Binhad Nurrohmat

going within…

Satu hal yang mencengangkan pada manusia adalah ketika ia merespons hidupnya. Inilah yang membedakannya dengan tumbuhan dan binatang. Kalau ilmu pengetahuan melakukannya dengan pemikiran rasional, memungut bukti-bukti empirik, maka kesusastraan beyond  ilmu pengetahuan: ia tidak hanya mengandalkan pemikiran tapi terutama alam bawah sadar, yang terbenam jauh dan menjadi impuls bagi sang kreator.

 

Sastra yang bagus dan besar, sesungguhnya adalah permainan impuls inilah: dorongannya dari pergaulan dengan dunia dalam dan dunia luar, yang terbenam jauh. Suatu hari, benaman ini akan menjadi ledakan karya kreatif. Ledakan yang dipandu imajinasi.

 

Dorongan terbesar adalah ketika seseorang terpukau dengan alam semesta, termenung-menung sendiri karena begitu luasnya bahan dan begitu tak terjawabnya misteri. Dan semua bahan mengerucut pada penerimaan Tuhan atau penolakan Tuhan. Tetapi baik yang menerima maupun menolak pada akhirnya mengakui,  bahwa simpul bahan mahaluas itu mengerucut pada tiga hal: seks, kekerasan, dan kematian. Memang ada bahan di luar ini. Tapi seperti dikabarkan sejarah pemikiran, ia menjadi tidak menarik. Kehilangan gairah dalam dirinya sendiri.

 

Karena itu tugas seorang sastrwan sesungguhnya  bermain dengan bahan tadi. Tetapi bermain di sini tidak berarti tema-tema itu hanya tempelan-sampiran dari sebuah isi. Sebaliknya sastrawan bermain dengan penuh obsesi, gila-gilaan menjadikan bahannya sebagai tragedi. Aspirasi dan obsesi menyatu. Menjadi dorongan yang mahakuat dan menjadi ledakan yang pecah dalam sastra kreatif.

 

Dalam perpuisian modern, Chairil Anwar menemukan bahasa-bahasa indah, bahasa suasana. Keindahan berbahasa dan suasana sebagai substansinya ini diteruskan Goenawan Mohamad dan Sapardi Djoko Damono. Tetapi ajaib, bahasa Chairil ini terus di gotong dan dimamah penyair yang datang belakangan. Bahkan, gejala terakhir, telah melebar ke kawasan penciptaan prosa. Kita mencatat betapa cerita pendek dan novel mengikut gaya Chairil – hanya keindahan berbahasa dan suasana, tanpa luka dalamnya, tanpa obsesi. Baik penyair, cerpenis dan novelis, yang menggotong gaya-gaya Chairil ini, tidak akan pernah menemukan sesuatu sebagaimana Chairil menemukannya. Sebab mereka akan kehilangan orisinalitas, kehilangan gaya, tema dan angle-tema, dan kedalaman.

 

Sastra Indonesia beruntung memiliki Sutardji Calzoum Bachri, yang tidak saja melawan Chairil tapi menemukan bahasa yang lebih gemilang. Dengan puisinya, Sutardji bukan saja telah melampaui Chairil, tetapi puisi menjadi dentuman besar. Bahasa yang hanya mengandalkan kesayuan dan suasan sedih, tanpa luka kehidupan, seakan haram di tangan Sutardji. Sebaliknya ia menciptakan ledakan dalam bahasanya, dalam temanya. Ledakan yang berangkat dari kesakitan religi. Maka kita menyaksikan tenaga penuh dalam puisi “Amuk”, sebuah puisi yang sangat bertolak belakang dengan puisi Chairil. Ledakan ini, sesungguhnya terlihat juga pada Nikah Ilalang Dorothea Rosa Herliany, meski tidak sebesar Sutradji. Dan meski bukan dalam perspektif ledakan, Afrizal Malna berhasil meliuk dari Chairil dan Sutardji. Bagi saya, Afrizal akan lebih berhasil dalam novel, daripada puisi. Keanehan dan pikiran-pikirannya yang pecah lebih ‘seksi’ untuk format novel.

 

Sejak Sutardji, Afrizal, Rosa, dan upaya Ahmadun Y Herfanda mencari bentuk lewat Sembahyang Rumputan, kita jarang menemukan seniman dengan semangat besar melakukan pencarian, memberontak dari bentuk. Tapi kerinduan ini, agaknya dipecahkan Binhad Nurrohmat lewat kumpulan puisi Kuda Ranjang. Buku dengan sampul bersemangat pop art dan amat simbolik ini, mulai dari depan sudah punya niat untuk melawan. Binhad memasang ranjau pada halaman awal bukunya:

 

Bukan Sekadar Kredo

 

             Dulu ada yang bilang

             Sutardji mata kiri

             dan Chairil mata kanan.

 

             Kini aku yang bilang

             puisi kalian rata kiri

             puisiku rata kanan.

 

Kredo yang dieufemiskan menjadi “Bukan Sekadar Kredo” adalah percikan pikiran seorang pemberontak. Binhad ingin mengatakan, “Lihat! Aku mengatasi dua raksasa, Chairil dan Sutardji.”

 

Marilah kita simak substansi dari kredo main-main ini.

 

Dengan mengatakan puisi kalian rata kiri dan puisiku rata kanan, Binhad hendak mengatakan bahwa substansi puisinya bukan saja berbeda dalam format penulisan (seluruh puisinya dimulai dari kanan: sambil lalu, tidakkah jauh dari kesadarannya ia sedang meniru Al Qur’an?), tapi terutama berbeda dari cara penulisan dan angle-tema. Apalah artinya kesusastraan tanpa tema, tanpa gaya? Dengan tema, kita tahu pesan yang hendak disampaikannya. Dengan gaya, kita asyik dan larut membaca pesan itu.

 

Pada dua hal ini, tema dan gaya, hampir-hampir kita menghadapi sesuatu yang  baru, yang tidak pernah menjadi pengucapan penerus-penerus Chairil, dari yang paling cemerlang hingga yang sedang. Juga sidik-jari Sutardji. Jauh pula dari pola Afrizal. Dunia yang dibangun Binhad dalam puisinya adalah dunia yang luka, keras, aneh, lucu, brutal, lembab dan lunyu, tapi mengandung kedalaman. Banyak renungan meledak dalam kepala.

 

Dengan gaya cepat dan lugas, serta pemakaian kata-kata yang garang dan jantan (tapi tidak kehilangan nilai puisinya) Binhad membuka kisahnya dengan seorang lelaki yang suatu pagi mencangkung di kakus, membuang hajat. Peristiwa yang amat sehari-hari itu, amat imajinatif dalam puisi Binhad berjudul “Berak”:

 

Anusmu yang bagus

saban pagi mengangkangi mulut kakus

yang tak bosan menunggu tahimu.

 

Dan kita tertawa, ingat pengalaman sendiri, ketika ia berkata:

 

Zakarmu sekuyu gelambir jompo

bungkuk dan malu-malu

mengintip puing tahi

terjepit bongkah coklat bokongmu. 

 

Sebagaimana seni adalah permainan, Binhad mengajak kita masuk dalam permainannya. Permainan penuh ironi, lucu dan gembira. Bagaimana ia menggabung seks dan berak dalam puisi. Setelah tokoh dalam puisinya, dengan beringas, bersenggama dengan pacar di malam hari, maka paginya orang itu seakan masuk surga setelah melepas hajat. Kenikmatan senggama, bagi Binhad, sama dengan nikmatnya membuang tahi:

 

Kau merasa masuk surga semalam

seperti pagi ini

seusai ada yang berjatuhan dari anusmu.

 

Binhad menulis berdasar obsesi, sesuatu yang jarang dimiliki seniman terkini. Dia begitu obsesif terhadap seks. Tapi seks pada Binhad bukanlah sesuatu yang indah dan menyenangkan, seperti novel Ayu Utami atau cerpen Djenar Maesa Ayu. Tapi sesuatu yang kacau dan menyakitkan. Hampir seluruh halaman buku Kuda Ranjang, adalah kisah bertenaga tentang sesuatu yang lembab, meminjam pengantar dari penerbitnya – Melibas, sebuah penerbitan yang dikelola anak-anak muda. Mengherankan bagaimana Binhad dapat melompat dari tema dan gaya penulis sezamannya.

 

Dengan tenaga penuh, Binhad melompat dari satu metafor seks ke metafor lainnya. Dari lucu menjadi brutal. Sebab Pintu dan jendela melepas semua kuncinya/dan hutan yang berabad sendirian/membiarkan tangan brutal perambah liar/menyibak rahasia semak-semak./.  Ya, seks di tangan Binhad bukanlah sesuatu yang santai. Tapi seks-tegang. Gelisah dan resah tokoh-tokohnya. Bahkan maut pun, bagi Binhad, hendak diaduknya dengan peristiwa dan idiom-idiom seks. Mati itu sehelai jembut tercabut/yang mencabik sumbatan lobang nyawa/yang sesakit haid pertama.

 

Binhad telah berhasil merambah pengucapan sendiri. Tapi hampir sebagian besar puisinya, kekuatannya hanya berhenti pada pengucapan dan angle-tema, tidak pada pendalaman yang mengasingkan kita dari hidup yang rutin. Saya menyebutnya “seks-lurus”. Dan seks-lurus Binhad tidak sampai pada keluasan. Bahkan seperti melihat orang mabuk dan mengamuk, yang membuat kita sejenak kaget, lalu berlalu. Seperti terbaca dalam puisinya, Di balik piyama/bayang anggun tubuhmu/memacu debar jantung/  (puisi “Liburan”), Dan dastermu tersingkap/kilat paha menyilaukan mata lampu/bulu halusmu menujah gelembung birahiku (puisi “Bunting”). Bagi saya, puisi ini tidak punya isi, seperti puisi remaja, Kita saling tersenyum dan berpelukan lagi/seperti sepasang remaja birahi (puisi “Liburan”). Kuda Ranjang pun, yang menjadi judul buku yang provokatif ini, tak memamerkan keluasan isi. 

 

Justru kekuatan Binhad ketika dia menggabungkan dan mengocok peristiwa dan kesakitan seks dengan peristiwa-peristiwa lain, ketika momen yang dihadapi tokoh meluas. Binhad perkasa ketika menguakkan lukanya dalam puisi “Kencan”, “Dangdut”, “Gairah Farah”, atau “Lelaki Pasir”.  Bersama puisi-puisi ini, kita digempurnya dengan rasa sunyi yang aneh, rasa sunyi yang pedih, dari hidup kita sendiri. Bersama puisi-puisi itu kita mendapati kesia-siaan.

 

Puisi “Dangdut” adalah kenakalan sadar Binhad untuk memberontak. Biasanya dangdut, setidaknya mengikuti anggapan umum, adalah sesuatu (seni) yang norak, tidak modis, seni kaum bawah, kaum pinggiran. Tapi Binhad menjadikan dangdut sebagai seni yang unggul, potret kehidupan kota metropolis. Puisi yang sebenarnya prosa singkat ini, kisah seorang yang kesepian didera rutinitas kota besar, dalam sebuah kafe. Dalam kesepiannya ia mengenang dunia lama dengan mantra dan tenung, kalung taring celeng, sebab ia sadar hidup adalah kutukan Sisifus yang berulang, tak ada harapan kecuali hiburan sesaat. Bahkan agama dan kaum suci pun tak memberi harapan, bahkan penipuan. Sebab selalu diisi oleh orang-orang kalah. Orang-orang pinggiran yang tergusur. Dirinya pun telah dikalahkan, oleh rutinitas yang menyiksanya.

 

Maka tokoh aku ingin menghibur diri sejenak. Tapi otaknya tak mau berhenti. Dalam kebusukan suasana yang dihadapinya itu, ia terbayang orang-orang suci yang menanak bara untuk/kaum pendosa,  Karena letih, ia merintih sedih, meneriakkan ketidakmampuannya. Aku tidak ingin berpikir, katanya. Aku hanya ingin bahagia./Dunia harus sedikit lebih nyaman setelah pikiran/sebentar dilupakan.  Harapan yang sangat sederhana ini pun tak kesampaian. Karena, tak ada lagi yang bahagia di sini. Karena memang Tak ada yang manis, hanya kisah-kisah kumuh (puisi “Dangdut”).

 

Binhad telah menyeruak dari tema dan pengucapan rekan sezamannya. Tapi tidak dalam keutuhan kompleksitas bahan dunia. Seandainya Binhad mengangkutnya secara lengkap, maka dunia puisi yang dibangunnya adalah dunia yang tangguh, kuat bertanding melawan sejarah. Sayang, otot kawat balung besi ini tersiakan karena nafsu pencarian yang belum berkedalaman. Tapi, tempatnya jauh lebih terhormat, ketimbang penyair yang hanya mengekor, apalagi sastrawan yang tunduk pada psedu-pemikir, yang memamah wacana dunia lalu terkulai tertimpa buku-bukunya.

 

Hudan Hidayat, cerpenis, tinggal di Jakarta

Sumber: Media Indonesia, 1 Agustus 2004.

Add A Comment