“Bau Betina dan Kakus-Listiwa” oleh Hasan Aspahani
SIARAN pers itu mula-mula muncul di beberapa milis sastra, dan beredar pula dari sur-el ke sur-el. Isinya adalah sebuah akan. Ya, isinya adalah berita tentang rencana diskusi bertajuk “Media Massa Alternatif sebagai Media Perjuangan” yang akan digelar di Perpusda Banten Jl. Saleh Baimin No. 6 Seran, Banten, Sabtu, 24 November 2007 pukul 13.30.
Pada berita yang dikirim oleh Viddy AD Daery (atau setidaknya melalui alamat emailnya) diskusi itu digarap sama-sama oleh Bulletin Teater ActinG dan Jurnal Sastra Boemipoetra. Dan melibatkan beberapa Media Massa Alternatif (huruf kapital di awal kata, memang berasal dari siaran pers tersebut) lain yang ada di Banten seperti: Banten Muda, Titik Nol, Banten Link.
Akan tampil sebagai pembicara adalah Lee Birkin (ActinG), Wowok Hesti Prabowo (Boemipoetra) , Irfan (Banten Muda), Suryadi Sali dan Iman Nur Rosyadi (Banten Link). Menurut Lee Birkin, tema diskusi ini menarik untuk dibicarakan karena adanya keterlibatan ‘wong cilik’ yang sedang berbuat sesuatu bagi masyarakat. Lewat media massa wong ciliK ini, masyarakat bisa mengetahui kondisi pojok-pojok kehidupan yang tak terberitakan oleh media massa lainnya.
Perhatikan beberapa kata penting dalam berita itu: alternatif, perjuangan, wong cilik. Perhatikan juga kutipan dari Lee Birkin. Ada kata “keterlibatan”, “berbuat sesuatu bagi masyarakat”, “pojok kehidupan yang tak terberitakan oleh media massa lain”.
Jika ada penyebutan kata alternatif, berarti ada yang hendak ditolak, berarti ada yang hendak diganti. Yang alternatif adalah tawaran pengganti dari apa yang hendak ditolak itu. Menyebut nama “wong cilik”, berarti media yang hendak ditolak itu dianggap tidak atau kurang melibatkan “wong cilik”, dan media alternatiflah yang berjanji, atau berniat untuk memberi perhatian kepada “wong cilik” itu. Seluruh tawaran ini disimpulkan dalam satu kata: “Media Perjuangan”. Ada nada heroik pada kata itu. Ada kesadaran bahwa pilihan pada jalan ini bukanlah jalan yang gampang. Ini sebuah perjuangan, Bung! Jadi para pelakunya atau para pejuangnya ya siap menderita. Siap menghadapi perlawanan dari apa yang hendak dilawan!
Yang lebih menarik dari siaran pers itu adalah sesudah diskusi, disebutkan, akan diadakan penyerahan Anugerah Kakus-litiwa! (kelak nama ini berganti menjadi KAKUS-Litiwa). Anugerah ini diberikan kepada Buku Sastra Terburuk tahun 2007 yang jatuh pada buku berjudul “Bau Betina” kumpulan puisi kedua penyair asal Lampung yang kini bermukim di Jakarta, Binhad Nurrohmat.
Dan ini kutipan dari Wowok Hesti Prabowo, yang disebut di dalam siaran pers sebagai pemrakarsa penghargaan itu, “Pemenang kakus-litiwa award akan mendapatkan tropi berupa miniatur kakus dan uang sebesar seratus rupiah.” Kata Wowok, buku “Bau Betina” (I:boekoe, Yogyakarta, 2007) berhasil menyingkirkan sepuluh nominator buku terburuk tahun ini yang diseleksi oleh para sastrawan Boemipoetra di berbagai kota di Indonesia.
Main-main yang Tak Main-main
Gagasan pemberian anugerah kepada buku sastra terburuk ini, saya kira bukan sebuah upaya yang main-main, meskipun ada bunyi main-main yang sangat nyaring. Jika dari tahun ke tahun, pemberian anugerah ini berterusan, maka sastrawan Indonesia saya kira akan memperhitungkan benar karya-karyanya agar kelak ketika dibukukan terelakkan dari penghargaan ini. Anugerah ini berhasil, kelak, jika suatu saat tidak ada lagi buku yang pantas mendapatkan penghargaan tersebut.
Saya tak tahu bagaimana panitia dan juri Kakus-Litiwa bekerja. Apakah penerbit atau sastrawan mengirimkan karyanya untuk dinilai? Ataukah jaringan “sastrawan Boemipoetra” di berbagai kota di Indonesia itu yang bergerilya, mengumpulkan buku-buku lantas berdikusi untuk memutuskan mana buku yang pantas mendapatkan penghargaan? Menarik untuk diumumkan siapakah sastrawan dan buku karyanya yang masuk nominasi yang akhirnya tersingkir oleh kemahaburukan “Bau Betina”? Dan yang lebih penting adalah seburuk apakah “Bau Betina”? Di mana buruknya? Kenapa buruk?
Jika pertanyaan atas jawaban itu terjawab saya kira Kakus-Litiwa akan memberikan sumbangan yang amat besar memperbagus kesusasteraan Indonesia.
Lantas ada lagi sebuah sur-el lain yang beredar dari milis ke milis juga. Isinya juga siaran pers: Anugerah KAKUS-Listiwa Award Diserahkan Hari Ini di dalam KAKUS! “Hari ini” merujuk ke tanggal 24 November 2007, tanggal ketika siaran pers itu dikirimkan dari alamat sur-el boemiputra@yahoo.com.
Anugerah diserahkan di sebuah WC UMUM/KAKUS di Ciceri, Serang, Banten (tak jauh dari Perpusda Banten). Binhad Nurrohmat mendapat hadiah berupa miniatur KAKUS dan uang Seratus Rupiah. Karena ia tidak datang pada acara penganugerahan tersebut, maka miniatur KAKUS akan dikirim via pos. Jadikah seminar “Media Massa Alternatif sebagai Media Perjuangan” itu? Saya tak mendapat kabar pasti.
Hanya ada penjelasannya ini: KAKUS-Listiwa Award - nama dan cara penulisan memang berganti dari sur-el semula - adalah bentuk ejekan bagi Khatulistiwa Award! Bau Betina dan sembilan buku lainnya yang masuk nominasi Khatulistiwa Award (10 Buku Terbaik) juga masuk KAKUS-Listiwa Award (10 Buku Terburuk) sepanjang tahun 2007. Keterangan ini juga berbeda dari siaran pers sebelumnya yang sama sekali tak menyebutkan bahwa nominasi Khatulistiwa Award adalah juga nominasi KAKUS-Listiwa Award. Sebelumnya disebutkan bahwa seleksi diadakan di beberapa kota oleh sastrawan Boemipoetra!
Sampai di sini, saya mulai tidak bisa melihat kelucuan lagi. Coba simak kutipan ini: “Terpilihnya ‘Bau Betina’ sebagai buku terburuk 2007 setelah melalui seleksi dan perdebatan cukup ketat di antara dewan juri yang terdiri dari para sastrawan Boemipoetra.” Seketat apa seleksi dan perdebatan itu? Bukankah, panitia dan juri tinggal membaca 10 judul buku yang diumumkan oleh panitia Anugerah Sastra Khatulistiwa? Lagi-lagi, tidak ada penjelasan kenapa “Bau Betina” diberi gelar sebagai buku “Terburuk 2007″.
Yang pasti, panitia dan juri KAKUS-Listiwa Award juga menganggap buruk buku-buku berikut: “Angsana” (Soni Farid Maulana/Ultimus), “Dongeng untuk Poppy” (M. Fadjroel Rahman/Bentang), “Jam-Jam Gelisah” (Todung Mulya Lubis/GPU), “Kepada Cium” (Joko Pinurbo/GPU), “Laut Akhir” (Isbedy Stiawan ZS/bukupop), “Menjadi Penyair Lagi” (Acep Zamzam Noor/Pustaka Azan), “Notasi Pendosa” (Acep Iwan Saidi/LKiS), “Paus Merah Jambu” (Zen Hae/Akar), “Tamsil Tubuh yang Terbelah” (Amien Kamil/Mata Angin).
Pertanyaan saya berikutnya kenapa panitia KAKUS-Listiwa memilih kategori puisi untuk diejek? Kenapa bukan prosa? Lantas kenapa Khatulistiwa Literary Award - ini nama lengkapnya - harus diejek? Apa salahnya KLA?
Saya meraba-raba jawaban sendiri. Jika tujuannya mengejek KLA, maka saya kira KAKUS-Listiwa akan konsisten dan harus konsisten tiap tahun mendahului memilih satu buku terburuk, dari daftar sepuluh buku terbaik KLA. Tapi kenapa KLA harus diejek? Mungkin, inilah bagian dari kerja besar sastrawan Boemipoetera: melawan lembaga apapun yang (dianggap) dominan. Ingat kelompok Boemipoetera juga yang melawan Komunitas Utan Kayu (KUK) yang juga (dianggap) mendominasi komunitas sastra lain bahkan mendominasi sastra Indonesia.
Tapi tujuannya apa? Apakah ingin mengakhiri dominasi (kalau itu memang ada dan mencemaskan kehidupan sastra Indonesia) KUK? Atau meminta Richard Oh - si penyelenggara KLA - agar menghentikan KLA, dan mengalihkan dananya? Tapi dialihkan ke mana dan kepada siapa?
Sambil menunggu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya - dan pasti juga banyak orang seperti saya, yaitu para “wong cilik” dalam kehidupan sastra Indonesia ini - tadi, baiklah kita telisik seperti apakah buku “Bau Betina” dan siapakah Binhad Nurrohmat.
Binhad, Kuda Ranjang, dan Bau Betina
puisi kalian rata kiri
puisiku rata kanan
Binhad Nurrohmat menuliskan kredo yang ia sebut bukan sekadar kredo itu di buku pertamanya “Kuda Ranjang” (Melibas: Jakarta, 2004). Sebagai kredo, tentu ia harus menaatinya. Maka, kita akan menemukan sajak-sajaknya di buku atau di surat kabar sedemikian itulah: rata kanan. Ini adalah kejelian dan kecerdikan penyair Binhad. Dengan cara yang sesepele itu, ia sudah menandai sajak-sajaknya. Ini tentu saja tidak langsung menunjukkan pada mutu sajak-sajaknya. Jurus Binhad ini hanya permainan tipografi, dan kita tahu tipografi hanyalah salah satu dari struktur fisik sajak. Pilihan itu - dan pilihan apapun dalam sajak - tentu berisiko. Binhad, dengan demikian, kehilangan kesempatan untuk memain-mainkan tipografi untuk mencapai efek lain. Ia tentu sudah menghitung untung-rugi jurus itu.
Jika kredo itu kita baca lebih jauh, maka ini juga berarti pilihan sajak Binhad yang menyisi ke sisi lain dari sajak-sajak “kalian”. Jika sajak adalah ihwal mengucap, maka Binhad telah memilih segugus kata-kata sebagai alat-alat untuk mengucapnya, dan pilihan itu tentu ia maksudkan sebagai upaya untuk mencapai kekhasan ucapan. Maka dalam sajak-sajaknya enak saja ia memakai kata-kata “zakar”, “berak”, “tahi”, “bokong”, “air kencing”, “mengentot”, “daging bugil”, “batang keras penisku”, “gerbang syahwatku”, “birahi mengental”, “mata air penismu”, “ganas ranjang”, “menyemburkan sperma”, “melunaskan liur kelamin”, “serabut sumbu kelamin”, “otot-otot kelangkang”.
Tentu saja penyair lain juga ada yang memakai kata-kata dan frasa demikian itu. Penyair Sutardji misalnya pada buku “O Amuk Kapak” (Sinar Harapan: Jakarta, 1981) dalam kadar yang sangat terkontrol ada memakai kata “kelengkang” (bukan “kelangkang”), “dara menggigit kutang”, “menguap di atas ranjang”, “kamar sudah bertelanjang sendiri”, “kau lipat aku dalam pahamu”, “payau dalam geliat syahwat”, “sampai tumbuh jembutnya”, “kuterjemahkan kelaminku ke dalam kelaminmu”, “copot tulang telanjang bau”, “susu haru segala perempuan”.
Bandingkan penggalan-penggalan kata dan frasa di atas. Sekilas tak ada bedanya mana yang dari Tardji dan mana yang dari Binhad. Tetapi coba kembalikan ke sajak aslinya, maka akan segera terlihat betapa Tardji di dalam sajaknya bisa mencapai tingkatan makna, dan menurut saya ia berhasil mengeduk kemurnian dari imaji-imaji “kotor” itu.
Dan yang paling liar adalah apa yang ditampilkan Tardji pada penggalan sajak “Amuk”, ketika ia menderetkan dengan tipografi yang meruncing:
apakah manusia?
hasrat
kaki
paha
kontol
puki
perut
badan
….
Kata “paha”, “kontol”, “puki” dalam sajak di atas hadir sejajar dengan kata lain. Mereka tidak mengambil peran utama, tetapi juga bukan sekadar figuran. Lagi pula, Sutardji sudah memberi alasan pada kehadiran kata-kata “jorok” itu. Pada kredonya yang terkenal, ada satu misi sajaknya yaitu membebaskan kata-kata dari moral kata yang dibebankan masyarakat, sehingga di tangan Penyair Sutardji tidak ada kata yang dianggap kotor atau jorok (obscene).
Pencapaian Sutardji yang lain dapat dibaca pada sajak “Mesin Kawin”. Imaji-imaji seksual ia hadirkan dengan baik dan keras justru tanpa ia menyebutkan langsung nama-nama alat kelamin. Ia menggantikan dengan “baut” dan “sekrup”. Tarji, tidak main sembarang umbar, ia tidak asal liar. Motivasi Tardji bukan menghadirkan sekental-kentalnya bau seksual dalam sajaknya, tetapi mencapai setinggi-tingginya makna eksistensi manusia di dunia. Di sinilah ia berbeda, di sinilah ia unggul.
Pada Binhad, memang telah ada upaya untuk memaksimalkan penggunaan kata “kotor” itu, dengan harapan akan tergali kemungkinan pemaknaan lain dari diksi itu. Binhad ingin mencapai kekhasan ucapan dari jurus itu. Pada pandang pertama, akan mudah timbul kesan bahwa Binhad sekadar ingin tampil berbeda. Saya melihat upaya Binhad “menempuh jalan lain” jadinya terasa sia-sia karena ia terasa seperti “ingin mengejar” apa yang sudah dicapai Tardji itu. Jika penglihatan saya ini benar, sejauh ini maka pengejaran itu sia-sia. Tardji sudah sangat jauh berlari, sudah mencapai puncak yang tinggi.
Binhad adalah penyair yang terobsesi pada tema-tema perkelaminan? Kata obsesi mungkin tidak tepat. Ada kesan ia tertarik ke sana tanpa daya untuk menghindarinya. Lebih tepat mungkin termotivasi. Ia dengan sadar memilih tema itu, dengan alasan-alasan yang bisa kita tebak, tetapi tentu hanya dia yang tahu persis apa dan kenapa ia memotivasi diri dengan pilihan itu.
Coba kita perhatikan sepilihan baris pertama sajak-sajaknya dalam “Kuda Ranjang”.
1. Anusmu yang bagus
2. Wangi kilat lampu menggayuti pantat janggutmu
3. Gelombang malam gemerincing
4. Tak semua hasrat bisa menjelma burung
5. Mata bor merah berkilat
6. Darahku sudah berkali meronta
7. Syahwatku tak mau tamat
8. Di kamar ini kenyataan diluar kusudahi
9. Mati itu sehelai jembut tercerabut
10. Sepanjang kencan ingin kutusukkan tombak zakar
11. Rontokan harum ikal rambutmu telentang di bantal
12. Geletar urat kelamin mencengkeram tepi ranjang
13. Cupang merah tertancap di pangkal leher
14. Seorang tante pecinta cermin
15. Di rumah ini tak ada lagi bau amis pakaian dalammu
16. Tubuhnya gemetar dan bulu hidungnya tercerabut
17. Lama kusimpan gambar dari putih pahamu
18. Cintamu busuk
19. Jangan mengokang bedil malam ini”
20. Kelaminku tak cuma satu
21. Kisut bibirmu menggambar selaput cahaya
22. Birahi musafir mampir lagi
Coba perhatikan, 22 dari 48 sajak Binhad dimulai dengan baris-baris di atas. Baris yang secara seragam jelas menggambarkan sajak seperti apa yang hendak dimulai dengan baris seperti itu. Sajak-sajak lain, meskipun tak dimulai dengan bait pertama tadi, isinya pun senada. Ini menunjukkan satu hal: Binhad konsisten menjaga pilihan pengucapan tema-tema sajaknya. Dan yang sungguh berarti adalah betapa terlihat ikhtiar Binhad untuk mencari, mencapai sesuatu, merintis jalan sajaknya sendiri. Saya karena itu amat menghargai apa yang ia capai pada sajak yang dimulai dengan bait ini:
Kenapa birahi menjadi mula kisah di bumi
Itulah bait pertama sajak “Ujung”. Sebuah bait yang menumbuk, menohok, dan “dalem banget”. Jika ini bukan sajak terbaik Binhad dalam buku “Kuda Ranjang” maka saya harus mengakui bahwa itu adalah sajaknya yang paling saya sukai. Pada sajak itu Binhad berhasil mengupas “kecabulan” - meski itu sebenarnya bukan masalah utama - dari kata-kata “kelengkang”, “kelamin pacar”, “berahi”, “tubuhku tumbuhmu”, dan karena itu ia berhasil mengucapkan dengan murni kerisauan dari sebuah pertanyaan besar kehadiran manusia di bumi - seperti yang ia ucapkan dalam sajaknya: “kenapa orang tak bisa menjadi saksi dari mana muasal dirinya”?
Binhad sesunguhnya adalah penyair yang dengan amat sadar dan sungguh-sungguh menjalani peran kepenyairannya: menyelami kehidupan dan mencari dengan sungguh-sungguh bagaimana mengucapkan apa yang ia dapt dari penyelaman itu.
Sesungguhnya, ia telah berhasil mencuri perhatian dengan pengucapannya yang “berbeda” ditambah sensasi di luar kerja menyair dan karya puisinya, seperti ketika beredar kabar bahwa buku sajak pertamanya ditarik kembali oleh penerbit dan diturunkan dari rak buku sebuah jaringan toko buku besar, dan keberaniannya berpolemik dengan nama-nama kritikus dan penyair senior. (bersambung)
Hasan Aspahani, penyair, tinggal di Batam.
Sumber: www.sejuta-puisi2.blogspot.com, 28 November 2007
Para penyair jorok dewasa ini semakin mendapat tempat di hati para pembaca. Bukan karena mereka bisa memahami isi kejorokan dari para penyair, tapi karena mereka memahami apa adanya dari ungkapan fulgar para penyair, sambil mereka menghayalkan apa yang sedang dilakukan bersama pasangan free sexnya. Sekarang zaman kemenangan setan. Terlihat dari para pendukung utusan setan melalui para penyair jorok. Karya mereka begitu diagungkan dan di puja dan tidak sedikitpun cela didalamnya. Padahal karya mereka jika dinilai dari segi moral lebih jijik dari pada tahi kucing. Sungguh aneh zaman edan sekarang ini.
apa yang saya kenal adalah sastra dikenal oleh masyarakat sebagai ungkapan dengan penggunaan bahasa yang indah tanpa harus menyebutkan apa yang sebenarnya. sehingga pembaca dan penikmat diajak untuk berpikir dan menafsiri terhadap bahasa yang disajikan. saya kira Binhad Nurrohmat lebih mengetahui akan dunia dan bahasa sastra yang digunakan karena ia pernah belajar di sebuah pesantren di jogjakarta. Binhad lebih tahu karena ia pernah belajar tentang syiir-syiir.salam
Apakah karya binhad yang ujar sampean Bagus itu?Coba postingkan di sini.
Ada yang bilang, kelamin itu sama-sama anggota tubuh seperti mata dan leher. Kalau melihat mata tak terangsang, kenapa melihat kelamin harus terangsang? Orang-orang seperti ini, sudah lagi tak mudah terangsang. Karena buat mereka, semua anggota tubuh sama. Pikir pelan-pelan, apakah orang2 ini tidak bermoral?
Di sisi lain, ada yang bilang…melihat kelamin lebih mungkin terangsang, melihat leher belum tentu. Ini dan bermoral. Manusia geto lho!
Yang pertama menceburkan diri dan berusaha tak tergoda. Yang kedua mencegah agar tak tergoda. Tujuannya sama dengan cara berbeda. Saya lebih suka mengurtip syairnya Dian Pisesha, semuanya biasa sajaaaaaaaaaaaaaaaaaa….
Maaf ada yang salah ketik:
Di sisi lain, ada yang bilang…melihat kelamin lebih mungkin terangsang, melihat leher belum tentu. Ini dan bermoral. Manusia geto lho!
Maksud saya: Ini juga bermoral (kalimat ke dua alinea ke dua). Manusia geto lho! (Maksudnya, terangsang juga wajar aja kalau memang dirangsang). Yang paling sering dimasalahkan adalah, mau ngapain setelah terangsang?
Add A Comment