Binhad Nurrohmat

going within…

Archive for the ‘SASTRA’ Category

Pembaca Menggonggong Penulis Berlalu

Posted by binhad on Nov-17-2011

OLEH MALKAN JUNADI

Penyair

Saya pernah percaya puisi merupakan sejenis politik bahasa, pernah meyakini bahwa dengan seperangkat teori, sejumlah peranti linguistik, saya bisa menyiasati bahasa, dapat melakukan kerja arsitektural mewujudkan sebuah bangunan menawan bernama puisi. Namun waktu menyuapi dengan paksa kenyataan yang lain; misalnya betapa ternyata puisi tak selalu bisa saya tulis setiap hari, sering tak dapat saya selesaikan pada tenggat yang saya inginkan. Meski saya pada waktu yang bersangkutan merasa tak kurang teori, tak kehilangan sedikit pun peranti yang saya pikir saya butuhkan. Read the rest of this entry »

Pernyataan Penyair 2011*

Posted by binhad on Apr-28-2011

Hari ini, di majelis ini, saya menyatakan bahwa tanda keluhuran puisi Indonesia adalah daya artistiknya yang menggerakkan kesadaran masyarakatnya. Tanda utama keunggulan puisi Indonesia bukanlah meraih 1000 Hadiah Nobel. Tanda paling gemilang puisi Indonesia ketika menjadi hati nurani paling terkemuka bagi bangsanya. Hal-hal inilah yang dimiliki puisi di mana dan kapan saja yang dinilai cemerlang bagi perpuisian dan dipandang berguna oleh masyarakatnya. Untuk meraih semua itu, penyair mesti tekun bergulat dalam kreativitas dan berani merebut fungsinya bagi masyarakatnya.

Penyair unggul bukan lantaran kehebatan ekspresinya belaka. Kehebatan ekspresi merupakan kewajiban setiap penyair. Penyair unggul menangkap masalah masyarakatnya dan mengucapkannya melalui kehebatan ekspresinya. Penyair unggul bukan makhluk mitos. Penyair unggul adalah realitas yang bisa disaksikan dan diukur melalui daya artistik puisinya yang menggerakkan kesadaran masyarakatnya. Bila puisi tak bisa melakukannya, puisi harus rela menjadi puisi biasa-biasa saja.

Apakah peran penyair Indonesia bagi masyarakatnya? Setiap penyair Indonesia harus menjawabnya, jika tak mampu menjawabnya, apakah peran kepenyairan masih layak dipandang berharga tanggung jawabnya? Jawaban atas pertanyaan itu merupakan sikap penyair yang menjawabnya dan terjelma dalam puisinya. Ketakmampuan menjawab pertanyaan itu adalah tanda krisis sikap kepenyairan yang menimbulkan krisis kualitas perpuisian.

Puisi bukan hadiah yang diulurkan oleh para dewa ke tangan para penyair. Tangan penyairlah yang menulisnya untuk menyuratkan kehebatan ekspresi dan menyuarakan hati nuraninya.

Jakarta, 28 April 2011
Binhad Nurrohmat

*Dibacakan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin
pada acara Hari Sastra Nasional, 28 April 2011.

Tidur di Korea, Mimpi Saya Berbahasa Indonesia

Posted by binhad on Apr-25-2011

Aha, bahasa Indonesia amat setia menghuni tubuh saya dan saya tak bisa mengusirnya sebagaimana bahasa Indonesia tak bisa menghalau tubuh saya. Tubuh saya adalah tubuh berbahasa Indonesia di manapun saya berada. Bahasa Indonesia jadi artikulasi kultural tubuh saya. Read the rest of this entry »

Persentuhan Bahasa di Bukit Korea

Posted by binhad on Jan-28-2011

Serupa bahasa, hidup ini senantiasa menyimpan dan menyingkap banyak hal tak terduga. Di sebuah tempat bernama yanganchi di bukit Beakun di pedalaman Korea, tiba-tiba saya tercengang pada nama saya sendiri: Nurrohmat bin Ahmad Suhadi. Read the rest of this entry »

Maut Situmorang

Posted by binhad on Sep-29-2010

Malam lebaran, kata penyair Sitor Situmorang, “bulan di atas kuburan”. Barangkali Sitor tak menyangka puisi pendek ini melahirkan tafsir panjang dan bermacam-macam serta klop dengan keadaan sekarang yang pada menjelang lebaran banyak pemudik tertimpa musibah di jalan raya dan tiba di kampung halamannya sebagai jenazah. Read the rest of this entry »

Di Mana Telinga dan Mata Sastra?

Posted by binhad on Jun-12-2010

Fulan yang baik,

aku ingin mengabarkan padamu sekelumit saja mengenai negeriku dan sastra mutakhirnya. Bagiku, menyimak skandal politik, berita kriminal, krisis kebutuhan pokok, tawuran antar-warga, maupun bentrokan fisik antar-penganut agama yang sama sungguh tak lebih rendah nilainya ketimbang kegiatan soliterku mencerna sastra. Read the rest of this entry »

Binhad: Tubuh Sebagai Kebudayaan

Posted by binhad on Apr-13-2010

Oleh Ita R AlawiyahMahasiswa Bahasa dan Sastra Universitas Tirtayasa, Banten

Kau dan aku bertaruh menghitung bulu

tumbuh di sekujur tubuhku dan tubuhmu yang gaduh

sampai jari tangan hangus dipanggang berton didihan hormon

yang gemuruh menderitkan kesumat kilang syahwat.[1]

Read the rest of this entry »

Estetikalkulator

Posted by binhad on Mar-12-2010

Oleh Endri Y, esais, tinggal di Kalianda, Lampung

“Saya hanya berusaha dekat dengan permasalahan yang ada di depan mata, saya ingin spontanitas yang jujur.” Demikian deskripsi Binhad Nurohmat terhadap upaya yang dapat disebut terobosan baru di ranah perpuisian Indonesia (Kompas, Kamis, 9 Juli 2009). Read the rest of this entry »

Refreshing Bahasa

Posted by binhad on Mar-1-2010

Ayah-ibu saya berasal dari Jawa Timur dan kemudian menetap di pedalaman Lampung sejak 1970an. Kami berbahasa Jawa sebatas di lingkungan keluarga dan sesuku. Kami berbahasa Indonesia saat bergaul dengan suku lain. Tetangga saya orang suku Minang, Sunda, Bali, Lampung, Palembang, dan Bugis juga berbahasa Indonesia dalam pergaulan umum. Read the rest of this entry »

Kemaluanmu Sangat Besar

Posted by binhad on Feb-19-2010

Teman saya, seorang gadis dari Leiden, sedang belajar Bahasa Indonesia. Dia pernah bertanya pada saya tentang kata sifat berimbuhan ke-an yang menjadi kata benda, misalnya “gairah” menjadi “kegairahan”.

Saya pernah mengundang teman saya itu minum di sebuah kedai dan kami mengobrol dalam Bahasa Indonesia hingga larut malam. Menjelang pulang, saya memanggil pelayan kedai itu untuk membayar minuman. Saya merogoh saku pantalon saya dan saya tak mendapati dompet saya. Saya bingung dan wirang. Teman saya itu bilang tanpa sungkan, “Ah, tak masalah. Itu cuma kecelakaan. Santai saja. Saya tahu kemaluanmu sangat besar…”. Read the rest of this entry »