Negara lain giat memproduksi
Indonesia gigih mengonsumsi.
Rakyatnya senyum saja
meski hidup menderita
Lantang suara Ucok membaca puisi berjudul ”Karakter Indonesia” karya Binhad Nurrohmat. Aksi Ucok terekam dalam film dokumenter bertajuk Poetry On The Road yang diputar di Warung Apresiasi Sastra, Jakarta, Selasa malam (7/7). Read the rest of this entry »
Oleh Damhuri Muhammad,
Cerpenis, bermukim di pinggiran Jakarta
Bagaimana semestinya sastrawan menyikapi keriuhan retorika politik yang belakangan ini tampak semakin mentereng? Perlukah seorang penyair menyelami realitas politik yang ingar-bingar dan penuh intrik itu -setidaknya melibatkan sebentuk kesadaran politik dalam gairah kepenyairannya atau sebaliknya-sebagaimana petuah Julian Benda (1928)- karena sudah “ditakdirkan” untuk mencari kepuasan di ranah kesenian, dan oleh karena itu, para penyair seyogianya menjauh dari zona kesadaran politik. Agar lelaku kepenyairan tetap terjaga, tidak terkontaminasi efek kuasa politik yang sejak dari perkembangan yang paling purba telah dianggap ancaman laten. Read the rest of this entry »
Bagaimana Demonstran Sexy “melenggang” di dalam kepala penulis dan pembacanya? Sebuah diskusi buku mengupas karya Binhad Nurrohmat digelar oleh Bale Sastra Kecapi, Jakarta.
Yeni Rosa Damayanti dan Rieke Diah Pitaloka mengarak poster serta mikrofon ke jalan raya.
Ini adalah isi puisi “Demonstran Sexy” yang diambil dari buku yang berjudul sama, karya Binhad Nurrohmat. Sebuah kumpulan puisi terbitan Penerbit Koekoesan, Depok, dengan tahun cetak 2008 ini memuat 103 halaman ungkapan pikiran Binhad.
Bale Sastra Kecapi menggelar diskusi pada minggu terakhir Maret 2009 lalu, di Kafe Darmint, Jakarta. Acara ini melibatkan pembicara-pembicara populer di ranah budaya sekaligus politik Indonesia. Mereka adalah, Romo Mudji Sutrisno, Yudi Latif, dan penulis buku Demonstran Sexy, Binhad Nurrohmat. Read the rest of this entry »
This reading was filmed on the north-central coast of Java in the port city of Cirebon. The film shows Binhad Nurrohmat reading a poem he wrote on a previous visit to the city. Read the rest of this entry »
Binhad Nurrohmat adalah seorang pemberontak. Dia dengan sadar memorak-porandakan tatanan baku perpuisian Indonesia. Tak hanya Chairil, Sutardji Calzoum Bachri yang dikenal sebagai “pembaharu” puisi Indonesia juga ia lawan. “Bukan Sekadar Kredo” adalah kredo pemberontakan Binhad termuat di buku pertamanya Kuda Ranjang (Melibas, 2004). Read the rest of this entry »
Siapa yang mengenal Binhad sebagai penyair? Apakah dia sangat populer di negeri ini, sehingga keberadaannya sangat berpengaruh bagi mental dan akhlak bangsa ini akibat karya-karyanya?
Konon, menurut hasil survei, ternyata Binhad bukan orang yang sangat terkenal di seluruh pelosok nusantara. Meskipun berkali-kali namanya tercantum di koran-koran terkemuka, tidak banyak orang mengenalnya, apalagi mengenalnya sebagai penyair. Bahkan almarhumah ibunya sendiri pun tak tahu kalau anaknya yang gondrong itu seorang penyair legendaris. Hanya penyair-penyair “serius”-lah yang mengenalnya sebagai penyair. Dengan demikian, persoalannya makin jelas bahwa kepopuleran Binhad Nurrohmat tak lebih hanya sebatas para penyair yang menganggapnya penyair. Dan untuk itu, dua buah buku puisi Binhad yang sebelumnya diperkirakan tidak berarti apa-apa bagi moralitas dan akhlak bangsa Indonesia. Read the rest of this entry »
Dalam buku Demonstran Sexy, Binhad Nurrohmat melawan kecenderungan puisi mutakhir.
Sebagai bagian dari karya seni yang diciptakan manusia, sastra tidak pernah kehilangan persediaan persoalan untuk diungkapkan. Sepanjang manusia tetap ada, sastra akan tetap muncul sebagai bagian dari perjalanan sejarah manusia. Namun sejarah juga mencatat beragam perubahan yang dilakukan manusia. Lantas apakah posisi sastra—dalam hal ini pelakunya—juga ikut berubah atau menetap. Read the rest of this entry »
JAKARTA, KOMPAS.COM–Dinamika politik hari ini mungkin menjadi sebuah sinonim untuk hiruk-pikuk. Tumbuh lebatnya poster dan spanduk yang tak tanggung-tanggung melanggar tata kota, serta menyulap kota menjadi belantara slogan dan jargon hanyalah satu hal. Belum lagi soal substansi politik yang tak pernah terlintas dalam upaya-upaya menyentuh massa itu, atau soal bagaimana kampanye politik kita telah menjadi pekerjaan begitu banal yang hanya menonjolkan luaran atau permukaannya. Read the rest of this entry »
Ayah-ibu saya berasal dari Jawa Timur dan kemudian menetap di pedalaman Lampung sejak 1970an. Kami berbahasa Jawa sebatas di lingkungan keluarga dan sesuku. Kami berbahasa Indonesia saat bergaul dengan suku lain. Tetangga saya orang suku Minang, Sunda, Bali, Lampung, Palembang, dan Bugis juga berbahasa Indonesia dalam pergaulan umum. Read the rest of this entry »