Bawuk di Korea
Cuaca musim ini memaksa saya mengurung diri di kamar atau di perpustakaan yang tak sampai seratus jangkah dari gedung penginapan saya. Suhu udara di Korea terus melorot mendekati 0 derajat Celsius. Daun-daun semarak kuning menyala atau jingga tua bertengger di ranting-ranting, sebagian rontok mewarnai tanah dan beton kaki-lima. Julangan pohon-pohon di musim ini bukan lagi barisan tumbuhan, melainkan hamparan seni rupa alam. Saya tak lagi berjalan-jalan sore seperti pada musim panas kemarin karena kini cuaca selalu memaksa langkah saya menjadi setengah berlari, berlari dari siksaan dingin yang menderu dan mencakar sekujur saya. Musim ini tampak indah dan sekaligus menyebalkan.
Setelah makan siang di kafetaria, saya melangkah ke perpustakaan. Tubuh tropis saya setengah menggigil tercengkeram cuaca. Saya langsung menuju rak literatur sastra Indonesia yang sebagian besar sudah jadul itu. Saya ingin membaca tapi tak tahu apa yang harus saya baca. Tangan saya asal meraih sebuah buku di rak itu: Sri Sumarah dan Bawuk karya Umar Kayam rupanya. Adakah orang Korea yang membaca buku ini?
Saya segera meninggalkan perpustakaan itu. Setiba di penginapan, tanpa melepas sepatu dan jaket, saya telentang di sofa sambil menyibak lembar demi lembar buku cerita itu. Berjam-jam saya bertahan di sofa itu. Kisah dalam buku itu tak berubah, tapi kesan saya membaca buku itu berubah.
Menjelang malam, telepon saya berdering. “Binhad, aku mengundang kau makan malam,” rupanya dari teman saya dari India yang berdarah Arab itu. “Okay,” jawab saya. Teman saya itu suka masak, hobi pesta, dan rajin mengundang saya pesta makan malam. Biasanya bukan hanya saya yang dia undang pesta makan malam. Juga kali ini. Sesekali saya memenuhi undangannya. Saya sering merasa hampa dalam pesta. Kadang juga gembira.
“Kamu sibuk apa hari ini?” teman saya itu memulai obrolan sambil menyalakan rokoknya. Saya menceritakan padanya buku Umar Kayam itu. “Itu pengarang Persia, kan?” Saya menjawab: Bukan hanya orang Persia yang punya nama Umar Kayam. Pengarang ini orang Jawa tulen, kebetulan ayahnya penggemar karya penyair Persia itu. Pengarang kelahiran Ngawi, Jawa Timur ini menulis prosa dan belum pernah memublikasikan puisi. “Tampaknya dia pengarang hebat, ya. Well, ceritakanlah isi buku yang kau baca itu, Binhad.” Apa boleh buat. Saya menceritakan Bawuk, perempuan yang kawin dengan Hasan, seorang aktivis komunis di Indonesia pada dekade 1960 itu dan seterus dan seterusnya. Singkat cerita, Bawuk dan Hasan hilang dalam peristiwa pembabatan orang-orang komunis di masa itu.
“Bawuk itu artinya apa?” teman saya itu bertanya. Bawuk adalah nama untuk perempuan di Jawa. Barangkali Bawuk berasal gawuk, gawuk artinya alat kelamin perempuan. Dan bocah laki di Jawa biasanya dipanggil “thole”, berasal dari kata “konthole”, konthol artinya penis. “Wah, porno sekali nama-nama itu,” sela teman saya dan dia berkelakar: Jika Bawuk tinggal di negeri berbahasa Inggris namanya bisa berubah menjadi Vagina. Kami tertawa. Lalu saya menyambung, “Banyak orang Arab bernama Zakariya. Zakar bisa berarti penis, dan pasangan penis adalah vagina.” Teman saya itu tak kuasa menahan bahaknya.
Teman saya itu kemudian mengoceh tentang sejumlah kesusastraan India dan Benggali yang menurutnya cukup hebat. “Karya-karya itu nasibnya tak beruntung lantaran tak ditulis dalam bahasa Inggris, dan tak mudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Karya-karya sastra di benua Asia bisa bertanding di kancah dunia bila terbit dalam bahasa Inggris,” simpulnya. Saya menghibur pendapatnya dengan cara mengangguk dan tersenyum. Saya sedang malas diskusi sastra. “Puisimu terbit dalam bahasa Inggris?” Saya menjawab: ya, sebagian kecil saja, tapi saya kira makin sedikit yang membacanya karena hanya beredar di Indonesia. “Why?” dia serius bertanya. “Masyarakat Indonesia terlalu mencintai bahasa nasionalnya,” jawab saya.
Terpaksalah saya bercerita lagi. Kolonialisme asing di Indonesia tak mewariskan bahasa mereka di Indonesia. Tak seperti kolonialisme Inggris di India, kolonialisme Spanyol di Amerika Latin, atau kolonialisme Perancis di Afrika Utara. Saya kira tak sedikit karya sastra Indonesia yang cukup punya kelas secara kesusastraan, tapi hanya diketahui masyarakat Indonesia sendiri, itupun hanya di kalangan segelintir elitnya. Sastra Indonesia hidup dalam masyarakat yang tak membaca. “Anda tahu, negeri kami dihuni lebih dari 200 juta manusia, tapi cetakan pertama buku puisi sebanyak 2000 eksemplar kerap masih bertahan di toko buku sampai penyairnya mati,” saya menutup cerita saya. “Anda tahu sastra Indonesia?” Teman saya itu menggelengkan kepala. Saya tahu dia tak berdusta.
Malam makin larut. Asap rokok mengepul di mana-mana. Saya mendengar lamat-lamat teman saya itu menceritakan kisah Bawuk ke teman-temannya yang lain yang dia undang ke apartemennya malam itu. Saya tak ingin mendengar bahak mereka. Saya sudah bosan mendengar tawa dalam pesta. Syukurlah kali ini saya tak terlalu merasa hampa. Ah, bau kari dan daging bakar tak henti merangsang dan menghibur selera saya. Musim ini membuat saya merasa lebih cepat lapar. Sebenarnya saya sangat kangen sate dan tongseng di Jakarta, tapi saya masih berada di Korea dan berada di tengah-tengah makanan India.
Minggu 23 November 2008 lalu, aku kebetulan membaca lagi Sri Sumarah dan Bawuk. Sebelumnya aku telah membaca novelet tersebut saat aku SMA. Berapa tahun lalukah itu?
Ketika aku membacanya kembali aku seperti baru membacanya. Bukan apa-apa aku lupa ceritanya. Maklum sudah lama banget kan? Apa ini tandanya novel ini kurang bagus? Yang terus yerngiang sejak masa SMA itu cerpen Seribu Kunang Kunang di Manhattan. Si Marno itu. Waktu Binhad bertanya apakah aku kenal Marno, baru kali ini aku sempat menjawabnya.
selamat menikmati menu keterasingan dan kawan baru berjuluk kerinduan kampung halaman …
salam,
saya setuju dg anda, belanda-inggris-portugis-spanyol-jepang atau negara-negara lain -mungkin- hanya mewariskan darah+keturunan,saya kadang juga iri dg negara lain yg juga bekas jajahan…
Add A Comment