Binhad Nurrohmat

going within…

Bertemu Marno I

Posted by binhad on Oct-20-2008
Marno bukan teman saya. Saya pernah bertemu pria itu di Lampung, Yogyakarta, Medan, Surabaya, dan Jakarta. Banyak teman sebaya saya maupun yang lebih tua menyebut nama itu seperti nama orang penting atau tokoh besar. Konon Marno pernah tinggal di sebuah apartemen di Manhattan, Amerika selama sekian tahun dan selama itu dia berpacaran dengan Jane. Saat itu negeri Marno masih dipimpin Soekarno alias Bung Karno. Saya tak tahu nama lengkap Marno, barangkali Soemarno atau Marno saja. Saya juga tak tahu nama lengkap Jane, barangkali Jane cuma nama sapaan. Banyak nama orang di Amerika mengandung unsur Jane, misalnya Jane Fonda atau Janet Jackson.  Marno orang Jawa, setidaknya dari namanya. Jane warga Manhattan yang bercerai dengan suaminya sejak sebelum dikencani Marno. Pasangan ini punya banyak perbedaan, tapi mereka bahagia.
 
Bertahun-tahun kemudian saya bertemu Marno lagi dan kali ini di Korea. Marno masih berpacaran dengan Jane di Korea. Dulu ketika suatu malam mereka berkencan di apartemen Jane di Manhattan, Marno melihat cahaya lampu-lampu kota Manhattan dari ketinggian apertemen pacarnya itu seperti menyaksikan seribu kunang-kunang di sawah embahnya di Jawa saat dia bocah. Setelah kencan malam itu usai dan Marno meninggalkan apartemen Jane, perempuan itu telungkup di ranjang dan bantalnya basah air mata.
 
Siapakah M-a-r-n-o?
 
Barangkali Marno bukan nama sesungguhnya pacar Jane itu. Marno tergolong  nama yang meski tak kuno tapi terasa kampungan di telinga, sepadan dengan Narto, Pardi, atau Parjo. Penampilan Marno tampak terlampau ningrat sebagai pria yang menyandang nama Marno. Marno & Jane. Pasangan nama ini kontras. Nama Jane keren dan kosmopolitan. Urusan  nama ini bisa panjang dan diakhiri sampai di sini saja.
 
Barangkali Marno & Jane pasangan abadi. Mereka berpacaran sejak 1950an di Manhattan dan masih tampak mesra pada tahun 2008 di Korea. Barangkali ini kisah pacaran terpanjang di dunia. Saya menceritakan riwayat asmara Marno kepada gadis-gadis Korea kenalan saya dan mereka berpendapat betapa awet cinta pria itu. “Apakah kamu punya bakat asmara seperti Marno?” tanya seorang gadis Korea setelah menyimak kisah Marno. Konon perempuan Korea amat setia pada pacar maupun suaminya. Mereka kagum pada Jane dan mereka ingin pasangannya seperti Marno. “I Love Marno,” tambah gadis Korea itu.
 
Siapakah M-a-r-n-o?
 
Saya tak tahu pasti sebabnya kenapa saya penasaran pada Marno. M-a-r-n-o. Saya memburu informasi Marno di situs Google. Tak ada manusia bernama Marno di seluruh semenanjung Korea kecuali Marno pacarnya Jane itu. Saya ingin mengetahui Marno lebih jauh tanpa sepengetahuan Marno maupun pacarnya itu. Saya bertekad tak ingin berkenalan atau berteman dengan Marno meski saya dan Marno berada di kota yang sama. Saya membolak-balik literatur tentang Marno tatkala dia berada di Manhattan hingga saya hapal titik dan komanya. Bagaimana Marno menyimpulkan lampu-lampu kota Manhattan seperti seribu kunang-kunang di sawah embahnya di Jawa? Benarkah saat bocah Marno melihat seribu kunang-kunang di sawah embahnya di Jawa? Banyak jejak lain mengenai Marno yang saya usut kebenaran maupun kebohongannya.  
 
Siapakah M-a-r-n-o?
 
Korea mulai memasuki musim dingin. Saya membeli sebuah alat teropong di pertokoan Yongsan dan satu setel baju hangat di pertokoan Dongdaemun. Benda-benda itu saya beli khusus dalam rangka memata-matai Marno. Gila. Betapa penting nama kampungan ini. Saya yakin Marno tak menduga ada manusia ingin tahu lebih jauh tentangnya. Marno bukan orang berbahaya. Dia hanya Marno. M-a-r-n-o. Sebuah nama kampungan. Kenapa saya memata-matainya? Sungguh anjing pertanyaan ini.
 
Malam itu saya melihat Marno dan Jane naik kereta bawah tanah. Saya segera memasuki gerbong kereta itu. Akan ke mana mereka saya belum tahu. Mereka duduk rapat bersisian dan saya berdiri tak jauh dari tempat duduk mereka. Mereka tampak sama-sama tak bicara dan berkomunikasi melalui tatapan mata dan sentuhan tangan mereka. Hangat dan mesra. Di Stasiun Itaewon mereka turun dari kereta. Saya mengikutinya. Mereka naik sebuah tangga gerbang keluar stasiun. Saya membuntutinya. Mereka berjalan sambil setengah berpelukan. Akan ke mana pasangan itu?   
 
Siapakah M-a-r-n-o?
 
Saya tak bisa menduga kenapa mereka menuju masjid di Itaewon bikinan tentara Turki pada masa Perang Korea itu. Mereka akan bersembahyang? Mustahil. Menurut informasi, Jane orang Kristen yang tak pernah pergi ke gereja dan Marno orang Kejawen yang sembahyang sekali saja setahun saat Lebaran. Intinya, mereka golongan masa bodoh soal keyakinan pada agama dan tuhan. Tapi bukankah keyakinan orang bisa berubah? Lebih baik saya ikuti mereka. Keyakinan mereka bukan urusan saya. Benarkah sekarang keyakinan mereka bukan urusan saya? Mereka masuk ke tempat berwudlu. Saya menunggu mereka tak jauh dari tempat itu sampai mereka meninggalkan areal masjid itu. Mereka hanya cuci muka di masjid itu. Sialan.
    
Siapakah M-a-r-n-o?

(Bersambung)

 

  1. pakcik Ahmad Said,

    aku gak kenal Marno.
    walau mungkin aku pernah jumpa di Pulo Brayan atau di sudut warung rokok sekitar Padang Bulan.

    tapi coba sampiyan lanjutin cerita ini mungkin aku ingat sesuatu..

  2. BINHAD Said,

    Okay, Pak Cik. Perburuan belum selesai…

  3. gus muh Said,

    Ini pasti cerpen. Dan ini adalah fiksi. Ini gaya penulisan binhad yang baru. Jadi nggak usah dilacak ke mana2… ke omm gugel nggak usah juga diyanya. Lha wong ini karya fiksi kok. hahahahaha. Jangan pernah tertipu oleh keisengan dan kebohongan seorang sastrawan. Huakhuakhuak..

  4. BINHAD Said,

    Gus Muh, yang sabar ya… Ini peristiwa belum selesai lho dan silakan tunggu kelanjutannya. Kukira telik sandi tak bakal menemukan fakta Marno membakar buku, membelot ke Korea Utara, pidato kebudayaan di TIM, ataupun bersekongkol dengan Jacques Pangemanann orang Menado itu.

  5. Marno Said,

    Bukan cuma Marno, Nurrohmat juga sama saja. Nama belakang yang kedengarannya nDeso, udik, cungkring pula. Depannya aja keren: Binhad. Ugh.

Add A Comment