Binhad Nurrohmat

going within…

Archive for September, 2008

SIARAN pers itu mula-mula muncul di beberapa milis sastra, dan beredar pula dari sur-el ke sur-el. Isinya adalah sebuah akan. Ya, isinya adalah berita tentang rencana diskusi bertajuk “Media Massa Alternatif sebagai Media Perjuangan” yang akan digelar di Perpusda Banten Jl. Saleh Baimin No. 6 Seran, Banten, Sabtu, 24 November 2007 pukul 13.30. Read the rest of this entry »

Kenapa Orang Percaya Tuhan?

Posted by binhad on Sep-9-2008

Kenapa orang percaya tuhan?

Survei saya terhadap sejumlah orang menemukan beragam jawaban: Read the rest of this entry »

Dalam suatu kesempatan, saya pernah menulis esai yang berkaitan dengan Binhad dan karyanya di kolom Budaya Radar Banten edisi Juni 2007. Tidak banyak yang saya tulis, namun saya menganggap sedikit tulisan tersebut adalah buah dari kegelisahan-kegelisahan setelah membaca kumpulan puisi Binhad yang terangkum dalam Bau Betina dan Kuda Ranjang. Berikut ini akan saya ulas kembali tulisan tersebut, kemudian akan coba saya bandingkan dengan puisi Sutardji Calzoum Bahri tentang pemahaman Tuhan dalam sajak-sajak mereka. Read the rest of this entry »

Khotbah Bom Atom & Menara Kembar New York

Posted by binhad on Sep-8-2008

Tubuh saya bangun pagi sekali hari ini dan ingin berkhotbah di depan cermin. Tubuh saya berharap bisa menegakkan tatabahasa dan kaidah nalar yang baik dan benar. Wahai, bayangan tubuh saya di cermin, maaf telah memaksamu menelan khotbah sepagi ini. Tak perlu khawatir dan pura-pura tuli. Syaraf tubuh saya tak tercemar anggur atau bir, dan mulut saya sanggup berkata: “Manusia lebih senang mengakui kebenaran dirinya ketimbang kesalahannya.” Read the rest of this entry »

Mazmur Kalideres

Posted by binhad on Sep-3-2008

 Di sudut bar dangdut

  molek sekujurnya merekah

 berkerlip kunang-kunang janda.

Aku yang ramah dan dahaga

 khayalku menerkam bayangannya

dan menelan seluruh pendarnya

ke lambung hasratku yang gulita.

Yang maha malam jelita

  membujukku senakal gadis kesepian

menggerayang gundah yang terkapar.

Meja kaca bundar, botol-botol, dan sofa

menatapku dengan kerling menggoda,

“Kau seekor kuda di luar kandang.

Pacuan selengang rumputan segar

 keranjingan ringkikmu yang liar.”

 

Penguasa ruang dan waktu,

mari duduk-duduk menemaniku

dan menikmati manisnya derita lagu.

Bukankah kautahu malam mengusikku

dengan jamahan sebeku tengkuk hantu?

Angkasa mengganga di ubunku

sebugil pinggul perempuan muda

mandi sore di tepi kali coklat tinja.

Aku menggembol limbah birahi

yang meracuni genangan darahku.

Yang maha mesra tiada tara,

 seekor anjing kurus menggonggong

dan menggigit syarafku yang oleng,

“Aku dari surga.

Dulu ada seorang sundal lapar yang mati

setelah memberiku remah roti terakhirnya.

Dia lebih dulu masuk surga.

Lalu bertahun aku hewan gembel di dunia

sebelum ragaku ditubruk truk di jalan raya.

Bangkaiku terburai di aspal gelap dan lenyap

 tergilas mikrolet, kaki masa, dan luapan sungai.

Di surga yang lezat dan sentosa,

aku bertemu pelacur budiman itu.

Dia tak mengenalku lagi dan tak ingat hutang budi.

Dia lupa masuk surga berkat seekor anjing miskin.”

 

Di toilet bar yang apak dan terbuka

  bau kucuran lirih dari kantung kemihku

 menyengat di bawah nyala bohlam 15 watt.

Ada siul tak bermakna

 menyembul dari bibirku.

Ada sajak bugar 

menggelepar dalam benakku.

Denging nyamuk sebengis iblis

menusuk leher lamunanku. 

Hai, yang bertahta di langit,

adakah tuhan di kamar kecil?

Retakan kucel cermin wastafel

berkata tepat ke arah wajahku,

“Tuhan adalah tuhan walau terlipat di saku hati yang binal

seperti api birahi menyala lagi meski padam berkali-kali.”

 

Penjaga sumber gairah segala,

manusia tak pernah bermimpi

birahi tamat di seluruh bumi.

Mereka benci planet ini penuh cinta

seperti pacar tersayang yang berdusta.

Ah, mabukku mencumbu bahu semesta

   dan seorang perempuan berbisik padaku,

“Aku dari surga.

Dulu ada seekor anjing sekarat di dunia

dan aku kupu-kupu malam kerempeng

    menyuapkan sisa bekalku ke mulutnya.

Sebelum pergi kuusap bulunya yang kasar.

Kugoda gairah di sepanjang trotoar kota durjana

lalu aku mati di pojok terminal bis yang kumal.

Mayatku tertimbun embun, hutang, dan asap mesin.

Ada orang sibuk memburu KTP di dompetku 

dan membongkar kutang dan celana dalamku.

Dulu aku tak percaya tuhan, surga, dan neraka.

Bagiku dunia hanyalah kandang besar celaka

  tempat manusia terkurung dan terkubur selamanya.

Kini aku hidup di alam moyang manusia

– bukan di sangkar raksasa yang mengerikan.

Tuhan adalah perbuatan menolong seekor anjing miskin.

Aku memohon anjing merana itu masuk surga seperti aku.

Binatang itu malu masuk surga lantaran doa seorang sundal.” 

 

Di sudut bar dangdut itu

raganya tak ada lagi seperti bekas mimpi

yang begitu manja membajak sekujurku.

Pencipta keindahan dan kenikmatan,

kudengar rintihan lirik dangdut

meraba tubuhku selembut tanganmu.

Dalam angan yang gembira dan terlunta

aku sempoyongan menggapai sekujurmu.

Aroma semesta merembes bersama peluhku

dan malam begitu lahap menghisap waktu.

Neon yang redup, jerit suling, dan wangi bidadari

memijitku yang terguling ke bilik dan bermimpi,

“Tuhan, surga, dan neraka di mana-mana

seperti hotel, warung makan, dan reklame 

di planet renta sehangat birahi manusia.”

 

Pengusir Adam-Hawa dari nirwana,

 kutukanmu segetir mimpi indah

membuat bumi yang suci terperangah.

Tubuhku asyik menyanyikan fana dunia

dan melulu menunggu ganas takdir

meledakkan seluruh isi jagat raya.

Yang maha menyimak ronta sajakku,

berkatilah kata mengecup sekujurku.

Aku takut mencintai kehancuran

seperti kepercayaan dilantak pengkhianatan.

Udara sejuk dan kasih bumi tak ingin mati 

 ditinggal sendirian dalam kekosongan,

“Anjing dan pelacur di surga,

apakah kalian mimpi burukku?

Aku tak ingin berdoa ada iblis yang manis

menghasut kalian untuk mencibir tuhan. 

Bersenang-senanglah di surga abadi.

Cemburukah aku pada binatang dan manusia?

Punggungku menanggung amarah nasib dan waktu

yang menghancurkan tidurku tiap pagi seperti kiamat.

Hari kiamat adalah cahaya masa depan maha dahsyat.

Di ketinggian malam ragaku tengadah

dan setan terbakar di kolong ranjangku.

Langit, bulan, dan bintang jatuh kepayang

memeluk sajakku tegar menerangi semesta.”

 

Antara Saya, Blog Saya, dan Kak Rhoma

Posted by binhad on Sep-3-2008

Saya tak bersumpah atau berikrar menulis di blog saya ini setiap hari. Sudah menjadi takdir manusia yang memilih hidup di dunia fana ini tak bisa malas dengan banyak urusan yang menyenangkan maupun memuakkan. Tak terkecuali saya. Read the rest of this entry »

Laporan dari Dapur Penyair

Posted by binhad on Sep-2-2008

Bangun siang adalah cita-cita saya hari ini, tapi tubuh saya menolak. Saya tak bisa ngotot melawannya. Tadi saya sahur lebih dini dan tidur nyenyak sekali setelah subuh. Pagi sekali saya bangun dan langsung membaca Arus Balik  karya Pramoedya Ananta Toer terbitan 1995 oleh sebuah penerbit di Selangor, Malaysia. Read the rest of this entry »

Repotkah Jadi Orang Islam?

Posted by binhad on Sep-1-2008

Hari ini puasa Ramadhan mulai. Ini pengalaman pertama saya berpuasa di luar Indonesia. Korea, tujuh jam penerbangan dari Jakarta, masih musim panas dan musim gugur segera tiba. Warna daun mulai berubah dan udara gerah makin reda. Read the rest of this entry »