Bertemu Marno II
Setelah meninggalkan masjid di Itaewon itu, Marno & Jane berjalan sambil bergandeng tangan. Sesekali pasangan itu berhenti mengamati barang-barang dagangan yang dijaja di tepi trotoar dan membeli minuman kaleng. Mereka juga singgah dan duduk-duduk di bangku taman. Hawa Korea kian dingin. Pohon-pohon gingko yang banyak tumbuh di sisi jalan raya mulai rontok daun. Dari berita cuaca yang saya peroleh, musim dingin tak lama lagi datang.
Hari kian merayap ke arah malam. Udara terasa berat. Marno & Jane terus berjalan dan kemudian masuk ke sebuah restoran Jepang. Saya pun segera menyusul mereka ke restoran yang sama dan duduk tak jauh dari meja mereka. Mereka makan dan minum sake sampai menjelang pukul 10 malam. Mereka tampak hangat dan menggelar dialog mesra yang samar-samar sampai ke telinga saya. Jane tak banyak minum dan Marno seperti orang kehausan. Keluar dari restoran itu Jane kuwalahan memapah tubuh Marno yang limbung karena lambungnya penuh sake. Tubuh Marno yang tinggi-besar itu melangkah dalam papahan Jane. saya terus membuntuti mereka dan saya menyaksikan Marno beberapa kali oleng dan terjerembab di trotoar.
Mereka terus berjalan dan saya terus membuntutinya. Di sebuah tepi jalan mereka mencegat satu taksi dan segera melaju, saya membuntuti mereka dengan menumpang taksi pula. Taksi mereka berhenti di daerah Hwarangdae. Jane tampak capek tapi terus memapah Marno sampai ke sebuah apartemen tak jauh dari Stasiun Hwarangdae. Sejak itu saya tahu di mana apartemen mereka. Tapi, saya belum bisa memastikan kebenarannya, sebab saya belum punya bukti apartemen itu milik mereka atau apartemen itu milik salah satu dari mereka.
Saya segera kembali ke apartemen saya setelah mereka menutup pintu apartemen itu. Mungkin Marno & Jane langsung tidur atau bercinta, saya tak tahu. Teropong saya pun mustahil menembus tembok kamar apartemen itu. Untunglah, saya mendapatkan tumpangan kereta bawah-tanah yang terakhir malam itu.
Dalam gerbong kereta bawah-tanah itu saya memikirkan Marno. Kenapa Marno berada di Korea dan bersama Jane? Apakah mereka akan menghabiskan masa tua di Korea? Apakah Marno akan kembali ke tanah airnya dan tinggal di kampung embahnya sampai mati? Masih banyak pertanyaan lain. Saya benar-benar ngantuk. Stasiun demi stasiun terlalui. Bagaimana dengan Jane? Saya sudah tak punya tenaga untuk bertanya. Misi menyelidiki Marno pun belum selesai.
Siapakah M-a-r-n-o?
Berita sakitnya Kim Jong Il, pemimpin Korea Utara yang komunis itu, menjadi kabar hangat di semenanjung Korea. Kabar ini datang setelah sekian bulan lalu Jepang mengklaim Pulau Dokdo yang selama ini masuk wilayah Korea Selatan. Ada juga kabar seorang perempuan mata-mata Korea Utara yang berkeliaran di Korea Selatan tertangkap aparat keamanan di daerah Suwon. Konon perempuan itu muda dan cantik. Oh ya, saya juga dengar kabar perkelahian antar-kelompok pekerja asing dari Asia yang di daerah industri Ansan dan menewaskan dua orang dari kedua kelompok itu.
Apakah Marno tahu semua kabar itu? Saya kira bagi Marno Jane lebih menarik ketimbang urusan-urusan yang tak ada sangkut-paut dengan dirinya itu. Tapi bisa juga Marno tahu semua kabar itu. Melalui teropong saya sering melihat Marno menenteng koran The Korea Times dan saya segera membeli koran yang sama hari itu juga untuk mencari tahu berita apa kira-kira yang dibaca dan menarik bagi Marno. Sungguh pekerjaan melelahkan. Kenapa saya mau repot-repot melakukannya?
Saya mulai merancang strategi untuk misi membongkar hal-ihwal Marno. Untuk apa? Saya tak tahu. Saya hanya ingin melakukannya karena penasaran. Ya, penasaran. Kenapa saya penasaran? Saya tak tahu. Kenapa saya tak tahu? Saya lebih tak tahu lagi. Saya membuka situs Google dan Yahoo lagi dan tak menemukan data tentang Marno di Korea. Saya benar-benar buntu untuk mengetahui tujuan Marno berada di Korea. Kenapa saya ingin tahu? Saya tak tahu. Strategi tetap saya rancang demi kelancaran misi. Semalaman saya mengerjakan strategi itu. Saya tak peduli misi saya menyelidiki Marno berfaedah atau tidak.
Siapakah M-a-r-n-o?
Saya makin punya sedikit waktu menyelidiki Marno. Saya harus meninggalkan Korea tak lama lagi. Setelah saya membaca ulang strategi saya dan menghitung waktunya, saya pastikan saya tak punya cukup waktu menjalankan misi menyelidiki Marno. Apakah saya harus memperpanjang waktu saya tinggal di Korea demi misi itu? Saya merenungkannya semalam suntuk dan belum ada kata sepakat dalam diri saya sendiri tentang itu. Saya melihat teropong saya menggantung lesu di balik pintu kamar apartemen saya. Teropong bodoh. Teropong itu belum becus membereskan misi saya padahal waktu saya berada di Korea tinggal sedikit lagi. Tapi teropong hanya teropong, saya tak bisa menyalahkan benda mati itu.
Malam itu saya tidur pulas sekali dan saya bermimpi. Dalam mimpi saya itu saya melihat Marno & Jane berjalan-jalan di istana Changdeokgung, tak jauh dari Stasiun Anguk. Mereka berjalan-jalan di istana peninggalan Raja Taejong yang dibangun pada 1405, saat itu Korea dalam masa Dinasti Joseon. Kemudian Marno & Jane mampir ke Café Julie di luar kompleks istana itu. “Jane, aku ingin minum anggur sampai mabuk. Aku sebel dibuntuti pria yang dulu pernah beberapa kali bertemu aku di Lampung, Yogyakarta, Medan, Surabaya, dan Jakarta itu. Aku yakin dia bukan mata-mata. Dia hanya ingin memata-mataiku. Juga kamu, Jane. Untuk apa aku tak tahu. Dia bukan temanku dan aku juga bukan temannya. Dari gerak-geriknya tampaknya pria itu penyair.” Marno juga bercerita kepada Jane bahwa dia tak menemukan data tentang saya di situs Google maupun Yahoo. Lalu Jane memeluk Marno dan membisikkan ke dalam telinga pacarnya itu cerita seribu kunang-kunang di Manhattan dan Marno membalas bisikan Jane dengan cerita seribu kunang-kunang di sawah embahnya.
Pagi hari esoknya saya bangun dengan perasaan sangat gelisah. Saya memutar ulang mimpi saya itu dalam benak saya. Saya pernah mampir ke kafe yang dikunjungi Marno & Jane dalam mimpi itu. Saya mampir ke sana atas undangan seorang penyair Korea yang namanya membuat lidah saya kuwalahan melafalkannya. Gila, Marno & Jane pun duduk di sofa yang sama dengan sofa yang dulu pernah kami duduki. Saya merasa masygul dan kecolongan. Maafkan saya, pembaca. Saya merasa gagal menjalankan misi ini, bahkan sejak awal.
Siapakah M-a-r-n-o? Persetan.

Indonesia juga menunggu sampeyan, sang penyair!!!
Mister Mur,
Korea dingin minta ampun sekarang. Sumpah, Indonesia emang anget.
apa di korea ada tahu and tempe bacem? plus sayur asem? kalau di korea adem, masak ya cari seiimut yang bisa berdehem huahahaha
Bacem kikil babi kayaknya juga ada tuh ha-ha…
Ketahuilah, Bung, Penyair soleh menghangati hidupnya dengan puisi…
“Penyair soleh menghangati hidupnya dengan puisi”, itu menyentuh sekali bung
Makasih Bung Ook mampir menghangatkan blog ini…
Add A Comment