Pernyataan Penyair 2011*

Hari ini, di majelis ini, saya menyatakan bahwa tanda keluhuran puisi Indonesia adalah daya artistiknya yang menggerakkan kesadaran masyarakatnya. Tanda utama keunggulan puisi Indonesia bukanlah meraih 1000 Hadiah Nobel. Tanda paling gemilang puisi Indonesia ketika menjadi hati nurani paling terkemuka bagi bangsanya. Hal-hal inilah yang dimiliki puisi di mana dan kapan saja yang dinilai cemerlang bagi perpuisian dan dipandang berguna oleh masyarakatnya. Untuk meraih semua itu, penyair mesti tekun bergulat dalam kreativitas dan berani merebut fungsinya bagi masyarakatnya.

Penyair unggul bukan lantaran kehebatan ekspresinya belaka. Kehebatan ekspresi merupakan kewajiban setiap penyair. Penyair unggul menangkap masalah masyarakatnya dan mengucapkannya melalui kehebatan ekspresinya. Penyair unggul bukan makhluk mitos. Penyair unggul adalah realitas yang bisa disaksikan dan diukur melalui daya artistik puisinya yang menggerakkan kesadaran masyarakatnya. Bila puisi tak bisa melakukannya, puisi harus rela menjadi puisi biasa-biasa saja.

Apakah peran penyair Indonesia bagi masyarakatnya? Setiap penyair Indonesia harus menjawabnya, jika tak mampu menjawabnya, apakah peran kepenyairan masih layak dipandang berharga tanggung jawabnya? Jawaban atas pertanyaan itu merupakan sikap penyair yang menjawabnya dan terjelma dalam puisinya. Ketakmampuan menjawab pertanyaan itu adalah tanda krisis sikap kepenyairan yang menimbulkan krisis kualitas perpuisian.

Puisi bukan hadiah yang diulurkan oleh para dewa ke tangan para penyair. Tangan penyairlah yang menulisnya untuk menyuratkan kehebatan ekspresi dan menyuarakan hati nuraninya.

Jakarta, 28 April 2011
Binhad Nurrohmat

*Dibacakan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin
pada acara Hari Sastra Nasional, 28 April 2011.