<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Binhad Nurrohmat &#187; JURNAL</title>
	<atom:link href="http://binhadnurrohmat.com/category/jurnal/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://binhadnurrohmat.com</link>
	<description>going within...</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 Nov 2011 09:37:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Hantu Pemakan Tempe Goreng</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/hantu-pemakan-tempe-goreng-97.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/hantu-pemakan-tempe-goreng-97.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Oct 2008 01:55:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[JURNAL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Saya tak mengibul atau berniat menakuti siapa pun. Ini hanya kisah nyata yang pernah saya alami pada tahun 1997. Kisah nyata ini bangkit dari kolong ingatan saat saya menguntit Marno di Korea (bagian awal tentang Marno ada di laporan saya sebelumnya, “Bertemu Marno I”). Kisah nyata ini terjadi di satu rumah sewa di Condong Catur, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt; line-height: 150%; font-family: " lang="EN-US"><span style="font-family: Times New Roman;">Saya tak mengibul atau berniat menakuti siapa pun. Ini hanya kisah nyata yang pernah saya alami pada tahun 1997. Kisah nyata ini bangkit dari kolong ingatan saat saya menguntit Marno di Korea (bagian awal tentang Marno ada di laporan saya sebelumnya, “Bertemu Marno I”). Kisah nyata ini terjadi di satu rumah sewa di Condong Catur, Yogyakarta. Saat itu umur saya 21 tahun. Bagaimanakah kisahnya?<span id="more-97"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt; line-height: 150%; font-family: " lang="EN-US"><span style="font-family: Times New Roman;">Teman kuliah saya (berinisial EH, kelahiran Wonosari, dan berambut keriting) mengajak saya mampir ke rumah sewanya yang baru di Condong Catur, Yogyakarta. Rumah itu punya 3 ruang kamar tidur dan 1 ruang dapur yang bersisian dengan kamar mandi dan sumur. Teman saya menyewa rumah itu bersama dua karibnya yang saat itu mudik ke Semarang dan Bandung. Rumah sewa itu dekat sungai dan rimbunan pohon bambu. Di seberang jalan depan rumah sewa itu ada satu rumah lain yang bagian depannya jadi warung barang-barang kebutuhan sehari-hari. <span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt; line-height: 150%; font-family: " lang="EN-US"><span style="font-family: Times New Roman;">Saat itu matahari mulai melorot ke barat dan angin menggerak-gerakkan rimbunan daun bambu. Kami duduk-duduk di kursi kayu di ruang dapur mengobrolkan cewek kakak tingkat di kampus kami yang manis dan tampak kesepian. Teman saya membujuk saya mengencani cewek itu. “Dia orang Kristen dan saya santri Pondok Pesantren Krapyak. Tak enaklah tiap minggu saya antar-jemput dia ke gereja,” ujar saya. Teman saya terbahak. “Aku ingin pacar manis, sexy, dan solehah. Syukur-syukur tahu puisi,” sambung saya. Teman saya segera menyahut, “Kakak tingkat itu manis, sexy, dan gemar sastra. Kurang apa. Tinggal kau minta dia syahadat. Beres, kan.” </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt; line-height: 150%; font-family: " lang="EN-US"><span style="font-family: Times New Roman;">Saya kadang ngobrol sambil berdiri dan jalan ke sana-sini kayak deklamasi. Saya heran, tiap saya mendekati bibir sumur yang terbuat dari cor-coran semen dan batako itu bulu kuduk saya berdiri dan kemudian rebah lagi setelah menjauh dari bibir sumur itu. Sumur itu tanpa tiang dan tali kerek, mulut liangnya tertutup payung hitam yang kainnya terkembang penuh. Di sisi sumur itu terpasang mesin pompa air merek Sanyo dan satu pohon bunga kamboja kecil dalam pot tanah. Saya melangkah berulang maju-mundur ke arah bibir sumur itu dan bulu kuduk saya berkali-kali tegak dan rebah. “Sumur ini berhantu,” kata saya. Teman saya penasaran. Dia melakukan yang sama dengan yang saya perbuat dan dia merasakan seperti yang saya alami. Tapi kami tak takut, bahkan terhibur. Sambil ngobrol kami bercanda dengan melangkah maju-mundur ke arah bibir sumur itu berulang-ulang sampai kami bosan dan lapar. Teman saya membuka tudung meja makan dan menutupnya kembali. Ada sedikit nasi dan sepotong tempe goreng. Kemudian kami keluar mencari makan di warung padang terdekat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt; line-height: 150%; font-family: " lang="EN-US"><span style="font-family: Times New Roman;">Kami kembali ke rumah sewa itu ketika hari sudah gelap. Kami langsung ke ruang dapur lagi dan melanjutkan obrolan. Ajaib. Tudung meja makan itu terkuak dan sepotong tempe goreng itu lenyap. Kucing dan tikus mustahil menyibaknya. Kalau maling buat apa cuma ambil sepotong tempe goreng. Saya menuduh hantu sumur mencuri sepotong tempe goreng itu. “Mana mungkin demit makan tempe goreng?” bantah teman saya. Saya cepat mengangkat payung hitam dari liang sumur itu. “Hei, hantu kok makan tempe goreng. Terlalu!” saya berolok sambil melongok ke dalam liang sumur itu. Lalu kami ngobrol lagi sambil mendengar lagu Rhoma Irama dari siaran radio swasta lokal. “Jagalah radiomu. Nanti bisa diembat hantu sumur,” oceh saya sambil joget-joget kecil.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt; line-height: 150%; font-family: " lang="EN-US"><span style="font-family: Times New Roman;">Kami ngobrol di dapur malam itu sambil merokok Djarum 76, mengunyah kacang goreng, dan minum seduhan kopi Kapal Api. Kami tak lagi berbincang soal kakak tingkat itu. Kali ini kami diskusi soal puisi Mathori A Elwa dan cerpen Joni Ariadinata, harga sembako, demontrasi aktivis PRD, lonte-lonte Pasar Kembang, dan pemikiran Tan Malaka. Juga tentang mistik dan hakikat makhluk halus. Kami bicara ngawur-ngawuran saja sampai rokok dan kopi tandas. Masih tersisa sebungkus kacang goreng. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt; line-height: 150%; font-family: " lang="EN-US"><span style="font-family: Times New Roman;">Setelah larut dan capek duduk, kami pindah tempat ngobrol di dalam kamar teman saya itu sambil baring-baring. “Enak tenan kalau kakak tingkat itu gabung ngobrol sama kita malam ini,” khayal saya. “Kata Kyai saya, bila berduaan dengan bukan muhrim maka hadir pihak ketiga, yaitu setan. Jadi kalau kakak tingkat itu ada di sini malam ini, kamulah setannya ha-ha-ha,” tambah saya.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Teman saya menyahut, “asu!”.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt; line-height: 150%; font-family: " lang="EN-US"><span style="font-family: Times New Roman;">Tiba-tiba terdengar suara denting piring dari dapur. Kami kira itu ulah tikus atau kucing. Suara denting itu tak berhenti. Kami segera memeriksa dapur. Dentingan berhenti dan tak tampak kucing atau tikus. Kami masuk kamar lagi. Denting itu terdengar lagi. “Ah, itu ulah hantu sumur. Hei, hantu! Terus saja <span style="mso-spacerun: yes;"> </span>pukul-pukul piring sampai pecah!” kata saya dan suara denting itu makin panjang dan keras. Kami diam sekian saat dan makin percaya pemukul piring itu adalah hantu sumur. Kami lama menunggu suara denting itu berhenti. “Hantu itu tersinggung kau tuduh mencuri tempe goreng,” tuding teman saya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt; line-height: 150%; font-family: " lang="EN-US"><span style="font-family: Times New Roman;">Saya punya ide sholat sunnat untuk mengusir hantu itu. Saya dan teman saya segera ke kamar mandi bersama untuk berwudlu. Suasana sunyi dan dingin. Saya jadi imam sholat sunnat mengusir hantu. Bulu kuduk saya meremang saat mengangkat tangan untuk takbiratul ihram di rakaat pertama. Setelah sholat sunnat kami tak mengobrol lagi, kami hanya baring-baring sambil mendengar lagu-lagu dangdut dari radio dan menghabiskan sisa kacang goreng. Kami pun segera tertidur dan tak bermimpi apa-apa. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt; line-height: 150%; font-family: " lang="EN-US"><span style="font-family: Times New Roman;">Besok paginya saya menuju ke warung depan rumah sewa itu untuk membeli sebungkus rokok Djarum 76, dua bungkus Indo Mie goreng dan dua bungkus kopi Kapal Api. Saya tanya ke pemilik warung itu apakah rumah sewa itu berhantu. “Malam hari sesekali ada bayangan perempuan berambut panjang dekat jendela. Pakaiannya serba putih. Saran saya, adik mengundang warga sekitar untuk tahlilan bersama di rumah sewa itu.” </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 13pt; line-height: 150%; font-family: " lang="EN-US"><span style="font-family: Times New Roman;">Saya melaporkan cerita pemilik warung itu ke teman saya, juga sarannya. “Lebih baik kamu pindah. Ongkos tahlilan bisa buat bayar sewa kamar satu bulan. Apalagi kalau mengusir hantu sumur itu harus tahlilan beberapa kali. Kamu bisa bangkrut. Lagi pula kamu alergi tahlilan. Kamu orang Muhammadiyah, kan?”<span style="mso-spacerun: yes;">   </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/hantu-pemakan-tempe-goreng-97.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bar Dangdut Jauh di Pulau…</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/bar-dangdut-jauh-di-pulau%e2%80%a6-90.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/bar-dangdut-jauh-di-pulau%e2%80%a6-90.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 13:56:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[JURNAL]]></category>
		<category><![CDATA[bar]]></category>
		<category><![CDATA[bar dangdut]]></category>
		<category><![CDATA[dangdut]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kuda ranjang]]></category>
		<category><![CDATA[rhoma irama]]></category>
		<category><![CDATA[soeharto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Saya berada di Korea Selatan semenjak Juni lalu dan saya menjadi makin mengerti makna rindu dan perasaan jauh dari negeri saya, Indonesia. Saya pun menjadi kian paham arti berjarak dengan yang saya cintai. Ah, Indonesia. Aih, cinta. Di telinga batin saya kerap terngiang pepatah lama: Lebih baik hujan batu di negeri sendiri ketimbang hujan emas di negeri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="ES"><span style="font-size: small;">Saya berada di Korea Selatan semenjak Juni lalu dan saya menjadi makin mengerti makna rindu dan perasaan jauh dari negeri saya, Indonesia. Saya pun menjadi kian paham arti berjarak dengan yang saya cintai. Ah, Indonesia. Aih, cinta. Di telinga batin saya kerap terngiang pepatah lama: Lebih baik hujan batu di negeri sendiri ketimbang hujan emas di negeri orang. Pepatah ini memang berlebihan dan sentimentil, tapi cocok untuk saya yang sedang berada jauh di negeri seberang lautan. Saya tak suka sentimentil sebenarnya, tapi ternyata sentimentil sesekali perlu juga. Saya toh bukan robot. Sentimentil itu bagian dinamika batin manusia sebagaimana rasa haru atau gembira dan menurut saya meladeni perasaan sentimentil bagus juga untuk merabuk kesuburan jiwa.<span id="more-90"></span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="ES"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: " lang="ES">Semenjak di Korea saya juga jauh dari bar dangdut kebanggaan saya di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat. Kelap-kelip remang lampunya, biduan-biduannya, tembang-tembang syahdunya makin membangkitkan kekangenan saya dan menggetarkan selaput perasaan saya. Sudahlah takdir bar dangdut membuat saya merasa haru dan gembira. Juga sentimentil. Dangdut bukan seni kampungan seperti dianggap orang kebanyakan. </span><span style="font-family: " lang="EN-US">Penyebab anggapan semacam itu cuma satu: Tak kenal maka tak sayang. Kenapa bar dangdut tak ada di Korea? Di KBRI di Korea pun tak ada bar dangdut.<span style="mso-spacerun: yes;">    </span><span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: " lang="EN-US">Semenjak di Korea, ketika saya pingin nyanyi-nyanyi saya pergi ke norebang, karaoke-nya Korea. Tapi sungguh sayang di norebang tak ada lagu Rhoma Irama, Rita Sugiarto, Elvi Sukaesih,<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>maupun Evi Tamala. </span><span style="font-family: " lang="ES">Hampa rasanya dunia. Suatu kali saya protes ke pemilik norebang, tapi sia-sia belaka. Dangdut itu musik apa, dia bertanya. Saya malas menerang-jelaskannya. Semenjak itu pula saya jadi malas pergi ke norebang. Alasannya: tak ada lagu dangdutnya dan harganya mahal pula. Kemudian saya memilih mencari kebahagiaan dengan mendengar lagu-lagu Rhoma Irama melalui laptop uzur saya di kamar penginapan saya di Seoul dan saya beli sepasang salon supaya lebih mantap suaranya. Aduh, indahnya. Terima kasih, dangdut. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="ES"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: " lang="ES">Para tetangga kamar penginapan saya para profesor dari berbagai negara yang mengajar di kampus Hankuk University of Foreign Studies, Seoul. Tampaknya mereka mulai akrab dengan dangdut lantaran setiap hari saya memutar lagu-lagu Rhoma Irama. “Jika Amerika punya Elvis Presley, negeri saya punya Rhoma Irama,” terang saya. Diplomasi kebudayaan saya lumayan, kan? Mereka juga pernah mengundang saya menghadiri pesta kecil dan saya diminta membacakan puisi saya. Kebetulan saya membawa edisi bahasa Inggris buku puisi saya <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Kuda Ranjang</em> ke Korea.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span></span><span style="font-family: " lang="EN-US">“You&#8217;re a really poet, Binhad. Nice poet,” puji mereka. </span><span style="font-family: " lang="ES">Dipuji memang enak, tapi tak boleh terlalu diambil hati,<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>bisa bikin lupa daratan dan besar kepala. Sesekali tak apalah.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span><span style="mso-spacerun: yes;">    </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="ES"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: " lang="ES">Kembali ke urusan dangdut. Lagu-lagu Rhoma Irama musiknya enak didengar dan syairnya merambah banyak persoalan Indonesia. Sejak album Soneta Grup volume 1 sampai 15 misalnya, syair-syair lagunya selain romantis juga kritis terhadap realitas di Indonesia. Sesekali saya menerjemahkan syair-syair lagu Rhoma Irama dan para profesor itu menjadi mengerti sebagian realitas manusia dan kehidupan sosial Indonesia. Rhoma Irama telah berjasa mengenalkan pengetahuan tentang Indonesia dan masyarakatnya ke para profesor itu. </span><span style="font-family: " lang="EN-US">Tanpa teori, diktat, konferensi, atau seminar. Cukup lewat dangdut. <span style="mso-spacerun: yes;"> </span>“Dangdut is a good culture diplomation, Binhad,” komentar mereka. </span><span style="font-family: " lang="ES">Saya cuma senyum mendengarnya dan diam-diam saya menjadi makin bangga pada Rhoma Irama. </span><span style="font-family: " lang="EN-US">“How about Mister Soeharto?” tanya mereka. “Ah, dia hanya masa lalu politik kami. Rakyat kami lebih suka Rhoma Irama ketimbang jenderal itu,” ujar saya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-family: " lang="EN-US"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/bar-dangdut-jauh-di-pulau%e2%80%a6-90.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebangkrutan Nasional, Kebangkitan Rasional</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/kebangkrutan-nasional-kebangkitan-rasional-52.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/kebangkrutan-nasional-kebangkitan-rasional-52.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 04:27:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[JURNAL]]></category>
		<category><![CDATA[seabad hari kebangkitan nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Bangsa ini menunggu 100 tahun untuk benar-benar bisa “merasakan” kebangkrutannya.   Berita-berita media massa hari-hari ini mengabarkan hasil berbagai analisis dan diskusi kaum intelektual dan para pakar berbagai disiplin ilmu mengenai Seabad Kebangkitan Nasional. Kesimpulannya seragam: bangsa ini makin mundur dan tak berdaya di berbagai bidang kehidupan. Tanpa analisis dan diskusi panjang lebar, kesimpulan itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bangsa ini menunggu 100 tahun untuk benar-benar bisa “merasakan” kebangkrutannya.<span id="more-52"></span></p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Berita-berita media massa hari-hari ini mengabarkan hasil berbagai analisis dan diskusi kaum intelektual dan para pakar berbagai disiplin ilmu mengenai Seabad Kebangkitan Nasional. Kesimpulannya seragam: bangsa ini makin mundur dan tak berdaya di berbagai bidang kehidupan. Tanpa analisis<span style="mso-spacerun: yes;"> dan diskusi panjang lebar, kesimpulan itu sudah sangat bisa diterka. </span></p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Tak perlu kerut kening menemukan bukti-bukti kemunduran bangsa ini. Gedung-gedung sekolah roboh dan ongkos pendidikan mahal sekali. Partai politik makin banyak tapi melahirkan barisan politisi pemburu kemewahan hidup melalui kekuasaan. Banyak pengusaha dan pejabat kaya raya dari hasil korupsi. Hutan-hutan digunduli oknum-oknum yang main mata dengan penguasa. Antar-pemeluk agama yang sama berkelahi. Dan sebagainya dan sebagainya.<span style="mso-spacerun: yes;"> <span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Lantas, apa yang diperbuat bangsa ini sejak 1908 hingga 2008? Jangan-jangan yang<span style="mso-spacerun: yes;"> selama ini terjadi bukan bangkitnya “perbuatan”, melainkan “perasaan” bangkit belaka. Sebagai warga bangsa, saya sulit mengaku bangsa ini telah bangkit. Bangkit dari apa? Oh, Hari Kebangkitan Nasional…</span></p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Ketika SD hingga SMA, peringatan Hari Kebangkitan Nasional bikin saya sering tersiksa dalam barisan peserta upacara di lapangan sepakbola di kampung saya, berjam-jam saya mesti tegak berdiri menahan terik matahari, dan bersabar mendengar pidato pemimpin upacara yang membosankan. Di tengah upacara, pernah kepala saya berkunang-kunang, lalu saya terkulai pingsan. Saya merasa tak berbakat mengikuti upacara, tapi sekolah mewajibkannya. Apa menariknya upacara? Upacara itu tak mengubah apa-apa, selain mengharuskan saya tegak berdiri berjam-jam di lapangan sepakbola yang bikin saya semaput gara-gara kepanasan.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Saya ingin punya fantasi heroik mengenai Hari Kebangkitan Nasional. Saya berangan “kebangkitan” menjadi nyata: mengubah keloyoan menjadi keperkasaan, kemunduran menjadi kemajuan, dan ketakberdayaan jadi kedigdayaan. Pokoknya, <em>so far so good</em>-lah. Ternyata, makin sering saya berangan, kian sering pula saya terkecewakan. <span style="mso-spacerun: yes;"> </span></p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Kenyataan sehari-hari bangsa ini membuat saya merasa kalah dan nihil. Kebangkitan <span style="mso-spacerun: yes;"> jadi “mimpi indah nasional” belaka serta upacara di lapangan sepakbola yang bikin saya kepanasan berjam-jam. Saya merasa cemas dan jera untuk berangan lagi. Sebab, yang nyata kini adalah adanya kebangkrutan nasional yang mencolok mata. </span></p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Kebangkrutan itu terjadi karena bangsa ini terjangkit krisis pemikiran rasional. Krisis ini melahirkan perbuatan-perbuatan ganjil dan merugikan kepentingan banyak orang. Maling ayam atau kolor tetangga digebukin massa sampai mati, tapi pencuri uang rakyat bermilyar-milyar dilindungi seperti orang suci. Jalan raya yang mulus-rata dibikin bergeronjal<span style="mso-spacerun: yes;"> oleh polisi tidur. Polisi cepek merajalela mengganti peran petugas pengatur lalu-lintas. Negara tak berdaya pulau-pulau dicaplok negara tetangga. Perusahaan pengebor gas membikin lumpur panas meluap yang menenggelamkan banyak desa dianggap bencana alam belaka.<span style="mso-spacerun: yes;"> <span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Capek deh!</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="mso-spacerun: yes;"> </span></p>
<p style="text-align: justify;">Mari mencanangkan Hari Kebangkitan Rasional hari ini. Tanpa harus diperingati dengan upacara yang memaksa tegak berdiri berjam-jam di lapangan sepakbola dan mendengar pidato sambil menahan panas terik matahari. Yang diperlukan bangsa ini adalah berpikir dan berbuat, bukan upacara yang menyiksa dan bikin semaput saya itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Berpikir dan berbuat, grak!</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/kebangkrutan-nasional-kebangkitan-rasional-52.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku nge-Blog, Maka Aku Ada…</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/aku-nge-blog-maka-aku-ada%e2%80%a6-46.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/aku-nge-blog-maka-aku-ada%e2%80%a6-46.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 May 2008 06:20:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[JURNAL]]></category>
		<category><![CDATA[blog blogger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[“Aku nge-blog, maka aku ada” merupakan adagium sosiologis slenge’an masa kini yang menggambarkan cara dan bentuk kehadiran dan komunikasi baru masyarakat mutakhir di Tanah Air yang kian merebak dan merintis rumpun masyarakat anyar bernama blog society. Saya tiba-tiba ingat perintis gaya kawula muda membentuk kelompok musik pop yang dijuluk boys band pada dasawarsa 1980, yaitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">“Aku <em>nge</em>-blog, maka aku ada” merupakan adagium sosiologis <em>slenge’an</em> masa kini yang <span style="mso-spacerun: yes;"> </span><span style="mso-spacerun: yes;"> </span>menggambarkan cara dan bentuk kehadiran dan komunikasi baru masyarakat mutakhir di Tanah Air yang kian merebak dan merintis rumpun masyarakat anyar bernama <em>blog society</em>.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-46"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Saya tiba-tiba ingat perintis gaya kawula muda membentuk kelompok musik pop yang dijuluk <em>boys band</em> pada dasawarsa 1980, yaitu New Kids On The Block (NKOTB) yang disusul Boys 2 Men, Backstreet Boys, dan kelompok musik pop anak-anak muda di Tanah Air, misalnya Kahitna, Java Jive, P-Project, Tofu, dan lain-lain. Tentu, blog bukan ajang musik semata, sebab NKOTB bukan singkatan New Kids On The Blog (he-he). Camkanlah, blog adalah sebuah dunia yang sepertinya makin bisa diisi dan digunakan untuk keperluan yang kian beragam.</p>
<p style="text-align: justify;">Blog merupakan ruang maya kehadiran para individu mutakhir (juga toko, showroom, dan lain-lain) di dunia jagat jembar (www: world-wide-web) dan dijadikan medium informasi dan komunikasi, bertransaksi, berinteraksi sosial, menjelma jadi cara dan bentuk baru bermasyarakat. Fasilitas teknologi internet (sebuah alam maya yang tampak kian “kikis” citra kemayaannya) ini jadi ruang masyarakat mutakhir mewadahi kehadiran dan dinamikanya. Teknologi ini membuat faktor warna kulit, jenis kelamin, dan bahasa tubuh yang kerap memberikan pengaruh tertentu dalam komunikasi tradisional alias komunikasi <em>copy </em>darat kini jadi masa lalu…</p>
<p style="text-align: justify;">Kian terasakan kaum <em>blogger</em> mengidentifikasi dirinya atau diidentifikasi oleh orang lain melalui penampakan dan isi blog-nya. Hm, inikah bentuk masyarakat ter-blogisasi?</p>
<p style="text-align: justify;">Ah, blog-mu adalah dirimu yang…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/aku-nge-blog-maka-aku-ada%e2%80%a6-46.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Survei Selingkuh…</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/survei-selingkuh%e2%80%a6-41.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/survei-selingkuh%e2%80%a6-41.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 04:51:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[JURNAL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Laki-laki dan perempuan berpotensi untuk selingkuh. Tapi, laki-laki ataukah perempuan yang lebih berpotensi untuk selingkuh? Laki-laki lebih berpotensi untuk selingkuh. Setidaknya itu yang tergambar dari survei ini. Hanya sebagian kecil yang menganggap sebaliknya, bahwa perempuan lebih punya potensi tidak setia pada pasangan. Sebagian kecil responden perempuan mengakui kaumnya lebih berpotensi selingkuh. Namun, ini masih jauh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Laki-laki dan perempuan berpotensi untuk selingkuh. Tapi, laki-laki ataukah perempuan yang lebih berpotensi untuk selingkuh?</p>
<p><span id="more-41"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Laki-laki lebih berpotensi untuk selingkuh. Setidaknya itu yang tergambar dari survei ini. Hanya sebagian kecil yang menganggap sebaliknya, bahwa perempuan lebih punya potensi tidak setia pada pasangan. Sebagian kecil responden perempuan mengakui kaumnya lebih berpotensi selingkuh. Namun, ini masih jauh lebih kecil daripada responden laki-laki yang mengakui hal yang sama. Hasil survei ini hanya menunjukkan persepsi responden, bukan fakta siapa yang pada kenyataannya paling banyak berselingkuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Anda, siapa yang paling besar punya potensi berselingkuh, laki-laki atau perempuan?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Responden perempuan</strong> menjawab:</p>
<p style="text-align: justify;">
<ol>
<li>Laki-laki   = 53,4%</li>
<li>Sama saja   = 34,8%</li>
<li>Perempuan  = 5,7%</li>
<li>Tidak tahu  = 6,1%</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>Responden laki-laki</strong> menjawab:</p>
<p style="text-align: justify;">
<ol>
<li>Laki-laki   = 38,3%</li>
<li>Sama saja   = 38,8%</li>
<li>Perempuan  = 15,4%</li>
<li>Tidak tahu  = 8,0%</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">Survei ini dilakukan 29-30 April 2008 melalui telepon pada 413 responden 17+ yang dipilih acak dari Buku Petunjuk Telepon Jakarta dan Surabaya. Dengan tingkat kepercayaan 95%, nirpencuplikan penelitian +/- 4,8%. Hasil survei ini tidak mewakili pendapat seluruh masyarakat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: ">(Sumber<em>: BE SATRIO/Litbang Kompas – Harian Kompas, Minggu, 4 Mei 2008</em>).<em> </em></span></p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/survei-selingkuh%e2%80%a6-41.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mitos Payudara</title>
		<link>http://binhadnurrohmat.com/mitos-payudara-40.php</link>
		<comments>http://binhadnurrohmat.com/mitos-payudara-40.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 12:52:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binhad</dc:creator>
				<category><![CDATA[JURNAL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://binhadnurrohmat.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Payudara begitu indah dan merupakan misteri Penciptaan yang menggetarkan. Semenjak zaman lampau hingga sekarang, payudara jadi anugerah alami perempuan yang menakjubkan. Payudara juga sumber air susu paling lengkap-sempurna bagi bayi dan tak tertandingi air susu buatan manusia. Payudara begitu hebat dan betapa tebaran mitos menyelubunginya…. 
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Payudara begitu indah dan merupakan misteri Penciptaan yang menggetarkan. Semenjak zaman lampau hingga sekarang, payudara jadi anugerah alami perempuan yang menakjubkan. Payudara juga sumber air susu paling lengkap-sempurna bagi bayi dan tak tertandingi air susu buatan manusia. Payudara begitu hebat dan betapa tebaran mitos menyelubunginya…. <span id="more-40"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Ukuran Payudara</span><br />
Banyak yang menyangka laki-laki hanya suka pada payudara besar, akibatnya banyak perempuan berikhtiar memperbesar payudara. Padahal, laki-laki yang suka payudara besar sama banyaknya dengan laki-laki yang suka payudara kecil. Besar-kecil payudara tak menentukan besar-kecil gairah seksual perempuan. Besar-kecil payudara merupakan bawaan dan tingkat peka-rangsang payudara tergantung pada payudara jadi area erogen atau bukan. Tak benar payudara kecil lebih peka-rangsang ketimbang payudara besar. Juga tak benar perempuan berpayudara besar sebelah punya gairah seksual lebih besar. Jika dicermati, tak ada payudara simetris 100% dan kondisi ini normal belaka serta tak terkait dengan gairah seksual perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Ukuran Puting</span><br />
Tidak benar besar-kecil puting menentukan tingkat peka-rangsang. Puting kecil bisa lebih tinggi tingkat peka-rangsangnya ketimbang puting besar atau sebaliknya. Tingkat peka-rangsang tergantung faktor erogen. Puting besar atau kecil peka-rangsang bila jadi area erogen.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Posisi Payudara</span><br />
Tidak benar payudara sebelah kiri lebih peka-rangsang ketimbang payudara sebelah kanan. Anatomi dan faal payudara sebelah kiri dan kanan sama saja dan demikian juga tingkat peka-rangsangnya. Lagi-lagi, peka-rangsang payudara tergantung pada apakah payudara jadi area erogen atau bukan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Payudara Kendur</span><br />
Semua payudara menurun kekencangannya setelah melahirkan, baik menyusui ataupun tidak. Tidak benar menyusui membuat payudara kendur. Kekencangan payudara ditentukan perawatan (juga jenis dan ukuran kutang) serta jaringan ikat dan otot dinding dada. Secara alami, payudara besar dan bermodel menggantung lebih cepat kendur.</p>
<p style="text-align: justify;">(Diolah dari berbagai sumber)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://binhadnurrohmat.com/mitos-payudara-40.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

