“Darah Muda” Menggoyang Amerika
Raja dangdut Rhoma Irama (61) menggoyang warga Indonesia di Wisma Indonesia, Washington DC, Amerika Serikat, Senin (13/10) malam waktu setempat. Hasil penjualan tiket dari pertunjukan dangdut ini untuk dana kemanusiaan di Indonesia.
Tiket sebanyak 250 lembar yang dijual 30 dollar AS per lembar itu terjual habis. Bang Haji, panggilannya, berada di AS atas undangan Departemen Musik University of Pittsburgh. Ia diminta tampil dalam seminar tentang Islam, terorisme, dan kebudayaan pop.
”Selama ini ada stigma, Islam adalah teroris. Saya tegaskan, Islam bukan teroris. Di Indonesia, banyak orang tak berdosa yang meninggal akibat serangan teroris, seperti bom di Bali, di Hotel Marriott, dan Kedutaan Besar Australia di Jakarta,” ujarnya.
Ia lalu menyebutkan beberapa dalil dalam Al Quran yang isinya mengutuk serangan teroris, ”Barang siapa membunuh orang yang tak berdosa, sama dengan membunuh semua manusia.”
Dalam Islam memang ada perintah untuk perang, tetapi itu dalam rangka mempertahankan. Jadi, tambahnya, terorisme bukan masalah agama, tetapi soal politik.
Pandangannya soal Islam, terorisme, dan kebudayaan pop di Indonesia yang dipresentasikan itu akan disebarluaskan University of Pittsburgh dan dijadikan buku.
Saat menggoyang warga Indonesia di Washington, ia bersama 10 personel Soneta Group menyanyikan, antara lain, lagu Darah Muda, Begadang, Gali Lubang Tutup, dan Judi.
(Sumber: Kompas, 15 Oktober 2008)
semoga deweke eleng pas “mbunuh” inul. terlalu…
Kapan ya Rhoma Irama menggoyang ITB?
ITB relevan dengan dangdut Rhoma karena grup musiknya beralat musik elektronik, bukan hanya kendang dan suling, tapi juga gitar listrik.
Buat Nuredan,
Inul terus goyang sampai sekarang, Rhoma juga.
Sesama dangdut harus saling menyayangi.
ternyata Bang Haji cerdas ya…tak seperti Inul Darastita. Walaupun Inul juga lebih cerdas berdoyang dibandingkan Bang Haji. Jadi, mereka sesungguhnya sama-sama cerdas dan sama-sama “dieksploitasi” (media massa) untuk kepentingan rezim reting dan iklan. Walaupun mereka sendiri mendapat keuntungan dari konflik yang direpresentasikan media massa.
Add A Comment