Posted by binhad on Jan-13-2010
Oleh Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto
Isi puisi Binhad Nurrohmat di bawah ini adalah tonggak perlawanan terhadap Neoliberalisme:
ANDAI SAYA BUKAN RAKYAT INDONESIA
Andai saya bukan rakyat Indonesia
saya akan menutup sumur dan menguruk telaga
karena rakyat Indonesia minumnya Aqua dan Coca-Cola.
Andai saya bukan rakyat Indonesia
saya akan membuka kedai KFC di mana-mana
karena rakyat Indonesia senang makanan gaya Amerika.
Read the rest of this entry »
Posted by binhad on Jul-15-2009
Negara lain giat memproduksi
Indonesia gigih mengonsumsi.
Rakyatnya senyum saja
meski hidup menderita
Lantang suara Ucok membaca puisi berjudul ”Karakter Indonesia” karya Binhad Nurrohmat. Aksi Ucok terekam dalam film dokumenter bertajuk Poetry On The Road yang diputar di Warung Apresiasi Sastra, Jakarta, Selasa malam (7/7). Read the rest of this entry »
Posted by binhad on May-17-2009
KESADARAN PUITIS & POLITIK
Oleh Damhuri Muhammad,
Cerpenis, bermukim di pinggiran Jakarta
Bagaimana semestinya sastrawan menyikapi keriuhan retorika politik yang belakangan ini tampak semakin mentereng? Perlukah seorang penyair menyelami realitas politik yang ingar-bingar dan penuh intrik itu -setidaknya melibatkan sebentuk kesadaran politik dalam gairah kepenyairannya atau sebaliknya-sebagaimana petuah Julian Benda (1928)- karena sudah “ditakdirkan” untuk mencari kepuasan di ranah kesenian, dan oleh karena itu, para penyair seyogianya menjauh dari zona kesadaran politik. Agar lelaku kepenyairan tetap terjaga, tidak terkontaminasi efek kuasa politik yang sejak dari perkembangan yang paling purba telah dianggap ancaman laten. Read the rest of this entry »
Posted by binhad on May-9-2009
|
Bagaimana Demonstran Sexy “melenggang” di dalam kepala penulis dan pembacanya? Sebuah diskusi buku mengupas karya Binhad Nurrohmat digelar oleh Bale Sastra Kecapi, Jakarta.
Yeni Rosa Damayanti dan Rieke Diah Pitaloka
mengarak poster serta mikrofon ke jalan raya.
Inul Daratista & Ayu Utami berteriak keras sekali,
“Ayo, tolak RUU Antipornografi & Pornoaksi!”
Ini adalah isi puisi “Demonstran Sexy” yang diambil dari buku yang berjudul sama, karya Binhad Nurrohmat. Sebuah kumpulan puisi terbitan Penerbit Koekoesan, Depok, dengan tahun cetak 2008 ini memuat 103 halaman ungkapan pikiran Binhad.

Bale Sastra Kecapi menggelar diskusi pada minggu terakhir Maret 2009 lalu, di Kafe Darmint, Jakarta. Acara ini melibatkan pembicara-pembicara populer di ranah budaya sekaligus politik Indonesia. Mereka adalah, Romo Mudji Sutrisno, Yudi Latif, dan penulis buku Demonstran Sexy, Binhad Nurrohmat. Read the rest of this entry » |
|
Posted by binhad on Apr-22-2009

Dulu ada yang bilang
Sutardji mata kiri
dan Chairil mata kanan.
Kini aku yang bilang
puisi kalian rata kiri
dan puisiku rata kanan.
Binhad Nurrohmat adalah seorang pemberontak. Dia dengan sadar memorak-porandakan tatanan baku perpuisian Indonesia. Tak hanya Chairil, Sutardji Calzoum Bachri yang dikenal sebagai “pembaharu” puisi Indonesia juga ia lawan. “Bukan Sekadar Kredo” adalah kredo pemberontakan Binhad termuat di buku pertamanya Kuda Ranjang (Melibas, 2004). Read the rest of this entry »
Posted by binhad on Apr-6-2009
Oleh Sahlul Fuad,
S-2 Antropoligi Universitas Indonesia.
Siapa yang mengenal Binhad sebagai penyair? Apakah dia sangat populer di negeri ini, sehingga keberadaannya sangat berpengaruh bagi mental dan akhlak bangsa ini akibat karya-karyanya?
Konon, menurut hasil survei, ternyata Binhad bukan orang yang sangat terkenal di seluruh pelosok nusantara. Meskipun berkali-kali namanya tercantum di koran-koran terkemuka, tidak banyak orang mengenalnya, apalagi mengenalnya sebagai penyair. Bahkan almarhumah ibunya sendiri pun tak tahu kalau anaknya yang gondrong itu seorang penyair legendaris. Hanya penyair-penyair “serius”-lah yang mengenalnya sebagai penyair. Dengan demikian, persoalannya makin jelas bahwa kepopuleran Binhad Nurrohmat tak lebih hanya sebatas para penyair yang menganggapnya penyair. Dan untuk itu, dua buah buku puisi Binhad yang sebelumnya diperkirakan tidak berarti apa-apa bagi moralitas dan akhlak bangsa Indonesia. Read the rest of this entry »
Posted by binhad on Apr-6-2009
Dalam buku Demonstran Sexy, Binhad Nurrohmat melawan kecenderungan puisi mutakhir.
Sebagai bagian dari karya seni yang diciptakan manusia, sastra tidak pernah kehilangan persediaan persoalan untuk diungkapkan. Sepanjang manusia tetap ada, sastra akan tetap muncul sebagai bagian dari perjalanan sejarah manusia. Namun sejarah juga mencatat beragam perubahan yang dilakukan manusia. Lantas apakah posisi sastra—dalam hal ini pelakunya—juga ikut berubah atau menetap. Read the rest of this entry »
Posted by binhad on Apr-6-2009
JAKARTA, KOMPAS.COM–Dinamika politik hari ini mungkin menjadi sebuah sinonim untuk hiruk-pikuk. Tumbuh lebatnya poster dan spanduk yang tak tanggung-tanggung melanggar tata kota, serta menyulap kota menjadi belantara slogan dan jargon hanyalah satu hal. Belum lagi soal substansi politik yang tak pernah terlintas dalam upaya-upaya menyentuh massa itu, atau soal bagaimana kampanye politik kita telah menjadi pekerjaan begitu banal yang hanya menonjolkan luaran atau permukaannya. Read the rest of this entry »
Posted by binhad on Nov-10-2008
Langit itu kosong
Aku bungkam keheningan
dalam jazz dan nikotin.
(Soebagio Sastrowardoyo, sajak “Abad 20”)
Inilah fatwa saya hari ini: Sudah menjadi takdir blog ada di bumi dan merenggut banyak waktu dan tenaga ummat manusia abad ini, tapi mereka merasa bahagia. Bahkan ketika kesepian menyergap sekujur perasaan mereka, blog kerap menjadi juru selamat yang menghibur. Mulailah memperhitungkan blog sebagai penurun angka bunuh diri di zaman penuh kecamuk rasa hampa ini. Read the rest of this entry »
Posted by binhad on Nov-7-2008
Cuaca musim ini memaksa saya mengurung diri di kamar atau di perpustakaan yang tak sampai seratus jangkah dari gedung penginapan saya. Suhu udara di Korea terus melorot mendekati 0 derajat Celsius. Daun-daun semarak kuning menyala atau jingga tua bertengger di ranting-ranting, sebagian rontok mewarnai tanah dan beton kaki-lima. Julangan pohon-pohon di musim ini bukan lagi barisan tumbuhan, melainkan hamparan seni rupa alam. Saya tak lagi berjalan-jalan sore seperti pada musim panas kemarin karena kini cuaca selalu memaksa langkah saya menjadi setengah berlari, berlari dari siksaan dingin yang menderu dan mencakar sekujur saya. Musim ini tampak indah dan sekaligus menyebalkan. Read the rest of this entry »