Antara Saya, Blog Saya, dan Kak Rhoma
Posted by binhad on Sep-3-2008
Saya tak bersumpah atau berikrar menulis di blog saya ini setiap hari. Sudah menjadi takdir manusia yang memilih hidup di dunia fana ini tak bisa malas dengan banyak urusan yang menyenangkan maupun memuakkan. Tak terkecuali saya. Dan bukan rahasia lagi di dunia ini lebih jarang yang bisa menyenangkan ketimbang yang memuakkan. Sikap terbijaksana adalah menyenangi seisi dunia ini tanpa terkecuali. Apakah menulis di blog memuakkan? Hanya manusia tak bijaksana yang tega menyetujuinya, apalagi mengampanyekan ke mana-mana seperti jurkam partai politik menjelang pemilu.
Kebiasaan saya menulis di blog saya ini sambil mendengar lagu dangdut Rhoma Irama. Saat menulis saya tak ingin merasa menulis, melainkan sedang asyik berjoget. Saya senang ada teman saya menuduh saya kampungan. Saya mengerti tuduhan itu berasal dari manusia yang tak bijaksana atau sebangsa manusia yang suka mencibir para biduan dangdut organ tunggal di desa-desa atau di bar-bar dangdut di pinggiran kota Jakarta. Semoga tuhan segera memberinya petunjuk. Gus Dur atau Goenawan Mohammad tak perlu angkat bicara dalam perkara ini. Urusan mereka sudah terlalu banyak dan memusingkannya. Juga Rendra dan Sutardji Calzoum Bachri. Apakah mereka, para tokoh ini, juga menulis di blog? Betapa bijaksana bila mereka melakukannya. Jangan lupa, Rhoma Irama mencintai orang yang bijaksana, apalagi yang gemar lagu dangdutnya.
Saya belum pernah melihat Gus Dur atau Goenawan Mohammad berjoget sambil mendengar lagu dangdut Rhoma Irama. Rendra dan Sutardji Calzoum Bachri sepertinya malu-malu mengakui menggemari lagu dangdut Rhoma Irama. Kayaknya asyik dan heboh bila mereka membaca sajak mereka diiringi lagu dangdut Rhoma Irama. Sepertinya mereka menolak ide ini. Maklumlah, mereka juga bintang seperti Rhoma Irama. Ego seniman harus dimaklumi.
Indonesia tak akan hancur tertelan hutang atau diduduki bangsa asing gara-gara seluruh rakyatnya menggemari lagu dangdut Rhoma Irama. Syair lagu dangdut Rhoma Irama membangkitkan semangat bangsa Indonesia dan meneduhkan hati rakyat miskin di mana-mana. Pokoknya, lagu dangdut dan blog saya siap berjihad deh memerangi korupsi yang bersimaharajalela dan melindungi puisi dan bar dangdut di seluruh Indonesia dari ancaman para pendekar berwatak jahat. Setuju?
Saya tadi mau bicara apa sebenarnya.
Oh ya, saya tak bersumpah atau berikrar menulis di blog saya ini setiap hari. Apalagi saya selama di Korea ini punya tugas yang menyita waktu saya untuk menulis di blog saya. Kamis hingga Sabtu besok saya akan kelayapan jauh ke luar kota Seoul. Kayaknya ke kota Gwangju dan sekitarnya. Saya sudah booking penginapan dan mengincar tempat-tempat yahud di sana yang bisa saya kunjungi. Senang sekali bila di sana nanti saya bisa bertemu Gus Dur atau Rhoma Irama. Saya tiba-tiba ingat adegan percakapan di sebuah film Rhoma Irama, “Jangan panggil saya Om. Panggil saya Kak Rhoma.” Saya bersumpah, bila nanti saya bisa bertemu Rhoma Irama di Gwangju saya akan memanggilnya “Kak Rhoma”. Gus Dur, Rendra, Goenawan Mohamad, dan Sutardji Calzoum Bachri pasti tak tahu adegan percakapan dalam film itu. Tapi mereka tahu kalau mereka terkenal, bukan? Apakah Rhoma Irama mengenal dan menggemari Gus Dur, Rendra, Goenawan Mohammad, dan Sutardji Calzoum Bachri?
Saya harap tulisan ini tidak terrrlallluuu…
Posted in: SASTRA

Menurut saya, ini terrlalluuu…. hahaha…
Jadi teringat satria bergitar di kisah “laskar pelangi”.
apapun itu, sukses ya Pak, ditunggu selalu kisah-kisahnya
*menari di antara kata, enak nih* hihihi
Bin,
Kamu jauh2 ke Korea bawa albumnya Rhoma Irama, berarti?
Kalau kamu betulan ketemu “satria gitar berkuda putih” itu di Korea, jangan lupa, salam dariku -penggemar Inul Daratista- ya!
Ratih dan Mister Goop,
Saya usul ke pemerintah agar Rhoma Irama kelak dinobatkan jadi pahlawan nasional.
Setelah Bung Karno, tokoh yang melekat di hati rakyat jelata adalah Kak Rhoma.
Setuju?
saya setuju saja…
tapi apa yang telah diperjuangkannya?
jah… ini terlalu serius, saya hahaha…
Kak Rhoma hanya enak di dengar, tak enak untuk dilihat….hueee heeh heee hheee
kau harus mencoba Rita Sugiarto. sang legendaris yang menurutku melebihi Elvi Sukaesih..
atau karena sekarang lagi Ramadhan, makanya kau nyetel musik-musik bang Haji ??
berarti kau menulis masih harus dipengaruhi banyak “variabel” kalau begitu
Pak Cik,
Rita itu Diva Dangdut, juga Elvi. Mereka bukan muhrimku. Mereka seasyik kak Rhoma. Tapi Rhoma muhrimku. Bagaimana dengan Evi Tamala? Selamat ber-Ramadhan.
memang mereka bukan muhrim dirimu dan muhrimku juga. tapi yang masuk ke tubuhku dan tubuhmu kan suara mereka, bukan tubuh mereka. jadi gak masalah kayaknya..
Evi Tamala, suka juga kudengar. tapi terlalu melankoli. dangdut itu wajahnya udah sedih, lah kalau dinyanyikan dengan mendayu dayu lagi..terlalu hiperbolik kesedihannya.
tapi kalau dangdut koplo malah nyeleneh… semua semua dilagukan dengan ritme kencang gumbiraaaa ra ra ra raaaa
selamat berbuka
Add A Comment