Archive for the ‘SASTRA’ Category
Laporan dari Dapur Penyair
Bangun siang adalah cita-cita saya hari ini, tapi tubuh saya menolak. Saya tak bisa ngotot melawannya. Tadi saya sahur lebih dini dan tidur nyenyak sekali setelah subuh. Pagi sekali saya bangun dan langsung membaca Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer terbitan 1995 oleh sebuah penerbit di Selangor, Malaysia. Read the rest of this entry »
Repotkah Jadi Orang Islam?
Hari ini puasa Ramadhan mulai. Ini pengalaman pertama saya berpuasa di luar Indonesia. Korea, tujuh jam penerbangan dari Jakarta, masih musim panas dan musim gugur segera tiba. Warna daun mulai berubah dan udara gerah makin reda. Read the rest of this entry »
Persentuhan Bahasa di Bukit Korea
Serupa bahasa, hidup ini senantiasa menyimpan dan menyingkap banyak hal tak terduga. Di sebuah tempat bernama yanganchi di bukit Beakun di pedalaman Korea, tiba-tiba saya tercengang pada nama saya sendiri: Nurrohmat bin Ahmad Suhadi. Read the rest of this entry »
“Binhad Nurrohmat, Sang Demonstran Sexy” Oleh Ook Nugroho

Kami buang tahi
sambil menulis puisi.
Kami benci puisi
bertampang politisi.
(Sajak “Penyair Murni”)
BINHAD NURROHMAT adalah sebuah perlawanan. Read the rest of this entry »
Tidur di Korea, Mimpi Saya Berbahasa Indonesia
Aha, bahasa Indonesia amat setia menghuni tubuh saya dan saya tak bisa mengusirnya sebagaimana bahasa Indonesia tak bisa menghalau tubuh saya. Tubuh saya adalah tubuh berbahasa Indonesia di manapun saya berada. Bahasa Indonesia jadi artikulasi kultural tubuh saya. Read the rest of this entry »
Back to Heaven
I’ll go back to heaven again.
Hand in hand with the dew
that melts at a touch of the dawning day,
I’ll go back to heaven again.
With the dusk, together, just we two,
at a sign from a cloud after playing on the slopes
I’ll go back to heaven again.
At the end of my outing to this beautiful world
I’ll go back and say: It was beautiful. . . .
-Chon Sang-pyong, Korean poet, 1930-1993.
Beasiswa Penulisan & Penerjemahan Novel Majelis Kata Indonesia 2008
Majelis Kata Indonesia merupakan lembaga filantropi yang berikhtiar menumbuhkan dan mewadahi bentuk-bentuk penciptaan sastra yang menggerakkan kritisisme sosial, semangat toleransi, dan kesadaran kebangsaan. Lembaga ini mendorong dan mendukung bentuk-bentuk penciptaan sastra yang memperluas cakrawala memahami kemanusiaan. Read the rest of this entry »
Di Mana Telinga dan Mata Sastra?
Fulan yang baik,
aku ingin mengabarkan padamu sekelumit saja mengenai negeriku dan sastra mutakhirnya. Bagiku, menyimak skandal politik, berita kriminal, krisis kebutuhan pokok, tawuran antar-warga, maupun bentrokan fisik antar-penganut agama yang sama sungguh tak lebih rendah nilainya ketimbang kegiatan soliterku mencerna sastra. Read the rest of this entry »
The Google Poet & Poetry 2008
The Google Poet & Poetry 2008 adalah 10 peringkat tertinggi hasil jajak data perkabaran nama-nama penyair Indonesia kelahiran dasawarsa 1970 yang sudah menerbitkan buku kumpulan puisi tunggal dalam bahasa Indonesia dan 10 peringkat tertinggi hasil jajak data perkabaran buku-buku kumpulan puisi tunggal dalam bahasa Indonesia karya para penyair Indonesia kelahiran dasawarsa 1970 yang ditelusuri melalui mesin pencari data www.google.co.id pada Sabtu, 3 Mei 2008. Hasil-hasil jajak ini bisa diuji secara bersama dan terbuka. Jajak ini diselenggarakan oleh Lembaga Jajak Sastra. Jajak ini akan diselenggarakan satu kali setiap tahun.