Cerita Lebaran Sahabat Yudi

Seorang sahabat memohon kepada pembantunya, ”Tolonglah, Lebaran ini tak mudik. Giliran saya pulang kampung. Nanti saya lipatkan gajimu.” Sang pembantu berkata, ”Maaf Tuan, saya tak mau.” Sang majikan merayu, ”Sudah dua puluh lima tahun saya tak pulang, sedangkan kamu setiap tahun.” ”Tapi, Tuan bisa berbahagia setiap hari, sedangkan kebahagiaan saya hanya setahun sekali.”

Bar Dangdut Jauh di Pulau…

Saya berada di Korea Selatan semenjak Juni lalu dan saya menjadi makin mengerti makna rindu dan perasaan jauh dari negeri saya, Indonesia. Saya pun menjadi kian paham arti berjarak dengan yang saya cintai. Ah, Indonesia. Aih, cinta. Di telinga batin saya kerap terngiang pepatah lama: Lebih baik hujan batu di negeri sendiri ketimbang hujan emas di negeri orang. Pepatah ini memang berlebihan dan sentimentil, tapi cocok untuk saya yang sedang berada jauh di negeri seberang lautan. Saya tak suka sentimentil sebenarnya, tapi ternyata sentimentil sesekali perlu juga. Saya toh bukan robot. Sentimentil itu bagian dinamika batin manusia sebagaimana rasa haru atau gembira dan menurut saya meladeni perasaan sentimentil bagus juga untuk merabuk kesuburan jiwa. Contine reading

Kenangan Menonton Film Pemberontakan PKI

“Darah itu merah, Jenderal!”

(fragmen dialog film G 30 S/PKI)

*

Semua pelajar sekolah di Indonesia sebaya saya saat itu tiap tanggal 30 September wajib menonton film-film pemberontakan PKI (Partai Komunis Indonesia) yaitu G 30 S/PKI  dan Operasi Trisula. Kewajiban ini menggembirakan kami. Kami berpakaian seragam sekolah berbondong ke bioskop dikawal para guru. Amat meriah suasananya. Kala itu bioskop masih barang baru di kampung saya di pedalaman Lampung. Sekadar info, tiang PLN baru merambah kampung saya pada 1999, selepas gerakan Reformasi. Sebelumnya, tenaga listrik di rumah-rumah di kampung saya dipasok oleh sebuah mesin diesel tua yang menyala dari pukul 6 sore sampai pukul 12 malam. Contine reading

Nuzulul Porno

X: “Gara-gara kamu orang pada gemar mengumbar badan, lantaran kamu orang
pada menggugah gairah orang, maka kamu orang melanggar undang-undang.”

Y: “Karena kamu orang pada sembrono bikin undang-undang, maka kamu orang
pada menyerobot tubuh orang sehingga kamu orang melangkahi kemanusiaan.”

X: “God verdomme zeg! Badan kamu orang pada mesti diperam dalam pakaian,
tubuh kamu orang pada bakalan masuk penjara kalau pada merangsang orang.”

Y: “Naudzubillahimindzaliq! Sebab birahi orang lain badan kami dipersalahkan,
maka undang-undang kamu orang mendidik tubuh munafik dalam kepatuhan.”

 

Ayat-ayat Binhad Nurrohmat

(1) Sesungguhnya kesusilaan berada di perbatasan, seperti selembar pakaian menjadi sekat antara tubuh telanjang dan tatapan mata manusia. (2) Bahwasanya kemudian pakaian menjelma jubah hegemoni kesusilaan yang membuat tubuh menjadi hina-dina di luar jubah hegemoni itu dan tubuh menjadi korban yang dinistakan. (3) Ketahuilah, sejak hegemoni kesusilaan bersimaharajalela di dunia membuat tuhan, pohon, hewan, planet, dan bintang dikutuk untuk memohon pakaian kepada manusia.

“Luka dan Ledakan Kuda Ranjang” oleh Hudan Hidayat

Satu hal yang mencengangkan pada manusia adalah ketika ia merespons hidupnya. Inilah yang membedakannya dengan tumbuhan dan binatang. Kalau ilmu pengetahuan melakukannya dengan pemikiran rasional, memungut bukti-bukti empirik, maka kesusastraan beyond  ilmu pengetahuan: ia tidak hanya mengandalkan pemikiran tapi terutama alam bawah sadar, yang terbenam jauh dan menjadi impuls bagi sang kreator.

 

Contine reading

“Laku Etik dan Estetik dalam Watak Kepenyairan” oleh Damhuri Muhammad

SEJAK akhir Juli hingga pertengahan Agustus 2004 silam, sejumlah koran riuh oleh polemik menyoal diluncurkannya buku kumpulan puisi Kuda Ranjang, karya Binhad Nurrohmat. Tak kurang dari 15 esai telah menimbang buku itu.

Banyak yang memuji kepiawaian Binhad mengurai tubuh perempuan dalam bait sajak, banyak pula yang menghujat, bahkan ada yang terang-terangan menyeringai: “Menjijikkan membaca puisimu.” Tapi, Binhad tak kunjung jera menuai cela, penyair itu baru saja melepas antologi puisi terbaru, Bau Betina (2007). Setali tiga uang dengan Kuda Ranjang, lewat Bau Betina ia masih latah bergunjing perihal “dunia basah”, “dunia tengah”, (tapi diburu banyak watak).

Contine reading