Binhad Nurrohmat

going within…

Diskusi Buku “Demonstran Sexy”

Posted by binhad on Apr-6-2009

JAKARTA, KOMPAS.COM–Dinamika politik hari ini mungkin menjadi sebuah sinonim untuk hiruk-pikuk. Tumbuh lebatnya poster dan spanduk yang tak tanggung-tanggung melanggar tata kota, serta menyulap kota menjadi belantara slogan dan jargon hanyalah satu hal. Belum lagi soal substansi politik yang tak pernah terlintas dalam upaya-upaya menyentuh massa itu, atau soal bagaimana kampanye politik kita telah menjadi pekerjaan begitu banal yang hanya menonjolkan luaran atau permukaannya.

Banalitas hingga pelanggaran etis yang berlarut-larut pada dunia politik kita melahirkan sosok dunia sastra yang menggugatnya pada setiap masa. Penyair Rendra, sosok yang mempertemukan sejarah politik dengan sejarah puisi di Indonesia, melalui sajak-sajaknya berupaya menyuarakan mereka yang terpinggirkan oleh pembangunan negara yang menutup matanya sendiri. Atau Romo Mangun melalui upaya yang lebih sunyi menawarkan historiografi Indonesia tandingan untuk membuka kesempatan merenungkan betapa politik saat itu telah mencengkram imaji Indonesia rapat-rapat.

Bale Sastra Kecapi berkeinginan untuk mendiskusikan praktek perlawanan sastra yang kini dicoba dilanjutkan Binhad Nurrohmat melalui buku terbarunya, “Demonstran Sexy”. Melalui sajak-sajak Binhad, diskusi ini hendak meneropong dapatkah sastra membongkar dinamika politik yang kian semrawut namun juga tak berkurang dalam banalitas? Bila iya, bagaimanakah potensinya? Serta, bagaimanakah peran sastra sebagai otoritas nilai yang (seharusnya) mempunyai kekuatan menjaga kewarasan publik dari hiruk pikuk politik—atau mengawasi dinamika politik?

(Sumber: Kompas.com, Kamis, 26 Maret 2009)

Add A Comment