Selalu menganggap bahwa rakyat kecil adalah pembaca awam dunia sastra. Tapi mempersempit kesempatannya memasuki dunia sastra dari berbagai jalan. Setiap karya sastra dengan estetika seperti apa pun, merupakan jalan masuk bagi setiap orang untuk membaca karya sastra, kemudian berupaya memahaminya. Memahami dalam hal ini, bukan menafsirkan, tetapi bagaimana karya sastra yang dibaca memberikan kesan tertentu bagi pembacanya (setiap pembaca pasti paham tentang hal ini).</p>
<p>Memang, di akhir tulisannya, Dam menyerahkan pilihan kepada pembaca untuk memilih karya macam apa pun untuk dibaca. Akan tetapi, Dam tetap menegasikan jenis estetika puisi. Dam keukeuh menyatakan, mana estetika yang &#8220;berguna&#8221; dan &#8220;tidak berguna&#8221; bagi rakyat.</p>
<p>Maka, jika Dam ingin berbicara perkara &#8220;guna&#8221; atau &#8220;fungsi&#8221;, mau tidak mau ia harus bicara konsep paling sederhana dari puisi atau untuk apa puisi diciptakan. Meski, dalam konteks ini Dam berbicara perkara tentang kesadaran puitis dan politik. Dari zaman baheula sekali pun, pusi merupakan ekspresi seseorang dengan media bahasa, yang berguna sebagai penyucian diri.</p>
<p>Oleh karena itu, setiap estetika puisi yang dikreasi setiap penyair dengan kerja kerasnya, tentu saja akan berguna jika kita membacanya dengan mata dan hati yang terbuka. Sebab, segala peristiwa dan fenomena sosial politik yang tampak dan terasa dampaknya, secara reflektif akan memengaruhi setiap orang untuk tumbuh dengan kesadarannya masing-masing. Begitu juga kesadaran pada sesuatu yang puitis, atau bahkan perkara politik sekali pun. Dengan demikian, puisi tidak akan dilantunkan dalam kesia-siaan, meminjam kata-kata Pablo Neruda, penyair Chili paling dihormati di Amerika Latin, pada pidatonya saat menerima Nobel tahun 1971.</p>
<p>(Sumber: <em>Pikiran Rakyat,</em> Minggu, 19 April 2009)</p>
<p>***</p>
<p>BERGERAK BERSAMA PUISI</p>
<p><strong>Khudori Husnan</strong><br />
<em>pengkaji sejarah seni dan filsafat.</em></p>
<p>&#8220;Menjadi penyair hebat harus juga menjadi audiens yang mumpuni&#8221; &#8211; Walt Whitman</p>
<p>RISALAH Damhuri Muhammad &#8220;Kesadaran Puitis &amp; Politik&#8221; (Pikiran Rakyat, 5/4) menyiratkan keterpesonaan pada Demonstran Sexy (2008) Binhad Nurrohmat. Sebaliknya Yopi Setia Umbara lewat &#8220;Dam, Dam, Dam&#8221;(Pikiran Rakyat, 19/04/09), meski judul tersebut terkesan melecehkan Damhuri, sepaham dengan Damhuri terkait kesejajaran kedudukan puisi dan politik yang diangkat keduanya.</p>
<p>Pablo Neruda dikutip Yopi sebelum menyudahi tulisannya. Neruda, salah satu puisinya berjudul &#8220;Coretan-coretan untuk Lenin,&#8221; termasuk penyair besar yang syair-syairnya baik &#8220;formal&#8221; maupun &#8220;materi&#8221; terpusat pada relasi timbal-balik antara puisi dan politik yang ini berbeda tajam dengan ekspresi seni yang &#8220;terkesan&#8221; harus steril dari kepentingan politik. Tema ini dalam sejarah seni abad ke-19 lampau disebut &#8220;Seni untuk Seni.&#8221;</p>
<p>&#8220;Seni untuk Seni,&#8221; jika Yopi Setia Umbara konsisten, itulah pokok kesimpulan yang mungkin dari tulisannya mengingat baginya &#8220;Dari zaman baheula sekali pun, puisi merupakan ekspresi seseorang dengan media bahasa, yang berguna sebagai penyucian diri.&#8221;</p>
<p>Genealogi &#8220;Seni untuk Seni&#8221; dapat ditelusuri jejaknya pada ekspresi seni yang bervisi seniman dan karya seni hanya dapat diapresiasi segelintir orang; relasi kehidupan seni dan kehidupan keseharian (ordinary life) manusia bersifat antithetical, tak dapat dikombinasikan dan direkonsiliasikan.</p>
<p>Dengan kata lain, pengasingan seniman dari konteks sosial adalah warisan seniman-seniman romantik, terkait pemahaman atas misi Ilahi, anugerah khusus (baca talenta) terkait superioritasnya atas manusia kebanyakan. Dalam kosa-kata pemikir Immanuel Kant, yang karya-karyanya banyak dijadikan pembenaran filosofis seni romantik yang berbuah formalisme itu, apresiasi seni adalah ohne alles interesse (bebas kepentingan sepenuhnya) alias kontemplatif.</p>
<p>Pandangan ini mendapat gempuran paling telak dari para seniman yang menimba gagasan dasar dari filsafat Marx. Meski Karl Marx tidak pernah menulis traktat khusus tentang seni tetapi pandangannya tentang basis dan superstruktur membuka jalur ke arah kesenian revolusioner.</p>
<p>Dalam tafsir yang lazim atas pemikiran filsafat Marx, seni, budaya, hukum, dan agama mengeram dalam superstruktur. Seni (formalis) dituding menebarkan jejaring kesadaran palsu dan berwatak ideologis sehingga harus didobrak. &#8220;Art should not be a mirror,&#8221; pekik kelompok konstruktivis (Soviet), &#8220;but a hammer!&#8221;</p>
<p>Dalam rangka konfrontasinya dengan Damhuri, apakah Yopi setia dengan argumentasi yang dibangunnya? Tidak. Karena diam-diam ia sepakat dengan Damhuri terkait pokok paling mendasar tulisannya pertama, &#8220;kesadaran politik kepada rakyat&#8221; dan kedua, masalah transformasi fungsional seni. Perbedaan terletak hanya pada, ungkapan Yopi, &#8220;jangan dengan menyederhanakan persoalan, dong.&#8221;</p>
<p>TERKAIT kumpulan puisi Binhad Nurrohmat, Demonstran Sexy, Damhuri menulis: &#8220;Bila ditimbang sebagai `puisi sejati’,&#8221; puisi-puisi dalam Demonstran Sexy &#8220;mendekonstruksi semua `syarat rukun` kadar estetika puisi. Tapi bila diposisikan sebagai `puisi yang terlibat` ia tidak menegaskan sebuah usungan ideologi sebagaimana `puisi-pusi terlibat` lazimnya.&#8221;</p>
<p>Tulisan di atas mengesankan adanya dua hal. Pertama, puisi-puisi Demonstran Sexy bukan puisi sejati kedua bukan &#8220;puisi-puisi terlibat&#8221;. Kalau Demonstran Sexy dinikmati secara lebih akrab idiom-idiom dalam &#8220;puisi sejati&#8221; dan idiom-idiom &#8220;puisi terlibat&#8221; keduanya tampak &#8220;bertukar tangkap&#8221; begitu intim meski tak dapat dipungkiri Demonstran Sexy memiliki kelihaian mengelak dari aneka definisi.</p>
<p>Simak, misalnya (Republik Puisi) Dari puisi oleh puisi dan untuk puisi; (Karakter Indonesia) Menjadi demokrat sejati /bila punya bakat kompromi; (Teologi Reformasi) Suara rakyat suara tuhan/mari ganyang sang tiran!; (Doa Reformis Sejati)Tuhan, berkahilah Indonesia serta beri selamat dan lindungi kami dari pejabat berwatak jahat; (Perbedaan Penyair) Kau angkatan `66/gue angkatan 69.</p>
<p>Imajinasi tentang doa, gairah, kesejatian, rakyat, demokrasi, reformasi, dan Indonesia melekat kuat dalam benak pengarangnya. Pada tingkat tertentu pengaburan batasan idiom-idiom inilah yang menjadi sekaligus kelemahan dan kekuatan puisi-puisi dalam Demonstran Sexy.</p>
<p>Dalam sejarah seni idealisasi yang terlalu pada &#8220;puisi sejati&#8221; berdampak pada formalisme. Sebaliknya penekanan berlebihan pada &#8220;puisi-puisi terlibat&#8221; akhirnya terperosok pada rezim komunisme. Demonstran Sexy rupanya tak mau berjejak secara ekstrim di salah satu kutub sebaliknya ia asyik bermain di antara dua kutub tersebut. Binhad sedang berupaya membuka diri untuk menjadi audiens yang baik atas dinamika kehidupan sosial mereka yang kerap dikucilkan.</p>
<p>Bagaimana menempatkan Demonstran Sexy?</p>
<p>Menurut Bradley dan Esche (2007), menjelang abad ke-21 seni bertransformasi menjadi apa yang disebut sebagai &#8220;gerakan tentang gerakan-gerakan&#8221; (movement of movements) dari mulai avant-gard modernis berikut gagasan dan komitmen politis yang diusungnya hingga gerakan-gerakan yang secara definitif mengugat modernisme artistik.</p>
<p>&#8220;Gerakan tentang gerakan-gerakan&#8221; adalah ungkapan seni berbasis kesadaran akan politisasi seni yang merupakan respons terhadap realisasi seni yang sudah selalu terpolitisasi-manakala karya seni melulu dikangkangi kepentingan kelompok dominan.</p>
<p>Kekhasan &#8220;gerakan tentang gerakan-gerakan&#8221; terletak pada arti penting seni dalam konteks perjuangan politis sebagai suatu pelibatan kebenaran personal, dan kebebasan artistik yang disandarkan pada kebebasan individual. Di samping itu, seni diposisikan sebagai bagian integral kehidupan sehari-hari (Lebenspraxis) keseluruhan anggota masyarakat.</p>
<p>Sayangnya, fenomena &#8220;gerakan tentang gerakan-gerakan&#8221; yang hendak menjadi &#8220;budaya-tandingan&#8221; lambat laun terhisap pada budaya yang mau dilawannya terutama dalam konteks kapitalisme global yang makin canggih seperti sekarang.</p>
<p>Demonstran Sexy mendialektikakan dua gagasan seni di atas; pandangan yang memosisikan seni sebagai representasi perkembangan estetika dan gerakan-gerakan seni pendukung avant-gard dalam upaya memutuskan diri dari kungkungan tradisi demi kreativitas seni (puisi), tanpa maksud menuntaskan.***</p>
<p>(Sumber: Pikiran Rakyat, Minggu, 03 Mei 2009)</p>
<p>***</p>
<p>IKHITIAR MENYELAMATKAN PUISIi</p>
<p><strong>Damhuri Muhammad,</strong><br />
<em>cerpenis, alumnus program studi Kesusasteraan Arab<br />
dan pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.</em></p>
<p>SENI paling unggul adalah seni yang mampu membangkitkan hasrat-berkehendak setelah sekian lama tersumbat. Begitu ketegasan penyair masyhur kelahiran Pundjab, India, Muhammad Iqbal, sebagaimana dikutip S.A. Vahid dalam Iqbal, His Art &amp; Thought (1916). Oleh karena itu, the dogma of art for the sake of art is a clever invention of decadence to cheat us out of life and power (dogma seni untuk seni adalah sebuah rekayasa cerdas dari kebobrokan yang mengecoh agar kita semakin terasing dari realitas kehidupan dan kekuatan) lanjut Iqbal lagi. Bagi penulis epos Javid Nama (1932) itu, seni harus menghayati manusia dan segala kehidupannya. Di samping memberi rasa nikmat, seni harus dapat memandu pikiran manusia. Demikian Iqbal menegakkan kepenyairannya, sebagaimana tercermin dalam Asrar-i Khudi (1915), Rumuz-i Bekhudi (1918), dan Payam-i-Mashriq (1923).</p>
<p>Tak disangsikan bahwa puisi adalah ekspresi estetik paling hulu. Induk segala bentuk ekspresi sastrawi, dan belum ada yang melampauinya. Itu sebabnya, penyair Arab tersohor, Adonis (Ali Ahmad Said), tak segan-segan menyejajarkan antara &#8220;jalan kepenyairan&#8221; dengan &#8220;jalan kenabian&#8221;. Baginya, penyair-dengan azwaq al-adaby (cita-rasa sastra) yang mereka genggam-sanggup menggapai anak-tangga paling puncak guna menangkap pesan-pesan profetik sebagaimana kemampuan nabi dalam menyambut risalah Tuhan yang bermuasal dari lauh-mahfuz.</p>
<p>Bila filsuf Arab, Al-Farabi (870-950) menegaskan bahwa derajat kenabian dapat diraih oleh manusia-manusia khawwas (khusus) berkat pencapaian mereka pada jenjang aql-fa`al (akal aktif), maka dalam batas-batas tertentu golongan penyair juga berlabuh di maqam itu. Thomas Patrick Hughes dalam Dictionary of Islam (1895) mencatat tujuh nama penyair Arab klasik yang lahir dari tradisi muhazzabat dan muallaqat ini, antara lain: Zuhair, Trafah, Imrul Qays, Amru ibn Kulsum, al-Haris, Antarah, dan Labid.</p>
<p>Di antara tujuh penyair itu, yang paling berpengaruh adalah Imrul Qays (wafat 550 M), sebagaimana diakui al-Ashma`i dalam al-Fuhul asy-Syuara` (1971). Imrul Qays memperlihatkan gairah pencarian terhadap kesadaran puitik yang sama sekali baru, setidaknya bila ditakar dengan langgam estetika puisi &#8220;jahiliyah&#8221;. Diterabasnya batas-batas, dilanggarnya tabu, dibangkitkannya hasrat-berkehendak yang selama berkurun-kurun tertimbun dalam ortodoksi dan kekolotan tetua-tetua kabilah Quraisy, dengan menciptakan metafora baru yang tanpa disadarinya ternyata melampaui konvensi-konvensi bahasa yang masih merujuk pada masa lalu. Aku naiki kuda dalam peperangan/bagaikan belalang/lembut gemulai/jambulnya tergerai menutupi wajahnya, begitu bunyi salah satu sajaknya.</p>
<p>Bagi Adonis, gairah kepenyairan para perintis genre sajak rasya` (ratapan), ghazzal (erotik), dan madh (pujian) itu memperlihatkan rancangan realitas yang terus berubah (mutahawwil) sebagai antitesis dari ortodoksi, dan fanatisme tokoh-tokoh Quraisy yang stagnan, dogmatis, atau dalam bahasa Adonis, as-tsabit (yang tetap).</p>
<p>Contoh sederhana ini kiranya dapat memaklumatkan betapa beratnya beban yang dipikul puisi. Ia mengemban desakan gerak transformasi sosial dan kultural dalam masyarakat yang melahirkannya. Sama halnya dengan tanggung jawab para nabi yang dengan teks-teks suci memikul risalah guna menyempurnakan watak dan moralitas umat. Maka, tidak ada alasan untuk bermain-main, apalagi mendistorsi martabat kepenyairan menjadi puisi-puisi yang hanya mahir berbicara tentang hujan, salju, embun, atau bunga mawar.</p>
<p>**</p>
<p>GAGASAN ganjil inilah yang menjadi pangkal-bala silang pendapat antara saya (Kesadaran Puitis &amp; Politik, &#8220;PR&#8221;, 5/4) dan Yopi Setia Umbara (Dam, Dam, Dam, &#8220;PR&#8221;, 19/4). Beberapa hari selepas esai saya diturunkan, dengan nada sinis, seorang sejawat penyair bertanya, &#8220;Benarkah tuan mencintai puisi?&#8221; Tegas saya menjawab, &#8220;Sepenuh hati.&#8221; Akan tetapi, tampaknya itu belum dapat melenyapkan kecurigaannya pada saya, yang menurutnya tidak bulat-bulat menyukai puisi. &#8220;Tapi mengapa tuan bilang; apalah guna sebait sajak yang hanya mampu menggambarkan setetes embun yang jatuh di atas sehelai daun?&#8221; tanyanya lagi. Saya jadi maklum, ternyata kalimat itu telah membuat panas kuping seorang penyair. Ia tidak sedang bertanya, tapi menagih pertanggungjawaban atas kesembronoan saya, lantaran telah meremehkan pencapaian estetika dari puisi-puisi gemulai yang dibelanya itu. &#8220;Sebab, bagi saya, itu bukan puisi!&#8221; Begitu saya mengakhiri pembicaraan.</p>
<p>Antologi sajak Demonstran Sexy (2008) karya Binhad Nurrohmat yang menjadi cikal-soal perbantahan ini, bagi saya, dapat menjadi umpan yang jitu guna memancing penggalian yang lebih berkedalaman perihal nilai-guna puisi di tengah kebisingan suasana politis yang kian hari kian menyengsarakan. Bila Khudori Husnan (PR, 3/5) menimbangnya dengan hipotesis &#8220;bergerak bersama puisi&#8221;, saya hendak menegaskan; puisi-tidak hanya puisi Binhad, tentunya-adalah gerak (aksi) itu sendiri, sebab ia subjek yang aktif, bukan sekadar medium. Di tangan Binhad, puisi selekasnya mesti turun dari menara gading kepenyairan yang sejak lama dipuja-puji itu. Puisi harus merakyat, hidup berdampingan dengan rakyat, muasal puisi itu sendiri. Ini berarti puisi harus segera &#8220;diselamatkan&#8221; dari keterasingan lantaran keterikatannya pada kultus dan ritus, sebagaimana syair-syair Homerus di masa lalu.</p>
<p>Walter Benjamin (1892-1940) pernah membincang perihal pudarnya basis-basis kultus dan ritual seiring dengan gelombang sekularisasi pascarenaisance, yang di satu sisi memang mengakibatkan seni kehilangan otentisitas dan otonomi, tapi pada sisi lain, seni mampu mendedahkan emansipasi sosial tanpa harus bergantung pada ritus dan kultus itu. Menurut Benjamin, sesuatu yang menarik dalam paradigma baru sejarah seni itu adalah bahwa ruang kosong yang di masa lalu diisi oleh ritus dan kultus, dalam seni modern dipenuhsesaki oleh praktik sosial lain, yakni: politik. (F. Budi Hardiman, 2007).</p>
<p><span> Sejak itu, seni mengalami perubahan dari coraknya yang esoterik menjadi eksoterik. Seni mulai disuguhkan secara langsung pada &#8220;rakyat jelata&#8221;-meminjam ungkapan khas Binhad-dan tentu saja sarat dengan muatan politis, sebagaimana terlihat pada drama-drama karya Bertold Brecht (1898-1956). Segala bentuk tabir yang selama berkurun-kurun telah mengaburkan makna puisi, harus selekasnya disingkap, dibuka selebar-lebarnya, agar ia dapat dimasuki oleh sebanyak-banyaknya &#8220;umat puisi&#8221;. Demonstran Sexy yang ditegakkan atas dasar kepekaan politis demi tendensi praksis-emansipatoris-oleh</span> karena itu ia bermuatan politis-meski bukan tanpa persoalan, agaknya dapat menjadi langkah awal dalam ikhtiar &#8220;menyelamatkan&#8221; riwayat perpuisian kita yang akhir-akhir ini semakin tertimbun di lubuk keterasingan&#8230;</p>
<p>(<strong>Sumbe</strong>r: <em>Pikiran Rakyat</em>, Minggu 17 Mei 2009)</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/polemik-kitab-puisiku-demonstran-sexy-117.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Demonstran Sexy” Bicara Politik</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/%e2%80%9cdemonstran-sexy%e2%80%9d-bicara-politik-116.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/%e2%80%9cdemonstran-sexy%e2%80%9d-bicara-politik-116.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 May 2009 07:46:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[SASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[VIDEO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana Demonstran Sexy “melenggang” di dalam kepala penulis dan pembacanya? Sebuah diskusi buku mengupas karya Binhad Nurrohmat digelar oleh Bale Sastra Kecapi, Jakarta. Yeni Rosa Damayanti dan Rieke Diah Pitaloka mengarak poster serta mikrofon ke jalan raya. Inul Daratista &#38; Ayu Utami berteriak keras sekali, “Ayo, tolak RUU Antipornografi &#38; Pornoaksi!” Ini adalah isi puisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="article_seperator"> </span> <script type="text/JavaScript"><!--
		&amp;lt;! // &amp;gt;&amp;lt;![CDATA[//&amp;gt;&amp;lt;! 
			function mxclightup(imageobject, opacity){
				 if ((navigator.appName.indexOf("Netscape")!=-1) &#038;&#038; (parseInt(navigator.appVersion)&amp;gt;=5)){
					imageobject.style.MozOpacity=opacity/100;
				 } else if ((navigator.appName.indexOf("Microsoft")!= -1) &#038;&#038; (parseInt(navigator.appVersion)&amp;gt;=4)){
					imageobject.filters.alpha.opacity=opacity;
				 }
			}
		// &amp;gt;&amp;lt;!]]&amp;gt;
// --></script></p>
<div id="content">
<table class="contentpaneopen" border="0">
<tbody>
<tr>
<td class="contentheading" width="100%"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div id="fullarticle">
<table class="contentpaneopen" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="100%" valign="top">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Bagaimana <em>Demonstran Sexy</em> “melenggang” di dalam kepala penulis dan pembacanya? Sebuah diskusi buku mengupas karya Binhad Nurrohmat digelar oleh Bale Sastra Kecapi, Jakarta.</p>
<div style="text-align: right;"><em>Yeni Rosa Damayanti dan Rieke Diah Pitaloka</em><br />
<em>mengarak poster serta mikrofon ke jalan raya.</em></p>
<p><em>Inul Daratista &amp; Ayu Utami berteriak keras sekali,</em><br />
<em>“Ayo, tolak RUU Antipornografi &amp; Pornoaksi!”</em></p>
</div>
<p>Ini adalah isi puisi &#8220;Demonstran Sexy&#8221; yang diambil dari buku yang berjudul sama, karya Binhad Nurrohmat. Sebuah kumpulan puisi terbitan Penerbit Koekoesan, Depok, dengan tahun cetak 2008 ini memuat 103 halaman ungkapan pikiran Binhad.</p>
<p><img title="Diskusi Buku Demonstran Sexy di Kafe Darmint--27 Maret 2009--photo by Ayu" src="http://www.indofamily.net/images/stories/diskusi%20buku%20demonstran%20sexy%20di%20kafe%20darmint--photo%20by%20ayu%20andini--maret2009.jpg" alt="Diskusi Buku Demonstran Sexy di Kafe Darmint--27 Maret 2009--photo by Ayu" hspace="10" width="405" height="166" align="absbottom" /></p>
<p>Bale Sastra Kecapi menggelar diskusi pada minggu terakhir Maret 2009 lalu, di Kafe Darmint, Jakarta. Acara ini melibatkan pembicara-pembicara populer di ranah budaya sekaligus politik Indonesia. Mereka adalah, Romo Mudji Sutrisno, Yudi Latif, dan penulis buku <em>Demonstran Sexy</em>, Binhad Nurrohmat.<span id="more-116"></span></p>
<p><strong>Meminjam Bentuk </strong><br />
Ketika politik jadi sentral obrolan penulisnya dalam buku ini, tak pelak Binhad melibatkan Yudi Latif (pengamat politik Indonesia) untuk ikut bicara sastra dari sudut pandang yang lain.</p>
<p>Menurut Yudi Latif, puisi-puisi Binhad banyak memotret proses demokratisasi di Indonesia. Yudi memahami bahwa sastra tak pernah kehabisan bahan persoalan untuk diungkap lebih jujur.</p>
<p>Lebih lanjut, ia berpendapat bahwa sastra memiliki artikulasi tanding untuk menghadapi ortodoksi negara. Penyair mampu melakukan defamiliarisasi sekaligus familiarisasi.</p>
<p>“Ini upaya Binhad dalam mengambil jarak untuk mengucapkan realitas yang ada sekarang. Ada teknik apropiasi. Meminjam bentuk lama dari gaya WS. Rendra atau Teater Koma, namun dengan isi yang baru,” papar Yudi.</p>
<p><strong>Syair yang Ekstrovert</strong><br />
Syair-syair puisi Binhad yang ekstrovert (terbuka tanpa tedeng aling-aling) ini mampu membuat wajah pembacanya bergonta-ganti mimik. Mulai dari kesal, hingga tertawa terpingkal-pingkal.</p>
<p>Binhad Nurrohmat memang punya gaya yang sedikit “binal”, maksudnya ia tak pernah sungkan menyebut kata-kata: seks, montok, bahenol, kiai, bahkan kata-kata coblos dan koruptor, dalam puisi-puisinya.</p>
<p><img title="Demonstran Sexy karya Binhad Nurrohmat--photo by Ayu" src="http://www.indofamily.net/images/stories/demonstran%20sexy--kumpulan%20puisi%20karya%20binhad%20n--photo%20by%20ayu%20andini-maret2009.jpg" alt="Demonstran Sexy karya Binhad Nurrohmat--photo by Ayu" hspace="10" width="249" height="345" align="left" />Di tengah musim kampanye partai-partai politik sepanjang bulan Maret 2009 ini, buku kumpulan puisinya yang berjudul <em>Demonstran Sexy </em>pun jadi makin sexy untuk dijadikan bahan pembicaraan.</p>
<p>Puisi-puisinya penuh dengan kata-kata yang ringan. Binhad tak butuh kata-kata bersayap layaknya puisi-puisi dalam buku <em>Hujan Bulan Juni </em>karya Sapardi Djoko Damono yang tampak manis melukis cinta. Binhad begitu galaknya menyumpahi dirinya sebagai penyair. Sebagaimana dalam puisinya berjudul &#8220;Sumpah Penyair&#8221;, ia dengan lantang bicara bahwa sesungguhnya penyair Indonesia memang jujur, namun melarat dari segi ekonomi.</p>
<p>Membaca puisinya yang genap berjumlah 103 judul dalam buku ini, bagaikan sedang membuka<em> inbox memory sms</em> dalam <em>handphone</em> yang anda miliki. Pesan-pesan pendek yang terus-menerus disimpan, karena kata-katanya penting dan enak dibaca.</p>
<p>Bentuknya memang dianggap paling kini. Tapi jika jaman Rendra melejit dengan puisi-puisinya yang melengking berteriak menghujat itu, masyarakat sudah dibanjiri<em> handphone</em>, mungkin puisinya akan sama bentuk dengan karya Binhad sekarang.</p>
<p>Binhad berani tampil sebagai karakter yang “menabrak segala dinding” termasuk mengakui kelemahan-kelemahan dirinya sendiri. Sedikit tampak paradoks, namun itulah yang memang dicoba untuk diungkap seutuhnya oleh Binhad.</p>
<p>Kegelisahannya terhadap nasib para penyair di bumi Indonesia, dan keresahannya terhadap berbagai hal, diungkap dalam bukunya. Termasuk menariknya pemandangan ketika para demonstran cantik yang ia lihat rela berteriak garang di tengah jalan raya, menyerukan, “Ayo tolak RUU pornografi dan pornoaksi!”</p>
<p>Romo Mudji Sutrisno, mengulasnya sedikit lebih berat dengan menyebut karya-karya Binhad sebagai figur yang berusaha keluar dari ruang publik yang pengap.</p>
<p>“Buku ini dianggap bisa jadi cermin, apakah terjadi politisasi poetika, atau estetisasi politik?” ujar Romo. Menurut frame pemikirannya walau syair Binhad sangat lugas, tetap ada upaya memperindah kekalutan dari berbagai peristiwa politik di dalamnya.</p>
<p>Radhar Panca Dahana, juga memandang karya Binhad bagaikan karya penyair tahun 1950 hingga angkatan 1970-an yang cenderung romantik.</p>
<p>“Kecenderungan sastrawan jaman sekarang kebanyakan membentuk puisi dengan gaya  prosaic. Ini sebenarnya adalah retorika. Kebanalan puisi-puisi seperti ini dibongkar dengan hadirnya bentuk puisi karya Binhad. Binhad berani lebih jujur dan lugas,” pungkas Radhar, sastrawan kawakan yang kini menjadi Direktur di Bale Sastra Kecapi.</p>
<p>Sebelum buku ini terbit, Binhad telah menerbitkan dua buku berjudul<em> Kuda Ranjang</em> (2004) dan <em>Bau Betina</em> (2008). Karyanya telah diterjemahkan dalam Bahasa Inggris dan diterbitkan pula dalam edisi bahasa Mandarin. Dua bukunya ini sempat menoreh polemik di beberapa media massa.</p>
<p>Selebihnya melalui buku <em>Demonstran Sexy</em>, ternyata Binhad punya harapan yang sangat sederhana.</p>
<p>“Saya ingin kurangi sakit kepala para pembaca, dengan memberi kalimat-kalimat sederhana. Masalah-masalah rumit yang terjadi di sini, saya coba sederhanakan dengan cara saya,” demikian papar Binhad.<strong> </strong></p>
<p>(Sumber: Ayu Andini, www.indofamily.net, 02-04-2009 15:59)</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/%e2%80%9cdemonstran-sexy%e2%80%9d-bicara-politik-116.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A Reading with Binhad Nurrohmat</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/a-reading-with-binhad-nurrohmat-115.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/a-reading-with-binhad-nurrohmat-115.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 11:33:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[VIDEO]]></category>
		<category><![CDATA[binhad nurrohmat]]></category>
		<category><![CDATA[Cirebon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[This reading was filmed on the north-central coast of Java in the port city of Cirebon. The film shows  Binhad Nurrohmat reading a poem he wrote on a previous visit to the city. The title of the poem is &#8220;Dermaga Cirebon&#8220;: &#8220;dermaga&#8221; means &#8220;pier&#8221; or &#8220;jetty&#8221;. The raw footage of the film was screened at [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="385" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/Zjf83HsMBgo&amp;hl=en&amp;fs=1" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="385" src="http://www.youtube.com/v/Zjf83HsMBgo&amp;hl=en&amp;fs=1" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>This reading was filmed on the north-central coast of Java in the port city of Cirebon. The film shows  Binhad Nurrohmat reading a poem he wrote on a previous visit to the city. <span id="more-115"></span>The title of the poem is &#8220;<em>Dermaga Cirebon</em>&#8220;: &#8220;<em>dermaga</em>&#8221; means &#8220;pier&#8221; or &#8220;jetty&#8221;. The raw footage of the film was screened at a discussion on the literary works of Seno Gumira Ajidarma on November 29th, 2008, at the Cirebon Arts Council (<em>Dewan Kesenian Cirebon</em>). Although the discussion was held on a Saturday night, there were around sixty–eighty people in attendance: a relatively good turnout. The discussion was led by three presenters— Binhad Nurrohmat, Ahmad Syubbanuddin Alwy and myself. Two local actors read a story each by Seno: one was about a murdered son in East Timor, the other was about a soccer player who &#8220;dribbles&#8221; a ball from one country to the next. Part of the purpose of the discussion was to analyse the elements of urban life in the works of Seno. A second aim was to participate in a critical reading of a popular and established author. The third aspect was the reading itself. The critical analysis of a literary text is enriched by its being performed and &#8220;practiced.&#8221; Performance and analysis were shown to be complementary discourses.</p>
<p>The idea for this film of Binhad reading his poem came from footage I took of him when we visited Sunda Kelapa harbour in northern Jakarta. Binhad and I had hired two bicycle <em>ojek</em>. While sitting on the back of a bicycle, I recorded Binhad with my handheld camera as he talked about the scene before us. He did not know that I was recording him. While I was recording him, he told an anecdote about one of Indonesia’s most famous poets: Chairil Anwar. Binhad said that after having his love rejected by a woman, Anwar visited Sunda Kelapa and wrote the poem—<em>Senja di Pelabuhan Kecil</em>, &#8220;Sunset at a Small Port&#8221; (1946). Anwar has cast a long shadow of influence over Indonesian poets. His way of living and the manner in which he died (not to mention his vivid and lyrical poems) have become a kind of prototype that is either criticised or taken up by contemporary poets. His call, &#8220;<em>aku mau hidup seribu tahun lagi</em>&#8221; (&#8220;I want to live for a thousand more years&#8221;) from the poem, <em>Aku</em> (I), is a call to live life in an intense manner and to struggle against all that restricts an individual.</p>
<p>Binhad Nurrohmat is a poet who grew up in the city of Lampung, south Sumatra. Born to Javanese migrants, Binhad’s education is mainly derived from his time at Krapyak Islamic school in the central Javanese city of Yogyakarta. One of his collections of poetry has been translated by a scholar of Indonesian literature and popular culture, Dr.Marshall Clark (of Deakin University, Australia). The book is a bilingual publication (<em>The Bed Horse</em>/<em>Kuda Ranjang</em>, Depok: Penerbit Koekoesan, 2008). Clark became interested in Binhad Nurrohmat after meeting him by coincidence at a famous second-hand literature bookshop in central Jakarta.</p>
<p>Binhad’s poetry has been published in most of the major literary newspapers in Indonesia, including <em>Kompas</em> and <em>Tempo</em>. Due to the highly explicit imagery of the poems in his first two books of poetry—<em>Kuda Ranjang</em> (<em>The Bed Horse</em>) and <em>Bau Betina</em> (<em>The Smell of a Bitch</em>)—Binhad has attracted a lot of disparaging criticism. Some critics have been shocked that a poet with such strong Islamic learning can write so openly and brazenly about casual sexual relationships. Despite the relative furore surrounding his books, Binhad has remained unbowed. His most recent book of poetry, <em>Demonstran Sexy</em>, though, shows a different side of his understanding of contemporary Indonesia. Unlike <em>The Bed Horse</em> and <em>The Smell of a Bitch</em>, Binhad doesn’t foreground the body as a privileged passage to meaning. Instead, Binhad makes fun of recent Indonesian political history and questions the legitimacy of some current debates about literature and what it means to be an authentic poet.</p>
<p>Binhad is one of many poets and writers who have moved from towns or cities outside of Java to the capital of Jakarta. Some might say that his poems, which deal with the sexual liberty of a metropolitan city and the anonymity it fosters, are part of Binhad’s process of making sense of his relatively new locale. Nonetheless, Binhad has proven himself to be an adroit mover in his career as a poet. He makes his living only through his writing. He is also active as an organiser of literary discussions, made possible through his wide socialising and many contacts in different cities and towns in both Java and Sumatra.</p>
<p>Sometimes his fame, based on his controversial poems, is an aid to his career; at other times it has hindered his progress, typecasting him as a writer of a particular kind of poems. As such, the break he has made in <em>Demonstran Sexy</em> is a skilful manoeuvre as it forces critics to reconsider Binhad’s poetic abilities and sensitivity. Binhad’s education in traditional Islamic teaching has also provided him with the scope to participate in public discussions about Islam. What’s more, he has the opportunity to negotiate both &#8220;Islam&#8221; and what it means to live in cosmopolitan and secular Jakarta from the perspective of a writer living on the margins of his society.</p>
<p>Binhad wrote this poem while at the quay at Cirebon. To have the author read the poem at the place where he wrote it was a rare opportunity for me, as someone from outside Indonesia who generally reads works of Indonesian literature amongst the silence of library walls. A reading of the poem at the place where it was written is not necessarily more &#8220;authentic&#8221; than one held on a stage at a swanky café in Jakarta with the audience sitting quietly and attentively beneath dimmed lights. The purpose of the film is to create a dialogue between what an author wrote and the setting or inspiration that give rise to it. Binhad’s poem took me to a new place: Cirebon and its quay. His poem and his reading of it provided an opportunity for questions on the process of writing and performing. His poem extended my self-imposed borders.</p>
<p><a href="http://wordswithoutborders.org/?sec=AndyFuller">By Andy Fuller</a>, <a href="http://wordswithoutborders.org/?sec=April2009">April 2009</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/a-reading-with-binhad-nurrohmat-115.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Binhad Nurrohmat: &#8220;Saya Tak Ingin Terpenjara oleh Apapun&#8221;</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/binhad-nurrohmat-saya-tak-ingin-terpenjara-oleh-apapun-114.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/binhad-nurrohmat-saya-tak-ingin-terpenjara-oleh-apapun-114.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 11:06:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[SASTRA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Dulu ada yang bilang Sutardji mata kiri dan Chairil mata kanan. Kini aku yang bilang puisi kalian rata kiri dan puisiku rata kanan. Binhad Nurrohmat adalah seorang pemberontak. Dia dengan sadar memorak-porandakan tatanan baku perpuisian Indonesia. Tak hanya Chairil, Sutardji Calzoum Bachri yang dikenal sebagai “pembaharu” puisi Indonesia juga ia lawan. “Bukan Sekadar Kredo” adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;">
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-385" title="binhad nurrohmat" src="http://sulhanudin.com/wp-content/uploads/2009/04/binhad-nurrohmat-300x225.jpg" alt="binhad nurrohmat" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align: right;"><em>Dulu ada yang bilang </em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Sutardji mata kiri </em></p>
<p style="text-align: right;"><em>dan Chairil mata kanan.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Kini aku yang bilang</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>puisi kalian rata kiri</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>dan puisiku rata kanan.</em></p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Binhad Nurrohmat adalah seorang pemberontak. Dia dengan sadar memorak-porandakan tatanan baku perpuisian Indonesia. Tak hanya Chairil, Sutardji Calzoum Bachri yang dikenal sebagai “pembaharu” puisi Indonesia juga ia lawan. “Bukan Sekadar Kredo” adalah kredo pemberontakan Binhad termuat di buku pertamanya <em>Kuda Ranjang</em> (Melibas, 2004).<span id="more-114"></span></p>
<p>Kata-kata dalam sajak-sajak Binhad meledak-ledak, nakal dan garang. Dalam sajak “Berak” dengan ringan penyair menuliskan:</p>
<p style="text-align: right;"><em>Anusmu yang bagus</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>saban pagi mengangkangi mulut kakus</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>yang tak bosan menunggu tahimu.</em></p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;">Dan kita tertawa, ingat pengalaman sendiri, ketika ia berkata:</p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;"><em>Zakarmu sekuyu gelambir jompo</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>bungkuk dan malu-malu</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>mengintip puing tahi terjepit bongkah coklat bokongmu.</em></p>
<p><em>Demonstran Sexy</em> kumpulan sajaknya yang paling gres (penerbit Koekoesan, Mei 2008) masih melanjutkan “perlawanan” itu. Kepada mereka yang menjulukinya “seniman perusak moral” dengan santai ia menitipkan pesan dalam puisi “Penyair Pidato Kebudayaan 2006? (hal. 11). Ia juga menulis puisi “Monkey Literary Award” (hal. 45) yang menyindir sebuah ajang sastra berhadiah besar di sini, yang maunya menjadi proyek prestisius, tapi karena kelemahan dalam sistem penjuriannya, kini sering malah menjadi bahan sinisme di kalangan sastrawan sendiri. Ya, dalam kumpulan puisi terbarunya ini semangat “menyindir” Binhad terasa sekali.</p>
<p>Binhad yang merupakan lulusan sebuah pesantren di Yogyakarta ini menolak penamaan sastra pesantren dan bahkan lebih luas santra Islam. Berikut ini hasil wawancara singkat<strong> Muhamad Sulhanudin</strong> dengan si penyair Kuda Ranjang itu:</p>
<p><em>Dalam salah satu artikel anda, anda menolak pelabelan sastra pesantren. Tapi saya menangkap, penolakan anda itu karena belum tergarapnya karya sastra yang disebut sastra pesantren itu. Sebenarnya titik tolak penolakan anda terhadap sastra pesantren di mana?</em></p>
<p>Saya mendukung semua upaya kesusastraan yang sungguh-sungguh melakukan upaya eksplorasi estetik dan tematik, demikian juga terhadap apa yang disebut “sastra pesantren” itu. Upaya-upaya itulah yang akan bisa memperkaya atau memberikan sumbangan berarti bagi khazanah kesusastraan. Bagi saya, istilah sastra pesantren saat ini masih sekadar label, tanpa konsepsi estetika yang jelas.</p>
<p>Sejauh amatan saya, yang disebut sebagai sastra pesantren itu saat ini masih sebatas label sosiologis dan tematik, artinya merujuk asal-usul pengarang yang punya ikatan pengalaman atau kesejarahan dengan kehidupan masyarakat pesantren dan berpokok soal dunia pesantren. Dunia pesantren dalam karya-karya yang disebut sastra pesantren itu masih sekadar menawarkan suatu tema dengan sentuhan yang masih permukaan. Kompleksitas dunia pesantren masih lebih saya temukan dalam kajian akademis, bukan dalam karya-karya yang disebut sastra pesantren itu. Dan secara estetika, karya-karya yang disebut sebagai sastra pesantren itu masih merupakan <em>copypaste </em>dari karya-karya yang dikategorikan bukan sebagai sastra pesantren. Jadi, apa tawaran karya-karya yang disebut sastra pesantren itu? Pendapat saya dalam artikel saya itu merupakan sanggahan dan tantangan saya terhadap “perjuangan” para pengusung sastra pesantren.</p>
<p><em>Penolakan anda terhadap sastra pesantren ataupun sastra Islam, secara langsung maupun tidak berarti telah mengabaikan karya-karya para sastrawan dari kalangan pesantren dan Islam yang di dalamnya kental dengan suasana sastrawannya?</em></p>
<p>Abdul Hadi WM atau siapa pun berhak marah besar terhadap adanya penolakan terhadap sastra Islam di Indonesia saat ini. Tapi marah besar bukan sikap yang tepat menanggapi perkara semacam itu. Sayalah yang pernah melontarkan penolakan pelabelan sastra Islam di Indonesia di hadapan Abdul Hadi WM dalam sebuah forum sastra di Banten sekian tahun lalu. Bagi saya pelabelan sastra Islam itu sulit dipertanggungjawabkan secara estetika dan lebih bermotif dagang, mencari merek, di tengah fenomena gairah orang ber-Islam di tanah air belakangan ini.</p>
<p>Karya-karya pengarang Indonesia saat ini yang disebut sebagai sastra Islam itu sebenarnya secara estetika masih merupakan <em>copypaste</em> dari tradisi sastra Barat, tapi tema yang diusungnya Islami. Menurut saya saat ini tak ada sastrawan Indonesia yang menulis seperti Hamzah Fansuri, Nawawi Al Bantani, Abdurohman As Singkel dll. Demikian juga Abdul Hadi WM, A Mustofa Bisri, Zawawi Imron, maupun Emha Ainun Nadjib. Sejumlah pengarang Indonesia memang mengusung nilai-nilai Islam dalam karyanya, namun bentuk estetikanya bukanlah bentuk sastra Islam seperti rubayat dan yang lain-lain itu.</p>
<p><em>Dalam artikel itu, anda juga menyampaikan bahwa anda justru jadi korban “kesucian” pesantren karena dalam puisi-puisi anda mengumbar syahwat. Dan anda juga merujuk pada </em>serat Centhini <em>bahwa dalam karya yang mengeksplorasi seks terkandung makna yang meninggi. Apakah demikian dengan karya anda?<br />
</em></p>
<p>Seandainya saya tak dianggap sebagai orang yang pernah terlibat dalam dunia pesantren, puisi-puisi saya tak akan dicaci-maki atau dinista orang seperti saat ini. Bagi orang kebanyakan, puisi yang saya tulis tak patut muncul dari imajinasi santri.</p>
<p>Saya kira, nafsu terhadap hal-hal transendensial dalam melihat karya sastra terlalu berlebihan. Juga dalam urusan seks. Apakah karya sastra harus transenden, harus memasuki lapisan kenyataan yang “tinggi” atau “dalam”? Bagi saya, sebuah teks bernilai transenden atau bukan transenden bisa juga tergantung kepada politik pembacaan. Menurut saya, kenyataan memiliki banyak lapisan dan masing-masing lapisan memiliki mutunya masing-masing. Saya merasa sebagai seorang penyair banal dan bergulat menemukan mutu banalitas. Dan saya sering membaca karya sastra yang ingin transenden tapi jeleknya bukan main.</p>
<p>Saya menggarap urusan tubuh dalam karya-karya saya. Tubuh fisikal-biologis, tubuh sosiologis, dan tubuh spiritual-teologis. Trilogi tubuh inilah yang mendasari kelahiran puisi-puisi saya. Tubuh dalam kenyataannya menjalani peran biologis (bekerja atau bercinta), peran sosiologis (tubuh boleh telanjang di kamar mandi, tapi mesti berbaju saat berada di pasar), dan peran spiritual-teologis (tanpa tubuh manusia tak bisa menjalankan naluri spiritual atau teologisnya, misalnya sholat atau berderma). Begitulah puisi-puisi saya. Banyak yang menyebut puisi saya banal. Tapi bagi saya banalitas bukan cela dan ketransendenan tak jarang sekadar kepalsuan yang berbunga-bunga.</p>
<p><em>Sejauh mana pesantren memengaruhi proses kreatif penciptaan puisi-puisi anda?</em></p>
<p>Saya sudah menulis beberapa buku dan silakan saja menilai apakah latar belakang pesantren saya memberi kontribusi atau tidak terhadap karya-karya saya itu. Saya sudah menulis, dan menulis itu pekerjaan melelahkan, apalagi kalau saya diminta menjelaskan karya-karya saya itu. Saya pernah di pesantren dan saya bergulat dalam dunia kesusastraan. Sebenarnya saya merasa sebagai manusia yang menulis dan pesantren hanya sebagian dari kenyataan hidup saya sebagai manusia. Saya tak ingin terpenjara oleh apapun, juga oleh pesantren. Banyak kenyataan di luar pesantren yang tak kalah nilainya ketimbang kehidupan pesantren.</p>
<p>(Sumber: www.sulhanudin.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/binhad-nurrohmat-saya-tak-ingin-terpenjara-oleh-apapun-114.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orientasi &#8220;Demonstran Sexy&#8221;</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/orientasi-demonstran-sexy-113.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/orientasi-demonstran-sexy-113.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2009 11:47:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[SASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[bau betina]]></category>
		<category><![CDATA[binhad nurrohmat]]></category>
		<category><![CDATA[demonstran sexy]]></category>
		<category><![CDATA[kuda ranjang]]></category>
		<category><![CDATA[santri]]></category>
		<category><![CDATA[taufiq ismail]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Sahlul Fuad, S-2 Antropoligi Universitas Indonesia. Siapa yang mengenal Binhad sebagai penyair? Apakah dia sangat populer di negeri ini, sehingga keberadaannya sangat berpengaruh bagi mental dan akhlak bangsa ini akibat karya-karyanya? Konon, menurut hasil survei, ternyata Binhad bukan orang yang sangat terkenal di seluruh pelosok nusantara. Meskipun berkali-kali namanya tercantum di koran-koran terkemuka, tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml><br />
<w:WordDocument><br />
<w:View>Normal</w:View><br />
<w:Zoom>0</w:Zoom><br />
<w:PunctuationKerning /><br />
<w:ValidateAgainstSchemas /><br />
<w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid><br />
<w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent><br />
<w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText><br />
<w:Compatibility><br />
<w:BreakWrappedTables /><br />
<w:SnapToGridInCell /><br />
<w:WrapTextWithPunct /><br />
<w:UseAsianBreakRules /><br />
<w:DontGrowAutofit /><br />
</w:Compatibility><br />
<w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel><br />
</w:WordDocument><br />
</xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml><br />
<w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"><br />
</w:LatentStyles><br />
</xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"<br />
classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span></p>
<style>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
</style>
<p><![endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Oleh Sahlul Fuad,</p>
<p class="MsoNormal">S-2 Antropoligi Universitas Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal">
<p>Siapa yang mengenal Binhad sebagai penyair? Apakah dia sangat populer di negeri ini, sehingga keberadaannya sangat berpengaruh bagi mental dan akhlak bangsa ini akibat karya-karyanya?</p>
<p>Konon, menurut hasil survei, ternyata Binhad bukan orang yang sangat terkenal di seluruh pelosok nusantara. Meskipun berkali-kali namanya tercantum di koran-koran terkemuka, tidak banyak orang mengenalnya, apalagi mengenalnya sebagai penyair. Bahkan almarhumah ibunya sendiri pun tak tahu kalau anaknya yang gondrong itu seorang penyair legendaris. Hanya penyair-penyair &#8220;serius&#8221;-lah yang mengenalnya sebagai penyair. Dengan demikian, persoalannya makin jelas bahwa kepopuleran Binhad Nurrohmat tak lebih hanya sebatas para penyair yang menganggapnya penyair. Dan untuk itu, dua buah buku puisi Binhad yang sebelumnya diperkirakan tidak berarti apa-apa bagi moralitas dan akhlak bangsa Indonesia.<span id="more-113"></span></p>
<p>Mungkin melalui buku ketiga, yang berjudul Demonstran Sexy ini, Binhad sadar atas ketidakpopuleran ini dan menginsyafkan diri dengan menulis sajak sebagai berikut:</p>
<p>Kampanye Penyair</p>
<p>Anak-anak sekolah banyak tak kenal penyair legendaris seperti saya,<br />
maka saya temui mereka sampai pulau terpencil untuk foto bersama.</p>
<p>Saya berlinang air mata sebab anak-anak muda tak baca karya sastra.<br />
Mr. Funding, give me much money untuk mencetak kitab sajak saya.</p>
<p>Dari sajak tersebut, Binhad bukan saja menyadari betapa dirinya, dan juga para penyair lainnya sangat tidak dikenal oleh publik, padahal tiap pekan dia sudah mempopulerkan diri melalui koran, tetapi juga menunjukkan keprihatinannya ataslemahnya daya tarik masyarakat terhadap karya sastra, khususnya genre puisi. Mungkin juga, dari sajak ini, Binhad, yang pernah diserang habis-habisan oleh seorang penyair senior bernama Taufiq Ismail karena sajak-sajak sebelumnya, ingin menunjukkan bahwa buku Kuda Ranjang dan Bau Betina, serta yang hanya termuat di koran, tidak akan bisa mengubah mental dan akhlak bangsa Indonesia yang religius ini.</p>
<p>Kitab puisi ketiga, yang lahir dari tangan penyair santri yang nahdliyyin ini, benar-benar hadir sebagai demonstran. Pesan-pesannya yang nakal dan cerdas membombardir identitas dan obsesi para penyair masa lalu, kini, dan (mungkin) yang akan datang. Selain itu, sasaran tembak puisi ini juga dimoncongkan ke<br />
arah para politisi, pejabat publik, dan tentu saja para pemimpin negara.</p>
<p>Berbeda dengan dua kitab sebelumnya, sajak-sajak Binhad dalam kitab ini diucapkan dengan diksi-diksi yang tidak membuat pembacanya mengerutkan dahi, apalagi merasa jijik, seperti yang dialami oleh Taufiq Ismail. Diksi-diksi yang dipilih oleh penyair ini tampaknya dianggap tidak terlalu penting, tetapi lebih<br />
mementingkan kedalaman maknanya. Hal ini bisa dipahami dari salah satu puisinya yang berjudul Penyair Hakikat, yang berbunyi sebagai berikut:</p>
<p>Penyair Hakikat</p>
<p>Kutanggalkan permainan kata-kata</p>
<p>puisiku mencari kedalaman makna.</p>
<p>Memang, ada yang tidak berubah dari dua kitab sebelumnya, yaitu tampilan puisi dengan bentuk rata kanan. Melalui bentuk ini, tampaknya dia benar-benar ingin menunjukkan identitasnya secara konsisten sebagai penyair margin kanan. Akan tetapi, yang berubah sama sekali dari sajak-sajaknya adalah Binhad tidak lagi<br />
melakukan eksplorasi tubuh sebagai alat ucapnya, yang di kemudian hari, konon, banyak menimbulkan fitnah. Mungkin Binhad taubat, lalu mengeluarkan manifesto melalui puisinya sebagai berikut:</p>
<p>Manifesto</p>
<p>My body is state of my own<br />
where meanings are fluttering.</p>
<p>Selain itu, puisi-puisi yang tampil dalam buku ini jauh lebih pendek-pendek dari puisi-puisi sebelumnya, yang panjang-panjang. Bahkan, ada satu puisi yang tidak tampak bunyinya, yaitu puisi yang berjudul Penyair Laten. Puisi ini hanya ditulis judulnya saja. Akan tetapi, melalui judul tersebut, kita akan mengetahui maknannya.</p>
<p>Dari kitab Demonstran Sexy ini, tampaknya Binhad benar-benar mempertontonkan kepada kita jenis estetika puitik sajak-sajaknya dengan tidak lagi pada bentuk bunyi kata-kata, tetapi pada asosiasi maknanya, baik yang wujudkan dalam kata maupun non kata, sehingga bagi yang tidak memahami latar belakang sosio kultural kelahiran puisi-puisi ini akan sulit menangkap keindahan puisi-puisi jenis ini.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">(Sumber: wall facebook Binhad Nurrohmat, 5 April 2009)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/orientasi-demonstran-sexy-113.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sikap Puisi dalam Dimensi Publik</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/sikap-puisi-dalam-dimensi-publik-111.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/sikap-puisi-dalam-dimensi-publik-111.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2009 11:33:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[SASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[binhad nurrohmat]]></category>
		<category><![CDATA[cafe darmint]]></category>
		<category><![CDATA[civil society]]></category>
		<category><![CDATA[damhuri muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[demonstran sexy]]></category>
		<category><![CDATA[fanatisisme]]></category>
		<category><![CDATA[habermas]]></category>
		<category><![CDATA[jargon politik]]></category>
		<category><![CDATA[orde baru]]></category>
		<category><![CDATA[radhar panca dahana]]></category>
		<category><![CDATA[romo mangun]]></category>
		<category><![CDATA[widji thukul]]></category>
		<category><![CDATA[yudi latif fx mudji sutrisno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Dalam buku Demonstran Sexy, Binhad Nurrohmat melawan kecenderungan puisi mutakhir. Sebagai bagian dari karya seni yang diciptakan manusia, sastra tidak pernah kehilangan persediaan persoalan untuk diungkapkan. Sepanjang manusia tetap ada, sastra akan tetap muncul sebagai bagian dari perjalanan sejarah manusia. Namun sejarah juga mencatat beragam perubahan yang dilakukan manusia. Lantas apakah posisi sastra—dalam hal ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span></p>
<style>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
</style>
<p><![endif]--> Dalam buku Demonstran Sexy, Binhad Nurrohmat melawan kecenderungan puisi mutakhir.</p>
<p>Sebagai bagian dari karya seni yang diciptakan manusia, sastra tidak pernah kehilangan persediaan persoalan untuk diungkapkan. Sepanjang manusia tetap ada, sastra akan tetap muncul sebagai bagian dari perjalanan sejarah manusia. Namun sejarah juga mencatat beragam perubahan yang dilakukan manusia. Lantas apakah posisi sastra—dalam hal ini pelakunya—juga ikut berubah atau menetap.<span id="more-111"></span></p>
<p>Posisi sastra dalam kaitannya dengan terus berubahnya kehidupan sosial politik manusia, menjadi tema hangat yang dibicarakan dalam diskusi Sastra dan Slogan Politik, bedah buku puisi Demonstran Sexy karya Binhad Nurrohmat di Darmint Café, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (27/3). Diskusi yang diadakan Balesastra Kecapi ini mengundang budayawan FX Mudji Sutrisno dan pengamat politik Yudi Latif sebagai pembicara dengan dimoderatori oleh Damhuri Muhammad.</p>
<p>Menghubungkan puisi ini dengan perjalanan sosial politis bangsa Indonesia, sama-sama menjadi bahan acuan bahasan kedua pembicara. Bisa dibilang diskusi ini lebih cenderung membicarakan soal posisi sastra dalam ruang publik ketimbang memberi pandangan soal dimensi estetis atas karya-karya puisi Binhad.</p>
<p>Sedari awal, Yudi Latif mengakui bahwa dalam mengupas karya Binhad, ia mengabaikan dimensi tehnikalitis dan estetika, karena ia memilih mendekatinya dari aspek signifikansinya. “Karena saya tidak dalam otoritas untuk memberi pandangan secara estetik. Lagipula, menurut saya ketika sastra tidak pernah kehilangan stock persoalan, sastra bisa mencoba mencari ruang pengucapan alternatif untuk memberi proses artikulasi tanding terhadap persoalan-persoalan itu,” ujar Yudi Latif.</p>
<p>Yudi kemudian membuka diskusi ini dengan membandingkan masa Orde Baru dengan saat ini. Ia melihat bahwa Orba merupakan masa represif otoritarian di mana ortodoksi negara menjadi standar objektifitas. Subjektifitas-subjektifitas di luar negara ditiadakan dengan contohnya ilmu-ilmu sosial atau akademik takluk di bawah ortodoksi negara. “Jalan bagi rakyat untuk keluar dengan pikiran-pikirannya sendiri, justru mendapatkan mediasinya dalam kesusastraan,” kata Yudi yang juga memberi kata pengantar pada buku Binhad.</p>
<p>Situasi saat itu memperlihatkan bagaimana dunia imajiner atau fiksi, menjadi kerajaan objektifitas. Para sastrawan menjadi interpreter dari masalah-masalah sosial. Kita bisa melihat contohnya dalam puisi-puisi Widji Thukul di mana persoalan-persoalan masyarakat saat itu diartikulasikan secara kuat.</p>
<p>Sangat berbalik dengan situasi sekarang. Di mana objektifitas negara hampir hancur lebur, negara tidak bisa membawa standar otoritas. “Kita berayun dari situasi otoriter ke situasi nyaris tanpa otoritas,” kata Yudi. Ia mencontohkan bagaimana negara tidak bisa membuat rule of law, atau bahkan mengeksekusi satu jengkal tanah di jalan tol. Situasi ini memunculkan perlombaan-perlombaan subjektifitas yang mengurung ruang publik. “Yang kita tunggu bagaimana respon kesusastraan di dalam eksplosi samudera subjektifitas identitas ini,” ujarnya menambahkan.</p>
<p>Jika dulu sumber dari represi itu muncul dari representasi negara, maka sekarang ini standar objektifitas luluh oleh lautan subjektifitas dalam bentuk politik identitas, fanatisisme, dan fundamentalisme. Ditegaskan Yudi, ancaman saat ini justru datang dari elemen-elemen civil society.</p>
<p>Yudi mencontohkan sejumlah kasus-kasus fanatisisme yang mengancam. Fanatisisme dalam hal ini adalah suatu paham untuk menolak adanya prinsip representasi. Contoh dalam agama adalah munculnya watak anti ikon, yang ditunjukkan dengan tindakan membakar patung Budha dan ikon-ikon lainnya.</p>
<p>Dalam politik, penolakan representasi ditunjukkan dengan pandangan bahwa kerajaan Tuhan lah yang harus dihadirkan tanpa perlu adanya perantara.</p>
<p>Sedangkan dalam seni, fanatisisme tidak bersedia memahami keberadaan estetika gap. Yakni, di mana realita yang dikemukakan dalam sebuah karya seni tidak selalu merupakan tiruan dari realita sesungguhnya. Pandangan inilah yang dihantam oleh fanatisisme.</p>
<p>Selain lautan subjektifitas, problem kehidupan saat ini adalam persoalan demokrasi di mana tengah terjadi tekanan persoalan kelembagaan dan prosedural yang tidak didukung oleh ruang publik yang sehat. Yudi kemudian mengambil sudut pandang Habermas, di mana ukuran ruang publik yang sehat, adalah ketika terjadi keseimbangan antara dimensi kognitif scientific, praktek moral, dan ekspresif estetik.</p>
<p>Ketiga ukuran itu sedang kosong dalam situasi ruang publik kita. Dihadapkan pada ruang publik yang sakit seperti ini, apakah sastra sebagai rumah kehidupan itu, akan menjadi persoalan itu sendiri atau bisa melahirkan alternatif untuk keluar dari kepengapan ruang publik tersebut.</p>
<p>Jadi mestinya, menurut Yudi, dengan problem ruang publik saat ini, cukup amunisi bagi kalangan sastra untuk melahirkan karya-karya besar.</p>
<p>Adapun posisi karya Binhad dalam situasi ‘sakit’ saat ini, Yudi menilai bahwa ia mewakili pandangan masyarakat saat ini yang tengah kehilangan kepercayaan. “Puisi Binhad menunjukkan aspek distrust. Ia tidak percaya pada penguasa, tidak percaya pada penyair, tidak percaya pada senioritas, bahkan tidak percaya pada Indonesia,” ujar Yudi.</p>
<p>Dalam situasi ketidakpercayaan itu, Binhad melakukan dekonstruksi atas apapun, namun tidak berpretensi untuk melakukan rekonstruksi. Binhad juga dinilainya melakukan pengambilan jarak terhadap realitas kehidupan dengan dua cara: yaitu memfamiliarkan jargon-jargon politik yang tidak akrab di telinga masyarakat, namun juga melakukan sebaliknya. Yaitu menjauhkan atau tidak mengakrabkan istilah-istilah yang sudah dikenal.</p>
<p>Aspek politis mutakhir juga dikaitkan Mudji Sutrisno pada puisi-puisi Binhad. “Saya melihat pentingnya buku ini karena muncul dalam ruang publik yang pengap oleh politisasi, spiritualisasi, fundamentalisasi dan terutama ekonomisasi. Posisi buku ini menjadi enak karena bisa menjadi cermin untuk menunjukkan apakah terjadi politisasi estetika atau politisasi puisi atau estetisasi dari politik itu sendiri,” ujar Mudji Sutrisno.</p>
<p>Di dalam buku ini, Mudji melihat bagaimana Binhad dengan kentara mengkritik penyair yang tampil ke panggung dengan gaya sok politikus, namun mengaku sebagai seorang yang melawan tirani.</p>
<p>Lantas Mudji mengistilahkan karya Binhad ini sebagai salah satu karya yang masih koma. Penjelasan tentang koma ini dikisahkan Mudji lewat kenangannya akan almarhum Romo Mangun Wijaya. Dalam sebuah diskusi, seorang peserta dari kalangan muda, mengeluhkan pada Romo Mangun, bahwa karyanya terlalu menggunakan istilah yang panjang-panjang dan susah dimenegerti. Saat itulah Romo Mangun menjawab bahwa generasi si penanya itu adalah generasi titik. Sementara generasi Romo Mangun adalah generasi koma di mana ketika terbentur jalan buntu, tidak langsung menyerah.</p>
<p>“Buku ini adalah sebuah koma untuk merebut ruang-ruang kultural yang lebih manusiawi dan lebih Indonesia. Termasuk berani untuk mengkritik ke dalam dan keluar,” ujar Mudji Sutrisno.</p>
<p>Adapun pandangan yang lebih mengkritis soal estetika puitis justru berhasil diberikan Radhar Panca Dahana yang hadir dalam diskusi tersebut. Ia menilai puisi Binhad merupakan sebuah ekspresi dalam melawan kecenderungan-kecenderungan puisi mutakhir yang retorik dan prosaik. “Prosaik itu kan bermain-main pada diksi yang lebih dipahami orang awam. Dan kebanalan dalam puisi saat ini, dibongkar oleh Binhad. Dengan kata lain, lebih jujur,” ujar Radhar.</p>
<p>Namun pilihan ini dikelompokkan Radhar sebagai puisi masa romantik yang tentu saja malah kembali ke masa lalu. Di sinilah Radhar menegaskan bahwa hingga sejauh ini, belum ada penyair yang bisa menciptakan artikulasi baru dalam situasi yang disebutnya the dead of literature. (Fransisca Dewi Ria Utari)</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">(Sumber: Jurnal Nasional, Jakarta, Minggu, 29 Maret 2009)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/sikap-puisi-dalam-dimensi-publik-111.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
