Binhad Nurrohmat

going within…

Binhad: Tubuh Sebagai Kebudayaan

Posted by binhad on Apr-13-2010

Oleh Ita R AlawiyahMahasiswa Bahasa dan Sastra Universitas Tirtayasa, Banten

Kau dan aku bertaruh menghitung bulu

tumbuh di sekujur tubuhku dan tubuhmu yang gaduh

sampai jari tangan hangus dipanggang berton didihan hormon

yang gemuruh menderitkan kesumat kilang syahwat.[1]

Demikianlah salah satu penggalan puisi Binhad Nurrohmat dalam bukunya Bau Betina (2007). Sang penyair yang pernah diundang langsung ke Kampus Universitas Tirtayasa, Banten  pada 2007 untuk membedah buku terbarunya itu menyangkal bila ada yang mengatakan bahwa puisi-puisinya adalah puisi cabul. Dalam kumpulan-kumpulan puisinya memang tidak jauh-jauh dari tema kemesraan, maskulinitas, bahkan keintiman yang dianggap sebagai sesuatu yang wajar maupun erotis. Mungkin bagi sebagian orang lumrah dan mungkin juga bagi sebagian orang bahwa itu merupakan pornografi karena sama saja menelanjangi tubuh sendiri, hanya tampilannya saja dikemas dalam bentuk puisi.

Buku perdananya berjudul Kuda Ranjang (2004), kemudian dilanjutkan dengan buku esai Sastra Perkelaminan (2007), hingga pada Bau Betina, perlu kita tilik lebih lanjut. Mengapa hampir disemua bukunya terselip unsur seksualitas yang lebih menyorot pada sisi perempuan? Terlebih pada Bau Betina, keintiman itu penyair gambarkan penuh akspresi dengan setting rumah bordil, kamar tidur, kamar mandi, yang dikaitkan dengan syahwat atau birahi. Mungkinkah perempuan merupakan objek yang menarik untuk digali? Ataukah sosok yang gampang untuk bisa dieksploitasi?

Menurut agama, segala yang ada dalam tubuh perempuan merupakan keindahan. Merupakan seni yang tak dapar diukur, karena setiap pria memiliki penilaian yang berbeda-beda atas makna indah pada sisi setiap perempuan. Namun, jangan salahkan siapa, jika dewasa ini tubuh perempuan lebih dimaknai sebagai seni. Sampai-sampai adegan foto bugil pun mengatasnamakan seni.

Lihat saja majalah-majalah dewasa atau surat kabar semisal lampu merah dan sebagainya yang menjadikan foto-foto perempuan dengan pakaian sexy sebagai objek mereka. Tentu tak heran lagi, kenapa majalah Playboy yang nota bene majalah porno di “luar negeri” bersikukuh mengatakan bahwa Playboy tidaklah porno jika melihat realitas majalah atau surat kabar lain yang terjual bebas di pasaran tanpa pernah disinggung-singgung melanggar RUU APP.

Begitu pun dengan Binhad. Ia mencoba mengangkat sebuah realitas sosial yang memang tidak bisa dikatakan tabu lagi. Bagaimana tubuh diartikan sebagai objek, karena ia menganggap bahwa tubuh merupakan bagian dari kebudayaan. Ke mana pun ia pergi, selalu tubuh itu mengikuti, baik ketika tidur, di kamar mandi, atau pergi ke tempat mana pun, tubuhlah sesuatu yang amat dekat dengan dirinya itu. Karenanya, dalam setiap puisi-puisinya, Binhad tak malu-malu mengungkap segala adegan demi adegan yang berkaitan dengan tubuh, meski pada akhirnya sebagian orang terutama dari kalangan muslim bahkan ada salah seorang mahasiswa yang mengatakan langsung di hadapannya bahwa ini tidak lain adalah puisi cabul, karena dengan terang-terangan hampir di setiap puisi-puisinya berisi kata-kata yang kurang senonoh, seperti selangkangan, kelamin, puting, jembut, pantat yang dianggap terlalu mengekspliotasi tubuh, terlebih yang diceritakan adalah syahwat dan birahi. Tidakkah ada topik lain yang lebih menarik tanpa harus mengeksploitasi seksualitas?

Apalagi jika dihubungkan dengan biografi penyair. Binhad merupakan seorang lulusan pesantren. Tidak etis rasanya, jika ini dikait-kaitkan dengan teori di pesantrenan seperti yang dikemukakan oleh Marshall Clark dalam catatan pembacanya di halaman belakang buku itu. Tentu semua orang bisa berteori, namun adakah yang salah dengan teori, terlebih itu mengenai keagamaan. Binhad tetap berekspresi, entah semua inspirasi itu ia dapatkan dengan berteori atau tidak.

Tetapi ada yang menarik dari beberapa puisinya, ini mengenai Tuhan yang beberapa kali ia masukkan pula dalam puisinya di Bau Betina, seperti pada puisinya yang berjudul “Pohon Penyair & Danau Hamidah”, berikut penggalannya:

“Tuhan tak punya birahi.

Dia tak perempuan atau laki.

Tak seperti kau!”


“Tapi kau punya birahi

sebab kau perempuan.

Aku pun demikian

karena aku laki.”


“Tapi tuhan hidup melajang.

Kau mengerti kenapa?

Tuhan sabar dan setia menjaga nafsunya.

Tak seperti kau

sembarangan bercinta seperti ayam.

Andai semua laki dikebiri

tak perlu ada perempuan yang ternodai” [2]


Sekilas, sepertinya puisi di atas terlalu berlebihan dalam mengasosiasikan Tuhan. Namun apabila kita jeli, kemudian mencoba bertanya apa sebenarnya maksud yang ingin disampaikan sang penyair? Jika merujuk pada kalimat, Tak seperti kau – sembarangan bercinta seperti ayam. Andai semua laki dikebiri – tak perlu ada perempuan yang ternodai. Berisi pesan yang dalam, bahwa realitas yang terjadi sekarang ini adalah berasal dari faktor manusia itu sendiri, tak peduli perempuan atau laki, yang pasti tidak menutup kemungkinan bahwa apa yang tertulis dalam puisi-puisi Binhad tadi merupakan rujukan dari realitas yang ada saat-saat ini.

Pantas saja ia memberi judul Bau Betina, betapa manusia diasosiasikan dengan ayam yang tak lain adalah binatang. Apakah antara manusia dan binatang kini sudah tidak ada pembeda? Perempuan atau wanita yang tak lain seorang manusia digantikan dengan sebutan betina. Bukankah istilah betina lebih dekat kepada hewan atau binatang? Binhad memberi simbol itu, yakni sebuah kebebasan yang kebablasan, di mana tubuh dijadikan sebagai objek yang kini disimbolkan sebagai kebudayaan, yang sejatinya bertolak belakang dengan kebudayaan yang kita miliki.

***

NB:

Ita R.Alawiyah adalah kependekan dari Ita Rosihatul Alawiyah, atau memiliki nama pena Itara Azkiya.

[1] Penggalan puisi Binhad Nurrohmat yang berjudul “Bau Betina”, dalam Bau Betina ( Jakarta : I:BOEKOE, 2007), hlm. 62.

[2] Ibid, p. 139.

(Sumber: http://itaraazkiya.multiply.com/journal, 27 November 2008)


Add A Comment