Binhad Nurrohmat

going within…

Di Mana Telinga dan Mata Sastra?

Posted by binhad on May-12-2008

Fulan yang baik,

aku ingin mengabarkan padamu sekelumit saja mengenai negeriku dan sastra mutakhirnya. Bagiku, menyimak skandal politik, berita kriminal, krisis kebutuhan pokok, tawuran antar-warga, maupun bentrokan fisik antar-penganut agama yang sama sungguh tak lebih rendah nilainya ketimbang kegiatan soliterku mencerna sastra. Bagiku, sastra tak cukup dengan unjuk kemahiran mengamalkan serta ketinggian menjunjung disiplinnya sendiri belaka, sastra mesti waspada dan peka kenyataan riil di sekelilingnya. Lagi-lagi bagiku, sastra mesti punya telinga dan mata untuk mendengar dan menyimak, untuk melihat dan menyaksikan hal-hal yang terjadi di luar dirinya. Menurutku, ini wajar belaka dan sama sekali bukan kemulukan. Bila sastra sebatas peka bunyi (sound) bahasa tanpa sadar suara (voice) bahasa, maka sesungguhnya sastra telah mengubur dirinya sendiri dalam liang kesia-siaan.

 

Fulan yang baik,

bukan maksudku hendak menjadikan sastra sebagai sejenis kendaraan pengangkut atau Messiah penyelamat negeriku yang bangkrut. Sastra tak bisa memperbaiki jalan raya yang rusak, sastra tak kuasa menyumpal lubang semburan lumpur panas, dan bukan tugas sastra membereskan hutang negara. Ah, tapi kelirukah sastra bila punya renungan yang mendalam dan literer tentang polah penguasa yang salah mengurus negeriku? Bagiku, tantangan sastra mestinya luar-dalam: kemahiran membentuk dirinya sendiri serta kepekaan dan kedalaman memandang hal-ihwal di luar dirinya sehingga sastra bisa mencerahkan dirinya sendiri dan jadi penerang bagi pembacanya. Please, tak perlu kau buru-buru mengadiliku: “Hai, Binhad! Apa sastramu sudah mengamalkan pandangan sastramu itu?”

 

Fulan yang baik,

aku kerap mual dan merasa hampa pada sastra di negeriku saat ini dan juga tak jarang pada sastraku sendiri. Sastra di negeriku belum beres dengan dirinya sendiri. Rasa percaya diri sastra di negeriku belum kukuh dan kerap menyisir klimis rambut bahasanya belaka dan lupa kepala tempat rambut berakar dan tumbuh. Sastra di negeriku rajin bersolek di muka cerminnya sendiri dalam sebuah kamar terkunci rapat, sehingga suara kenyataan di luar kamar tak terdengar. Sastra di negeriku lebih perlu catwalk mewah dan wangi untuk pamer tampang ketimbang merasakan aroma busuk permukiman orang miskin yang merebak di sekujur negeriku. Inilah sebab yang membuat sastra di negeriku dijauhi masyarakat karena sastra tak menyentuh masalah mereka. Namun, ada suatu kontras: tak sedikit sastra di negeriku yang kelewatan ingin mendekati dan menyelesaikan masalah negeriku dengan melupakan dirinya sendiri.

 

Fulan yang baik,

maafkan pikiran-pikiranku ini. Silakan bila kau menuduhku pikiranku klise atau heroik. Yang jelas, aku merasakan ada yang tak beres dalam kondisi sastra di negeriku, seperti tak beresnya kondisi negeriku. Serunyam inikah?

 

Fulan yang baik,

tahukah kau di mana telinga dan mata sastra negeriku?

Fulan yang baik,

sampai bertemu lagi…

  1. sunlie thomas alexander Said,

    thanks infonya, kawan!

  2. May Mansyur,S.IP Said,

    wah kajian saatranya cukup menggelitik, membuatku saat membaca membuncah nafsuku tanpa henti untuk terus menelanjagi. rangkaian demi rangkaian yang tersambung tanpa skrip..
    Kontekstual dan aktual dech….

  3. Cdean Said,

    Aku jadi pengen nulis lagiiiiiiiiiiiii
    Tulisan main andrenalin emosi buat berkarya menggugah rasa peduli kepada negeri yang membesarkanku.
    Terimaksih.

  4. feni efendi Said,

    idih…….menyeramkan, saya jadi takut deh pada sastra (hihihihi…………)

Add A Comment