Binhad Nurrohmat

going within…

Bar Dangdut Jauh di Pulau…

Posted by binhad on Sep-23-2008

Saya berada di Korea Selatan semenjak Juni lalu dan saya menjadi makin mengerti makna rindu dan perasaan jauh dari negeri saya, Indonesia. Saya pun menjadi kian paham arti berjarak dengan yang saya cintai. Ah, Indonesia. Aih, cinta. Di telinga batin saya kerap terngiang pepatah lama: Lebih baik hujan batu di negeri sendiri ketimbang hujan emas di negeri orang. Pepatah ini memang berlebihan dan sentimentil, tapi cocok untuk saya yang sedang berada jauh di negeri seberang lautan. Saya tak suka sentimentil sebenarnya, tapi ternyata sentimentil sesekali perlu juga. Saya toh bukan robot. Sentimentil itu bagian dinamika batin manusia sebagaimana rasa haru atau gembira dan menurut saya meladeni perasaan sentimentil bagus juga untuk merabuk kesuburan jiwa. 

 

Semenjak di Korea saya juga jauh dari bar dangdut kebanggaan saya di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat. Kelap-kelip remang lampunya, biduan-biduannya, tembang-tembang syahdunya makin membangkitkan kekangenan saya dan menggetarkan selaput perasaan saya. Sudahlah takdir bar dangdut membuat saya merasa haru dan gembira. Juga sentimentil. Dangdut bukan seni kampungan seperti dianggap orang kebanyakan. Penyebab anggapan semacam itu cuma satu: Tak kenal maka tak sayang. Kenapa bar dangdut tak ada di Korea? Di KBRI di Korea pun tak ada bar dangdut.     

 

Semenjak di Korea, ketika saya pingin nyanyi-nyanyi saya pergi ke norebang, karaoke-nya Korea. Tapi sungguh sayang di norebang tak ada lagu Rhoma Irama, Rita Sugiarto, Elvi Sukaesih,  maupun Evi Tamala. Hampa rasanya dunia. Suatu kali saya protes ke pemilik norebang, tapi sia-sia belaka. Dangdut itu musik apa, dia bertanya. Saya malas menerang-jelaskannya. Semenjak itu pula saya jadi malas pergi ke norebang. Alasannya: tak ada lagu dangdutnya dan harganya mahal pula. Kemudian saya memilih mencari kebahagiaan dengan mendengar lagu-lagu Rhoma Irama melalui laptop uzur saya di kamar penginapan saya di Seoul dan saya beli sepasang salon supaya lebih mantap suaranya. Aduh, indahnya. Terima kasih, dangdut.

 

Para tetangga kamar penginapan saya para profesor dari berbagai negara yang mengajar di kampus Hankuk University of Foreign Studies, Seoul. Tampaknya mereka mulai akrab dengan dangdut lantaran setiap hari saya memutar lagu-lagu Rhoma Irama. “Jika Amerika punya Elvis Presley, negeri saya punya Rhoma Irama,” terang saya. Diplomasi kebudayaan saya lumayan, kan? Mereka juga pernah mengundang saya menghadiri pesta kecil dan saya diminta membacakan puisi saya. Kebetulan saya membawa edisi bahasa Inggris buku puisi saya Kuda Ranjang ke Korea.  “You’re a really poet, Binhad. Nice poet,” puji mereka. Dipuji memang enak, tapi tak boleh terlalu diambil hati,  bisa bikin lupa daratan dan besar kepala. Sesekali tak apalah.      

 

Kembali ke urusan dangdut. Lagu-lagu Rhoma Irama musiknya enak didengar dan syairnya merambah banyak persoalan Indonesia. Sejak album Soneta Grup volume 1 sampai 15 misalnya, syair-syair lagunya selain romantis juga kritis terhadap realitas di Indonesia. Sesekali saya menerjemahkan syair-syair lagu Rhoma Irama dan para profesor itu menjadi mengerti sebagian realitas manusia dan kehidupan sosial Indonesia. Rhoma Irama telah berjasa mengenalkan pengetahuan tentang Indonesia dan masyarakatnya ke para profesor itu. Tanpa teori, diktat, konferensi, atau seminar. Cukup lewat dangdut.  “Dangdut is a good culture diplomation, Binhad,” komentar mereka. Saya cuma senyum mendengarnya dan diam-diam saya menjadi makin bangga pada Rhoma Irama. “How about Mister Soeharto?” tanya mereka. “Ah, dia hanya masa lalu politik kami. Rakyat kami lebih suka Rhoma Irama ketimbang jenderal itu,” ujar saya.

 

  1. Faizi Said,

    A. Kadir, Candraleka, Ida Laila, juga bagian dari sejarah..

  2. BINHAD Said,

    Betul, Kiai. Sejarah Dangdut Indonesia menunggu gerak pena kita, bukan cuma goyang pinggul kita…

  3. mufti Said,

    Hidup Soneta rekor!!! :D

  4. BINHAD Said,

    Bung Mufti, sayang sekali regenerasi Soneta Group gak jalan ya…

  5. kris Said,

    kamu kgn dangdut nya kan bin bukan indonesianya….

  6. binhad Said,

    Kangen dangdut, Indonesia, dan seluruh isinya hehe…

  7. fenia Said,

    ahh mas Binhad juga suka disko kok..hayoo ngaku..!!saya punya barbuknya lho..

  8. BINHAD Said,

    Hehehe, kasidah juga suka kok…

  9. ABDAL MALIK Said,

    Asal esih gelem kemutan Indonesia be wis kudune syukur, lewih-lewih nganti ora mung tahu kemutan thok, alias kemutan bae

  10. binhad Said,

    Everything is okay bae

  11. ABDAL MALIK Said,

    Ha…, ha…, ha….

  12. munawar am Said,

    Apa Kabar Kang Binhad?

    ahirnya saya bertemu dengan kawan lama…..
    terserah masih ingat apa tidak ketika bareng-bareng di Nggaten Condong Catur.
    Kalu masih ingat muhaimin “gepeng” maulvi…., Sutrimo edi noor…. dlll…ada saya tentunya.
    Tunggu Blog Saya yaaahhhh.

    Ehh abdal malik nongol juga di sini yah?… Kyai Muda yang getol bisnis internet;
    katanya juga cocok dengan fikih mu’amalah.

  13. BINHAD Said,

    Kabar baik, Kang Munawar. Eling dong. Kawin urung?
    By the way, Abdal Malik kayaknya mau bikin Tarekat Internet juga haha

  14. munawar am Said,

    mampir lagi Mas.
    aku sudah kawin. Anak dua. Laki semua.
    satu ansor satu banser he he he he….
    selamat bergoyang dangdut yaahh.. Tksh.

  15. munawar am Said,

    Blog Saya sudah jadi; berkunjung yaaah,
    kasih-kasih komentar juga boleh….
    nanti puisinya saya upload ke postingan saya (dengan izin sampaian);

    tksh

  16. BINHAD Said,

    Selamat berblog ria. Antum muat puisiku gak cemas kena sanksi UU Pornografi, Kang? Hehe

  17. wawan Said,

    Kalo aku suka campur sari, gending bali, dan juga musik tradisional Korea.

Add A Comment