Syair
Mazmur Kalideres
Di sudut bar dangdut
molek sekujurnya merekah
berkerlip kunang-kunang janda.
Aku yang ramah dan dahaga
khayalku menerkam bayangannya
dan menelan seluruh pendarnya
ke lambung hasratku yang gulita.
Yang maha malam jelita
membujukku senakal gadis kesepian
menggerayang gundah yang terkapar.
Meja kaca bundar, botol-botol, dan sofa
menatapku dengan kerling menggoda,
“Kau seekor kuda di luar kandang.
Pacuan selengang rumputan segar
keranjingan ringkikmu yang liar.”
Penguasa ruang dan waktu,
mari duduk-duduk menemaniku
dan menikmati manisnya derita lagu.
Bukankah kautahu malam mengusikku
dengan jamahan sebeku tengkuk hantu?
Angkasa mengganga di ubunku
sebugil pinggul perempuan muda
mandi sore di tepi kali coklat tinja.
Aku menggembol limbah birahi
yang meracuni genangan darahku.
Yang maha mesra tiada tara,
seekor anjing kurus menggonggong
dan menggigit syarafku yang oleng,
“Aku dari surga.
Dulu ada seorang sundal lapar yang mati
setelah memberiku remah roti terakhirnya.
Dia lebih dulu masuk surga.
Lalu bertahun aku hewan gembel di dunia
sebelum ragaku ditubruk truk di jalan raya.
Bangkaiku terburai di aspal gelap dan lenyap
tergilas mikrolet, kaki masa, dan luapan sungai.
Di surga yang lezat dan sentosa,
aku bertemu pelacur budiman itu.
Dia tak mengenalku lagi dan tak ingat hutang budi.
Dia lupa masuk surga berkat seekor anjing miskin.”
Di toilet bar yang apak dan terbuka
bau kucuran lirih dari kantung kemihku
menyengat di bawah nyala bohlam 15 watt.
Ada siul tak bermakna
menyembul dari bibirku.
Ada sajak bugar
menggelepar dalam benakku.
Denging nyamuk sebengis iblis
menusuk leher lamunanku.
Hai, yang bertahta di langit,
adakah tuhan di kamar kecil?
Retakan kucel cermin wastafel
berkata tepat ke arah wajahku,
“Tuhan adalah tuhan walau terlipat di saku hati yang binal
seperti api birahi menyala lagi meski padam berkali-kali.”
Penjaga sumber gairah segala,
manusia tak pernah bermimpi
birahi tamat di seluruh bumi.
Mereka benci planet ini penuh cinta
seperti pacar tersayang yang berdusta.
Ah, mabukku mencumbu bahu semesta
dan seorang perempuan berbisik padaku,
“Aku dari surga.
Dulu ada seekor anjing sekarat di dunia
dan aku kupu-kupu malam kerempeng
menyuapkan sisa bekalku ke mulutnya.
Sebelum pergi kuusap bulunya yang kasar.
Kugoda gairah di sepanjang trotoar kota durjana
lalu aku mati di pojok terminal bis yang kumal.
Mayatku tertimbun embun, hutang, dan asap mesin.
Ada orang sibuk memburu KTP di dompetku
dan membongkar kutang dan celana dalamku.
Dulu aku tak percaya tuhan, surga, dan neraka.
Bagiku dunia hanyalah kandang besar celaka
tempat manusia terkurung dan terkubur selamanya.
Kini aku hidup di alam moyang manusia
– bukan di sangkar raksasa yang mengerikan.
Tuhan adalah perbuatan menolong seekor anjing miskin.
Aku memohon anjing merana itu masuk surga seperti aku.
Binatang itu malu masuk surga lantaran doa seorang sundal.”
Di sudut bar dangdut itu
raganya tak ada lagi seperti bekas mimpi
yang begitu manja membajak sekujurku.
Pencipta keindahan dan kenikmatan,
kudengar rintihan lirik dangdut
meraba tubuhku selembut tanganmu.
Dalam angan yang gembira dan terlunta
aku sempoyongan menggapai sekujurmu.
Aroma semesta merembes bersama peluhku
dan malam begitu lahap menghisap waktu.
Neon yang redup, jerit suling, dan wangi bidadari
memijitku yang terguling ke bilik dan bermimpi,
“Tuhan, surga, dan neraka di mana-mana
seperti hotel, warung makan, dan reklame
di planet renta sehangat birahi manusia.”
Pengusir Adam-Hawa dari nirwana,
kutukanmu segetir mimpi indah
membuat bumi yang suci terperangah.
Tubuhku asyik menyanyikan fana dunia
dan melulu menunggu ganas takdir
meledakkan seluruh isi jagat raya.
Yang maha menyimak ronta sajakku,
berkatilah kata mengecup sekujurku.
Aku takut mencintai kehancuran
seperti kepercayaan dilantak pengkhianatan.
Udara sejuk dan kasih bumi tak ingin mati
ditinggal sendirian dalam kekosongan,
“Anjing dan pelacur di surga,
apakah kalian mimpi burukku?
Aku tak ingin berdoa ada iblis yang manis
menghasut kalian untuk mencibir tuhan.
Bersenang-senanglah di surga abadi.
Cemburukah aku pada binatang dan manusia?
Punggungku menanggung amarah nasib dan waktu
yang menghancurkan tidurku tiap pagi seperti kiamat.
Hari kiamat adalah cahaya masa depan maha dahsyat.
Di ketinggian malam ragaku tengadah
dan setan terbakar di kolong ranjangku.
Langit, bulan, dan bintang jatuh kepayang
memeluk sajakku tegar menerangi semesta.”