Kwatrin Ringin Contong: Kehendak Menggenggam Dua Kosmologi

Oleh Tjahjono Widijanto
Kritikus sastra

 

Dengan bisik isyarat alam mengucap amanat.

Makna riang atau dingin menanti arah angin.

Pundak penyair memanggul bahasa berabad.

Menera zalim serta benderang akal dan batin.

(“Sebelum Perjalanan”, Binhad Nurrohmat)

 

Di pintu buritan waktu ada yang tak ragu.

Di masa terang dan gulita menjadi lampu.

Seluruh riwayat terburai di hangat bahu.

Pelukan kekal akan menepis fana waktu.

(“Setelah Perjalanan”, Binhad Nurrohmat)

/1/

Nihil ex nihilo, tidak ada sesuatu lahir dari ketiadaan. Begitulah, sulit membayangkan seorang penyair atau puisi berangkat dan hadir dari sebuah kekosongan. Puisi lahir dari persentuhan inderawi-rohani, antara penyair dan semesta, seperti gesekan ranting pada musim kering yang menghasilkan api, karena itu puisi — dalam publik yang paling terbatas sekalipun — akan senantiasa mendiskusikan, mendialogkan, dan memperbincangkan “sesuatu”.

Puisi seperti halnya teks sastra yang lain telah lama dianggap sebagai fakta kemanusiaan, fakta sejarah dan kesadaran kolektif kebudayaan. Sebagai fakta kemanusiaan, fakta sejarah dan kesadaran kolektif budaya, puisi dapat disikapi dan difungsikan sebagai sejarah intelektual atau pemikiran yang di dalamnya dapat ditemukan cara penyikapan, pemahaman dan cara kreasi masyarakat atau individu terhadap perjalanan waktu (perubahan) beserta segala persoalannya.

Berkaitan dengan sejarah intelektual ini, puisi dapat menyuarakan, mengusung sekaligus mempersoalkan mitos-mitos tertentu. Bahkan Umar Yunus menegaskan bahwa teks satra baik sastra lama atau baru pada hakekatnya adalah mengusung suatu mitos. Sebuah puisi bisa jadi bertugas mengukuhkan suatu mitos tertentu (myth of concern) dan mungkin pula bertugas untuk merombak, membebaskan, menentang, memodifikasi serta menafsir ulang mitos tertentu (myth of freedom).

Contine reading

SILSILAH INTELEKTUALISME DAN SASTRA DI PESANTREN (sebuah perambahan atas tradisi pesantren, sastra, dan sastra pesantren) Oleh M. Faizi

Menurut Binhad Nurrohmat, definisi sastra pesantren itu tetap rancu dan problematik. Sebab, apa yang dimaksud dengan karya/genre sastra pesantren selama ini tidak jauh berbeda dengan karya sastra lain pada umumnya kecuali hanya pada persoalan tema. Padahal, tema bukanlah ukuran pembentuk genre sastra. Menurutnya, identifikasi pada apa yang disebut sebagai sastra pesantren itu sebatas berurusan dengan aktualisasi tema atau latar belakang pengarangnya yang berhubungan dengan keislaman, kesantrian, dan kepesantrenan; dan bukan berdasarkan unsur-unsur atau kecenderungan “bentuk” kesusastraan yang khas dimiliki oleh apa yang disebut sebagai sastra pesantren itu (Binhad Nurrohmat, 2007).

 

Pesantren merupakan salah satu kekayaan khazanah pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan yang cenderung pada keagamaan, pemondokan (karantina), serta penerapan pola pendidikan selama 24 jam merupakan salah satu keunikannya. Karena itu pulalah, pesantren dianggap sebagai pengejawantahan local genus pendidikan Nusantara yang sejati.

Kekayaan lektur dan intelektualisme pesantren dibuktikan dengan banyaknya kitab-kitab turats yang ditulis oleh para mushannif (pengarang) berlatar pesantren. Karya-karya ini tidak saja populer di Indonesia, melainkan juga hingga ke tanah Arab. Di antara para pengarang tersebut antara lain adalah: Syekh Abdus Shamad Al-Falimbani, Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Yasin al-Fadani, Kiai Ihsan Jampes, Kiai Ma’shum Ali, Kiai Hasyim Asy’ari, dan lain-lain. Contine reading

Jimly Asshiddiqie Puji Puisi Binhad Nurrohmat

JAKARTA, PedomanNEWS.com – Jimly Asshiddiqie bukan hanya menaruh perhatian dengan masalah politik dan hukum, tetapi seni pun tak luput dari pengamatannya. Hal tersebut ditunjukkannya ketika menghadiri deklarasi Jarsindo, ketika seniman Binhad Nurrohmat membacakan dua puisinya.

Puisi Binhad berisikan kritik terhadap pemerintah, anggota DPR, media massa, pemilu, serta masalah kapitalisme yang semakin menggurita, hingga wilayah Indonesia yang dicaplok negara lain.

“Saya ingin membuat pengakuan. Usia saya 35 tahun dan saya belum pernah ikut Pemilu. Saat ini alasan saya tak ikut Pemilu karena penyelenggara Pemilu tak beres. Dulu, alasan saya adalah bahasa Indonesia. Menurut bahasa Indonesia, Pemilu artinya pembuat pilu, pembuat sengsara,” ujarnya sebelum membacakan puisi.

Tak heran, puisi “sentilan” Binhad membuat semua orang bersorak dan berkomentar, termasuk mantan Ketua Mahkamah Agung.

“Dua puisi tadi luar biasa, bagus. Kalau bisa saya mau meng-copy puisi tadi,” bebernya sambil menekankan jika pemilu dipasrahkan ke pemerintah tidak akan pernah bersih. Karena negeri ini milik kita bersama, catatkanlah bahwa masing-masing dari kita pernah menyumbangkan sesuatu ke negara. (Agustina N. Rasyida)

(PedomanNEWS.com, Kamis, 15 Desember 2011 15:42 WIB)

Pembaca Menggonggong Penulis Berlalu

OLEH MALKAN JUNADI

Penyair

Saya pernah percaya puisi merupakan sejenis politik bahasa, pernah meyakini bahwa dengan seperangkat teori, sejumlah peranti linguistik, saya bisa menyiasati bahasa, dapat melakukan kerja arsitektural mewujudkan sebuah bangunan menawan bernama puisi. Namun waktu menyuapi dengan paksa kenyataan yang lain; misalnya betapa ternyata puisi tak selalu bisa saya tulis setiap hari, sering tak dapat saya selesaikan pada tenggat yang saya inginkan. Meski saya pada waktu yang bersangkutan merasa tak kurang teori, tak kehilangan sedikit pun peranti yang saya pikir saya butuhkan. Contine reading

Pernyataan Penyair 2011*

Hari ini, di majelis ini, saya menyatakan bahwa tanda keluhuran puisi Indonesia adalah daya artistiknya yang menggerakkan kesadaran masyarakatnya. Tanda utama keunggulan puisi Indonesia bukanlah meraih 1000 Hadiah Nobel. Tanda paling gemilang puisi Indonesia ketika menjadi hati nurani paling terkemuka bagi bangsanya. Hal-hal inilah yang dimiliki puisi di mana dan kapan saja yang dinilai cemerlang bagi perpuisian dan dipandang berguna oleh masyarakatnya. Untuk meraih semua itu, penyair mesti tekun bergulat dalam kreativitas dan berani merebut fungsinya bagi masyarakatnya.

Penyair unggul bukan lantaran kehebatan ekspresinya belaka. Kehebatan ekspresi merupakan kewajiban setiap penyair. Penyair unggul menangkap masalah masyarakatnya dan mengucapkannya melalui kehebatan ekspresinya. Penyair unggul bukan makhluk mitos. Penyair unggul adalah realitas yang bisa disaksikan dan diukur melalui daya artistik puisinya yang menggerakkan kesadaran masyarakatnya. Bila puisi tak bisa melakukannya, puisi harus rela menjadi puisi biasa-biasa saja.

Apakah peran penyair Indonesia bagi masyarakatnya? Setiap penyair Indonesia harus menjawabnya, jika tak mampu menjawabnya, apakah peran kepenyairan masih layak dipandang berharga tanggung jawabnya? Jawaban atas pertanyaan itu merupakan sikap penyair yang menjawabnya dan terjelma dalam puisinya. Ketakmampuan menjawab pertanyaan itu adalah tanda krisis sikap kepenyairan yang menimbulkan krisis kualitas perpuisian.

Puisi bukan hadiah yang diulurkan oleh para dewa ke tangan para penyair. Tangan penyairlah yang menulisnya untuk menyuratkan kehebatan ekspresi dan menyuarakan hati nuraninya.

Jakarta, 28 April 2011
Binhad Nurrohmat

*Dibacakan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin
pada acara Hari Sastra Nasional, 28 April 2011.

Binhad Nurrohmat dan Kembalinya Unsur Sastra Jahiliyah

Oleh Aguk Irawan MN*

Di setiap erotisme selalu ada penyimpangan!
- Adonis

Hampir dua tahun yang lalu Marshall Clark (2005), peneliti sastra Indonesia di School of Asian Languages and Studies, University of Tasmania, dalam Konferensi Jurnal Antropologi di Universitas Indonesia menyebut puisi-puisi Binhad dalam Kuda Ranjang sebagai ‘puisi metropolitan’. Alasan Marshall ini tidak saja didasarkan pada puisi Binhad yang memukul pembaca dengan visi seksualnya yang sangat menentang, sangat lugas, dan juga sangat banal. Tetapi juga didasarkan pada kehidupan sang penyair, yang keluar masuk kafé-kafé elit kota Jakarta dan sangat akrab dengan alat-alat kehidupan metropolitan seperti HP, SMS, surat-e, dan entah apa lagi.

Dan kita sebagai pembaca, memang menemukan alasan Marshall itu dalam antologi puisi Binhad, Kuda Ranjang (2004) dan ia baru saja melepas antologi puisi terbarunya, Bau Betina (2007). Setali tiga uang dengan yang pertama, lewat Bau Betina ia masih latah bergunjing perihal ‘dunia basah’, ‘dunia tengah’. Dalam dua buku ini kita bisa menikmati imaji baik-buruknya adegan seks lengkap dengan gaya puitis erotis yang sangat mencengangkan.Tema utama puisi Binhad adalah politik seksual antara laki-laki dan perempuan dan yang sangat menonjol adalah unsur seks atau lebih tepat lagi berbau seks. Tapi kenapa Marshall hanya melulu mengaitkan seks dengan kehidupan metropolitan? Padahal bukankah seks adalah gejalah alamiah dalam hidup ini? Dan ia adalah tema yang purba dan selalu mengiringi sejarah hidup anak manusia. Karena sifat dasar kealamiahan inilah, seks bisa juga dipandang bukan semata-mata hubungan badaniah, yang kotor, berlumur berahi, melainkan ‘aktivitas batin’ yang penuh kearifan dan simbol-simbol filosofis-spritual. Namun, bilamana ‘kearifan’ itu sudah diobral dan diumbar di dalam karya, tempat-tempat pelacuran, panti-panti pijat terselubung, kafe, atau diskotik, maka seketika itu bukankah seks berubah menjadi tak lumrah, tak alamiah, tak lazim dan tercela. Karena itu, maka seks harus dipingit, disembunyikan dalam ruang-ruang yang paling pribadi.
Contine reading

Maut Situmorang

Malam lebaran, kata penyair Sitor Situmorang, “bulan di atas kuburan”. Barangkali Sitor tak menyangka puisi pendek ini melahirkan tafsir panjang dan bermacam-macam serta klop dengan keadaan sekarang yang pada menjelang lebaran banyak pemudik tertimpa musibah di jalan raya dan tiba di kampung halamannya sebagai jenazah. Contine reading