Binhad Nurrohmat

going within…

“Demonstran Sexy” Bicara Politik

Posted by binhad on May-9-2009

Bagaimana Demonstran Sexy “melenggang” di dalam kepala penulis dan pembacanya? Sebuah diskusi buku mengupas karya Binhad Nurrohmat digelar oleh Bale Sastra Kecapi, Jakarta.

Yeni Rosa Damayanti dan Rieke Diah Pitaloka
mengarak poster serta mikrofon ke jalan raya.

Inul Daratista & Ayu Utami berteriak keras sekali,
“Ayo, tolak RUU Antipornografi & Pornoaksi!”

Ini adalah isi puisi “Demonstran Sexy” yang diambil dari buku yang berjudul sama, karya Binhad Nurrohmat. Sebuah kumpulan puisi terbitan Penerbit Koekoesan, Depok, dengan tahun cetak 2008 ini memuat 103 halaman ungkapan pikiran Binhad.

Diskusi Buku Demonstran Sexy di Kafe Darmint--27 Maret 2009--photo by Ayu

Bale Sastra Kecapi menggelar diskusi pada minggu terakhir Maret 2009 lalu, di Kafe Darmint, Jakarta. Acara ini melibatkan pembicara-pembicara populer di ranah budaya sekaligus politik Indonesia. Mereka adalah, Romo Mudji Sutrisno, Yudi Latif, dan penulis buku Demonstran Sexy, Binhad Nurrohmat.

Meminjam Bentuk
Ketika politik jadi sentral obrolan penulisnya dalam buku ini, tak pelak Binhad melibatkan Yudi Latif (pengamat politik Indonesia) untuk ikut bicara sastra dari sudut pandang yang lain.

Menurut Yudi Latif, puisi-puisi Binhad banyak memotret proses demokratisasi di Indonesia. Yudi memahami bahwa sastra tak pernah kehabisan bahan persoalan untuk diungkap lebih jujur.

Lebih lanjut, ia berpendapat bahwa sastra memiliki artikulasi tanding untuk menghadapi ortodoksi negara. Penyair mampu melakukan defamiliarisasi sekaligus familiarisasi.

“Ini upaya Binhad dalam mengambil jarak untuk mengucapkan realitas yang ada sekarang. Ada teknik apropiasi. Meminjam bentuk lama dari gaya WS. Rendra atau Teater Koma, namun dengan isi yang baru,” papar Yudi.

Syair yang Ekstrovert
Syair-syair puisi Binhad yang ekstrovert (terbuka tanpa tedeng aling-aling) ini mampu membuat wajah pembacanya bergonta-ganti mimik. Mulai dari kesal, hingga tertawa terpingkal-pingkal.

Binhad Nurrohmat memang punya gaya yang sedikit “binal”, maksudnya ia tak pernah sungkan menyebut kata-kata: seks, montok, bahenol, kiai, bahkan kata-kata coblos dan koruptor, dalam puisi-puisinya.

Demonstran Sexy karya Binhad Nurrohmat--photo by AyuDi tengah musim kampanye partai-partai politik sepanjang bulan Maret 2009 ini, buku kumpulan puisinya yang berjudul Demonstran Sexy pun jadi makin sexy untuk dijadikan bahan pembicaraan.

Puisi-puisinya penuh dengan kata-kata yang ringan. Binhad tak butuh kata-kata bersayap layaknya puisi-puisi dalam buku Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono yang tampak manis melukis cinta. Binhad begitu galaknya menyumpahi dirinya sebagai penyair. Sebagaimana dalam puisinya berjudul “Sumpah Penyair”, ia dengan lantang bicara bahwa sesungguhnya penyair Indonesia memang jujur, namun melarat dari segi ekonomi.

Membaca puisinya yang genap berjumlah 103 judul dalam buku ini, bagaikan sedang membuka inbox memory sms dalam handphone yang anda miliki. Pesan-pesan pendek yang terus-menerus disimpan, karena kata-katanya penting dan enak dibaca.

Bentuknya memang dianggap paling kini. Tapi jika jaman Rendra melejit dengan puisi-puisinya yang melengking berteriak menghujat itu, masyarakat sudah dibanjiri handphone, mungkin puisinya akan sama bentuk dengan karya Binhad sekarang.

Binhad berani tampil sebagai karakter yang “menabrak segala dinding” termasuk mengakui kelemahan-kelemahan dirinya sendiri. Sedikit tampak paradoks, namun itulah yang memang dicoba untuk diungkap seutuhnya oleh Binhad.

Kegelisahannya terhadap nasib para penyair di bumi Indonesia, dan keresahannya terhadap berbagai hal, diungkap dalam bukunya. Termasuk menariknya pemandangan ketika para demonstran cantik yang ia lihat rela berteriak garang di tengah jalan raya, menyerukan, “Ayo tolak RUU pornografi dan pornoaksi!”

Romo Mudji Sutrisno, mengulasnya sedikit lebih berat dengan menyebut karya-karya Binhad sebagai figur yang berusaha keluar dari ruang publik yang pengap.

“Buku ini dianggap bisa jadi cermin, apakah terjadi politisasi poetika, atau estetisasi politik?” ujar Romo. Menurut frame pemikirannya walau syair Binhad sangat lugas, tetap ada upaya memperindah kekalutan dari berbagai peristiwa politik di dalamnya.

Radhar Panca Dahana, juga memandang karya Binhad bagaikan karya penyair tahun 1950 hingga angkatan 1970-an yang cenderung romantik.

“Kecenderungan sastrawan jaman sekarang kebanyakan membentuk puisi dengan gaya  prosaic. Ini sebenarnya adalah retorika. Kebanalan puisi-puisi seperti ini dibongkar dengan hadirnya bentuk puisi karya Binhad. Binhad berani lebih jujur dan lugas,” pungkas Radhar, sastrawan kawakan yang kini menjadi Direktur di Bale Sastra Kecapi.

Sebelum buku ini terbit, Binhad telah menerbitkan dua buku berjudul Kuda Ranjang (2004) dan Bau Betina (2008). Karyanya telah diterjemahkan dalam Bahasa Inggris dan diterbitkan pula dalam edisi bahasa Mandarin. Dua bukunya ini sempat menoreh polemik di beberapa media massa.

Selebihnya melalui buku Demonstran Sexy, ternyata Binhad punya harapan yang sangat sederhana.

“Saya ingin kurangi sakit kepala para pembaca, dengan memberi kalimat-kalimat sederhana. Masalah-masalah rumit yang terjadi di sini, saya coba sederhanakan dengan cara saya,” demikian papar Binhad.

(Sumber: Ayu Andini, www.indofamily.net, 02-04-2009 15:59)

  1. Syaiful Alim Az-Zulfy Said,

    aku dukung selalu mas Binhad…Bravo…! sila berkunjung ke gubuk mayaku

Add A Comment