SILSILAH INTELEKTUALISME DAN SASTRA DI PESANTREN (sebuah perambahan atas tradisi pesantren, sastra, dan sastra pesantren) Oleh M. Faizi

Menurut Binhad Nurrohmat, definisi sastra pesantren itu tetap rancu dan problematik. Sebab, apa yang dimaksud dengan karya/genre sastra pesantren selama ini tidak jauh berbeda dengan karya sastra lain pada umumnya kecuali hanya pada persoalan tema. Padahal, tema bukanlah ukuran pembentuk genre sastra. Menurutnya, identifikasi pada apa yang disebut sebagai sastra pesantren itu sebatas berurusan dengan aktualisasi tema atau latar belakang pengarangnya yang berhubungan dengan keislaman, kesantrian, dan kepesantrenan; dan bukan berdasarkan unsur-unsur atau kecenderungan “bentuk” kesusastraan yang khas dimiliki oleh apa yang disebut sebagai sastra pesantren itu (Binhad Nurrohmat, 2007).

 

Pesantren merupakan salah satu kekayaan khazanah pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan yang cenderung pada keagamaan, pemondokan (karantina), serta penerapan pola pendidikan selama 24 jam merupakan salah satu keunikannya. Karena itu pulalah, pesantren dianggap sebagai pengejawantahan local genus pendidikan Nusantara yang sejati.

Kekayaan lektur dan intelektualisme pesantren dibuktikan dengan banyaknya kitab-kitab turats yang ditulis oleh para mushannif (pengarang) berlatar pesantren. Karya-karya ini tidak saja populer di Indonesia, melainkan juga hingga ke tanah Arab. Di antara para pengarang tersebut antara lain adalah: Syekh Abdus Shamad Al-Falimbani, Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Yasin al-Fadani, Kiai Ihsan Jampes, Kiai Ma’shum Ali, Kiai Hasyim Asy’ari, dan lain-lain. Contine reading

Jimly Asshiddiqie Puji Puisi Binhad Nurrohmat

JAKARTA, PedomanNEWS.com – Jimly Asshiddiqie bukan hanya menaruh perhatian dengan masalah politik dan hukum, tetapi seni pun tak luput dari pengamatannya. Hal tersebut ditunjukkannya ketika menghadiri deklarasi Jarsindo, ketika seniman Binhad Nurrohmat membacakan dua puisinya.

Puisi Binhad berisikan kritik terhadap pemerintah, anggota DPR, media massa, pemilu, serta masalah kapitalisme yang semakin menggurita, hingga wilayah Indonesia yang dicaplok negara lain.

“Saya ingin membuat pengakuan. Usia saya 35 tahun dan saya belum pernah ikut Pemilu. Saat ini alasan saya tak ikut Pemilu karena penyelenggara Pemilu tak beres. Dulu, alasan saya adalah bahasa Indonesia. Menurut bahasa Indonesia, Pemilu artinya pembuat pilu, pembuat sengsara,” ujarnya sebelum membacakan puisi.

Tak heran, puisi “sentilan” Binhad membuat semua orang bersorak dan berkomentar, termasuk mantan Ketua Mahkamah Agung.

“Dua puisi tadi luar biasa, bagus. Kalau bisa saya mau meng-copy puisi tadi,” bebernya sambil menekankan jika pemilu dipasrahkan ke pemerintah tidak akan pernah bersih. Karena negeri ini milik kita bersama, catatkanlah bahwa masing-masing dari kita pernah menyumbangkan sesuatu ke negara. (Agustina N. Rasyida)

(PedomanNEWS.com, Kamis, 15 Desember 2011 15:42 WIB)